Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 76


__ADS_3

Mila terbangun gara gara merasakan dadanya yang dire mas. Awalnya pelan, tapi lama lama makin sedikit kasar. Selain itu, dia merasakan sapuan nafas dan ciuman basah disekitar tengkuk. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Elgar. Belum lagi Elgar yang memeluknya erat hingga dia engap.


"Yank, pengen." Suara serak Elgar menandakan jika dia sedang dalam bt alias birahi tinggi. Sebenarnya tanpa bilangpun, Mila juga sudah tahu. Apalagi saat ini sangat terasa seseuatu yang keras menempel di pantattnya.


Tangan Elgar tak lagi berada diluar baju, mulai menyelinap masuk dan bergerilya didalam.


"Aku masih ngantuk banget El."


"Aku yang main, kamu tidur aja." Elgar membalikkan tubuh Mila menghadapnya lalu mencium bibirnya. Tangannya tak berhenti memainkan dua benda kembar didada Mila. Diperlakukan seperti itu, mana mungkin Mila bisa tidur, yang ada ngantuknya langsung lenyap.


Ciuman El mulai turun menyusuri leher Mila.


"Jangan digigit." Mila selalu memperingatkannya. Dia tak mau Saga sangsi akan keampuhan lotion anti nyamuk. Jika sampai itu terjadi, bisa bisa bocah kecil itu menyuruh mamanya beli obat nyamuk semprot buat nyemprot nyamuk nakal yang gak ada kapoknya itu.


Elgar mulai menarik kaos Mila keatas. Tapi sebelum kaos itu lolos melalui kepala Mila, dering alarm dari ponsel mengagetkan mereka.


"Udah pagi El." Mila baru sadar jika sudah pagi, padahal dia pikir kalau ini masih malam. Ternyata serangan fajar.


"Biarin aja." Elgar meneruskan keasyikannya.


Tiba tiba Mila teringat sesuatu, apalagi kalau bukan lima buah testpack yang dia beli semalam.


"Aku harus ngetes urin." Mila mendorong dada Elgar lalu cepat cepat bangun.


"Diselesaiin dulu napa yank."


"Bentar, aku tes dulu." Mila mengambil testpack yang ada diatas nakas lalu kabur kekamar mandi. Tak mempedulikan sama sekali ekspresi kalau Elgar karena serangan fajarnya dipause.


Elgar mengacak acak rambutnya frustasi. Kenapa selalu saja ada gangguan, tak bisakah autor membiarkan dia senang?


Dengan 5 buah testpack ditangan, Mila berjalan cepat menuju kamar mandi. Meski dia sangat yakin jika hasilnya bakal positif, tapi sebelum dipastikan dengan testpack, dia belum bisa lega. Dia memilih tastpack yang paling mahal yang diklaim penjaga apotek sebagai testpack dengan hasil yang paling akurat.


Sementara didalam kamar, Elgar bingung mau ngapain. Penasaran dengan hasil testpack, dia menyusul Mila kekamar mandi. Baru saja masuk, dia langsung dihadapkan dengan pemandangan yang mengesalkan. Dilihatnya Mila yang sedang menangis sambil menatap testpack. Inilah alasan kenapa dia malas membeli testpack. Karena hanya membuat Mila bersedih jika hasilnya tak sesuai dengan yang diharapkan.


"Ingat, kemarin udah janji gak bakal sedih kalau negatif, jadi gak usah nangis." Elgar mendekati Mila lalu memeluknya. Dibiarkannya istrinya itu menangis didadanya.


"Aku hamil El."


"Hah." Mata Elgar seketika melotot dengan mulut sedikit terbuka. "Ha, hamil?"

__ADS_1


Elgar melepaskan pelukannya, diambilnya testpack yang ada ditangan Mila. Disana tertulis pregnant 2-3.


"Ini benerkan yank."


Mila mengangguk. "Ya, kita akan punya anak lagi. Saga bakalan punya adik."


Elgar menutup mulutnya, senang bercampur dengan tak percaya karena secepat ini Tuhan memberi kepercayaan kepada mereka untuk kembali punya anak.


"Co, coba tes pakai yang lain."


Mila terkekeh mendengarnya. "Bukannya kemarin kamu bilang, jika positif, ya positif aja meski pakai 1 atau 10," cibirnya.


"Ya tapikan dicoba yank, biar lebih ngena gitu. Udah sini testpacknya, biar aku yang ngetes."


Dengan tak sabaran, Elgar mengambil 4 buah testpack yang diletakkan Mila didekat tempat sabun. Mencobanya satu persatu hingga selesai. Semuanya menunjukkan hasil yang sama, meski ada yang garis duanya sedikit samar, tetap saja, itu artinya positif.


"Aku gak sabar pengen ngasih tahu mama sama ibu, mereka pasti seneng banget." Mila mengusap perutnya yang masih datar sambil senyum senyum sendiri.


"Kita kasih tahu mama nanti aja, pas dia ulang tahun. Ini pasti jadi kado terspesial buat dia." Mila langsung mengangguk setuju.


"Makasih ya Yank." Elgar kembali memeluk Mila sambil mengecup keningnya. "Kamu memberikanku begitu banyak kebahagiaan. Sebagai ganti karena dulu aku tak ada saat kamu hamil dan melahirkan Saga, sekarang aku janji akan selalu ada untuk kamu."


Tanpa sadar air mata Mila menetes. Dia teringat begitu beratnya dulu saat dia hamil Saga. Selama hamil, banyak sekali air mata yang dia teteskan, semoga saja di kehamilan kedua ini, tak ada lagi air mata.


Elgar melepaskan pelukannya, menyeka air mata Mila lalu menunduk. Dielusnya perut datar Mila dan diciuminya beberapa kali.


"Hai little El," sapanya.


"Little Mila," protes Mila. "Aku pengen punya anak cewek."


Elgar tertawa sambil geleng geleng. "Cewek atau cowok sama saja. Aku akan sangat menyayanginya nanti."


Mila tersenyum mendengarnya. Setiap kata yang kaluar dari mukut Elgar, selalu bisa melambungkan hatinya, membuatnya merasa sangat dicintai.


"Hai baby, baik baik ya dalam sana." Ujar Elgar pelan didepan perut Mila. "Papa sama mama gak sabar pengen segera lihat kamu. I love u sayang." Elgar mendaratkan ciumannya diperut Mila beberapa kali sebelum akhirnya dia kembali menegakkan badan.


"Ya udah, mandi yuk," ajak Elgar.


"Hem." Mila mengangguk sambil tersenyum. Tapi mendadak senyumnya berubah menjadi keterkejutan saat melihat junior Elgar yang masih dalam status on.

__ADS_1


Elgar senyum senyum menggoda Mila. Dia masih ingin melanjutkan apa yang tadi belum selesai.


"Pengen njenguk baby dianya." Elgar mengode sambil menatap miliknya. Mau tak mau, Mila melayani. Kasihan juga kalau dikentangin kayak gitu.


Kamar mandi tak lagi terasa dingin, kedua insan yang berada didalamnya bermandi keringat dengan nafas tersengal sengal.


Tok tok tok


"Siapa didalam?"


Elgar dan Mila seketika gelagapan mendengar suara Bu Rahmi. Segera Mila membuka kran air agar suara percintaan mereka tak terdengar dari luar.


"Mil, kamu ya?"


"I, iya Bu." Sahut Mila dari dalam. Dia menoleh kearah Elgar yang ada dibelakangnya.


"Bentar lagi yank, nanggung," bisik Elgar sambil terus menggerakkan miliknya.


Mila menggigit bibir bawahnya, jangan sampai keluar suara memalukan dan terdengar ibunya.


"Mil, cepetan. Ibu udah kebelet." Ternyata karena itu Bu Rahmi pulang lebih dulu dari masjid.


"I, iya Bu." Mila berusaha menetralkan suaranya, tak mau sampai ibunya mencurigainya.


Bu Rahmi mondar mandir didekat toilet sambil memegangi perutnya yang mulas.


"Kamu lagi ngapain sih Mil?" Tanya Bu Rahmi yang tak mendengar suara guyuran air.


"Bu, buang air Bu."


"Cepetan, ibu udah gak tahan."


Mila kembali menoleh pada Elgar. "Cepetan El." Dia sudah tak bisa menikamati apapun saat ini, pikirannya kalut.


"Bentar lagi yank." Elgar makin mempercepat gerakannnya dengan kedua tangan memegang pinggang Mila.


"Mila, cepetan."


"Bentar lagi Bu."

__ADS_1


Mata Bu Rahmi membulat sempurna. Karena apa, karena yang menjawab barusan bukan Mila, melainkan Elgar. Dia menutup mulutnya saat menyadari jika didalam, Mila tak sendiri, melainkan bersama Elgar.


Tak lama kemudian terdengar suara gemericik air. Disusul pintu yang terbuka. Dengan wajah merah padam, Mila dan Elgar keluar dari kamar mandi.


__ADS_2