Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 79


__ADS_3

Tak terasa, 9 bulan sudah Mila mengandung. Akhir akhir ini, dia sudah merasa kepayahan hingga malas mau kemana mana. Tapi spesial hari ini, dia terpaksa harus keluar rumah untuk menghadiri hajatan.


Mila menatap pantulan wajahnya dicermin. Dengan make up tipis dan gaun midi warna nude, dia serong kekanan dan kekiri.


"Yuk keluar, acaranya udah mau dimulai," ajak Elgar yang baru masuk kamar.


Bukannya keluar, Mila malah duduk diatas ranjang sambil menekuk wajah.


"Kok malah duduk?"


"Kamu pergi sendiri aja deh, aku gak pd ketemu banyak orang, apalagi ketemu karyawan SE corp." Berat badan Mila naik hingga 20kg, membuatnya terlihat gemuk. Dulu pas hamil Saga tak sebanyak ini kenaikannya. Mungkin karena sekarang dia lebih bahagia dan semua ngidamnya dipenuhi oleh Elgar. Bahkan hampir setiap hari saat pulang kerja, Elgar selalu bertanya apa yang diinginkan Mila, agar dia bisa mampir lebih dulu.


Elgar duduk disebelah Mila lalu meraih tangannya. "Namanya juga hamil, ya pasti gemuk. Orang pasti akan memaklumi." Elgar memegang kedua bahu Mila agar menghadap kearahnya. Dipegangnya dagu sang istri sambil tersenyum. "Kamu makin cantik saat hamil, tak ada yang perlu dirisaukan. Dan satu lagi." Elgar menyentuh perut Mila. "Pasti dedek bayi didalam sini juga cantik seperti mamanya." Ya, anak dalam kandungan Mila berjenis kelamin perempuan.


Mila tertawa pelan sambil menepuk Lengan Elgar. "Yang pasti dia bakalan mirip kamu, kayak Saga."


Elgar tergelak mendengarnya. "Kenapa bisa gitu ya? Rata rata, anak akan sangat mirip dengan ayahnya."


"Takut gak diakui kali," sahut Mila. Keduanyapun lalu tertawa bersama.


Mila dan Elgar keluar rumah. Didepan rumah mereka sudah sangat ramai. Karena apa, karena hajatannya ada dirumah sebelah alias rumah Billi. Bukan Billi atau mak Sari yang nikah, melainkan Aisyah yang menikah untuk kedua kalinya dengan perjaka tong tong. Reno, pria itu yang akhirnya bisa memenangkan hari Aisyah.


Setelah berbulan bulan berjuang, akhirnya Reno berhasil meyakinkan Aisyah untuk kembali berumah tangga. Tapi sebelum itu, Aisyah mengajak Reno untuk periksa kesuburan, dan alhamdulilah mereka berdua sama sama subur. Entah apa sebabnya, Aisyah tak kunjung hamil dengan suami yang dulu.


"Ayo masuk." Mila sempat Ragu saat hendak memasuki tenda hajatan. Disana banyak karyawan SE Corp karena dulunya Reno adalah satpam disana sebelum akhirnya menjadi supir pribadi Elgar.


"Pagi Pak, Bu." Sapa beberapa orang pada Elgar dan Mila.


"Pagi." Jawab Mila sambil tersenyum, sedang Elgar hanya menjawab dengan anggukan dan senyum saja.


Terlihat Reno yang duduk ditempat ijab kabul dengan tubuh sedikit gemetar. Pria dengan baju putih itu sepertinya sangat gugup saat menunggu kedatangan penghulu yang akan menikahkannya. Karena lagi musim kawin, penghulu harus berpindah dari tempat satu ketempat lainnya dan hasilnya telat.


Elgar yang hari ini bertindak sebagai saksi nikah, duduk ditempatnya, tak jauh dari Reno.


"Bos, tegang banget nih," adu Reno. Baru mereka berdua yang duduk disekitaran meja itu, jadi dia bisa sedikit curhat.


"Santai aja." Jawab Elgar tenang. Dia sudah 3 kali nikah, jadi sudah tahu seperti apa yang dirasakan Reno.


"Ada tips gak, supaya gak gugup, bos kan udah 3 kali?"


"Gak ada, udah santai aja. Kalau buat malam pertama, saya ada tipsnya." Sahut Elgar sedikit berbisik.


"Kalau itu mah, diponsel saya juga udah banyak tipsnya, gak perlu diajarin." Mereka berdua saling berbisik bisik.


"Ngoleksi kamu?"


"Kenapa, bos mau juga? Nanti saya kirim. Bolehlah buat nemenin solo nanti."


"Ngapain saya solo?" Elgar tak terima.


"Ya kan habis ini nyonya bos lahiran."


Elgar membuang nafas berat. Sebentar lagi dia memang harus puasa, makanya sekarang dibanyak banyakin mumpung masih bisa. Tapi menurutnya tak akan sulit, mengingat dulu dia sudah pernah puasa sangat lama.


Obrolan itu berakhir saat penghulu datang. Suasana yang sempat cair itu kembali berubah menegangkan, terutama buat Reno. Keringat dingin mulai keluar dari pori pori kulitnya.


Semantara Mila, dia duduk didekat Bu Sari dan Aisyah. Ijab kabul kali ini, Aisyah memang tidak duduk disebelah Reno.


"SAH."


Reno seketika bernafas lega, begitupun Aisyah. Reno menoleh karah Aisyah, tersenyum pada wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.

__ADS_1


Setelah acara akad nikah, dilanjutkan dengan resepsi. Kedua mempelai yang baru resmi menjadi suami istri itu tampak malu malu.


Diantara tamu yang hadir, terselip seorang bujang lapuk yang tampak lesu, siapa lagi kalau bukan Aden.


"Selamat." Ujar Aden lemas, tanpa senyum sedikitpun.


"Ya elah Bro, lemes amat." ledek Reno sambil menahan tawa. "Ngakunya situ ganteng, smart, berpendidikan tinggi, eh...kalah sama aku yang hanya lulusan SMA."


Aisyah langsung menyenggol Reno yang berdiri disebelahnya. Dia takut Aden tersinggung. Tak tahu saja wanita itu kalau mereka lagi kumpul, pasti saling ledek dan lebih parah.


Aden tak menggubris ledekan Reno, dia memilih pergi saja dan makan yang banyak sekalian bungkus biar Reno kalang kabut kalau makanan di acara resepsinya habis.


Bruk


"Aww...sorry om." Seorang gadis muda tak sengaja menabrak Aden. Sialnya, kuah soto yang ada dimangkuk gadis itu mengenai jas abu abu milik Aden.


Hampir saja Aden mengumpat, tapi saat dilihatnya gadis itu lumayan cantik, dia langsung tersenyum.


Gadis yang kebingungan itu segera mengambil tisu dan membersihkan jas Aden.


"Maaf ya Om, tolong jangan suruh saya ganti jasnya, saya cuciin saja." Gadis itu seperti ketakutan.


"Yakin mau nyuciin?"


"Iya, lebih baik nyuci daripada ganti."


Aden mengambil ponsel lalu memfoto gadis itu. "Buat jaminan agar kamu gak lari dari tanggung jawab." Lalu dia meraih dompet, mengambil kartu nama dan menyerahkan pada gadis itu. "Hubungi saya, jika tidak, saya akan mencari kamu sampai dapat dengan berbekal foto tadi."


Aden sengaja mengerjai gadis yang tampak lugu itu. Dia yakin gadis itu baru di Jakarta.


"Sa, saya pasti akan menghubungi om."


Selain Aden, datang juga Salsa. Dulu saat menjadi supir Elgar, Reno kenal cukup dekat dengan Salsa, bahkan juga sering menyupiri Salsa, oleh karena itu, Reno mengundangnya.


Kehadiran Salsa tentu saja menarik perhatian. Bukan karena dandanannya, tapi karena putri kecilnya yang sangat cantik. Kimmi, putri Salsa itu berwajah bule. Sejak kelahiran Kimmi dengan wajah bule, stigma negatif tentang Elgar yang menceraikan Salsa saat hamil anaknya sedikit demi sedikit mulai terbantahkan.


Gosip tentang putri Salsa itu cepat sekali menyebar setelah seseorang menjenguknya selepas melahirkan. Apalagi dua bulan setelah melahirkan Salsa menikah dengan bule, secara tidak langsung, lebih memperkuat dugaan jika bule yang tak lain adalah Ben itu ayahnya bukan Elgar.


"Adik Kimmi." Seru Saga yang melihat kehadiran Kim dan kedua orang tuanya. Dulu Saga pernah diajak menjenguk Kim setelah Salsa lahiran, mereka juga pernah ketemu lagi saat pernikahan Salsa dan Ben.


"Wah..ada kakak Saga." Sahut Salsa yang sedang menggendong bayi gembul berumur 8 bulan itu.


Saga memanggil papa dan mamanya, menyuruh mereka ikut merapat ke tempatnya.


"Udah bentar lagi nih kayaknya?" Tanya Salsa sambil mengelus perut buncit Mila.


"Menurut perkiraan kurang dua minggu," sahut Mila.


"Saga sudah tidak sabar pengen adiknya cepat keluar. Nanti dia pasti cantik kayak boneka seperti Kimmi kan Mah?" tanya Saga.


Semua yang ada disitu langsung ketawa.


"Kalau mau kayak adik Kimmi, ya harus Om Ben bapaknya."


Elgar dan Salsa langsung menatap Ben tajam, membuat bule itu seketika nyengir sambil membentuk huruf V. "Becanda."


Disaat mereka tengah berbincang bincang, tiba tiba perut Mila terasa sakit. Tapi karena tak yakin jika itu kontraksi, dia hanya menahannya saja.


"Yang, kamu kenapa?" tanya Elgar.


"Perut aku sedikit sakit."

__ADS_1


"Jangan jangan mau lahiran, ayo aku bawa ke rumah sakit," sahut Ben cepat.


Salsa seketika melotot tak terima mendengarnya. "Ngapain kamu Beb?"


"Dulu saat kamu mau lahiran, El yang bawa kamu kerumah sakit. Kali aja El pengen gantian, itung itung balas budi." Jawab Ben sambil nyengir.


"Gak perlu, aku bisa bawa istriku sendiri," ketus Elgar. Mode bucinnya mulai on. "Kerumah sakit sekarang Yank?"


Mila menggeleng, dia tak mau terlalu terburu buru. Dia takut hanya kontraksi paslu.


Mereka lalu makan bersama. Disaat Salsa dan Ben hendak pamit pulang, Mila merasakan jika kontraksi perutnya makin sering.


"Yank, yakin gak mau kerumah sakit?" Elgar panik melihat Mila yang meringis kesakitan.


"Kerumah sakit sekarang, aku udah gak tahan."


Mila tampak sangat kesakitan, membuat Elgar panik. Melihat Reno, segera dia tarik supirnya itu.


"Siapin mobil, kita kerumah sakit sekarang, Mila mau lahiran."


Tak pelak Reno dan orang yang ada disekitar menatap Elgar.


"Bos, saya nikah hari ini."


Elgar langsung menepuk dahinya. Karena panik dia lupa kalau Reno adalah pengantin.


"Ya udah, aku aja yang antar. Kamu ikut honey, kita kerumah sakit bareng bareng." Tutur Ben dan langsung diangguki oleh Salsa.


Empat orang itu langsung menuju rumah sakit. Selama diperjalanan, Mila terus mengeluh sakit dan meremasi tangan Elgar.


Sesampainya dirumah sakit, Mila segera dibawa ketempat bersalin. Karena masih pembukaan 3, terpaksa harus menunggu. Bu Rahmi segera menyusul diantar Billi.


"Aduhhh Mas.." Mila meringis sambil memegangi pinggangnya.


"Sakit banget ya Yank, aku panggil dokter ya." Elgar panik setiap kali Mila mengeluh. Dia sungguh tak tahan melihatnya.


"Kita ceasar saja biar bayinya cepat keluar." Ucap Elgar yang sudah tak tahan lagi harus menunggu proses pembukaan.


Mila menggeleng cepat. Selama bisa normal, dia mau normal saja. Dia hanya perlu sabar menunggu hingga pembukaan lengkap.


Dokter langsung mengarahkan Mila untuk mengejan begitu pembukaannya lengkap. Elgar yang setia menemani sampai menitikkan air mata melihat perjuangan Mila. Rasa bersalahnya makin tinggi saat ingat dulu Mila melahirkan Saga sendirian.


"Oek oek oek."


Akhirnya suara nyaring itu terdengar juga. Elgar seketika mencium kening Mila dan mengucapkan rasa syukurnya.


"Bayinya cantik sekali, mirip dengan papanya." Ujar dokter yang menangani.


Setelah dibersihkan, suster memberikan pada Elgar untuk diadzani. Pada momen ini, lagi lagi tak bisa Elgar menahan tangis harunya.


Bayi cantik adik Saga itu, diberi nama Kalani Dirgantara.


TAMAT


Terimakasih buat yang udah ngikutin cerita Elgar dan Mila mulai season 1.


Selamat Tahun Baru, jumpa lagi tahun depan dikarya terbaru author.


Buat yang belum follow, jangan lupa follow, biar saat author ada karya baru, dapat notifikasi.


Salam hangat dari Author 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2