
Maju kena mundur kena, alias berada dalam posisi terjepit. Mila mendesahh pelan, licik sekali Elgar, batinnya. Dia menatap pria licik didepannya itu, dengan tak tahu malunya, Elgar malah tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.
Saga, bocah itu membagikan masing masing 1 hot wheels. Anak kecil sepertinya, jelas selalu ingin menang. Dia memilih hot wheels yang menurutnya paling kenceng larinya. Sebagai pemilik yang tiap udah sering memainkan, Saga jelas paling tahu mana yang paling kencang larinya.
"Udah siap?" Elgar sepertinya sudah tak sabar.
"Tunggu." Mendadak otak licik Mila mulai bereaksi. Dia tersenyum smirk sambil menatap Elgar.
"Ada apa Ma?" tanya Saga.
"Mama kedalam dulu sebentar." Mila beranjak dari duduknya menuju kamar. Tak lama kemudian dia keluar lagi dengan bibir merah merona. Dia yakin kalau Elgar kemungkinan akan sengaja mengalah agar dicium, maka dari itu, sengaja dia menebali lipstiknya agar membekas dipipi pria itu. Sekali kali, perlu juga pria itu dikerjai.
Elgar berdecak pelan, dia tak seperti Saga yang polos, yang tak memperhatikan perubahan mamanya. Elgar jelas tahu jika Mila sengaja menebali lipstiknya. Tapi bukannya takut dicium Mila, dia malah semakin ingin merasakan bibir merona itu menempel dipipinya dan meniggalkan bekas.
"Ya udah, yuk mulai."
Mereka bertiga memegang hot wheels masing masing. Bersama sama meletakkan di garis start dan pertandinganpun dimulai. Mila hanya bisa berdoa supaya menang. Sayang dewi fortuna sedang tak berpihak padanya, hot wheels miliknya kalah. Rugi dia menebali lipstik, toh dia yang dicium.
"Horee...Saga menang." Teriak bocah itu kegirangan.
Elgar mengangkat telapak tangannya, melakukan tos dengan Saga dan tertawa renyah. Dia menatap Mila mesum, membuat wanita itu memutar kedua bola matanya jengah.
"Karena mama yang kalah, yuk kita cium mama bareng bareng." Elgar luar biasa bersemangat.
"Saga sayang mamakan?" Tiba tiba Mila menemukan suatu ide untuk menghindar. Melihat Saga mengangguk, dia langsung tersenyum. "Kalau begitu, Saga mau dong gantiin mama dicium?"
"Gak boleh, gak boleh, gak boleh. Itu curang namanya. Hukuman gak boleh diwakilkan," protes Elgar. Padahal Saga hampir saja mengangguk tadi. Menurut anak itu, tidak masalah dicium, dia malah suka.
Mila mendesaah frustasi, Elgar lebih pintar dari perkiraannya.
"Ayo Saga, kita cium mama bareng bareng."
Saga dan Elgar sudah mengambil posisi disebalah kanan dan kiri Mila, membuat jantung Mila berdebar tak karuan. Dicium Saga sudah biasa, tapi dicium Elgar?
Jantung Mila rasanya mau copot saat kedua pria disisinya mulai maju. Reflek dia memejamkan kedua matanya.
Cup, bibir mungil Saga menempel dipipi kiri Mila, tapi sebelah kanan, dia yakin itu bukan bibir.
__ADS_1
"Nanti saja jatahku aku ambil," bisik Elgar.
"Yeee." Seru Saga sambil memeluk Mila dari depan.
Mila menoleh kearah Elgar, pria itu tersenyum puas karena telah berhasil mengerjai Mila. Ya, Elgar tidak mencium pipinya, pria itu meletakkan telapak tangan dipipi Mila sebagai sekat antara pipi halus Mila dan bibirnya.
"Ma, mama kenapa?" Saga melepaskan pelukannya, memperhatikan wajah mamanya sambil meletakkan tangan didada Mila.
"Detaknya cepat sekali," ujar bocil itu polos. Dia lalu menempelkan kupingnya didada Mila. "Suaranya kencang, deg, deg, deg." Saga menirukan bunyi detak jantung mamanya.
Wajah Mila merona karena malu, sementara Elgar menahan tawa. Puas sekali rasanya berhasil membuat Mila berdebar debar.
Saga tiba tiba menarik telapak tangan Elgar dan meletakkan didada Mila. Menyadari tangan Elgar bertengger didadanya, reflek Mila bergerak mundur, sedangkan Elgar langsung menarik tangannya.
"Benerkan Pah?"
"I, i, iya." Elgar gelagapan. Kali ini, tak hanya jantung Mila saja yang berdebar, jantung Elgarpun sama. Dia meremat tangannya sendiri. Keberuntungan yang tidak terduga.
Mila makin menunduk, merutuki dirinya sendiri. Kenapa tadi dia tak memperhatikan Saga yang menarik tangan Elgar. Harusnya dia bisa menghindar sebelum telapak tangan besar itu menyentuh dadanya.
Elgar dan Mila tak sengaja saling bertatapan, cepat cepat keduanya menunduk, sama sama malu.
"Yahhh...masih pengen main."
"Saga....bobok dulu. Kapan kapan main lagi," Elgar menimpali.
"Baik Papa."
Dia lalu membereskan mainanannya dibantu oleh Elgar dan Mila. Setelah semuanya beres, Mila mengajaknya masuk kekamar. Sementara Elgar, dia menunggu di sofa ruang tamu karena masih ada yang ingin dia bicarakan dengan Mila.
Begitu Saga tertidur, Mila kembali menemui Elgar.
"Lusa kita foto preweding. Pagi sesi kita berdua. Selepas Saga sekolah, Reno akan mengantarkannya langsung ke tempat pemotretan agar kita bisa foto bertiga."
Mila mengangguk paham. Semua ini sudah pernah mereka bahas, Elgar hanya mengingatkan saja.
"Miko gimana?"
__ADS_1
"Dia bisa pulang, tapi sepertinya tak lama." Miko yang nantinya akan menjadi wali nikah Mila.
"El..."
"Hem." Elgar melihat seperti ada sesuatu yang Mila pikirkan. "Ada apa?"
"Bolehkan aku minta sesuatu sebelum kita menikah?" Meski sedikit ragu, tapi Mila tak bisa hanya diam. Dia harus mengungkapkan ganjalan dihatinya sebelum hari H.
Mendadak Elgar merasa cemas. "A...pa?"
"Dih, kok kayak berat banget gitu jawabnya. Gak mau ngabulin permintaanku?" Mila melipat kedua lengannya didada sambil cemberut.
"Stop, jangan pasang ekspresi seperti itu, pengen nyium jadinya." Elgar terkekeh pelan sementara Mila memelototinya.
"Mau minta apa sih? mahar 1 M, rumah baru, atau mobil baru?"
"Apaan sih, aku gak sematre itu." Mila mendengus kesal.
"Iya, iya, aku tahu Milaku tak seperti itu." Elgar tersenyum, memajukan sedikit posisi duduknya agar bisa meraih tangan Mila dan menggenggamnya.
"Aku tak keberatan kamu minta apapun, asal jangan minta pernikahan kita diundur apalagi dibatalkan."
Mila geleng geleng mendengarnya. Dia tersenyum menyadari calon suaminya yang udah kebelet kawin.
"Aku minta, barang barang dikamar kamu diganti semua, terutama ranjangnya. Aku tak mau menginap disana jika ranjangnya masih sama."
Elgar melongo mendengar penuturan Mila, tapi beberapa saat kemudian dia tergelak. Akhirnya dia tahu apa yang membuat ekspresi Mila semalam langsung berubah. Jadi ranjang toh masalahnya.
"Ranjang itu sangat berharga, kenang kenanganku dengan Salsa. Aku tak mau menggantinya." Sengaja Elgar membuat Mila kesal.
"Apa?" Mila menarik tangannya dari genggaman Elgar dan membuang muka kearah lain.
Elgar tergelak, lucu juga melihat Mila cemburu seperti ini.
"Besok kita ke toko furniture, pilih sendiri perabot apapun yang kamu mau untuk diletakkan dikamar kita. Cat dindingnya juga akan aku ganti, kalau perlu, lantainya juga. Apa sih yang enggak buat mantan sekaligus calon istriku ini." Terang Elgar sambil cekikikan. Dia kembali meraih tangan Mila dan menciumnya. Membuat Mila tersipu malu.
"Gak sayang itu lipstiknya?" Elgar menunjuk dagu kearah bibir Mila. Reflek wanita itu menutup bibirnya dengan telapak tangan. Dia malu karena Elgar mengetahui dia menebali lipstik tadi.
__ADS_1
Elgar menunjuk pipinya sendiri. "Gak mau ngasih cap kepemilikan disini."
Mila hanya mendesis sambil pura pura tak paham. Melihat kearah lain daripada ketahuan mukanya merah karena malu.