Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 73


__ADS_3

Ben yang cemas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Mila yang duduk disebelahnya sampai menahan nafas karena tegang.


"Ben, pelan." Entah sudah berapa kali Mila mengatakannya, tapi tetap saja Ben seperti orang kalap.


"Berhenti." Teriak Mila karena sudah tak tahan lagi.


Ben yang kaget segera menepikan mobilnya dan berhenti. Mila membuka matanya, bernafas lega karena dia masih selamat.


"Lebih baik aku turun." Dengan tangan gemetar, Mila berusaha melepaskan sabuk pengaman. "Aku belum mau menyusul Pak Rendra."


"Sorry, sorry." Ben mengacak rambutnya. Terlalu cemas membuatnya hilang kendali, sampai sampai melupakan keselamatannya dan Mila.


"Jangan turun, aku akan lebih pelan." Ben menahan tangan Mila yang hendak membuka pintu. "Aku janji."


Mila awalnya ragu, tapi melihat kesungguhan diwajah Ben, tak pelak akhirnya dia mengangguk juga. Kembali Mila mengenakan sabuk pengaman. "Kita kerumah sakit untuk melihat kondisi Salsa, bukan mau jadi pasien, jadi berkendaralah dengan aman," omel Mila.


"Ok, ok." Ben kembali melajukan kendaraannya, kali ini dalam kecepatan wajar, tak seperti tadi.


"Kau tahu, aku sangat cemas saat ini. Aku sangat mencintai Salsa, ditambah lagi dia sedang mengandung anakku sekarang, aku takut terjadi sesuatu padanya." Ben baru pulang dari Spanyol, disana ibunya sedang sakit, terpaksa dia harus pulang dan meninggalkan Salsa. Tapi kemarin saat Salsa mengabari jika papanya makin kritis, Ben buru buru kembali ke Indonesia karena mencemaskan keadaan Salsa.


Mila memahami perasaan Ben. Beruntung sekali Salsa, dicintai setulus hati oleh pria seperti Ben. Dia teringat Elgar, wajah pria itu juga sangat cemas tadi. Sampai sampai dia ditinggal begitu saja.


Beruntung sekali kamu Sa, semua orang mencemaskanmu.


Buru buru Mila membuang pikiran itu jauh jauh. Tidak, dia tidak boleh iri pada Salsa. Wanita itu sedang dalam masa duka dan sekarang sedang kondisinya sedang tak baik baik saja, tak seharusnya dia cemburu pada Salsa.


Didepan IGD, Elgar mondar mandir tak karuan. Lebih kepada bingung dimana Mila sekarang. Tak jauh darinya ada Pak Joko, supir Bu Rendra yang tampak mencemaskan Salsa.


"Pak, sepertinya saya harus pergi untuk mencari istri saya." Elgar berniat untuk pamit.


"Jangan Pak, saya mohon jangan tinggalkan saya sendirian. Saya gak ngerti apa apa soal beginian." Pak Joko terlihat panik.


"Maksudnya?"


"Nanti kalau dokter keluar dan nyuruh ini itu, saya gak paham. Nanti kalau disuruh bayar ataupun tanda tangan, saya harus gimana, saya gak ngerti Pak."


Elgar berdecak pelan. Melihat wajah Pak joko yang panik, tak tega dia meningalkan sendirian.


"Lagian istri Bapak bukan anak kecil, tak mungkin dia hilang dipemakaman. Disana banyak orang, tak mungkin terjadi apa apa padanya. Insyaallah dia dalam kondisi baik baik saja sekarang Pak."


Dalam hati, Elgar membenarkan ucapan Pak Joko. Tapi tetap saja, dia cemas karena ponsel Mila tak bisa dihubungi.


Sesampainya dirumah sakit, Mila segera bertanya kebagian admininistrasi. Ternyata benar, baru saja ada wanita hamil yang dibawa ke IGD. Gegas Ben dan Mila menuju kesana.


Elgar terkejut melihat Mila datang bersama Ben. Bagaimana ceritanya merek bisa bersama?


"Bagaimana keadaan Salsa?" Tanya Ben sambil berlari menghampiri Elgar, meninggalkan Mila yang berjalan di belakangnnya.


"Dia masih diperiksa."


Elgar mengahampiri Mila, lega rasanya melihat istrinya itu baik baik saja.

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa bersama Ben?"


Bukannya menanyakan keadaan, malah pertanyaan itu yang keluar dari mulut Elgar, membuat Mila sedikit kecewa. Padahal dia ingin mendengar Elgar yang mencemaskan keadaannnya.


"Aku gak sengaja ketemu dia tadi." Jawab Mila dengan malas.


"Ponsel kamu mana, kenapa panggilanku gak dijawab?"


Mila mengedikkan bahu. "Gak tahu, mungkin tertinggal didalam mobil." Jawaban Mila yang terkesan santai membuat Elgar kesal. Tak tahukah wanita itu kalau dia sangat mencemaskannya.


"Kamu tahu, berapa kali aku menghubungimu?" Tanyanya dengan nada kesal. "Mungkin sudah puluhan kali, atau bahkan ratusan." Nada bicaranya yang sedikit naik membuat Mila melongo.


Dia tak menyangka jika Elgar malah memarahinya. Dia pikir pria itu akan minta maaf karena meninggalkannya, tapi malah marah marah.


Mila ingin balas memarahi Elgar yang telah meninggalkannya, tapi melihat dokter keluar dari IGD, dia membatalkan niatnya. Sepertinya saatnya tidak tepat.


Ben dan Elgar, kedua pria itu langsung menghampiri dokter untuk mengetahui kondisi Salsa.


"Gimana keadaannya dok?" tanya kedua pria itu bersamaan. Mila mendesaah pelan, rasa kesalnya kian bertambah melihat Elgar yang mencemaskan Salsa. Kalau tadi, dia masih bisa mentolerir, tapi sekarang sudah beda, sudah ada Ben, apakah dia harus sebegitunya mencemaskan Salsa.


"Diantara kalian, siapa yang merupakan suami pasien?" Dokter pria itu menatap Ben dan Elgar bergantian. Dan diantara keduanya, tak ada yang menjawab karena sama sama bukan suaminya.


"Sa, saya ayah dari anak dalam kandungannya." Dokter tersebut mengernyit mendengar jawaban Ben. Tapi sedetik kemudian, dia mengabaikannya karena ada hal yang lebih penting.


"Pasien perlu tindakan cepat untuk menyelamatkan janin dalam kandungannya. Oleh karena itu, kami membutuhkan ijin suaminya untuk melakukan operasi caesar."


Ben seketika syok, kehamilan Salsa masih 32 minggu, bahkan tanggal perkiraan melahirkanpun masih jauh.


"Apa tidak ada jalan lain?" tanya Elgar.


"Lakukan dok, lakukan apapun untuk istri dan anak saya." Ben tak mau mengambil resiko. Salsa adalah segalanya bagi Ben, dia tak mau sampai kehilangan wanita itu.


"Baiklah kalau begitu, kami akan segera menyiapkan semunya. Nanti suster akan datang membawa surat persetujuan, anda tinggal menandatanganinya."


Ben langsung mengangguk.


Mila merasa simpati pada Salsa. Wanita itu pasti sangat tertekan akhir akhir ini, hingga kondisinya buruk seperti ini dan harus melahirkan bayi prematur. Dia teringat bagaimana dulu saat melahirkan Saga. Beruntung Saga lahir pada waktunya meski dia sempat mengalami stress. Melahirkan anak tanpa suami jelas bukan perkara yang mudah.


Elgar dan Mila memutuskan untuk pulang karena sudah ada Ben dan Pak Joko disana. Mereka terpaksa naik taksi online karena mobil ada dipemakaman.


"Kenapa?" tanya Elgar yang sejak tadi mendapati Mila hanya diam. Mila hanya menjawab dengan gelengan. Sesungguhnya dia masih kesal dengan Elgar. Pria itu terlihat sangat mencemaskan Salsa, membuatnya merasa cemburu.


"Kamu tadi kemana sih, kenapa bisa tiba tiba gak ada dibelakangku?"


Mila hanya mengedikkan bahu, membuat Elgar makin pusing. Kesannya, Mila tak mau bicara dengannya. Dan ternyata, diamnya Mila berlarut hingga malam hari.


Selesai menyiapkan makan malam, Mila memanggil Saga yang ada dikamar bersama Elgar. Keduanya terlihat asyik menyusun lego.


"Saga, makan dulu sayang. Sekalian ajak papa kamu."


Saga segera mengemasi mainnya dibantu oleh Elgar. Sementara Mila, dia mengambil ponsel lalu duduk didepan meja rias.

__ADS_1


"Sayang, ayo makan." Sebelum keluar, Elgar lebih dulu mengajak Mila.


"Saga, bilang sama papa, mama gak lapar, kalian aja makan berdua." Mila berucap dengan mata tetap fokus pada ponsel.


"Pah, mama bi_"


Elgar menggeleng, membuat Saga menghentikan ucapannya. Lagian buat apa diulang, toh dia udah dengar sendiri dari Mila.


"Makan yuk, dari siang kamu belum makan loh." Bujuk Elgar sambil menyentuh bahu Mila.


"Saga, bilang sama papa, mama gak laper. Mama capek, pengen istirahat." Mila kembali menggunakan Saga sebagai perantara.


"Pah, mama bilang_."


Elgar meletakkan telunjuk dibibirnya, membuat Saga lagi lagi terdiam.


"Ngapain sih ngomongnya sama Saga, kan bisa langsung keaku?"


"Saga, bilang sama papa kalau mama capek, pengen istirahat. Suruh dia keluar untuk makan."


Saga menatap kedua orang tuanya bingung.


Elgar bercedak kesal. Sekarang dia makin yakin jika Mila beneran marah dengannya.


"Pah, mama nyuruh papa keluar."


Elgar mendekati Saga, menyuruh anaknya itu untuk makan dengan nenek karena ada yang ingin dia bicarakan dengan Mila. Setelah Saga keluar, segera Elgar menutup pintu.


Mila menghela nafas, padahal dia sedang tak ingin bicara dengan Elgar. Dia mendadak jengah dengan pria itu. Sudah meninggalkannya dipemakaman, tapi tak minta maaf sama sekali, malah memarahinya karen ponselnya ternyata ketinggalan didalam mobil.


Elgar mendekati Mila, mengambil ponselnya lalu meletakkannya diatas meja rias. Dia berlutut didepan Mila sambil menggenggam kedua tangan Mila yang berada dipangkuan.


"Marah sama aku?"


Mila tak menjawab. Sebenarnya bukan marah, hanya kesal, kecewa dan entah apalagi. Moodnya mendadak buruk hari ini, bawaannya kesal mulu.


"Maaf."


"Untuk apa? Emangnya kamu salah?" Sengaja Mila menanyakannya, hanya ingin tahu, apakah pria didepannya itu merasa bersalah atau tidak.


"Aku tadi terlalu mencemaskan Salsa, sampai ninggalin kamu dipemakaman."


"Dan kamu gak mencemaskan aku sama sekali." Mila mengucapkannya dengan mata berkaca kaca.


"Sumpah sayang, aku sangat mencemaskanmu. Bahkan aku sampai meneleponmu berkali kali. Aku juga menyuruh Aden mencarimu. Rencanya, setelah mendapatkan kabar tentang kondisi Salsa, aku berniat akan kembali ke pemakaman untuk mencarimu, tapi kamu lebih dulu datang dengan Ben."


"Dan kamu malah marah sama aku?"


"Demi Allah sayang, aku gak marah. Aku seperti tadi karena terlalu mencemaskanmu."


"Aku mau tidur, sudah kamu sana keluar." Mila melepaskan tangan Elgar, bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ranjang.

__ADS_1


Elgar garuk garuk kepala. Membujuk wanita marah sangatlah susah. Dia memutuskan untuk keluar kamar, memikirkan cara untuk membujuk Mila agar ngambeknya gak keterusan.


Sementara Mila, dia yang nyuruh Elgar keluar, tapi kesal saat Elgar benar benar keluar. Kesal karena usahanya terkesan tak maksimal. Apakah semua wanita seperti itu, yang keluar dari mulutnya belum tentu apa yang benar benar dia diinginkan.


__ADS_2