Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 39


__ADS_3

Hari ini, Bu Dirga sengaja datang ke TK Sinar mentari karena kangen dengan Saga. Dia membawa banyak sekali kue untuk dibagi bagikan pada seluruh murid. Sebelum jam istirahat, para wali kelas sudah membagikannya pada para siswa.


Saat bel istirahat berbunyi, Bu dirga yang tadinya ada diruang guru, keluar untuk mencari Saga. Senyumnya mengembang saat melihat Saga yang tengah kumpul bersama teman temannya diplay ground.


Melihat Ibu pemilik yayasan berjalan kearahnya, Saga yang tengah bermain perosotan langsung berlari kearahnya.


"Nenek," panggil Saga. Bocah itu langsung memeluk begitu sampai dihadapan Bu Dirga.


Bu Dirga bergeming, masih bingung kenapa Saga memanggilnya nenek.


Saga melepaskan pelukannya lalu menatap Bu Dirga. "Saga kangen sama nenek."


"Nenek?" lirih Bu Dirga.


"Ibu pemilik yayasankan neneknya Saga."


"Nenek?" Lagi lagi Bu Dirga mengulangi kata itu. Dia masih belum paham.


"Iya, nenek. Sagakan anaknya papa Elgar."


Bu Dirga tersenyum sambil mengusap kepala Saga. Dia ingat saat lomba hari itu, Saga memanggil Elgar papa, mungkin karena itu, Saga menganggap jika Elgar papanya.


"Nenek juga kangen sama Saga." Bu Dirga menunduk untuk menyamakan tingginya dengan Saga. Menyentuh pipi cubi bocah itu lalu mencium keningnya sebentar. Sepertinya dipanggil nenek lebih menyenangkan, lebih terasa dekat.


Bu Dirga kembali menegakkan tubuhnya, meraih sesuatu dari dalam tas dan memberikannya pada Saga.


"Buat Saga."


Saga menerima buku yang masih terbungkus plastik yang berjudul kumpulan cerita anak. Senyum senang terlukis dibibir mungilnya.


"Terimakasih Nek, Saga pasti akan membacanya."


"Sama sama sayang." Sahut Bu Dirga sambil mengusap puncak kepala Saga. Keduanya lalu duduk dikursi panjang yang ada ditepi halaman. Bu Dirga membuka bungkus buku itu lalu memberikannya kembali pada Saga untuk dibaca. Dengan sangat antusias, Saga mulai membacanya langsung didepan Bu Dirga.


"Wah, Saga udah lancar banget ya bacanya."


"Iya dong, kan tiap hari belajar sama mama."


Bel masuk yang berdering, mengakhiri perjumpaan mereka. Dengan berat hati, Bu Dirga membiarkan Saga kembali kekelas. Karena masih belum puas, Bu Dirga memutuskan menunggu Saga pulang di ruang guru. Ingin meminta ijin pada orang tuanya untuk mengajak Saga makan siang.

__ADS_1


Begitu bel pulang berbunyi, Bu Dirga segera pamit pada kepala sekolah. Selanjutnya dia keluar untuk mencari Saga. Dia melihat Saga sudah berlari ke pintu gerbang, dengan tergesa gesa, Bu Dirga menyusul bocah itu.


Langkah Bu Dirga terhenti begitu melihat wanita yang berdiri didepan gerbang. Dan matanya terbeliak begitu mendengar Saga memanggilnya mama dan memeluknya.


"Mila," gumam Bu Dirga. Kakinya mendadak terasa lemas dan kepalanya berdenyut denyut. Hampir saja dia terjatuh jika salah satu guru tak kebetulan lewat dan menahan tubuhnya.


"Ibu tidak apa apa?" tanya guru tersebut.


"Tidak, terimakasih." Dengan jantung yang masih berdegup dua kali lebih cepat dan tubuh sedikit gemetar, Bu Dirga keluar dari gerbang. Sayangnya Mila dan Saga sudah tidak ada disana.


Bu Dirga segera memasuki mobilnya, menyuruh sopir mengantarnya kekantor Elgar. Sepanjang jalan, dia terus memikirkan ucapan Saga tadi.


Saga anaknya papa Elgar.


Bu Dirga memegangi dadanya, apa itu artinya, Elgar sudah tahu jika Saga putranya. Jadi mereka sudah bertemu, Elgar dan Mila.


"Saga cucuku." Bu Dirga bergumam sambil meneteskan air mata.


...----------------...


Elgar keluar ruangan sidang dengan wajah datar. Salsa ataupun kuasa hukumnya tak datang, sudah sesuai rencananya. Tapi sayang, hakim belum juga menetapkan putusan.


"Tenang Pak." Pak Juno menepuk bahu Elgar, beliau adalah kuasa hukumnya.


"Memang seperti ini prosesnya. Sabar, jika sidang berikutnya Bu Salsa kembali tak hadir, makan akan langsung diputuskan, permohonan cerai Pak Elgar dikabulkan." Pak Juno menjelaskan.


Memang sangat jarang hakim langsung memutuskan cerai saat tergugat tak datang disidang pertama. Biasanya hakim memberikan kesempatan sekali lagi. Tapi jika kembali tak hadir, maka akan disimpulkan jika tergugat mengakui semua tuduhan penggugat. Dan selanjutnya, diambil putusan verstek. Yang artinya, permohonan cerai penggugat dikabulkan.


"Kalaupun Bu Salsa hadir, saya rasa juga tak akan bisa mengubah keputusan hakim. Bukti perselingkuhannya terlalu banyak, jadi mustahil jika permohonan cerai Bapak ditolak."


Elgar membuang nafas kasar. Mungkin yang dikatakan pengacara benar, dia memang harus sedikit bersabar. Semoga saja sidang berikutnya, Salsa kembali tak hadir.


Sedangkan diapartemen, Ben yang baru membuka mata merasakan kepalanya sangat pusing. Hal pertama yang dia ingat, adalah sidang perceraian Salsa. Ben mendudukkan tubuhnya dan menoleh kearah jam dinding yang ada disebelah kirinya.


"Udah jam satu."


Ben terjingkat kaget saat mendengar suara Salsa. Begitu dia menoleh kekanan, ternyata Salsa duduk disebelahnya, bersandar pada sandaran ranjang sambil bersedekap.


"Kamu masukin obat tidur kemakananku?"

__ADS_1


Ben tersenyum absurd sambil garuk garuk kepala. Melihat ekspresi tanpa dosa Ben, membuat Salsa geram dan langsung memukuli lengan Ben.


"Gara gara kamu aku gak bisa datang kesidang." Mendengar kata itu, Ben sigap menahan tangan Salsa.


"Jadi kamu gak datang kesidang Sa? Kamu juga ketiduran Sa?" Karena lebih dulu tertidur, Ben tak tahu apa yang terjadi pada Salsa.


"Gara gara kamu, gara gara kamu." Salsa menarik tangannya hingga lepas lalu kembali memukuli Ben. Kali ini, Ben tak menahan atau protes, dia malah tertawa ngakak karena rencananya berhasil.


Setelah Ben tertidur, Salsa juga merasakan kantuk berat. Saat itulah dia sadar jika Ben tak sedang pingsan, tapi tertidur. Mungkin karena banyak makanan yang dia muntahkan, Salsa hanya tertidur sebentar, tak selama Ben.


"Ayo kita kerumah sakit."


Ben makin ngakak mendengar ucapan Salsa. "Kita cuma minum obat tidur, tidak akan ada efek yang membahayakan, jadi buat apa kerumah sakit."


Salsa menghela nafas lalu menatap Ben tajam, membuat tawa pria itu seketika berhenti.


"Hehehe...maaf." Ben hendak meraih tangan Salsa tapi langsung dihempaskan oleh wanita itu.


"Cuma obat tidur kamu bilang?" Salsa melotot. "Bagaimana jika obat tidur yang kamu berikan tak aman bagi wanita hamil?"


Mata Ben seketika terbeliak dengan mulut sedikit terbuka.


"Hamil," gumam Ben pelan.


Meski Salsa tak begitu bahagia mengandung anak Ben. Tapi tetap saja, di tak ingin kehilangan janin dalam kandungannya. Vonis susah hamil pernah membuatnya drop dan pesimis. Dan sekarang, saat janin itu ada, jelas dia tak mau kehilangannya.


"Ka, kamu hamil Sa?"


Salsa mengangguk pelan.


Ben tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia memeluk Salsa sambil meneteskan air mata bahagia.


"Terimakasih Sa." Ben melepaskan pelukannya, meraih kedua tangan Salsa dan menciumnya.


"Kau yakin jika janin dalam kandunganku adalah anakmu?"


Ben menyeka air matanya sambil tersenyum.


"Aku tak yakin, tapi sangat yakin." Meski Salsa tak pernah bercerita jika dia tak lagi berhubungan suami istri dengan Elgar, Ben sangat yakin jika itu anaknya.

__ADS_1


"Tak ingin melakukan tes DNA?"


Ben menggeleng. "Aku sangat yakin jika dia," Ben mengelus perut Salsa, "adalah anakku."


__ADS_2