
Sebaik apapun kita, tak semua orang akan menyukai kita. Pasti ada saja satu dua atau bahkan banyak yang tidak suka. Boleh jadi, semua itu karena iri.
Siapa yang tak panas jika direndahkan dan dibanding bandingkan dengan mantan istri suami. Tak terkecuali Mila, tangannya mengepal siap untuk meladeni orang yang ada diluar sana.
Mila membenahi pakaiannya, dengan senyum yang menawan, dia keluar dari bilik toilet.
Pyar
Saking kagetnya melihat pantulan orang yang dibicarakan dari cermin, compact powder yang ada ditangan seorang wanita jatuh dan pecah. Mila ingat ingat ingat lupa dengan wajahnya. Tapi jika benar dia dulunya kerja di Dirgantara grup, mungkin memang pernah ketemu.
Dua wanita yang berdiri didepan wastafel itu membalikkan badan dan menyapa Mila.
"Siang Bu."
"Siang." Jawab Mila sambil tersenyum manis dan mendekati mereka. Belum saatnya dia menunjukkan taring, sedikit basa basi mungkin bisa membuat mereka senam jantung.
"Tadi kalau saya gak salah denger, ada mantan pegawai Dirgantara grup yang kenal dengan saya, kamu atau kamu?" Mila menunjuk dua orang itu bergantian.
"Di, dia Bu." Seorang wanita langsung menunjuk temannya kerana takut kena masalah. Cih, sudah kelihatan sekali jika teman yang tak setia kawan. Berteman saat senang, tapi kalau susah, pengennya langsung angkat tangan.
"Oh...kamu." Mila melihat id card yang menggantung dileher perempuan itu. "Fani sabiya, jadi itu nama kamu?"
Wanita itu mengangguk ketakutan. Wajahnya pias, tubuhnya terlihat gemetaran. Sudah bisa dipastikan jika jantungnya berdetak cepat saat ini.
"Kok kayak takut gitu, saya gak makan orang kok, gak doyan, tenang aja," Ledek Mila sambil menyentuh bahu wanita yang lebih pendek darinya itu.
"Saya gak nyangka benget, cuma sebagai OG aja bisa dikenalin staf. Terkenal juga ya saya waktu itu." Mila tersenyum pongah, sementara Fani menelan ludah dengan susah payah.
"Mungkin karena saya cantik kali ya?" Mila kembali tertawa ringan sambil memperhatikan penampilannya dicermin besar depan wastafel. "Sampai sampai Pak Elgar aja terpikat sama saya. Padahal yang naksir dia banyak banget loh waktu itu. Sudah menjadi rahasia umum jika dia pria tertampan di Dirgantara grup, anak pemilik perusahaan pula. Wanita mana coba yang gak klepek klepek dengan pesonanya. Jangan jangan termasuk kamu?" Mila tersenyum sinis sambil menyentuh dada Fani dengan telunjuknya.
"Seorang OG bisa ngalahin ratusan staf wanita di Dirgantara grup. Sepertinya saya patut diberi award. Astaga sampai lupa." Mila menepuk jidatnya sendiri. "Kan udah udah dapat award, jadi istrinya Pak Elgar." Sengaja Mila menekankan kata kata itu agar mereka tahu siapa dia sekarang. Dia bukan lagi OG yang bisa direndahkan. Tapi apapun itu profesinya, tak patut sebenarnya direndahkan.
Mila membuka tas, mengambil parfum mahal yang dibelikan Bu Dirga untuk seserahan waktu itu. Dia bukan orang yang suka kemewahan apalagi pamer, tapi dua orang disebalahnya itu harus diberi pelajaran biar kena mental.
"Bisa bacakan?" Mila menunjukkan merk parfumnya. Menyemprotkan sedikit kelengan baju Fani dan Luna. "Seperti ini baunya parfum mahal. Yang mungkin gak bakal kebeli meski dengan gaji kalian 3 bulan."
Mila menggerutu dalam hati. Ini jelas bukan dirinya, berakting sombong seperti itu ternyata tak mudah. Dia benar benar harus keluar dari zona nyaman.
"Kalian udah pada nikah belum sekarang?"
"U, udah Bu." Jawab Fani dan temannya, Luna.
"Udah punya anak?"
__ADS_1
"Udah."
"Belum."
Fani yang menjawab sudah, sedang Luna belum.
Mila mengalihkan tatapannya dari cermin menuju Fani. Memperhatikan dari atas sampai bawah penampilan wanita itu.
"Sini deh."
Mila menarik lengan Fani, mengajaknya berdiri sejajar menghadap cermin.
"Kita sama sama punya anak satu. Tapi kok beda banget ya, bodi aku masih langsing, singset, kamu kok udah melar dimana mana." Ejek Mila sambil ketawa, sedang Fani tampak sangat kesal.
"Kenapa, marah dibandingin kayak gitu?" Mila mulai menunjujkan taringnya. Senyum dibibirnya lenyap entah kemana. Basa basinya sudah selesai, capek juga ternyata jadi orang sombong, tak sesuai hati nurani. "Itu juga yang saya rasain saat kamu ngebandingin saya sama Salsa. Apa tadi kamu bilang, ikan lele?" Mila berdecak kesal.
"Ma, maaf Bu."
Mila menarik ujung bibirnya sambil bersedekap. "Kalau semua masalah bisa selesai dengan kata maaf, enak banget hidup ini." Mila menatap tajam kedua wanita tersebut.
Disaat bersamaan, dua orang wanita memasuki toilet. Wanita yang awalnya ketawa ketiwi itu langsung kicep melihat wajah garang Mila dan dua orang rekannya yang pucat plus gemetaran. Meski tak tau masalahnya, mereka yakin ada yang terjadi disini. Mendadak suasana toilet menjadi horor. Kedua orang itu terdiam ditempat.
"Kalian mau ngapain kesini, mau ghibah atau buang air?" Mila menegur dua wanita yang baru masuk itu.
"Sa, saya permisi dulu Bu." Luna berniat kabur tapi Mila lebih dulu mencekal lengannya.
"Saya kok gak lihat kamu masuk ke bilik toilet ya? Kamu kesini tujuannya hanya untuk ghibahin saya atau buang air? Ini jam kerja loh. Perusahaan bisa rugi kalau mempekerjakan manusia manusia seperti kalian. Saya rasa Bu Salsa yang kalian agungkan itu juga akan setuju jika saya menendang kalian dari perusahaan ini."
"Ampun Bu, maaf Bu. Tolong jangan pecat kami." Luna mengatupkan kedua telapak tangannya didada. Matanya berkaca kaca, sebentar lagi pasti turun hujan jika Mila membentaknya sekali lagi.
"Fani Sabiya, Luna azzahra." Mila kembali membaca id card mereka. Siap siap dapat SP dari atasan kalian."
Mila merapikan rambut lalu berjalan menuju pintu keluar. Tapi sebelum menarik handle, dia kembali menoleh, membuat kedua wanita tadi terjingkat seperti melihat hantu.
"Sebelum keluar, bersihkan ceceran bedak kalian yang mengotori lantai toilet." Mila menunjuk dagu kesekitar kaki mereka. "Dan jangan lupa, bersihkan hati kalian biar bawaannya gak selalu iri dengan orang. Kalau merasa kurang, perbaiki diri, jangan malah iri." Setelah mengatakannya, dia lalu keluar.
Dengan wajah kesal, Mila menuju ruangan Elgar. Beruntung tamu yang ada didalam sudah pulang, jadi dia bisa langsung masuk untuk memberikan makan siang pada suaminya.
"Akhirnya datang juga, udah kangen," ujar Elgar menggoda.
"Kangen apa laper?" Mila meletakkan makanan diatas meja Elgar dengan wajah kesal yang belum seratus persen hilang. Melihat suaminya itu menepuk paha, dia paham jika disuruh duduk dipangkuannya.
Mila duduk dipangkuan Elgar sambil melihat lap top yang masih menyala. "Belum selesai?"
__ADS_1
"Dikit lagi," sahut Elgar dengan mata yang fokus menatap lap top.
Mila duduk miring sambil memeluk pinggang Elgar dan menyandarkan kepalanya didada bidang yang sandareble itu. Setelah capek marah marah, pengen mencari kenyamanan disana.
"Kenapa, bete gitu mukanya?" tanya Elgar yang menatap kebawah, memperhatikan raut wajah wanita yang diam saja itu.
"El, bisa gak, kalau mulai sekarang, persyaratan melamar kerja diganti?"
Elgar mengerutkan kening, bingung dengan apa yang Mila bicarakan.
"Kenapa sih, syarat melamar kerja itu sering kali diembel embeli, berpenampilan menarik? Emang yang penampilannya gak menarik gak pengen dapat kerja? Pengen juga kali, semua butuh duit butuh makan. Harusnya tuh ya, syaratnya berhati baik, tidak suka ghibah dan tak memiliki penyakit iri dengki. Percuma good looking kalau hatinya busuk." Mila mengebu gebu mengucapkannya.
Elgar garuk garuk kepala. Kok tiba tiba bahas masalah itu, ada apa ini?
"Ada apa sih?"
Mila lalu menceritakan kejadian di toilet tadi pada Elgar. Mereka memang sudah berjanji untuk terbuka satu sama lain. Apapun masalahnya, akan dibicarakan bersama.
"Biar Aden yang nyelesaiin masalah ini, kamu tenang aja." Elgar mengecup kening Mila lalu melu mat bibirnya.
"El, jangan." Mila menepis tangan Elgar yang mulai merayap kedadanya. "Ini dikantor."
"Bukankah dulu udah biasa nyuri nyuri kesempatan kayak gini." Elgar mengerlingkan sebelah mata. Keduanya sama sama tersenyum saat teringat masa lalu. Saat itu Mila masih menjadi OG. Dan setiap wanita itu mengantar kopi, Elgar akan selalu minta bermesraan seperti saat ini. Dan kalau ditolak, bisa ngamuk gak karuan.
"El...kalau ada yang lihat gimana?" Mila menatap kearah pintu yang tak dikunci, takut jika seseorang tiba tiba masuk.
"Yang mau masuk pasti ngetuk pintu dulu, gak usah khawatir. Gak ada yang berani langsung nyelonong kesini." Elgar menurunkan resleting dibagian belakang gaun Mila. Menarik turun hingga muncul dua gunung kembar kesukaannya.
Mila menggeliat geliat kegelian saat Elgar mulai dengan nakal memainkannya. Dia menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara suara merdu yang memungkinkan Elgar menginginkan lebih dari bagian atas saja.
"El....udah. Emang kamu gak lapar?" tanya Mila sambil meremat rambut Elgar. Nafas keduanya mulai memburu seiring makin meningkatnya suhu tubuh.
"Lapar banget, pengen makan kamu. Salah sendiri, semalam gak dikasih jatah."
"Ahhh." Akhirnya Mila kelepasan saat Elgar menggigit puncak semeru.
Ceklek
Keduanya langsung kalang kabut membenahi baju Mila.
"Sh.." Elgar hampir saja mengumpat sebelum suara cempreng terdengar.
"Papa..."
__ADS_1