
Sedari tadi amar hanya mengutak- atik ponselnya yang duduk dengan santainya,sesekali ibu hilda mengenalkanya pada temen- temenya yang baru datang,ada juga yang lebih dulu mengajaknya berkenalan.
Amar mulai sedikit gak nyaman namun masih bisalah di hendelnya,dia memang gampang beradaptasi dengan orang lain.
" Mah...amar ke toilet dulu sebentar ya" Ucapnya beralasan ingin menghindar walo hanya sekejap,paling tidak bisa mengobati rasa bosanya sedikit.
Ibu hilda mengangguk lalu sibuk kembali dengan pembicaran bersama teman- temanya.
Saat amar menuju toilet dari kejauhan seseorang memperhatikan dari belakang sembari mengikuti mengendap- endap.
Di lihatnya amar yang lenyap tertelan daun pintu,kini dia beraksi melancarkan rencananya sembari membuka beberapa kancing bajunya agar terlihat belahan d***nya yang memang sexsy dan menarik,Bodynya memang sangat sempurna untuk seorang wanita,banyak wanita² lain yang ngiri dengan keindahan dan kemolekan tubuhnya,hanya saja ia selalu menggunakan anugrah inidahnya untuk menggoda orang² yang berduit nan kaya raya,Tapi selalu gagal,aksinya selalu di dukung Ibunya yang sama- sama mata duitan.
Setelah amar keluar dari toilet dengan sengajanya orang itu menabrakan diri tenntunya dengan pura - pura jatuh tergeletak dengan fose sedikit menggoda sembari menaikan roknya sedikit yang sangat mini.
"Aduh....kakiku sakit!!" Ucapnya manja sembari memeganggi pergelangan kakinya.
namun amar tidak langsung menolongnya atau sekedar mengulurkan tangan untuk tumpuan bangkit.
" Tasya...!! kamu ngapain di sini,ini kan jam kantor" Amar mengenali orang itu,Tasya karyawan baru pindahan yang bareng Hanna tempo hari.
" Maaf pak! saya sudah izin ko untuk tidak bisa masuk,ada acara keluarga di sini" Tasya beralasan.
Amar mengerutkan dahinya merasa sangat aneh dengan alasan yang tidak masuk akal,karyawan baru bebetapa hari sudah minta izin,bagai mana kedepanya nanti pikir amar dalam hati.
__ADS_1
Tasya memulai bicara lagi sebelah pihak sembari bangkit dengan sendirinya merasa di aksinya di abaykan tidak berhasil.
Amar berlalu pergi menuju tempat semula dia menemani ibu Hilda dengan di susul Tasya.
Dengan girangnya seseorang yang ikut serta berkumpul menyambut kedatangan Tasya.
" Hai....Tasya sayang....ini lho putri saya sangat cantik bukan" katanya dengan memperkenalkan ke teman - temanya.
Amar hanya melirik kemudian melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, 'Biasa aja!! ' pikirnya.
Di sambut baik oleh Ibu Hilda dan ibu - ibu yang lain.
Pantas saja Yudha tidak mau kalo di ajak mamah pergi,ternyata begini ya,umpatnya dalam hati' sembari mengedarkan padang ke arah lain ingin segera pergi mencari - cari alasan lagi.
" Halo....,iya,iya,sepertinya di sini tidak ada signal,sebentar saya cari posisi dulu" ucapnya sembari berpamitan pada mamahnya hanya dengan isyarat menujukan ponselnya di sambung menuding ke arah parkiran kemudian berlalu pergi.
Seperginya amar ke tempat yang menurutnya paling aman Tasya dan ibunya berbisik - bisik merencanakan sesuatu,di mana menurut mereka amar adalah sasaran berikutnya yang tepan.
"Sayang...kamu harus bisa dapetin dia,orang kaya duitnya banyak,pasti kita tidak akan kesusahan lagi" Bisik ibunya pada Tasya.
Tasya pun berbalik bisik " *Tenang mah,aku satu kantor sama dia,bahkan ad dua orang yang aku incar,dua - duanya ganteng - ganteng mah"
" Wah memang pinter ya anak mamah ini*," ucap ibunya dengan bangga masih dengan berbisik.
__ADS_1
" siapa dulu dong mamahnya" Tasya memberikan tos ringan pada ibunya.
Acarapun selesai,bebagai jenis makanan habis semua,tinggal sisa - sisa yang beserakan siap di bersihkan pekerja tempat itu.
di akhiri dengan saling peluk,saling memuji,basa - basi mereka saling Berpamitan.
"Terimakasih ya jeng,Kapan - kapan acaranya di rumah jeng Hilda saja" ucap dari salasatu mereka.
" Ia,kapan - kapan saya kabari" Ibu Hilda menyetujui.
Semuanya bubar pergi ke tempat tujuan masing masig,Amar sudah menunggu mamahnya di dalam mobil kemudian di susul ibu hilda yang masuk sembari mengusap pucuk kepala amar.
" Nunggu lama ya nak,"
" Enggak mah" meski amar merasa bosan ia tetap menjaga perasaan mamahnya,tidak seperti yudha yang langsung marah - marah jika tida sependapat denganya.
Amar menjalankan mobil melaju di atas aspal jalanan yang panas akan terik matahari,beberapa anak jalanan berkeliaran di lampu merah,menggoyang - goyangkan alat seadanya sambil melantunkan lagu meski liriknyapun tidak mereka hapal,Amar langsung teringat semasa kecilnya dulu.
lamunanya di buyarkan ketukan kaca mobil salah seorang anak yang ke mudian beraksi nyanyi.Tak menunggu lama amar menyodorkan Uang yang jumblahnya menurut anak itu lumayan banyak.
" Bagi - bagi ya sama teman - teman yang lain" ucap amar kembali menutup kaca mobilnya.
rasa peduli amar terhadap orang lain sangat tinggi,mungkin karna dia pernah merasakan yang di alami anak - anak itu.
__ADS_1
Amar meratapi nasibnya bagai mana kalu ia tidak di adopsi Keluarganya Yudha mungkin dia tidak akan ada di posisi seperti ini,dimana ia tidak bersekolah hanya berjualan gorengan saja.