
Mila terbuai dengan sentuhan demi sentuhan yang Elgar lancarkan. Meski masih siang, tapi keduanya sudah sangat bersemangat menjemput malam kedua. Siang ataupun malam, tak ada bedanya karena sama sama membuat keduanya bermandikan peluh dengan nafas tersengal sengal.
Dinginnya AC tak bisa mendinginkan gejolak yang membara didada keduanya. Elgar mengangkat tubuh Mila, membopongnya dan merebahkan diatas ranjang yang penuh bunga itu.
Kembali mereka saling bertatapan lalu berciuman. Suara bibir yang sedang beradu memenuhi kamar. Disaat bibir masih bekerja memberikan kenikmatan, tangan mereka tak mau tinggal diam. Saling melucuti satu persatu penghalang badan dan melemparkannya kesembarang arah.
Tok tok tok
Elgar tak peduli dengan ketukan pintu. Dia yang saat ini tengah menikmati puncak semeru mendadak pura pura tuli. Yang dia tahu hanya mendaki dan terus mendaki.
Tok tok tok
"El, ada yang ngetuk."
Elgar sama sekali peduli, dia malah menghisap sangat kuat hingga Mila tak bisa menahan de sah annya.
Tok tok tok
"Tuan, ada tamu."
Elgar berdecak kesal karena ketukan yang tak kunjung berhenti itu. Dengan ekspresi frustasi dia mengacak acak rambutnya dengan kasar.
"Tunggu sebentar." Ucapnya pelan lalu mengecup kening Mila sesaat. Elgar beranjak dari atas ranjang, memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai lalu memakainya kembali.
Elgar keluar kamar dengan wajah kesal. Ekspresi wajahnya sudah seperti ingin makan orang, membuat art yang mengetuk pintu itu gemetar ketakutan.
"Ma, maaf tuan. Ada Pak Aden dibawah. Katanya ada hal penting yang harus dibahas dengan Tuan."
Elgar mengumpat , membuat art didepannya makin gemetar ketakutan. Didalam kamar, Mila bisa mendengar ucapan art tersebut.
"Suruh dia menunggu sebentar."
Elgar kembali masuk, hendak melepas kembali kaos yang baru dia kenakan tapi batal. Ternyata Mila sudah kembali mengenakan pakaiannya satu persatu.
"Yank, kok udah dipakai lagi?"
"Kan ada tamu."
"Yaelah, cuma Aden." Elgar mendekati Mila, kembali mencium dan mere mas dada Mila. Bukannya mendapatkan sambutan, Mila malah mendorong dada Elgar hingga pagutan mereka terlepas.
"El....kasihan Aden. Temuin dia dulu."
Elgar berdecak kesal lalu membanting tubuhnya keatas ranjang begitu saja. Kepalanya terasa berdenyut jika hasrat yang sudah diubun ubun tak tersalurkan dan malah disuruh mending.
Mila menghela nafas. Sikap Elgar memang sudah banyak berubah, tapi untuk urusan ranjang, ternyata masih sama, belum berubah. Masih ngamuk kalau gak dilayani.
Mila duduk ditepi ranjang, meraih tangan Elgar lalu menggenggamnya. "Aden itu lagi kerja, sebagai bos, tunjukkan dong profesionalitas kamu. Masa dia disuruh nunggu kita yang lagi gituan. Mending kalau selesainya cepet, kalau lama?"
Dalam hati, Elgar membenarkan kata kata Mila. Tapi lagi lagi, yang dia rasakan, mana tahu Mila. Menahan seperti ini tidak gampang. Kalau dipaksa kerja juga pasti gak fokus.
"Nanti aku kasih yang spesial. Kamu suka aku diataskan?" Mila mengedipkan sebelah matanya. Berharap suaminya itu luluh dengan iming imingnya. "Terserah kamu mau berapa ronde, aku pasrah aja."
Mata Elgar seketik berbinar mendengarnya. Kedengarannya setimpal dengan rasa nyut nyutan karena terpaksa menahan.
__ADS_1
"Sekarang temui Aden dulu, setelah itu kita lanjut."
Elgar berdecak pelan, sambil ogah ogahan merapikan penampilan lalu keluar. Diruang tamu tampak Aden yang sedang sibuk dengan lap top didepannya. Saking fokusnya pria itu sampai tak menyadari kedatangan Elgar.
"Hem, hem."
Deheman Elgar menyadarkan Aden akan keberadaannya. Pria berkaca mata itu langsung berdiri dan menunduk sopan.
"Siang Pak."
Elgar menghela nafas, dia sedang tak butuh basa basi selamat siang ataupun selamat menempuh hidup baru. Yang dia mau saat ini hanya urusannya dengan Aden cepat selesai.
"Ada apa mencariku? Mengganggu orang yang mau malam kedua saja." Tanya Elgar dengan nada kesal yang sangat kentara..
"Malam?" Gumam Aden lirih. Pria itu celingukan melihat kearah pintu luar. "Bukannya ini masih siang menjelang sore Pak?"
"Suka suka saya menyebutnya."
Ya, ya, situ bos. Suka suka situ menyebutnya. Dasar pengantin baru. Maunya malam terus.
"Ada apa?"
Aden kembali duduk, membuka tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa berkas yang harus Elgar tanda tangani.
"Ada beberap berkas yang harus bapak tanda tangani. Saya terpaksa mengantar sekarang karena besok Bapak sudah berangakat ke Bali."
Elgar menghela nafas berat mendengar kata Bali. Semua fantasi liarnya saat berada di Bali satu persatu mulai pudar.
Pantesan mukanya langsung kusut saat aku menyebut Bali.
"Kamu kok kayak mau ngetawain saya gitu sih?" Diam diam Elgar memperhatikan raut wajah Aden yang tampak menahan tawa.
"Eng, enggak Pak." Tak mau masalah ini diperpanjang, Aden mencari pengalihan. "Duduk Mil, eh Bu."
"Panggil Mila aja, kayak biasanya." Sahut Mila sambil tersenyum.
"Gak usah disenyumin yank. Jomblo kalau disenyumin dikit suka beper." Ujar Elgar sambil membaca berkas.
Aden dan Mila sampai melongo. Heran aja, bisa tahu gitu Mila senyum meski mata Elgar menatap lembaran kertas ditangannya.
"Kita keruang kerja aku aja." Ajak Elgar sambil berdiri.
"Baik Pak." Aden segera membereskan apa yang ada dimeja.
"Aku boleh ikut?" tanya Mila. Penasaran juga dia dengan penampakan ruang kerja suaminya itu. Dia memang belum tahu ruang demi ruang dirumah ini.
Elgar mengangguk lalu menggandeng lengan Mila. Mereka bertiga berjalan menuju ruang kerja Elgar yang juga berada dilantai satu.
"Siang Bu." Sapa Aden saat mereka berpapasan dengan Bu Dirga.
"Siang." Sahut Bu Dirga. "Mau pada kemana?"
"Keruang kerja Ma, ada kerjaan dikit," jawab Elgar.
__ADS_1
"Kamu ikut juga Mil?"
Mila mengangguk.
"Udah gak usah diintilin mulu suami kamu. Lagian ini dirumah, siapa juga yang mau ngembat." Mila tertunduk malu karena ledekan mertuanya.
"Namanya juga bucin Ma. Maunya ngintil teruslah."
Mila langsung melotot sembari melepaskan tangan Elgar yang ada dilengannya. Dicubitnya diam diam lengan Elgar untuk melampiaskan kekesalan karena suaminya malah ikut ikutan membullinya.
Bu Dirga geleng geleng. Sebagai orang yang juga pernah menjadi pengantin baru, dia hanya bisa memaklumi.
"Badan mama pegel pegel, gimana kalau kita pergi massage saja?" ajak Bu Dirga pada Mila. Dia yakin menantuanya itu lebih capek lagi. Selain seharian dengan acara yang padat, dia yakin jika semalaman pasti masih harus ngelembur bareng Elgar. Tanda merah dileher yang dia lihat tadi dimobil menjadi bukti kuat.
"Boleh Ma, ayo. Badan Mila juga pegel pegel." Mila menggerakkan kepalanya kekanan dan kiri sambil memijit bahu.
"Pasti karena suaminya ganas," celetuk Aden lirih.
"Ngatain saya kamu?"
Aden cepat cepat menggeleng. Dia pikir Elgar tak mendengar, nyatanya dia salah, sial.
"Ya udah ayo," ajak Bu Dirga.
Elgar menahan lengan Mila sambil melotot. Bisa bisanya istrinya itu mau pergi setelah tadi janji mau melanjutkan lagi dengan iming iming setinggi langit.
"Enggak Ma, Mila gak usah diajak. Biar El aja yang massage dia nanti."
"Yang ada Mila makin pegel kalau kamu yang massage." Sindir Bu Dirga sambil menahan tawa. Dia bukan anak kecil, tahu sekali seperti apa kalau pria yang mijit, pasti bagian itu itu saja. Dan ujung ujungnya, malah dibikin makin pegel.
"Ayo Ma, Mila ambil tas dulu." Dia melepaskan tangan Elgar lalu berjalan cepat menuju kamar.
"Tapi yank." Seru Elgar yang masih belum rela ditinggal Mila.
"Sudahlah El, Mila capek, butuh dimassage," ujar Bu Dirga. "Kamu dirumah sekalian jagain Saga."
Aden menahan tawa. Entahlah, rasanya puas saja kalau melihat bosnya menderita.
Elgar dan Aden menuju ruang kerja. Pembahasan pekerjaan berujung kesialan bagi Aden. Bagaimana tidak, bos nya itu bawaannya marah mulu meski hanya salah dikit saja.
Sementara Mila dan Bu Dirga sedang menikmati massage di sebuah salon dan spa.
Elgar melihat jam ditangannya, Aden sudah pulang dari tadi, Saga juga sudah bangun tapi sedang asik main mainan barunya. Tapi Mila, sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya.
Elgar mengambil ponsel, menelepon Mila agar istrinya itu segera pulang. Adik kecilnya tak mau tidur sejak tadi. Membuatnya frustasi dan tak bisa tidur. Begitu panggilan tersambung, segera dia meluahkan isi hatinya
"Yank, lama amat sih? cepetan pulang dong. Punyaku ngambek, gak mau tidur sebelum masuk sarang. Udah gak tahan nih, buruan dong pulang."
"Ini mama El."
Glodak
Ponsel Elgar langsung terjatuh. Tubuhnya seketika lemas, malu sampai ubun ubun karena ternyata mamanya yang menjawab telepon Mila.
__ADS_1