
Setelah acara makan malam penuh drama, akhirnya Elgar dan Reno pamit. Reno masih selalu jadi pihak terdzolimi selama makan malam, tapi demi makan gratis dan pekerjaan agar tidak dipecat, Reno tetap sabar. Dan sekarang, pria itu tengah menunggu bosnya didalam mobil karena Elgar masih mengobrol dengan Mila diteras.
"Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih El?" Mila mendengus kesal. Katanya tadi mau ngoming serius, tahunya malah ngalor ngidul gak jelas. Padahal pamit sama Saga dan Bu Rahmi udah dari tadi, tapi masih saja gak mau pulang.
"Yaelah Mil, gitu banget sih. Gak ngerti apa, aku ini lagi mode kangen, pengen lama lama sama kamu biar nanti malam bisa tidur nyenyak."
Mila menyebikkan bibirnya. Alasan Elgar sama sekali tak bisa membuatnya bersimpati dan membiarkan pria itu duduk lebih lama lagi diterasnya. Ini sudah malam, jangan sampai ditegur satpam ataupun warga.
Mila berdiri dari duduknya. "Ya udah, disini aja sampai malem, aku mau masuk, ngantuk."
"Heiiss." Elgar menahan tangan Mila saat wanita itu hendak pergi. "Sekarang ngambekan banget sih, perasaan dulu gak gini. Nurut banget sama aku."
Mila menarik kasar pergelangan tangannya yang dipegang Elgar. "Dulu aku nurut karena istri kamu, biar dapet pahala. Lha sekarang? ngapain juga aku nurut." Dia memutar kedua bola matanya malas.
"Cie cie....ngode nih, minta segera dihalalin kayak dulu." Elgar terkekeh pelan.
Mila membuang nafas berat sambil geleng geleng. Dasar duda kepedean, batinnya. Males sekali Mila menanggapi ejekan Elgar. Dia berjalan menuju pintu. Lebih baik masuk kedalam rumah, karena Saga pasti udah nunggu untuk dibacain dongeng.
"Eits, bentar." Elgar kembali menarik tangan Mila, menahan wanita itu agar tak masuk kedalam rumah. "Iya iya, aku ngomong serius, duduk dulu."
Mila lagi lagi menarik tangannya kasar hingga terlepas dari tangan Elgar. "Kamu itu kenapa sih Mil, kayak najis banget aku pegang? Dulu alasannya karena aku suami orang, sekarang udah duda, masih aja bersikap gitu sama aku."
"Status dudamu belum jelas El." Desis Mila sambil melotot.
"Belum jelas gimana, aku udah menalak Salsa. Dan sekarang Salsa sedang hamil anak Ben, hakim mana yang tidak memutuskan bercerai saat si wanita hamil dengan pria lain? Bisa gak sih, lunak dikit sama aku? Aku itu tersiksa diginiin terus sama kamu."
Mila menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sumpah, ingin ketawa dia saat ini, lebay banget omongan Elgar. Lupa dia gimana dulu perlakuin Mila pas masih jadi istrinya, sekarang cuma dicuekin dikit, diajak jaga jarak, ngeluhnya udah kayak orang paling terdzolimi sedunia.
"Mama udah tahu soal Saga."
Mila seketika kaget.
"Mama ingin ketemu Saga. Maksud aku, pengen minta ijin kamu buat bawa Saga kerumah."
"Enggak," tolak Mila cepat. Dia masih takut Bu Dirga akan mengambil Saga darinya. Dan sekarang Salsa dan Elgar belum resmi bercerai secara hukum, dia tak mau Salsa atau Pak Rendra menyakiti Saga jika mereka tahu Saga anak Elgar.
"Sebelum urusan kamu dan Salsa selesai, aku tak mengijinkan. Aku gak mau Saga kenapa kenapa jika semua orang tahu kalau dia anak kamu El. Aku yakin kamu belum lupa alasan kamu dulu nalak aku, karena papa Salsa kan? Jadi please, pikirin keselamatan Saga."
__ADS_1
"Kamu masih marah sama mamaku?" Elgar merasa ada sebab lain selain apa yang barusan Mila katakan.
"Enggak." Mila menggeleng. Dia memang tak lagi mempermasalahkan saat dulu Bu Dirga tak mau merestui mereka.
"Aku pastikan untuk pernikahan kita nanti, mama pasti akan merestui. Mama orang baik Mil, dia sayang sama Saga seperti sayang pada Pink. Jadi please, ijinin ya." Elgar tak tega untuk bilang tidak pada mamanya. Dia tak mau membuat wanita yang tengah bahagia itu kecewa.
"Apapun itu, aku tetap tak mengijinkannya. Inget, Saga itu anakku. Aku yang mengandung, melahirkan dan membersarkannya sendirian selama 7 tahun ini. Jadi aku tak suka jika sekarang ada yang tiba tiba merasa berhak atas Saga."
Raut wajah Elgar seketika berubah. Kata kata Mila sungguh menohok, menyadarkannya jika memang selama ini, dia tak melakukan apa apa untuk Saga. Dia hanya menanam benih saja, tapi tak ada selama 7 tahun ini.
"Maaf, baiklah aku mengerti." Elgar tersenyum getir.
"El, maaf. Aku gak bermaksud nyinggung kamu."
"Gak papa. Tapi memang seperti itulah kenyataannya."
Astaga Mila, gak seharusnya kamu ngomong kayak gitu.
Mila semakin merasa bersalah melihat ekspresi wajah Elgar. Ingin rasanya dia mencabut kembali kata katanya. Sayangnya hal itu sangat tidak mungkin.
"Udah malem, aku pulang dulu." Elgar mengambil ponsenya yang ada diatas meja dan memasukkannya kedalam kantong celana.
Elgar tersenyum sembari menyentuh bahu Mila. "Aku gak marah, dan gak akan pernah bisa marah sama kamu. Udah, masuk sana, udah malem, dingin diluar." Elgar mendorong bahu Mila hingga masuk kedalam rumah.
"Bye, I love you." Elgar menutup pintu dari luar, tapi Mila lebih dulu menahannya sebelum pintu tertutup sempurna.
"Aku gak pernah nyalahin kamu untuk semua yang terjadi 7 tahun ini." Mila harus mengatakannya daripada semalaman tak bisa tidur gara gara merasa bersalah.
"Makasih. Besok aku akan kerumah Salsa, mengembalikannya secara baik baik pada orang tuanya. Kamu mau bersabarkan, menunggu surat ceraiku keluar lalu datang melamarmu?"
Mila menggigit bibir bawahnya, perasaanya membuncah. Tak bisa berbohong, jika sampai saat ini, cintanya masih untuk orang yang sama, yaitu Elgar. Mila mengangguk dengan wajah bersemu merah, membuat Elgar sangat sangat lega dan bersemangat untuk segera menyelesaikan perceraiannya.
...----------------...
Elgar mengirim pesan pada Salsa jika dia sedang menuju rumahnya. Pesan itu membuat Salsa kalang kabut. Elgar tak tahu dia hamil. Dan jika pria itu tahu dan bilang itu bukan anaknya, bisa geger keluarganya. Dia hanya sedang menjaga perasaan papanya saat ini. Pria paruh baya itu sedang bahagia karena akan memiliki cucu, jangan sampai kebahagiaannya hancur saat tahu jika itu anak hasil selingkuh.
Salsa yang sedang menunggu di teras, langsung berlari menghampiri Elgar begitu mobil pria itu memasuki pelataran. Dia akan menyuruh Elgar pulang agar tak bertemu orang tuanya.
__ADS_1
Salsa menatap Elgar tajam dengan kedua tangan dilipat didada.
"Ngapain kamu kesini?" sinisnya.
Elgar mengulurkan tangannya kedepan Salsa, membuat wanita itu mengernyit bingung. "Selamat, akhirnya kamu hamil juga."
Mulut Salsa terbuka dengan mata membulat sempurna. Dia pikir Elgar tak tahu soal ini.
"Da, da, dari mana kamu tahu?" Salsa meremat tangannya karena gugup. Keringat dingin mulai keluar dari permukaan kulitnya.
Elgar tertawa ringan melihat kegugupan Salsa. "Aku ingin bertemu kedua orang tuamu. Mengembalikanmu secara baik baik pada mereka."
Salsa langsung menggeleng cepat. Dia tak akan pernah membiarkan Elgar bertemu dengan orang tuanya terutama papanya. "Pergi dari sini, kita bahas dulu ini berdua." Salsa membuka pintu mobil Elgar dan mendorong pria itu masuk, sayangnya Elgar berontak, tak mau pergi.
"Aku harus bertemu orang tuamu."
"Jangan gila El." Seru Salsa tertahan. Dia mengamati pintu rumahnya, semoga saja papanya tak tiba tiba muncul. "Kau tahukan papaku sedang sakit. Jadi aku mohon, jangan buat penyakitnya kian buruk."
Elgar tersenyum getir. Dia teringat alm papanya yang terus terusan ditekan Pak Rendra hingga meninggal. Tapi dia tak sejahat itu, tak akan membalas dendam dengan malakukan hal yang sama dengan Pak Rendra.
"Apa orang tua mu tahu jika kau hamil?"
Salsa mengangguk.
"Jangan bilang mereka mengira jika itu anakku." Elgar menunjuk dagu kearah perut Salsa.
Dan lagi lagi, Salsa mengangguk.
Elgar mendengus. Ini jelas tak bisa dibiarkan. Mereka harus tahu semuanya. Elgar mengabaikan Salsa dan berjalan cepat menuju pintu rumah mewah dihadapannya. Tak tinggal diam, Salsa langsung menyusulnya dan menarik lengan Elgar.
"Aku mohon El, jangan beritahu mereka."
Elgar membuang nafas berat lalu menghempaskan kasar tangan Salsa. "Ini masalah besar. Aku tak mau ada kesalah pahaman disini."
Salsa terus menggeleng. "Biar aku yang menjelaskan ini pada mereka El. Aku akan melakukan apapun, termasuk tidak datang disidang selanjutnya agar perceraian kita cepat selesai."
Salsa mengatupkan kedua telapak tanganya didada, matanya berkaca kaca. Sebenarnya Elgar kasihan, tapi dia ingin ada salah paham dengan Pak Rendra. Orang itu terlalu berbahaya, jangan sampai pria paruh baya itu murka karena dia menceraikan Salsa disaat hamil. Bisa bisa Mila lagi yang kena imbasnya.
__ADS_1
"Mau kamu datang atau tidak dipersidangan, tak akan ada yang berubah. Kamu hamil dengan selingkunmu, dan aku punya buktinya, jadi meskipun kamu datang, aku tetap akan memenangkan persidangan. Tapi jika kau tak ingin malu, lebih baik tidak usah datang. Jadi aku minta, jangan halangi aku menjelaskan semua ini pada papamu. Aku janji, akan bicara sebaik mungkin."
Air mata Salsa meleleh. Dia tak sanggup melihat kekecewaan diwajah kedua orang tuanya. Baru dua hari yang lalu mereka bahagia karena kehamilannya, apakah hari ini, mereka akan menelan pil kekecewaan?