Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 62


__ADS_3

Elgar mengusap kepala Mila yang bersandar didadanya sambil sesekali mencium puncak kepalanya. Rasanya sungguh nyaman, membuat Mila yang lelah memejamkan mata yang terasa lengket itu.


Elgar bergerak, hendak memindahkan tubuh Mila yang berada dipangkuannya.


"El, aku ngantuk. Jangan banyak gerak, aku mau tidur." Mila mengeratkan kedua tangannya yang mengalung dileher Elgar.


"Iya tidur, tapi pindah dulu ya, masih belum keluar."


"Kan udah dua kali." Lirih Mila dengan nada sedikit sebal. Rasanya dia sudah tak sanggup jika harus lanjut ronde ketiga.


"Punyaku masih didalam kamu Yang."


"Hah!" Mila mengerutkan kening. Tapi sesaat kemudian, saat menyadari sesuatu, tawanya langsung meledak. Bisa bisanya dia lupa jika punya Elgar masih berada didalam. "Pantesan seperti ada yang mengganjal." Mila mengangkat tubuhnya sedikit hingga milik Elgar keluar lalu kembali keposisi nyaman tadi.


Elgar hanya bisa menghela nafas sambil geleng geleng.


Mila menyorokkan wajahnya diceruk leher Elgar sambil memejamkan mata. Dia memang sangat menyukai aromo tubuh suaminya. Jadi sebelum memejamkan mata, dia hirup aroma itu dalam dalam biar makin nyenyak tidurnya.


Elgar yang juga mengantuk mengusap punggung Mila sambil memejamkan mata.


"Dingin El." Gumam Mila dengan mata yang masih terpejam.


"Ya udah kita pindah keranjang ya. Pegangan yang erat."


Elgar mencoba bangun dengan posisi Mila yang masih dipangkuannya. Dia mengangkat Mila sedikit ketas lalu berdiri. Menggendongnya seperti bayi koala dan memindahkannya keatas ranjang. Elgar mengambil tisu untuk membersihkan milik Mila lalu menyelimutinya agar hangat. Setelah membersihkan miliknya, Elgar ikut masuk kedalam selimut yang sama lalu memeluk Mila dari belakang.


"El, tangannya." Mila menyingkirkan tangan Elgar yang bertengger didadanya. Tapi baru sebentar disingkirkan, udah kembali lagi ketempat semula dan makin iseng dengan memainkan puncak dada Mila.


"El...."


"Hem." Jawab Elgar tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dia malah memejamkan mata dan menyiumi bahu Mila.


"Aku gak bisa tidur kalau kamu gini." Kembali Mila menyingkirkan tangan nakal itu.


"Pengen nen." Lirih Elgar sambil memaksa Mila membalikkan badan menghadapanya. Menyorokkan kepalanya kedada Mila seperti bayi besar.


"Elgar." Teriak Mila cukup keras sambil menjauh dari Elgar. Wajah kesalnya bikin Elgar seketika cengengesan.


"Ya udah, ya udah, tidur. Aku gak ganggu. Sini aku peluk." Elgar merentangkan lengannya.


"Enggak," tolak Mila tegas.

__ADS_1


"Janji gak digangguin." Elgar menahan tawa sambil mengangkat kelingkingnya. Pria itu menggeser tubuhnya mendekati Mila lalu mendekapnya didada.


"Good nigth." Elgar mencium kening Mila lama lalu membiarkannya tidur dengan nyaman. Diapun ikut tidur, mengisi amunisi sebelum serangan fajar dimulai.


Rasanya masih baru sebentar terpejam, tapi dering ponsel mengusik tidur Elgar. Tak mau Mila terganggu, Elgar memaksakan bangun untuk mematikan deringnya. Saat melihat dua buah ponsel diatas nakas, Elgar baru sadar jika yang sejak tadi berdering adalah ponsel Mila. Senyumnya mengembang saat menyadari jika dering ponsel mereka ternyata sama.


Tertera nama ibu dilayar ponsel Mila. Segera Elgar menjawabnya karena takut ada yang penting. Begitu panggilan tersambung, langsung terdengar suara tangisan. Jelas sekali jika itu suara Saga.


"Mil, Mila," panggil Bu Rahmi.


"Ini El Bu."


"Mama ...mama....." Terdengar suara Saga yang meraung raung memanggil mamanya.


"Saga nangis nyariin mamanya."


"Ya udah El kesana ambil Saga Bu."


Setelah sambungan terputus, Elgar segera mamakai pakaiannya dan membangunkan Mila. Ditepuknya pelan lengan Mila sambil memanggilnya.


"Sayang ..bangun."


Bukannya bangun, Mila malah melenguh lalu mengubah posisi tidurnya kearah lain.


"Ngantuk El, udah kamu mulai aja."


Elgar garuk garuk kepala. Apanya yang mau dimulai coba?


"Yang..." Elgar kembali mengelus lengan Mila.


"Mulai aja El, aku dibawah aja ya." Jawab Mila dengan mata masih tertutup, setengah mengigau.


Kali ini Elgar tak bisa menahan tawanya. Meledak juga akhirnya tawa itu.


"Hahaha......Aku itu mau keluar yank."


"Hah, perasaan belum dimulai, kok udah mau keluar aja." Mila memaksakan matanya terbuka.


Elgar tertawa sambil geleng geleng. Entah efek malam pertama atau apa, dibangunin dikit pikirannya langsung dikira lagi ngajak gituan.


"Kok kamu pakai baju?" Mila masih juga belum nggeh. Matanya yang baru terbuka setengah samar samar melihat Elgar sudah berpakaian lengkap.

__ADS_1


"Aku mau keluar ngambil Saga, kamu kira mau ngapain, hahaha."


Mila berdecak pelan, antara malu dan kesal. Dia pikir Elgar mau memulai serangan fajar makanya membangunkannya.


"Pakai baju gih, aku mau ngambil Saga dikamar ibu. Kasihan dia nangis nyariin kamu." Elgar mencium kening Mila sebentar lalu keluar.


Mila mengambil bajunya yang berserakan diranjang dan lantai. Segera mengenakannya dan kembali rebahan karena masih sangat ngantuk.


Tak lama kemudian, Elgar kembali dengan Saga dalam gendongannya.


"Mama..." Tangis yang tadi sudah reda kembali menggema demi mencari perhatian sang mama. Dengan kedua tangan yang terulur kedepan, isyarat minta digendong mamanya. Meski ngantuk dan lemas, Mila berusaha bangun lalu mengambil alih menggendong Saga.


"Kenapa Saga gak diajak ditidur disini bareng mama sama papa?" Protesnya masih dengan tangis yang belum reda.


Mila menatap Elgar, berharap pria itu memberi jawaban atas pertanyaan Saga, tapi sebaliknya, Elgar malah mengedikkan bahu..


"Tadi Saga udah tidur, jadi mama takut ngebangunin Saga kalau dipindahin kesini. Udah dong, jangan nangis." Mila menyeka air mata Saga dengan ibu jarinya. Menurunkan bocah itu diatas ranjang lalu menyiapkan bantal untuknya.


"Tidur lagi ya, masih malam." Elgar ikut naik keatas ranjang. Dia tak tega melihat Mila yang terus terusan menguap dan menahan kantuk. Sejujurnya, dia sendiri juga sangat ngantuk sekarang.


"Ini apa Ma?" Saga mengambil kelopak bunga yang ada diatas ranjang lalu mencium baunya.


"Bunga." Jawab Mila sambil merebahkan diri disebelah Saga.


"Kenapa banyak bunga diatas ranjang?"


Mata Mila sudah terpejam, tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Saga.


Kalau dijawab, pasti bakalan muncul pertanyaan lain lagi. Bisa bisa gak jadi tidur kalau gitu. Seperti itu yang Elgar pikirkan saat ini.


"Udah udah, udah malam. Saga bobok ya." Elgar menepuk nepuk bantal dibelakang Saga lalu merebahkan tubuh mungil yang masih ingin banyak bertanya itu.


"Lihat tuh." Elgar menunjuk kearah Mila yang sudah memejamkan mata. "Mama ngantuk banget, dia kelelahan. Saga buruan bobok ya, jangan ganggu mama."


Saga menatap mamanya yang terlihat kelelahan. Mengecup keningnya sambil mengucapkan selamat tidur. Hal yang sama juga dia lalukan pada papanya.


"Good night papa."


"Good night sayang." Elgar balas mencium kening Saga.


Elgar tersenyum senyum melihat dua orang yang disayanginya tidur disisinya. Rasanya masih seperti mimpi. Hari ini, kebahagiannya terasa begitu sempurna. Elgar ikut merebahkan badan. Memeluk Saga yang berada ditengah lalu ikut tidur.

__ADS_1


Rencana serangan fajar terpaksa dibatalkan. Tapi dua ronde tadi sudah membuatnya puas meski masih ingin lagi. Tapi lusa, dia dan Mila akan honeymoon ke Bali, banyak waktu yang bisa mereka habiskan berdua disana.


__ADS_2