Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 11


__ADS_3

Bu Dirga tak sabar menunggu Elgar, dia menyuruh art untuk memanginya. Ini sudah molor dari jam seharusnya mereka berangkat. Yang ada jika Elgar tak segera dipanggil, mereka akan terlambat sampai disekolah. Sejak semalam, dia begitu rindu pada Saga, rasanya tak sabar ingin bertemu dengan bocah kecil kembaran Elgar itu.


"Mana Elgar?" Tanya Bu Dirga yang melihat art kembali seorang diri.


"Beliau bilang masih siap siap Nyonya."


Tak mau lebih lama menunggu, Bu Dirga masuk kedalam kamar Elgar. Dia berdecak sambil geleng geleng melihat Elgar yang masih sibuk teleponan.


"El, ayo buruan, kita bisa telat."


"Sebentar ma." Sahut Elgar lalu kembali fokus pada obrolan ditelepon.


Bu Dirga yang kesal melipat kedua lengannya didada sambil menatap Elgar garang. Ditatap seperti itu, membuat Elgar cepat cepat menyelesaikan obrolannya lalu memutus sambungan.


Elgar benar benar tak habis pikir, kenapa mamanya sampai sebegitu semangatnya datang kesekolah. Demi apa, demi anak yang katanya mirip dengan dirinya, sungguh konyol.


Elgar meletakkan ponselnya lalu merapikan rambutnya didepan cermin.


"Potong El, udah terlalu panjang itu. Bersihkan juga itu kumis dan jambang. Mama risih lihatnya. Dulu kamu termasuk orang yang sangat peduli dengan penampilan, tapi sekarang, bercukur saja kamu malas." Omel Bu Dirga.


Elgar tak menanggapi apa apa. Sekarang dia memang sangat cuek untuk urusan penampilan.


"Kapan Salsa pulang?" Tanya Bu Dirga yang sudah beberapa hari tak melihat batang hidung menantunya.


"Gak tahu ma."


"Kamu gak tanya? Dia itu punya suami, jangan biarkan keluyuran terus. Sekali kali, kamu tegur dia." Lama lama Bu Dirga muak juga dengan kelakuan menantunya.


"Udahlah ma, pagi pagi gak usah bahas dia. Bikin El bad mood aja. Katanya udah telat, mending kita segera berangkat."


Bu Dirga menghela nafas lalu mengangnguk. Tapi sesaat sebelum keluar dari kamar, Bu Dirga teringat sesuatu.


"Pak Rendra masuk rumah sakit El. Kamu sudah tahu?" Semalam dia mendapat kabar ini dari salah satu temannya. Jadi dia pikir, harus memberitahu Elgar karena bagaimanapun, Pak Rendra adalah mertuanya.


"Sudah." Jawab Elgar datar.


"Kamu sudah menjenguknya?"


Elgar menggeleng. Kalau ditanya siapa orang yang paling tidak ingin dia lihat didunia ini, dialah Pak Rendra. Bagaimanapun, pria itulah penyebab utama dia dan Mila berpisah.


Selama 5 tahun terakhir ini, Elgar berusaha mencari tahu tentang bisnis haram Pak Rendra. Tak mudah memang, mengingat pria itu bermain sangat bersih. Koneksi pria itu juga sangat banyak. Bahkan Elgar sampai syok saat mengetahui seberapa besar kerajaan bisnis bawah tanah mertuanya itu. Patutlah almarhum papanya dulu memperingatkannya untuk hati hati.


Elgar juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Ternyata otak utama dibalik penculikan Mila, bukanlah Baskara, dia hanyalan wayang, dan dalangnya adalah Pak Rendra. Ternyata mertuanya itu diam diam tahu tantang pernikahan rahasianya dengan Mila. Dan keputusannya untuk menceraikan Mila lalu menikahi Salsa, adalah keputusan paling tepat. Karena kalau tidak, nyawa Mila mungkin jadi taruhannya.

__ADS_1


Setahun terakhir ini, dia sibuk mencari bukti pergerakan Pak Rendra yang melangar hukum. Dia harus punya senjata agar suatu saat, pria itu tak bisa menekannya seperti yang dulu dia lalukan pada alm papanya.


"Sudahlah, nanti kita bicarakan dimobil. Kita sudah telat, ayo buruan." Ujar Bu Dirga sambil menarik lengan Elgar.


"Mama semangat banget sih, kayak mau ke sekolah cucunya aja." Ledek Elgar sambil tertawa ringan.


Sementara di sekolah, Miss Naomi mengumpulkan anak anak untuk berganti kostum. Memberikan wejangan wejangan serta memompa semangat mereka biar makin kompak saat pertunjukan nanti. Saat nama kelompok mereka dipanggil, mereka langsung naik keatas panggung.


Terdengar suara sahut sahutan saling menyemangati dari para wali murid. Hampir semua teman Saga, terlihat bahagia sambil melambaikan tangan kearah orang tuanya masing masing. Sedangkan dia, hanya bisa tertunduk lesu karena tak ada yang menemani kesekolah.


Saat musik pembuka mulai diputar, semua murid mengambil posisinya masing masing, sedangkan Saga, anak itu masih melamun dan diam ditempat.


"Saga, saga." Panggil Rania lirih. Saga yang melamun, tak mendengar sama sekali panggilan Rania.


Miss Naomi yang berdiri dibawah panggung, langsung naik dan menepuk pelan bahu Saga.


"Miss." Gumam Saga yang baru tersadar jika teman temanya sudah tak ada disisinya.


"Saga kenapa?" Lirih Miss Naomi.


"Maaf Miss."


"Bisa melanjutkan pertunjukan?" Tanya Miss Naomi sambil tersenyum dan mengusap pelan kepalanya.


Saga menganngguk. "Iya Miss." Saga segera berjalan ketempatnya dan pertunjukan segera dimulai.


Sebagai pemilik yayasan, tentu kedatangannya dan Elgar disambut dengan baik oleh penjaga sekolah dan guru guru.


Dari jauh, Bu Dirga bisa melihat Saga yang berada diatas panggung.


"Lihat El, itu yang namanya Saga. Yang mama bilang mirip kamu." Bu Dirga menunjuk Saga yang ada diatas panggung.


Elgar tak bisa melihat dengan jelas wajah Saga karena anak itu bergerak kesana kemari bersama teman temannya.


"Mari ikut saya." Miss Tari, mengantarkan Bu Dirga dan Elgar menuju kursi VIP yang terletak dibagian paling depan.


Sebelum duduk, Bu Dirga menyempatkan diri melambaikan tangan kearah Saga. Melihat itu, Saga belas melambai tangan sambil tersenyum.


Elgar tertegun melihat anak bernama Saga itu. Sepertinya, mamanya tak sedang halu saking ngebet pengen cucu darinya. Bocah bernama Saga itu memang sangat mirip dengannya. Dan senyuman Saga, senyuman itu mengingatkan Elgar pada Mila.


"Silakan duduk." Elgar tersentak dari lamuannya. Dia mengangguk lalu duduk.


"Sekarang kamu percayakan? Saga itu sangat mirip dengan kamu."

__ADS_1


Elgar terus menatap Saga. Seperti ada magnet dalam diri bocah itu yang membuat Elgar ingin terus menatapnya. Mila, kenapa dia teringat Mila saat menatap anak itu.


Sepertinya aku sudah mulai gila. Hanya karena senyumnya mirip Mila, aku seperti melihat Mila pada diri anak itu.


Tiba giliran Saga bermain piano. Dititik ini, Bu Dirga seperti merasakan dejavu. Dia pernah berada disituasi yang sama seeprt ini. Ini sama persis seperti Elgar kecilnya yang bermain piano saat TK dulu. Ya, hampir semua keluarga Dirgantara piawai dalam bermain piano. Bu Dirga adalah seorang pemain piano dulunya, oleh karena itu, bakatnya menurun pada anak anaknya, bahkan pada cucunya, Pink.


"El, mama seperti melihat kamu versi kecil yang saat ini bermain piano."


Dalam hati, Elgar membenarkan ucapan mamanya. Selain wajah mereka yang mirip, ternyata keduanya juga sama sama pandai bermain piano.


Para penonton bertepuk tangan selesai Saga bermain piano. Elgar bahkan sampai memberikan standing ovation.


"Tuh kan, kamu juga suka sama Saga."


Elgar terkesiap mendengar ucapan mamanya. Dia baru sadar jika saat ini tengah bertepuk tangan sambil berdiri. Saga benar benar seperti magnet yang menariknya kuat. Sampai sampai dia terbius dan tak sadar dengan apa yang barusan dia lakukan.


Selepas pertunjukan, panitia membereskan semua kursi karena halaman akan dipakai untuk bermain games. Para peserta sudah bersiap siapa, hari ini ada tiga games yang akan dipertandingkan.


Disaat inilah, Saga merasa sangat sedih. Dia menjauh dari arena games dan memilih duduk agak jauh disudut halaman. Dia meremat jari jemarinya sambil menatap teman temannya yang sedang tertawa riang bersama papanya. Andai saja dia punya papa, dia pasti bisa ikut bergabung dengan teman temannya.


Melihat Saga yang duduk menyendiri, Miss Naomi langsung tanggap menghampirinya.


"Saga, kamu datang sama siapa hari ini?" tanya Miss Naomi yang melihat Saga hanya sendirian.


"Sendiri Miss." Jawab Saga sambil menunduk.


Miss Naomi menghela nafas lalu mengusap pelan kepala Saga.


"Gak usah sedih gitu dong. Meski gak bisa ikut lomba, Saga bisa kok nyemangatin teman teman. Ayo kesana ikut Miss." Miss Naomi menunjuk dagu kearah lapangan. "Saga jadi panitia saja, bantuin Miss catat nama teman teman yang menang."


Saga mengangguk. Dia menerima uluran tangan Miss Naomi lalu duduk dipinggir arena bersama guru cantiknya itu.


Dijadikan panitia, tak serta merta membuat Saga senang. Dihati kecilnya, dia tetap ingin bisa ikut games seperti teman temannya yang lain.


"Kenapa gak ikut games?"


Saga menoleh mendengar suara yang berasal dari sebelahnya. Seorang pria berdiri disampingnya dan tersenyum padanya.


"Mau Om temenin?" Tawar Elgar sambil mengulurkan tangannya kearah Saga.


Senyum Saga seketika terbit. Dan lagi lagi, senyum itu mengingatkan Elgar pada Mila.


"Mau Om." Saga langsung meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Elgar lalu menggenggamnya.

__ADS_1


"Let's go. Kita menangkan semua games hari ini." Ucap Elgar bersemangat. Setelah perpisahannya dengan Mila 7 tahun yang lalu, hari ini, Elgar seperti mendapatkan kembali semangat hidupnya.


"Let's go!" Sahut Saga tak kalah bersemangat.


__ADS_2