
Pagi hari, SE Corp mendapatkan kabar duka. Pak Rendra, ayah Salsa, tutup usia karena penyakit yang dideritanya. Bagaimanapun, dia adalah salah satu pendiri SE Corp, sebelum akhirnya semua saham miliknya jatuh pada Salsa. Dari kantor pusat hingga semua cabang, diliburkan hari itu, kecuali hotel yang tetap beroperasi.
Begitu banyak orang yang mengiringi kepergiannya. Ikut hadir juga dipemakaman, Elgar dan Mila. Sementara Bu Dirga, dia memilih datang kerumah duka daripada ikut berdesakan dipemakaman.
Tampak Salsa dan mamanya yang menangis mengiringi jenazah papanya. Keduanya saling berpelukan, saling menguatkan. Orang yang bisasanya bertindak sebagai pelindung mereka telah pergi untuk selamanya.
"Saya turut berduka cita." Ujar Elgar sambil menjabat tangan Bu Rendra lalu memeluknya sesaat. Bu Rendra hanya mengangguk disela sela isakannya.
Sama seperti Elgar, Mila juga menyampaikan rasa dukanya pada Bu Dirga dan Salsa.
"Kami turut berduka cita." Elgar ganti mengulurkan tangannya kehadapan Salsa. Wanita yang tengah berduka itu langsung memeluk Elgar, menumpahkan semua tangisnya didada mantan suaminya itu.
Mila yang berdiri disamping Elgar mengalihkan pandangannya kearah lain. Tak seharusnya dia cemburu disaat seperti ini. Tapi apa boleh dikata, percikan api cemburu itu jelas ada.
"Papamu sudah tenang disana. Jangan buat dia berat untuk meninggalkan dunia ini karena tangisanmu. Kau harus ikhlas melepasnya." Elgar menepuk nepuk punggung Salsa.
Salsa mengangguk, berusaha untuk berhenti menangis tapi berat. Papanya adalah cinta pertamanya. Satu satunya pria yang tak pernah menyakitinya ataupun membuatnya kecewa. Salsa benar benar terpukul atas kepergian papanya.
Elgar melepaskan pelukan Salsa. Menoleh kearah Mila lalu meraih tangannya dan menggenggamnya. Ada raut bersalah diwajahnya, melihat itu, Mila tersenyum dan makin mengeratkan genggaman mereka. Mengatakan melalui tatapan mata jika dia tak masalah dengan yang barusan Elgar lakukan.
Tak tampak Ben disana, entah ada dimana pria itu sekarang.
"Perut Bu Salsa kok besar, jangan jangan dia hamil." Mila bisa mendengar obrolan wanita yang tak jauh darinya. Perut Salsa memang sudah kelihatan besar karena sudah jalan 8 bulan.
"Kasihan banget ya, diceraikan saat hamil."
Hari dimana harusnya semua ikut berduka, malah menjadi ajang ghibah. Rata rata pada fokus melihat perut buncit Salsa. Semua pasti mengira jika itu anak Elgar. Bagaimanapun, mereka baru resmi bercerai sekitar 5 bulan, sedang perut Salsa tak bisa berdusta, sudah tampak seperti hamil tua.
Acara pemakaman dimulai. Jenazah Pak Rendra mulai dimasukkan keliang lahat. Disaat bersamaan, Salsa merasakan tubuhnya sangat lemas, dunia yang dia pijak seperti berputar. Dia yang hampir jatuh, berpegangan pada lengan Elgar.
"Sa, kamu kenapa Sa?" Elgar panik melihat wajah Salsa yang pucat pasi. Tak lama kemudian, tubuh itu ambruk, beruntung Elgar sikap menangkapnya . Memegangi pinggang dan menyandarkan kepala Salsa didadanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" Bu Rendra yang berada disebelah Salsa langsung panik. Dia menepuk nepuk pipi Salsa tapi tak ada respon sama sekali. Dia ingin minta bantuan pada paman dan sepupu Salsa, sayangnya mereka ikut dalam prosesi pemakaman.
"El, tolong bawa Salsa kerumah sakit." Disaat emergency seperti ini, mana mungkin Elgar menolak permintaan Bu Rendra. Segera dia membopong tubuh Salsa untuk dibawa ke rumah sakit.
"Kita kerumah sakit." Ujar Elgar pada Mila dan langsung diangguki oleh wanita itu.
"Mari ikut saya pak." Karena situasi dipemakaman yang penuh sesak, supir Bu Rendra membuka jalan untuk mereka. Pelayat sangat banyak, bahkan sampai ada yang diluar area pemakaman.
"Kasihan sekali Bu Salsa." Tak hanya satu orang, beberapa wanita tampak mengucapkan rasa simpati mereka.
"Kasihan ya."
"Kasihan."
"Kebangetan, istri hamil malah dicerai, dan menikahi mantan istri." Mendengar itu, langkah kaki Mila seketika terhenti. Dia tak bisa diam saat Elgar dinilai buruk seperti itu.
Mila menghampiri wanita yang bicara tadi. Menatapnya tajam sambil mengepalkan tangan.
Mila kembali melanjutkan jalan setelah meluapkan kekesalannya, sayang dia malah ketinggalan terlalu jauh.
Elgar beberapa kali menoleh, dia panik saat tak melihat Mila dibelakangnya. Banyaknya pelayat serta pakaian yang rata rata hitam membuatnya kesulitan mencari keberadaan Mila.
Elgar menurunkan Salsa dibangku belakang sesampainya mereka didalam mobil Bu Rendra.
"Ayo Pak, kita harus seger membawa Nona Salsa ke rumah sakit. Dia sedang hamil, takut terjadi sesuatu dengan janinnya." Ujar sopir.
Elgar dalam dilema, antara membawa Salsa kerumah sakit atau mencari Mila.
"Sebentar Pak." Elgar masih berusaha menghubungi Mila. Sayangnya tak diangkat. Melihat wajah Salsa yang pucat seperti mayat hidup, tak bisa dia mengulur waktu. Takut terjadi sesuatu pada Salsa dan janinnya. Bu Rendra mengamanahkan Salsa padanya, tak mungkin dia membiarkannya begitu saja. Dengan berat hati dia ikut kerumah sakit, meninggalkan Mila yang masih dipemakaman, dengan pertimbangan, Mila sedang baik baik saja sekarang, beda dengan Salsa yang butuh pertolongan secepatnya.
Elgar menelepon Aden yang juga ada dipemakaman, menyuruh pria itu untuk mencari Mila.
__ADS_1
Sedangkan Mila, wanita itu sibuk mencari jalan sambil mencari Elgar. Kemabali lagi, gara gara warna baju yang sama, dia sampai pusing. Dan lagi, begitu banyak mobil, dia tak tahu Elgar membawa Salsa kemobil yang mana.
Mila ingin menelepon Elgar, tapi ternyata ponselnya tak ada didalam tas. Kemungkinan tertinggal dirumah atau dimobil. Atau malah dicopet orang dipemakaman, wkwkwk.
Tak ada pilihan lain, Mila terpaksa berjalan menuju tempat mobilnya diparkir.
"Mila, Mila." Teriakan orang memanggil namanya membuat Mila berhenti dan menoleh. Seorang bule berlari kearahnya, meski tak berapa ingat wajahnya, dia menduga jika itu adalah Ben.
"Kamu Milakan, istrinya Elgar, mantan suami Salsa?" Begitu lengkap Ben mengatakannya.
"Kamu?"
"Aku Ben, pacar Salsa." Ujarnya dengan nafas ngos ngosan. "Saat aku mau masuk kepemakaman, aku mendengar orang orang membicarakan Salsa yang pingsan dan dibawa mantan suaminya. Di, dimana mereka sekarang?" Ben terlihat panik.
Mila menggeleng. "Aku gak tahu Ben, aku kehilangan jejak mereka."
Ben berdecak kesal sambil garuk garuk kepala. Dia mengambil ponsel, hendak menghubungi Salsa.
"Elgar membawanya ke rumah sakit, mungkin yang terdekat dari sini."
Mendengar itu, Ben batal menelepon Salsa. "Ayo kita susul." Pria itu langsung menarik tangan Mila, membawa kedalam mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Dirumah sakit, Elgar mondar mandir didepan IGD. Selain cemas dengan keadaan Salsa, dia juga cemas karena Aden belum juga memberi kabar tentang Mila. Tak bisa hanya menunggu, kembali dia menghubungi Aden.
"Belum ketemu juga?" Seru Elgar yang makin pusing. Dia takut terjadi sesuatu dengan Mila karena tak bisa dihubungi.
"Belum Pak."
"Hanya mencari satu orang saja kamu gak bisa Den? Lama lama kamu tak bisa diandalkan. Cari sampai ketemu. Jangan pernah pulang sebelum istri saya ketemu." Seru Elgar lalu menutup panggilan begitu saja. Dia mengacak acak rambutnya frustasi. Kenapa malah seperti ini jadinya.
Tak jauh berbeda dengan Aden, dia juga frustasi karena harus mengelilingi pemakaman untuk mencari Mila.
__ADS_1