Dia Atau Aku

Dia Atau Aku
Penghianatan


__ADS_3

Yudha sudah boleh pulang dari rumah sakit,namun dia masih duduk di kursih roda dengan di dorong meera menuju lobby maklum manjanya lagi kumat,menunggu jemputan dari amar.


Saat meera berjalan di lorong rumah sakit,sepintas matanya menemukan Revan dengan seorang wanita duduk di ruangan dokter kandungan,namun dia masih ragu gak yakin itu Revan pacarnya.


ingin rasanya dia menghampiri langsung namun dia punya tanggung jawab,belum ada orang yang datang bisa menggantikanya.


sesampainya di lobby,terlihat amar dan hanna masuk dari pintu utama,menghampiri keberadaan yudha dan meera.


" Hanna saya titip Pak yudha dulu ya,saya ada perlu sebentar" meera mendorong kursih rodanya mendekat ke hanna,buru- buru berlari balik lagi ke tempat tadi,berharap Revan masih ada di ruangan dokter kandungan untuk memastikan keraguanya.


Namun ruangan itu sudah kosong saat dia tiba di sana,hanya ada dokter yang sedang bertugas,meera masih penasaran berlari mencari di setiap lorong rumah sakit,dia berlari terus mencari - cari.


meera mundur perlahan Larinya kelewatan,di dapatinya Seorang laki - laki sedang menciumi perut seorang wanita membukuk berkomunikasi dengan kehidupan yang belum sempurna di dalam lif yang masih terbuka.


Meera menghampiri,menatap kosong kedua orang itu,meraka belum menyadari ada meera yang mematung.


Perasanya serasa di cabik - cabik ada rasa perih dan sesak di dadanya,tubuhnya terasa di serang ribuan anak panah butiran airmatapun jatuh tanpa permisi.

__ADS_1


Saat mereka menyadari ad meera di hadapanya pintu lif mulai tertutup perlahan,Revan yang menyadari meera ada di hadapanya berusaha mengejar,namun Terhalang lif yang tertutup.


Langkahnya gontai flashback di otak mengenang memori² kebersamanya dengan Revan yang dulu,tangisnya semakin menjadi tapi tidak bisa pecah,ia tahan hingga rasa sesak di dada bertambah.


Amar melihat mira dari kejauhan yang terus mengusap air matanya yang berjatuhan.amar menyadari meera sedang sedih,dengan segera amar menyuruh hanna membawa yudha pulang duluan,hanna pun menurut.


setelah Hanna dan Yudha masuk ke mobil,Amar segera menghampiri meera yang terhenti di di lorong rumah sakit,isak tangisnya tak terdengar,namun tubuhnya bergetar menandakan sakit yang amat sangat.


" Meera...kenapa?" Amar bertanya pelan sembari menarik dan memeluknya,berharap rasa sesak meera berkurang.


Tangis meera pecah di pelukan amar,tubuhnya lemas merosot ke bawah lantai,amar mengibangi berlutut masih memeluk.


Amar tak berani bertanya lagi,takutnya malah membuat meera tambah sedih,amar mengajak meera keluar dari rumah sakit.


menunggu taxsi belum ada yang lewat,memesan online juga blum dapet,meera masih menangis duduk di halte,amar masih sibuk mencari mobil,karna mobilnya amar sudah di bawa pulang duluan sama Hanna dan Yudha.


" Saya tidak mau pulang..." ucap meera masih sesegukan.

__ADS_1


Amar menoleh sembari menghampiri meera yang duduk di halte,mencoba untuk bertanya lagi sebenarnya apa yang terjadi.


" Sakit!! Sakit rasanya" meera memukul - mukul dadanya sendiri.


" sssttt...sudah - sudah" amar menyadarkan kepala meera di bahunya." Ceritakan sebenarnya apa yang terjadi" amar mengusap air mata meera lembut.


" Revan, revat sama perempuan lain..." Tangis meera pecah lagi.


" Di mana?? mungkin kamu salah lihat meera" amar mencoba meredam.


" Tidak, saya tidak salah lihat,itu benar - benar Revan,mereka seperti keluarga yang menanti seorang anak,Saya lihat sendiri dia mengelus,menciumi perut perempuan itu


Amar dengan sabarnya mendengarkan seluruh ke gundahan meera,meera bercerita dengan detail kejadian itu,dari melihatnya di ruangan dokter kandungan sampai di lif.


ia sesali kebersamanya dengan revan.


Meera terus menerus menyalahkan dirinya sendiri,merasa diri paling bodoh,di bohongi seseorang Yang dia cintai.

__ADS_1


* * *


__ADS_2