Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 61


__ADS_3

Sudah lewat tengah malam, tapi sepasang pengantin baru itu sama sekali belum mengantuk. Elgar, pria itu senyum senyum sendiri saat tahu Mila pura pura tidur. Beberapa saat lalu, dia sudah mengikhlaskan jika memang malam pertamanya akan tertunda, tapi sekarang, rasanya sudah mustahil. Hasrat yang sempat dia redam itu kembali naik dan tak mau menunggu lagi untuk disalurkan.


Elgar berjalan mendekati ranjang, duduk disisinya lalu menarik guling yang menutupi wajah Mila. Terpampanglah wajah merah merona yang sedang tersenyum malu malu.


"Katanya capek, kenapa belum tidur?"


Mila bingung mau menjawab, tak mungkin dia bilang sedang menunggunya untuk menunaikan malam pertama.


"Nungguin aku?" Goda Elgar sambil merapikan rambut Mila yang mengenai wajahnya.


"Mau sekarang?"


"Hah!" Mila gugup karena pertanyaan menjurus itu.


Tangan Elgar bergerak memindai wajah Mila. Menyusuri alis, mata, pipi hingga berlama lama di bibir merah yang kenyal dan menggoda.


Setiap sentuhan itu mendatangkan rasa yang luar biasa bagi Mila. Darahnya berdesir, tubuhnya mulai terasa panas dingin.


Tak puas hanya menikmati kekenyalan bibir merah itu dengan jari, Elgar memajukan wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Meski bukan ciuman pertama, tapi debarannya terasa seperti pertama kali. Suara kecipak bibir mereka memenuhi seisi kamar pengantin.


Kelopak mawar yang bertaburan diatas ranjang dan lilin aroma terapi menjadi saksi bisu dua bibir yang saling beradu dan tak ingin berkesudahan. Saling bertukar saliva, membelit, serta mengulum. Berhenti sebentar untuk mengambil nafas lalu memulai kembali hingga seluruh tubuh terasa terbakar.


Mila bagai tersengat listrik saar tangan besar Elgar menyentuh dadanya. Meremass nya pelan hingga lama lama sedikit kasar karena hasrat yang sudah diubun ubun.


Tak puas hanya diluar, Elgar mulai melepaskan satu persatu kancing piyama hello kitty yang dipakai Mila.


Mila melenguh saat jemari Elgar mulai menyentuh kulitnya secara langsung. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dan nafasnya mulai memburu.


Ciuman Elgar mulai turun menyusuri leher Mila. Menambah tanda merah yang tadi siang sudah dia tinggalkan disana.


Mila menggeliat karena semua sentuhan itu. Bibirnya terus mengeluarkan desa han yang makin membuat Elgar bersemangat untuk mengerjainya.


Keduanya saling bekerja sama membantu melucuti kain yang menutupi tubuh mereka hingga sama sama polos.


Meskipun dulu sudah sangat sering melakukannya. Tapi malam ini, terasa seperti pertama kali.

__ADS_1


Elgar menciumi setiap inci tubuh Mila. Menikmati kulit mulus yang selama tujuh tahun ini sangat dia rindukan dan ingin dia jamah.


Dan malam ini, tak akan dia sia siakan. Akan dia nikmati setiap jengkal tubuh Mila hingga si empunya badan terbang melayang layang.


Kedua tangan Mila meremat spei menahan rasa yang hampir meledak. Elgar sudah sangat hafal bagian sensitifnya, tidak susah bagi pria itu untuk membuat Mila mendapatkan puncaknya yang pertama.


"El...." Mila sampai menjambak rambut Elgar saat gelombang dahsyat itu datang. Seluruh tubuhnya terasa bergetar. Sudah sangat lama dia tidak merasakan kenikmatan seperti ini.


Elgar tersenyum puas melihat Mila yang tampak lemas dengan nafas tersengal sengal. Ada kepuasan tersendiri saat menyaksikan lawannya kalah terlebih dulu.


Mila memejamkan mata sambil meresapi rasa itu. Dan baru membuka mata saat sudah terasa hampir reda.


"Sekarang giliran aku Sayang."


Sebagai mantan istri, Mila paham apa yang paling disukai Elgar dan yang diinginkan pria itu saat ini. Suaminya itu paling suka jika miliknya dimanjakan. Mila langsung membalikkan posisi dan melakukannya, membuat Elgar merasa terbang keangkasa hingga kelangit ketujuh. Meski rasanya sangat luar biasa, tapi Elgar tak mau berlama lama.


Elgar kembali membalikkan posisi. Mengungkung tubuh Mila dibawahnya dan mulai bersiap siap melakukan penyatuan.


Mila memejamkan mata dengan kedua tangan memegangi punggung Elgar. Tubuhnya sedikit gemetar karena takut. Sejak hamil Saga hingga saat ini, Mila tak pernah melakukannya, jadi sangat wajar jika sekarang dia gugup. Peluhnya mengalir sangat deras.


Mila menggigit bibir bawahnya saat Elgar mulai memasukinya. Memang tak sesakit pertama kali dulu, tapi ini juga terasa menyakitkan. Mungkin karena sudah sangat lama tak melakukan, miliknya menjadi sangat sempit.


"Sakit?" Elgar bisa melihat raut itu diwajah Mila. Selain itu, dia juga merasakan jika milik Mila sangatlah sempit.


"Sedikit, hanya sedikit." Mila berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kasakitannya. Dia tak mau membuat Elgar bimbang hingga mengurangi kenikmatan yang pria itu rasakan.


Elgar mulai memacu, dari yang pelan hingga cepat dan lebih cepat. Mila mulai terbiasa, rasa sakit itu perlahan hilang dan tergantikan dengan rasa yang luar biasa.


Desa han dan eran gan keduanya saling bersahut sahutan. Keringat deras membanjiri tubuh polos mereka. Keduanya sama sama mendaki. Dan akhirnya mencapai puncak dan meledak bersama.


"El...." Mila menyebut nama Elgar. Tubuhnya terasa luluh lantak. Matanya terpejam dan nafasnya tersengal sengal.


"Terimaka kasih sayang." Elgar terlebih dulu mencium kening Mila sebelum turun dan merebahkan tubuhnya disebelah sang istri. Keduanya saling bertatapan sambil tersenyum dan mengatur nafas.


"Kau menyukainya?" tanya Mila.

__ADS_1


"Sangat, sangat menyukainya." Elgar meraih satu tangan Mila lalu menciumnya. "Milikmu masih sangat rapat. Aku seperti benar benar merasakan malam pertama."


Mila tersipu malu mendengar pujian El.


Elgar menyeka keringat didahi Mila lalu mengecup bibirnya sekilas.


"Apa kau puaas?" tanya Elgar, dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Mila.


"Kau sangat pandai merawat diri. Tubuhmu sangat harum, dan ini." Elgar menyentuh bagian inti Mila. "Sangar rapat dan membuatku menggila."


Dipuji oleh pasangan jelas kebanggaan tersendiri. Mila memang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Elgar.


Elgar merapatkan tubuhnya pada Mila. Menciumi lehernya sambil berbisik. "Aku mau lagi."


Mila merasa tubuhnya lemas bagai tak bertulang. Ternyata kalimat keramat itu hadir. Semoga saja hanya sekali Elgar mengatakan ingin lagi. Rasanya dia tak sanggup jika harus melakukannya hingga beronde ronde.


"Aku bersihkan dulu." Mila sengaja melakukannya agar bisa istirahat sebentar. Tapi ternyata usahanya sia sia karena Elgar susah sigap mengambil tisu.


"Biar aku aja yang bersihkan."


Tak mampu bilang tidak, Mila membiarkan saja Elgar melakukannya. Tapi karena Elgar yang membersihkan, yang ada pria itu kembali menaikkan gairah Mila.


Merasa barhasil menaikkan Mila kembali, Elgar menarik lengan Mila. Menuntunnya menuju sofa dan melakukan ronde kedua disana.


Mereka kembali bercumbu disana. Mila duduk dipangkuan Elgar dengan posisi menghadap pria itu. Gejolak yang hanya padam sesaat itu kembali membara. Rasa lelah dan ngantuk hilang dan berganti rasa ingin segera menuntaskan hasrat.


Posisi ini yang paling disukai Elgar sejak dulu. Meraih nikmat sambil menatap wajah cantik Mila. Keduanya terus bergerak memberikan kepuasan satu sama lain. Hingga rasa itu kembali datang. Keduanya bersama sama merasakan surga dunia. Tubuh Mila ambruk menimpa Elgar. Dia memeluk Elgar erat sambil menikmati sisa sisa percintaan mereka.


"Kau lelah?" tanya Elgar.


"Hem." Sahut Mila sambil mengangguk. Kepalanya masih nyaman bersandar didada bidang Elgar.


"Baiklah kita istirahat dulu. Nanti serangan fajar, biarkan aku yang bekerja."


Mulut Mila melongo. Sekarang sudah hampir dini jari. Jika memang ada serangan fajar, itu artinya dia hanya bisa tidur 1-2 jam saja.

__ADS_1


__ADS_2