
Keesokan harinya seperti biasa keluarga Firamdhani sedang sarapan,kebiasan yang baik untuk menyambut hari agar tetap vit.
Mengkonsumsi makanan sehat banyak minum air putih gaya hidup sehat itu yang di terapkan pada keluarganya.
Lain dengan amar yang masih terbawa mimpinya semalam,ia hanya mengaduk - aduk makanan pake sedoknya dengan tatapan kosong etah kemana pikiranya menerawang.
Yudha,ibu hilda beserta pak yusman saling pandang melihat tingkah amar yang tidak seperti biasanya,ada rasa ingin bertanya dari mereka bertiga namun amar keburu pergi meninggalkan meja makan.
Yudha melirik Kedua orang tuanya mengisyaratkan akan menyusul dan bicara pada mamar.
Langkah amar terhenti dengan panggilan yudha,mereka duduk di bangku menghadap taman yang terhampar rumput hijau nampak rapih karna terurus tukang kebun pekerjanya,terdapat dua buah pohon mangga yang mulai berbuah dan bunga - bunga yang berjatuhan terkena angin.
" There is a problem.??" Yudha memulai pembicaraan antara mereka.
" Hanya sedikit gak enak badan,mungkin hari ini gw gak masuk kantor dulu,loe bisa kan Hendel semuanya" amar bicara tanpa melihat Yudha sembari menyalakan roko dengan korek api.
" Jangan bohong...gw paham gelagat loe kalo ada masalah,cerita aja kenapa seh??, apa gw udah gak bisa d percaya lagi buat tempat loe mengadu ato hanya sekedar bercerita" Yudha mengerti akan raut wajah amar yang sedang galau secara meraka hidup bersama sedari kecil selalu berbagi apapun yang mereka miliki,apapun itu jenisnya.
" Sungguh gw gk papa,loe salah nilai gw,gw cuma lagi bosan aja,pengen santai tanpa ada beban kerjaan barang sehari aja,lagi pula hari ini gw mau nemenin mamah seharian ke tempat acara ibu - ibu sosialaita ." amar menegaskan.
" Dih...yang bener saja,mau gituh gabung bareng ibu - ibu?? gw seh ogah...mending nemenin patung" Yudha berpendapat malas kalo harus ktemu sama ibu- ibu rempongnya minta ampun ia akan mendapatkan cubitan sana sini,pipi kiri kanan,yang di bilangnya ganteng lah,gemeslah,mantu idamanlah...nyerocoh tida akhir bikin kupinya pengeng,karna memang ia pernah sekali mengatar ibunya.
Amar hanya melirik ke arah yudha yang sedari tadi bicara tentang ibu - ibu.
Ibu hilda menyusul ke tempat mereka saat ini dengan langsung menjawab perkataan yudha yang enggak dan gak akan mau lagi - lagi menghatar mamahnya ke yang gak penting menurutnya.
__ADS_1
" Tujuan mamah kan baik,siapa tau ada salah satu dari mereka yang anaknya ke cantol sama kamu,mamahkan juga sudah pengen nimang cucu,mamah udah tua,ingin melihat anak anak mamah segera berkeluarga."Hilda menegaskan.
" Gak perlu mah,Yudha sudah punya calon sendiri" Yudha menjawab sembari menarik gelas dan menyeruput isinya.
Amar trsedak air tehnya ketika mendengar ucapan yudha,ia terbantuk - batuk sembari menepuk- nepuk dadanya berharap bisa menghilangkan batuknya.
" Loe knapa seh,minumnya pelan-pelan dong" Ucap Yudha dengan nada sedikit kaget.
sementara ibu hilda ikut mengelus punggung amar agar sakit di tenggorokanya berkurang.
Amar menoleh dongak ke arah ibu hilda yang berdiri di sampingnya,bertanya tanpa bicara,dan di jawab ibu hilda hanya dengan mengangkat kedua tangan beriringan dengan bahunya.
" Siapa? Kenalin dong sama mamah," Kata mamahnya mencoba mengorek siapa perempuan yang di maksud yudha.
" Apa dia meera?" amar menyambung bicara berharap yudha berkata 'iya'
"Bukanlah...hubungan aku sama meera itu cuma sebatas teman dan rekan kerja saja," jelasnya " Nanti loe bantu gw dalam hal ini ya,gw punya rencana ngajakin dia makan malam" Yudha nyerosos sendiri.
Pandangan amar beralih lagi ke depan yang sebelumnya mengarah ke yudha,pikiranya langsung masuk ke lamunan,ia merasa ada hal yang tidak di inginkan akan terjadi,jimana kecurigaanya,ke cemasan dan ke khawatiranya akan terjawab.
Ibu hilda pun demikian,merasakan ad sesuatu yang akan menjadi masalah pada kedua anaknya,ia memilih meninggalkan ke dua anaknya beralih masuk ke ruangan lain.
.
.
__ADS_1
.
.
Amarpun tidak masuk kerja hari ini ia memilih menemani mamahnya,sedangkan Yudha sudah bersiap- siap pergi perusahaanya,tetap dengan pesan amar harus tetap bisa di hubungi ketika dia kesulitan di kantor.
" Gw berangkat dulu ya,awas jangan matiin ponselnya," ucap Yudha mengancam amar yang memberikan tas kerja berisikan berkas - berkas penting kantor.
" Iya....!!" cuma itu jawaban amar.
Seperginya Yudha ke kantor Amarpun sudah rapih memakai celana jins beserta kaos santai di padukan kemeja yang tidak di kancing.
ia menghampiri kamar ibu hilda mencari tahu sudah selesai bersiap kah.
sebelum amar membuka pintu Ibu hilda sudah keluar terlebih dahulu.
" Wiiih....!! mamah cantik banget,pantesan papah selalu romantis gk mau kalah sama anak muda" puji amar menggoda.
Setibanya di Tempat dari kejauhan sudah terlihat ibu - ibu berkumpul melambai- lambaikan tangan ke arah Ibu hilda yang baru turun dari mobil.
"Jeng.....!! di sini" Teriak salah satu ibu - ibu memberi tahu tempatnya.
Ibu hilda jalan menghampiri di ikuti Amar.
Di lihatnya meja sudah penuh dengan beberapa makanan dan belum lagi pesanan makanan penutup yang belum di antar pelayan,Amar memilih duduk di sebelah mamahnya sembari melihat- lihat ponselnya.
__ADS_1