Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 38


__ADS_3

Pantang menyerah, Ben terus menelepon Salsa sampai akhirnya wanita itu mengangkatnya. Terus membujuknya agar mau bertemu hingga akhirnya Salsa mengalah dan bilang iya.


Salsa menyimpan test pack dilaci nakas lalu bersiap siap bertemu Ben. Bu Rendra yang masuk kekamar Salsa kaget melihat anaknya sudah rapi.


"Mau kemana?"


"Mau ketemu teman Ma." Jawab Salsa sembari memasukkan ponsel kedalam tas.


"Emang kondisi kamu sudah enak?"


"Lumayan." Setidaknya tak seburuk pagi tadi. Sekarang meski masih lemas, tapi sudah tak berasa mual lagi.


"Kamu, sudah bilang sama Elgar?"


Salsa menghela nafas, sepertinya mamanya salah paham, mengira anak dalam kandungannya adalah anak Elgar.


"Nanti Salsa bilang. Salsa buru buru Ma, Salsa pergi dulu." Salsa mencium kedua pipi mamanya lalu keluar dari kamar. Menuruni anak tangga pelan pelan karena badannya masih terasa lemas.


"Sa."


Panggilan Pak Rendra membuat Salsa yang hendak keluar jadi terhenti. Dengan tongkat ditangannya, Pak Rendra berjalan pelan menghampiri Salsa. Tubuh ringkih Pak Rendra membuat Salsa tak tega dan segera menyongsongnya. Menuntunnya hingga duduk disofa ruang tamu.


"Apa maksudnya ini?" Pak Rendra mengulurkan surat panggilan sidang pada Salsa.


Salsa menerimanya dengan tangan bergertar. Meski belum melihat isinya, dia sudah tahu surat apa itu. Kemarin Elgar sudah memberi tahu soal ini. Sebenarnya dia tak ingin papanya tahu. Tapi malah papanya yang menerima surat ini.


"Kamu dan Elgar akan bercerai?"


Salsa mengangguk pelan.


"Tapi kenapa? Apa alasannya?"


Salsa meremat ujung gaunnya, membuang pangdangan kearah lain karena tak sanggup menatap papanya.


"Kenapa Elgar mau menceraikanmu?" Pak Rendra tampak emosi.


Salsa menghela nafas lalu menatap papanya sambil tersenyum.


"Papa jangan pikirin soal ini. Salsa bisa mengatasinya sendiri. Papa hanya perlu konsetrasi untuk penyembuhan. Salsa ada urusan Pah, Salsa harus segera pergi." Salsa tak mau lebih lama lagi membahas tentang ini. Meski masih banyak yang ingin diketahui Pak Rendra, tapi pria itu membiarkan Salsa pergi.


Diluar, Ben sudah menunggu didalam mobil. Saat ini, pikirannya sedang sibuk mencari cara agar besok Salsa tak hadir dipersidangan.


Tok tok tok


Ketukan dikaca jendela membangunkan Ben dari lamunannya. Pria itu tersenyum melihat Salsa yang mengetuk, lalu segera membukakan pintu.


"Kamu sakit?" Ben terkejut melihat wajah pucat Salsa.


"Tidak. Aku lapar Ben." Salsa memegang perutnya. Sejak pagi memang belum ada makanan yang masuk karena dia muntah terus. Saat ini, rasanya sudah tidak mual, dia ingin makan sesuatu.


Ben langsung membawa Salsa ke restoran favoritnya. Disana, dia sampai terheran heran melihat Salsa yang makan begitu lahap. Bahkan dia sampai minta nambah lagi.


Apakah dia sangat putus asa hingga seperti ini?

__ADS_1


Ben menghela nafas sambil geleng geleng.


"Kenapa kau tidak cerita padaku? Hal sebesar itu kau sembunyikan dariku."


Salsa yang tengah makan seketika terhenti.


Darimana dia bisa tahu jika aku hamil?


"Besok tidak usah datang, biar perceraian kalian cepat selesai."


Astaga, jadi masalah itu.


"Dari mana kau tahu?"


"Tidak penting darimana, yang penting kau tak usah datang."


Salsa tak menanggapi, lebih memilih melanjutkan makan, seolah kata kata Ben sangatlah tidak penting.


"Sa, kamu dengerkan aku ngomong?" Ben kesal karena tak gubris sama sekali.


"Tak baik ngobrol saat sedang makan."


Ben mendengus kesal. Seperti dugaannya, tak akan mudah membuat Salsa tak hadir besok. Salsa begitu terobsesi untuk mengikat Elgar, dia pasti tak mau berpisah dengannya. Ben memutar otaknya, bagaimanapun caranya, dia harus bisa membuat Salsa tak datang besok.


"Antarkan aku pulang setelah ini." Ujar Salsa saat makanannya sudah habis.


"Menginap diapartemenku malam ini."


"Gak bisa."


Ben meraih tangan Salsa yang ada diatas meja lalu menggenggamnya. "Aku sangat merindukanmu. Please, menginap diapartemenku."


Salsa menghela nafas lalu menarik tangannya. "Aku sedang tak mood untuk bercinta Ben. Jadi lebih baik, anterin aku pulang."


Ben berdecak kesal. "Bukan hanya bercinta yang ada dikepalaku Sal. Aku hanya rindu padamu, ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu. Kita sudah 2 minggu tidak bertemu. Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu, tidak lebih. Please, menginap diapartemenku malam ini."


Selama ini Ben selalu ada untuknya. Disaat Ben memohon seperti ini, dia tak kuasa menolak. Dengan anggukan pelan, senyum Ben seketika merekah.


Pagi hari, Ben sudah berkutat didapur. Tak hanya tangannya yang sibuk memasak, otaknya juga sibuk memikirkan cara agar Salsa tak datang kesidang. Semalaman dia berusaha membujuk Salsa, tapi hasilnya nihil, Salsa tetap kekeh mau datang kesidang. Sama seperti Elgar, dia juga ingin Salsa segera resmi bercerai.


Urusan pengacara, Ben sudah berhasil mengelabuhinya, dengan menggunakan ponsel Salsa, dia mengirim chat pada pengacara agar besok tidak usah hadir.


"Maafkan aku Sa." Karena sudah kehabisan ide, Ben terpaksa menggunakan cara terakhir. Dia mengambil obat tidur dikotak p3k nya lalu menaburkan diomelet yang dia buat untuk Salsa.


Dengen sepiring omelet dan segelas air putih, Ben mendatangi Salsa dikamar. Tampak Salsa yang sudah siap dengan rok midi dan kemeja pitih. Wanita itu tengah sibuk memakai make up sekarang.


"Aku sudah buatin sarapan untukmu." Ben meletakkan nampan diatas nakas lalu duduk disisi ranjang.


"Tak perlu repot repot membawanya kesini Ben, aku bisa makan dimeja makan." Sahut Salsa sambil memoles blush on di pipi agar terlihat lebih segar.


"Duduklah disini, biar aku suapin." Ben menepuk sisi ranjang disebelahnya.


Salsa menyelesaikan make up nya lalu duduk disebelah Ben.

__ADS_1


"Aku membuat omelet kesukaanmu." Ben mengambil piring berisi omelet, memotong omelet tersebut lalu menyuapkan pada Salsa.


"Enak?"


Salsa mengangguk sambil mengunyah omelet dimulutnya. Melihat Salsa yang terlihat lahap, Ben melanjutkan menyuapinya. Lebih cepat habis, lebih baik, biae dia cepat tertidur.


"Kamu ikut makan juga dong." Salsa meraih garpu dari tangan Ben, menusuk sepotong omelet lalu menyodorkannya kehadapan Ben.


Udah pasti Ben tak mau memakannya.


"A, aku udah sarapan tadi." Ben berusaha menyembunyikan kegugupannya agar Salsa tak curiga.


"Tapi aku sedang ingin menyuapimu." Rengek Salsa. "Kalau kau tak ikut makan, aku juga tak mau makan."


Tak ingin rencananya gagal, Ben dengan terpaksa membuka mulutnya. Lebih baik sama sama tertidur daripada rencananya gagal total.


Ben mengunyah omelet dimulutnya sepelan mungkin. Jangan sampai dia makan lebih banyak daripada Salsa. Tapi sayangnya, Salsa terlihat tak nafsu makan, tapi lebih bernafsu menyuapi Ben daripada makan. Membuat Ben lebih banyak memakan omelet itu dibanding Salsa.


"Kamu kenapa Sa?"


Raut wajah Salsa seperti sedang menahan sesuatu. Dan beberapa saat kemudian, Salsa berlari menuju kamar mandi diikuti oleh Ben.


Hoek hoek hoek.


Ben menatap nanar muntahan Salsa diwastafel. Kalau semua omelet itu keluar, gagal dong bikin Salsa ngantuk. Sedangkan dia, matanya sudah mulai terasa berat.


"Kamu kenapa Sa?" Ben memijat punggung dan leher Salsa dengan sebelah tangan, sementara tangan sebelahnya, memijat kepalanya yang terasa pusing.


"Perutku mual sekali, kepalaku juga pusing." Salsa membersihkan mulutnya dengan air lalu berjalan keluar kaman mandi pelan pelan.


Sementara Ben, dengan mata yang terasa lekat mengikuti langkah Salsa dibelakang.


Dug


"Auhhh." Pekik Ben saat kepalnya terbentur tembok sebelah pintu. Saking ngantuknya, dia sampai tak bisa fokus.


Salsa geleng geleng melihat Ben yang mengusap kepalanya yang terasa berat.


"Kau bukan anak kecil Ben, pintu sebesar itu bisa bisanya kau membentur tembok," omel Salsa.


"Kepalaku pusing Sa." Ben berjalan sempoyongan menuju ranjang lalu merebahkan tubuhnya disana.


"Ben, kau baik baik saja Ben, Ben." Salsa panik melihat Ben yang yang terlihat lemas dan tak mampu membuka matanya.


"Ben, kau kenapa Ben?" Salsa hampir saja menangis saking cemasnya. Ben yang tadi baik baik saja, bahkan bisa memasak untuknya, tiba tiba saja pingsan, membuat Salsa begitu khawatir. Dia hendak menelepon ambulan tapi tak jadi karena kepalanya terasa sangat pusing, matanya juga terasa sedikit berat.


Dipengadilan agama, Elgar juga sedang cemas. Dia sangat berharap jika Salsa tak hadir. Hari ini, dia datang hanya berdua dengan pengacara.


Semangat


Sebuah chat dari Mila mempu melengkungkan senyum di bibir Elgar.


"Silakan masuk Pak, sidang akan segera dimulai." Ucap salah seorang petugas.

__ADS_1


Elgar dan pengacaranya segera masuk. Dia terus berdoa dalam hati. Semoga saja sidang berjalan lancar dan Salsa ataupun kuasa hukumnya tidak ada yang hadir.


Elgar berharap hakim langsung menjatuhkan putusan verstek disidang ini. Namun ternyata, hakim memberikan kesempatan sekali lagi pada tergugat dengan dipanggil kembali. Tapi jika tetap tidak hadir, makan hakim akan langsung menjatuhkan putusan verstek, yang artinya permohonan cerai Elgar dikabulkan.


__ADS_2