
[ Kangen ]
Mila tersenyum melihat pesan dari Elgar. Sudah 4 hari mereka tak bertemu karena Elgar keluar negeri untuk urusan bisnis. Meski setiap hari mereka melakukan video call, tapi sebelum bertemu, rasa kangen itu belum juga bisa terobati.
[ Kangen Saga? ]
Mila iseng menggoda, karena mungkin saja Elgar sedang merindukan Saga, bukan dirinya.
[ Mantan istri ]
Hanya sebuah ketikan jari saja tapi sudah mampu membuat hati Mila menghangat dan pipinya merona.
[ Penerbanganku sebentar lagi. Besok kita ketemu. Aku pengen ngajak kamu kesuatu tempat. ]
Mila jadi penasaran, kira kira kemana Elgar mau mengajaknya. Malam ini pria itu baru kembali dari Cina, bukankah besok lebih baik istirahat.
[ Yakin gak jet lag? Gak mau istirahat dulu? ]
[ Udah gak bisa ditahan rindunya. ]
Balas Elgar ditambah dengan emoticon love yang sangat banyak. Membuat Mila yang membacanya senyum senyum sendiri.
[ Dengan Saga? ]
[ Berdua saja ]
Makin penasaran saja Mila dibuatnya. Sejak ada Saga, tak pernah mereka keluar berdua. Apa ini artinya, Elgar sedang mengajaknya berkencan? Membayangkan saja kenapa sudah berdebar rasanya.
[ Maaf aku gak bisa El, besok ada barang datang dalam jumlah besar, aku gak bisa kemana mana ]
Elgar kecewa dengan balasan Mila. Padahal dia sudah sangat rindu dengan mantan sekaligus calon istrinya itu. Tapi sepertinya Mila tidak, wanita itu tidak mau meluangkan waktu sebentar saja dengannya. Elgar tak lagi membalas chat, mood nya mendadak rusak.
...----------------...
Siang ini, setelah meeting dengan salah satu klien disebuah cafe, Elgar bertemu dengan Salsa ditempat yang sama. Tadi pagi, mereka memang sepakat akan bertemu siang ini. Meski sudah diputuskan bercerai tapi masih banyak hal yang belum mereka selesaikan. Bahkan barang barang Salsa masih ada dirumah Elgar.
Lama tak bertemu, membuat keduanya sedikit canggung. Sebenarnya Ben ada disini juga, tapi pria itu memilih menunggu di mobil karena tak ingin mengganggu keduanya. Ben merasa jika keduanya butuh privasi, mereka harus menyelesaikan apa yang belum selesai.
"Apa kabar?" Elgar membuka obrolan lebih dulu.
__ADS_1
"Baik, kau sendiri?"
"Aku juga baik."
Salsa terlihat sedikit lebih berisi, mungkin karena dia makin doyan makan saat hamil.
"Bagaimana kabar papamu?"
"Papa...." Raut Salsa seketika berubah. "Sedang menjalani pengobatan di Singapura. Aku tak bisa ikut karena tak mendapatkan ijin terbang oleh dokter."
"Itu demi kebaikan janin dalam kandunganmu, aku yakin papamu bisa memahaminya."
Salsa mengangguk. Entah kenapa, saat ini mereka terasa lebih nyaman mengobrol daripada dulu. Jika dulu, setiap kali bicara, ujung ujungnya pasti bertengkar. Tapi sekarang, keadaan justru terasa berbeda.
"Aku ingin membicarakan tentang perusahaan. Kamu pemilik saham berbesar, semua keputusan aku serahkan padamu." Elgar sudah siap untuk mundur dari jabatannya jika Salsa menginginkan jabatan itu. Elgar juga sudah siap dengan kemungkinan kedua, yakni perusahaan kembali dipecah.
"Bisakah tetap seperti ini saja. Aku dan Ben tak ada bakat dalam bisnis, kami seniman. Papa juga sudah tak mungkin lagi mengurus perusahaan. Jadi, bisakah jika tetap seperti ini saja. Kita memang tak bisa bekerja sama membangun rumah tangga, tapi aku yakin akan bisa bekerjasama dalam bisnis denganmu."
Elgar tersenyum mendengarnya. Ternyata solusinya lebih mudah dari semua hal hal rumit yang sudah dia bayangkan. Dan ini juga keputusan terbaik untuk semua karyawan SE Corp.
"Kau lulusan S2 bisnis di luar negeri, yakin tak mau memimpin perusahaan?"
Salsa terkekeh mendengarnya. Yang dikatakan Elgar memang benar, tapi gelar yang dia dapat, tak serta merta hanya dari otaknya, banyak pihak yang terlibat. Tak jarang, Salsa membayar orang untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Jiwanya lebih condong keseni, tak berminat dalam bisnis. Tapi karena desakan papanya, dia terpaksa ambil kuliah bisnis. Enam tahun terasa sengat menyiksa baginya.
"Aku ketoilet dulu." Ijin Salsa setelah menyelesaikan makannnya.
Sembari menunggu Salsa, Elgar melihat lihat gambar baju pengantin yang dikirim oleh designer sebuah butik. Bibirnya menyunggingkan senyum saat membayangkan betapa cantiknya Mila saat memakai gaun itu nanti.
Elgar kaget saat seseorang tiba tiba menutup kedua matanya dari belakang. Telapak tangan yang terasa halus membuatnya yakin jika yang melakukannya adalah perempuan.
"Apa apaan sih Sa?" Desisnya sambil berusaha melepaskan telapak tangan yang menutupi kedua matanya.
"Mila." Elgar syok saat menoleh dan melihat Mila yang ternyata ada dibelakangnya.
Mila terdiam, masih memikirkan perkataan Elgar barusana. Sa, sa siapa yang Elgar maksud? Apakah Salsa? Disaat Mila masih berfikir, terlihat Salsa berjalan kearah mereka.
"Jangan jangan, kangen mantan istri yang kamu maksud kemarin adalah Salsa?" Mila hampir saja meneteskan air mata jika tidak ingat ada Salsa juga disini. Kemarin, sengaja dia bilang gak bisa ketemu karena ingin memberi kejutan pada Elgar, ternyata malah dia yang dibuat terkejut.
"Jangan salah paham. Sa...., sayang, aku tadi manggil kamu sayang. Iya, itu maksudku." Elgar mencari cari alasan. Meski terdengar sangat tak masuk akal.
__ADS_1
"Mila," gumam Salsa begitu menyadari wanita yang bersama Elgar adalah Mila. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, mereka bertemu kembali. Keduanya sama sama canggung, bingung harus bersikap seperti apa.
Mila melihat piring kosong serta minuman didepan Elgar. Dia bisa menyimpulkan jika mereka hanya berduaan disini, dan sudah cukup lama.
"Maaf, aku gak bermaksud mengganggu kalian." Mila hendak pergi, cepat cepat Elgar berdiri dan menahan pergelangan tangannya.
"Aku bisa jelasin," ucap Elgar.
"Lepasin." Mila berusaha melepaskan tangannnya dari genggaman Elgar.
"Kami hanya membicarakan tentang perusahaan tadi. Aku juga tak sendiri kesini, ada Ben yang menungguku diluar," Salsa menjelaskan. Bagaimanapun, dia dan Elgar masih punya kerjasama bisnis untuk jangka waktu yang tak bisa ditentukan, jadi sebisa mungkin, dia dan Elgar harus menjaga hubungan baik.
Mila berhenti berontak, menatap Salsa dan Elgar bergantian. Apa dia terlalu cemburu. Sudah jelas Elgar menceraikan Salsa, jadi mana mungkin Elgar selingkuh dengan Salsa.
Salsa mengambil ponsel yang ada didalam tasnya.
"Apa perlu aku memanggil Ben supaya masuk?"
Mila menggeleang. "Maaf, sepertinya aku sudah salah paham."
Elgar tersenyum lega mendengarnya. Tapi yang dia tak habis pikir adalah Salsa. Wanita itu ternyata sudah banyak berubah. Mungkin akan segara menjadi ibu membuatnya lebih dewasa.
Elgar menarikkan kursi untuk Mila. Menarik tangan wanitanya itu untuk duduk disana.
"Sepertinya obrolan kita sudah selesai El. Kalau begitu, aku permisi dulu."
Mila berdiri, mengulurkan tangannya pada Salsa.
"Maaf." Sejak dulu, ingin sekali Mila mengatakan itu pada Salsa. Dia merasa sudah dua kali merebut Elgar dari wanita itu.
Salsa mendekat kearah Mila lalu memeluknya. "Aku yang seharusnya minta maaf." Salsa merasa bersalah jika ingat apa yang pernah papanya lakukan pada Mila. Juga atas perbuatannya yang telah membuat Mila dan Elgar perpisah.
Rasanya seperti mimpi, itulah yang ketiga orang itu rasakan.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Salsa saat pelukannya dengan Mila sudah terlepas.
"Secepatnya, setelah akta cerai keluar, aku akan langsung mendaftarkan pernikahan kami," jawab Elgar.
"Selamat, jangan lupa undang aku dan Ben."
__ADS_1
"Kau sendiri, kapan akan menikah dengan Ben?"
Salsa menunduk sambil mengusap perutnya. "Setelah anak ini lahir."