
Berdamai dengan keadaan kadang memang sulit. Tapi hal itu, jelas yang terbaik. Menerima ketetapan takdir, karena sesungguhnya, jodoh, rejeki dan maut sudah ditentukan yang maha kuasa. Kita hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yang menentukan.
Ketiganya sama sama merasa lega. Dendam hanya akan mengungkung hidup kita, tak membiarkan sekalipun kita tidur nyenyak sebelum dendam itu terbalaskan. Tapi yakinlah, ikhlas jauh lebih membuat hati tenang.
Mereka keluar dari cafe. Sesampainya diteras, Salsa melambaikan tangan kearah Ben yang berada didalam mobil. Dengan sigap, calon ayah itu segera keluar dan menghampiri Salsa.
"Ben, kenalin ini Mila."
"Calon istri mantan suami kamu?" potong Ben sambil mengulurkan tangan kearah Mila dan menyebutkan namanya.
"Aku punya nama," tekan Elgar tak terima.
"Becanda Bro, sensi amat kayak kucing kebelet kawin." Goda Ben yang seketika memancing tawa Salsa dan Mila.
"Dasar bule abal abal, ngerti darimana bahasa kawin?" ledek Elgar.
"Dari mantan istri kamu," bisik Ben ditelinga Elgar. Keduanya langsung tertawa ngakak, membuat Salsa dan Mila saling berpandangan bingung.
"Ngomongin aku ya?" Salsa mencubit lengan Ben hingga pria itu meringis kesakitan. Mila dan Elgar tertawa melihatnya.
"Ampun Honey, ampun." Ben berusaha melepaskan lengannya dari cubitan Salsa. Tapi karena tak berhasil, dia mencari cara lain.
Cup
Ben mencium pipi Salsa, membuat wanita itu reflek melepaskan cubitannya, mengusap pipi dan tertunduk malu.
"Cih, tak tahu tempat," ledek Elgar.
"Iri, bilang bos," cibir Ben sambil tertawa ngakak. Lama di Indonesia membuatnya sangat familiar dengan bahasa Indonesia, termasuk bahasa non formal.
Cup
Mata Mila melotot dengan mulut sedikit menganga saat Elgar tiba tiba mencium pipinya. Dia memelototi Elgar dengan wajah merah padam menahan malu. Apalagi disaat itu sedang ada pengunjung lewat mau masuk kedalam cafe.
Selepas kepergian Salsa dan Ben, Elgar mengajak Mila kesuatu tempat. Sengaja dia rahasiakan meski Mila berulang kali bertanya. Dan akhirnya, pertanyaan Mila terjawab saat mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan sebuah butik baju pengantin.
Dengan jari jari yang saling bertaut dan senyum mengembang, keduanya mamasuki butik dan langsung disambut dengan ramah oleh karyawan.
"Nita ada?" tanya Elgar pada karyawan tersebut.
"Beliau ada didalam. Sudah ada janji?"
__ADS_1
"Bilang dicariin El."
Karyawan itu mengangguk lalu masuk kedalam.
"Kamu kenal sama pemilik butik ini?" Mila berbisik.
"Dia mantan aku." Mila seketika melotot sambil melepaskan tautan tangan mereka.
"Kok gitu ekspresinya, cemburu?" Elgar terkekeh melihat wajah kesal Mila. Gimana gak kesal, di Jakarta tak hanya ada satu butik yang menjual baju pengantin, tapi kenapa butik cap mantan yang dipilih? Sengaja mau bikin cemburu?
"Gak usah jeles, mantan SMP, cinta monyet. Nita juga udah nikah dan punya 3 anak."
Disaat bersamaan, wanita yang sedang dibicarakan itu muncul. Dengan baju berbelahan dada rendah, wanita itu terlihat sangat seksi. Ditambah bibir merah merona, membuat Nita terlihat menggoda. Dia berjalan menghampiri El dan Mila.
"Biasa aja ngeliatnya, gak usah melotot." Bisik Mila sambil mencubit kecil lengan Elgar.
"El, apa kabar?" Nita hendak maju untuk cipika cipiki tapi buru buru dicegah oleh Elgar.
"Sorry." Elgar mundur sedikit. "Calon bini gue cemburuan." Lanjutnya sambil menoleh kearah Mila. Dan yang ditoleh hanya bisa tersenyum absurd.
Nita seketika tergelak mendengarnya. Setahu dia, Elgar paling tidak suka dengan cewek posesif. Tapi jika kali ini dia akan menikah dengan wanita pencemburu, sudah pasti pria itu dibuat bucin.
"Kayaknya ada yang jadi bucin nih?" Sindir Nita sambil menepuk lengan Elgar. Dia lalu mengulurkan tangan kearah Mila sambil menyebutkan nama, begitu pula dengan Mila. Keduanya lalu diajak Nita keruangannya untuk menunjukkan gaun pengantin terbaru yang gambarnya sempat dia kirim pada Elgar.
"El, apa gak salah pilihan kamu? Kita cuma nikah sederhana dirumah, masa iya aku pakai gaun seperti ini?" Bisik Mila.
"Siapa bilang kita nikah dirumah. Mama udah nyari wo dan ngurusin semuanya, kita tinggal tahu beres aja."
Wo? Mila kaget dengan kata kata Elgar. Beberapa hari yang lalu, mereka udah sepakat akan mengadakan syukuran kecil kecilan dirumah Mila, tapi sekarang, kenapa ada WO segala?
"Mama ingin pernikahan kita dipestain yang meriah. Ini permintaannya, aku gak bisa nolak. Urusan gedung, catering dan lain lain, semua udah diurus wo dan mama. Kita cuma tinggal baju pengantin doang."
Mila melongo mendengarnya. Rasanya janda dan duda tidak perlu pernikahan mewah, yang penting sah. Apalagi sudah ada Saga, masih pentingkah pesta mewah?
"El, apa gak sebaiknya kita nikah dirumah aja, bilang sama mama kamu."
"Udah telat, mama udah bayar dp ke wo." Tentu saja Elgar bohong, mamanya memang memintanya membuat pesta meriah, tapi belum menyewa wo karena tanggal pernikahan belum ditentukan.
"Kalian bisik bisik apa sih dari tadi?" Nita geleng geleng, merasa diabaikan.
"Sorry," sahut Mila.
__ADS_1
"Gimana, suka gak sama gaunnya?"
Mila memperhatikan gaun didepannya. Rasanya ini terlalu wah, tak sesuai dengan seleranya.
"Ada pilihan lain gak?"
"Kamu gak suka Yank?" Tanya Elgar sambil melingkarkan lengannya dipinggang Mila, membuat wanita itu risih karena malu dilihat Nita.
"Kamu pengennya yang gimana, nanti aku buatin."
"Yang simpel saja."
Nita menunjukkan gambar gambar di i pad nya pada Mila. Siapa tahu ada salah satu gambar yang Mila sukai. Ada juga contoh gaun gaun dalam bentum foto, pesanan klien yang terdahulu.
"Yang ini aku suka."
Mila menunjuk gambar gaun tanpa lengan yang simpel dengan sedikit payet.
"Enggak enggak, masuk angin entar kami. Ac di ballroom sangat dingin. Yang ada lengan panjangnya saja."
Elgar lebih dulu protes sebelum Mila melanjutkan ucapannya. Padahal Mila ingin gaun seperti itu tapi ditambah cardigan brukat yang bisa dilepas pasang.
Nita tertawa mendengarnya. Alasannya terdengar sangat mengada ada. Dia kemudian menunjukka gambar gaun dengan lengan panjang dan model yang lumayan sederhana.
"Ya, aku suka ini." Mila hanya bisa menghela nafas. Dia disuruh milih, tapi ujung ujungnya Elgar yang menentukan.
"Bajunya ada ini, kalau mau bisa dicoba, biar ukuran nanti aku sesuaikan."
Nita mengajak Mila ke fitting room untuk mencoba. Tak lama kemudian, mereka keluar dengan Mila yang sudah mengenakan gaun pengantin dan rambut dicepol keatas.
Elgar dibuat cengo. Mila terlihat sangat cantik dengan gaun putih berlengan panjang dengan belahan dada sedikit rendah. Mila yang merasa risih karena tatapan Elgar langsung menutupi dadanya dengan sebelah lengan.
"Bagian dadanya, belahannya dinaikin dikit." Elgar berkata pada Nita.
"Gak seru lo El. Gak kelihatan seksi kalau gitu. Dada calon istri lo itu bagus, jadi lebih seksi kalau kelihatan dikit gitu."
"Ya karena bagus, gue gak rela berbagi sama orang, enak aja. Pokoknya belahannya dinaikin sampai tertutup total dadanya."
"Ok ok." Nita terkekeh geli melihat keposesifan Elgar. "Itu aja yang di rubah?" Nita kemudian menyuruh Mila berputar agar Elgar bisa melihat seluruh gaun. Mungkin saja masih ada yang harus diperbaiki.
Mata Elgar melotot melihat model gaun yang tadi dia pilih. Ternyata bagian depannya saja yang tertutup, tapi belakangnya terbuka lebar. Dengan rambut dicepol keatas, punggung mulus Mila terekspos sempurna. Tak ada tali brra yang terkait dipunggung, membuat pikiran Elgar berkelana jauh hingga kepuncak gunung semeru yang lagi erupsi.
__ADS_1
"Ganti, ganti, gak jadi yang ini." Elgar mengangkat sebelah tangannya sambil geleng geleng.
Mila kembali masuk ke fitting room, berganti baju kembali lalu keruangan Nita. Karena tak ada yang cocok, akhirnya Mila ingin dibuatkan gaun yang sesuai dengan keinginannya dan Elgar, simpel, anggun dan tertutup.