
Elgar menekan pedal gas dan meninggalkan Reno begitu saja. Mila dan Saga menoleh kebelakang dengan tatapan tak percaya, mereka pikir Elgar hanya menggertak saja tadi.
"Yakin Reno ditinggal?" Mila masih menatap Reno dari kaca spion, kasihan juga dia pada cowok itu.
"Dia bukan anak kecil, gak perlu khawatirin dia," sinis Elgar. Mobil yang dia kemudikan terus melaju hingga keluar ke jalan raya.
Mila tak lagi mau mendebat. Dia sangat paham karekter Elgar, jadi lebih baik dia diam saja. Reno pasti punya cara untuk pulang.
Sedangkan ditempat parkir, Reno berteriak teriak mengumpat El begitu mobil bosnya itu hilang dari pandangannya. Dia menendang nendang kerikil tak berdosa sambil menarik rambutnya kebelakang. Beberapa orang sampai memperhatikan tingkahanya yang udah kayak orang kesurupan.
Setelah lelah, dia terduduk dilantai parkiran, mengambil ponsel disaku jaket dan hendak memesan ojol. Jempolnya berhenti saat teringat jika tasnya ada didalam mobil, itu artinya, kunci kamar kosannya juga ada disana.
Didalam mobil, Elgar memperhatikan Saga dari spion tengah. Anaknya itu terlihat baik baik saja, dan sekarang sedang asyik melihat lihat jalanan dari kaca jendela. Apakah dia terlalu negatif thinking pada Salsa?
"Saga," panggil Elgar.
"Iya Pah." Sahut Saga sambil memajukan badannya kedekat papanya yang duduk dikursi kemudi.
"Emmm....tadi Saga ketemu tante Salsa?"
"Papa kenal tante Salsa?"
Elgar menatap Mila, tapi yang ditatap pura pura cuek dengan sibuk memperhatikan deretan toko dipinggir jalan.
"Iya, papa kenal. Tante Salsa ngomong apa sama kamu?" Elgar sangat penasaran, takut jika Salsa sebenarnya tahu jika Saga anaknya dan mengatakan sesuatu pada bocah itu.
"Ngomong apa ya?" Saga bingung harus mengatakan yang mana, soalnya banyak yang dia bicarakan dengan Salsa.
"Ya... sesuatu apa gitu. Misal nanya nama orang tua kamu?"
Saga menggeleng. "Enggak nanya. Tante Salsa cuma bilang kalau ada dedek bayi didalam perutnya."
Mulut Elgar seketika menganga mendengarnya. Dia sigap menepikan mobilnya dan mengerem mendadak. Membuat Saga yang duduk dikursi belakang terhantuk sandaran jok depan.
"Papah, hati hati dong, kepala Saga sampai kepentok." Saga mengusap dahinya yang terasa sedikit sakit. Sedangkan Elgar maupun Mila, tak ada yang menanggapi ucapan Saga. Keduanya masih sama sama kaget mengetahui jika Salsa hamil.
"Bukan aku." Elgar menggeleng cepat saat Mila menatapnya penuh tanda tanya. Walaupun tak berkata apa apa, Elgar paham arti tatapan Mila. Wanita itu pasti menyangka jika Salsa hamil anaknya.
"Sumpah, bukan anak aku." Elgar membuat huruf V menggunakan jari tengah dan telunjuknya.
"Kamu yakin?" Mila masih tak bisa percaya begitu saja. Dia tak mau Salsa bernasib sepertinya, ketahuan hamil saat sudah ditalak. Dia sangat tahu rasanya, menjalani kehamilan dan melahirkan tanpa suami bukanlah perkara mudah.
__ADS_1
"Sumpah Mil, suer, bukan anak aku. Kami sudah lama tak melakukan hubungan intim, sudah setahun lebih. Aku sampai sudah lupa kapan terakhir kali menunaikan kewajibanku. Dan setahun terakhir ini, jangankan berhubungan, bermesraan atau berciumanpun, kami tidak_"
"Cukup, cukup. Tak perlu kau jelaskan secara detail kapan terakhir kali melakukannya." Mendadak Mila kesal karen Elgar membahas tentang hubungan ranjangnya dengan Salsa.
Saga menatap kedua orang tuanya bergantian, tak paham apa yang sedang mereka bahas. Tapi dari nadanya, seperti orang yang sedang bertengkar.
"Mama sama papa berantem?"
"Enggak sayang." Jawab Elgar dan Mila kompak. Sedetik kemudian Mila membuang pandangannya kearah lain, sedang Elgar menahan tawa karena Mila ketahuan cemburu.
"Makan yuk, papa lapar," ajak Elgar. Dia kembali melajukan mobilnya dijalan raya.
"Ayuk Pah, Saga juga lapar." Saga menimpali dengan sangat antusias.
"Mama capek, kita pulang aja, makan dirumah."
"Yahh." Saga mendesahh lemah.
"Sudahlah Saga, disini mama bos nya, kita turuti aja daripada ngambek," goda Elgar sambil melirik Mila.
Mila memutar kedua bola matanya malas. Tak tahu kenapa gara gara ucapan Elgar tadi, dia mendadak kesal. Apakah dia cemburu, entahlah.
Elgar melajukan mobilnya menuju rumah Mila. Sampai di gate, menyapa sekurity yang bertugas lalu melaju terus hingga berhenti tepat didepan rumah Mila.
Mila hendak mengambil belanjaan untuk dibawa masuk tapi Elgar mencegahnya.
"Biar aku aja."
Malas berdebat, Mila membiarkan Elgar yang membawa sedangkan dia membuka pagar yang diselot dari dalam.
Tiba tiba sebuah motor berhenti disana. Seorang pria memakai jaket ojek online yang membawa penumpang dibelakangnya yang tak lain tak bukan adalah Reno.
"Ngapain kamu kesini?" Elgar mengernyitkan dahinya. Perasaan dia menyuruh Reno pulang, tapi kenapa malah pulang kesini?
Reno turun dari ojek, berjalan mendekati bosnya sambil garuk garuk kepala.
"A, anu Bos. Kunci kosan saya ada didalam tas."
"Lalu?"
"Tas nya ada didalam mobil, hehehe." Sahut Reno sambil tertawa gak jelas.
__ADS_1
Elgar teringin marah, tapi menahan diri agar tak terlalu terlihat galak didepan Mila. Dia meraih kunci mobil disaku celananya lalu melemparkan pada Reno. Dengan sigap cowok itu menangkapnya lalu membuka mobil untuk mengambil tasnya. Mila, Elgar dan Saga masuk lebih dulu.
"Sampai sini aja." Mila mengambil alih belanjaannnya dari tangan Elgar.
"Maksudnya?"
"Udah malam, kamu pulang aja."
"Loh, aku kan belum makan?"
Mila menghela nafas. "Aku yakin makanan dirumah kamu jauh lebih banyak dan enak enak." Mila mengusir secara halus.
"Tapi aku lagi pengen makan sama Saga." Elgar menarik lengan Saga. Mencari bala bantuan dari anak tercintanya. Lagian ini masih baru jam 8, sejak kapan jam 8 tamu sudah diwajibkan pulang?
"Boleh ya ma...Saga masih kangen sama papa."
Mila memutar kedua bola matanya jengah. Lagi dan lagi, Elgar selalu menggunakan Saga sebagai senjata.
"Bentar aja Mil, habis makan aku langsung pulang."
"Saya juga calon nyonya bos. Habis makan saya pulang." Reno tiba tiba ikut menyahuti. Elgar menoleh kebelakang, geram sekali pada Reno yang entah sejak kapan sudah berada dibelakangnya.
"Ya udah ayo masuk." Mila membuka pintu lalu menuntun Saga masuk lebih dulu.
Brukk
Reno mengaduh pelan saat Elgar meletakkan dengan kasar kantong belanjaan tepat diatas kaki Reno.
"Bawa kedalam." Titahnya lalu masuk terlebih dulu.
"Dasar bos tak ada akhlak," gumam Reno pelan sambil mengangkat belanjaan.
Elgar membalikkan badan sambil menatap Reno tajam. "Ngomong apa kamu barusan?"
Wajah Reno seketika Pias, dia tak menyangka jika Elgar ternyata mendengarnya.
"Eng, eng....i, itu bos, ada cicak kawin." Reno tertawa absurd sambil menunjuk dua ekor cicak yang ada didinding.
"Lalu, apa urusannya, kamu pengen kawin juga?"
Reno menggeleng. "Bukannya Bos yang pengen kawin?"
__ADS_1
"Aduhhh!" Teriak Reno kesakitan karena Elgar menginjak kakinya kuat kuat.