
Elgar tak menghiraukan Salsa, tetap mengayunkan langkah menuju pintu rumah yang saat ini sedang terbuka. Berkali kali Salsa merusaha menghadanganya, tapi niat Elgar sudah bulat, hari ini juga, semuanya harus berakhir. Sudah saatnya dia terbebas dari Pak Rendra dan bahagia.
Meski ini rumah mertuanya, tapi Elgar jarang sekali kesini. Ketidak sukaannya pada Pak Rendra membuatnya enggan terlalu dekat dengan keluarga Salsa.
"El, kamu kesini?" Bu Rendra yang sedang berada diruang tengah langsung tersenyum melihat menantunya datang. "Kamu kok gak bilang sih Sa, kalau El mau datang. Tahu gitukan mama bisa nyuruh art nyiapin makanan spesial."
Salsa memalingkan wajahnya, sembunyi sembunyi menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Elgar menghampiri Bu Rendra lalu mencium tangannya. Bagaimanapun, dia masih punya adab dan tahu seperti apa memperlakukan orang yang lebih tua.
"Gak perlu repot Mah, El gak kama kok."
Bu Rendra tersenyum sambil menyentuh bahu Elgar. "Kamu mau jemput Salsa?"
Elgar menoleh, menatap Salsa yang berdiri dibelakanganya lalu kembali menatap Bu Rendra.
"El mau ketemu mama sama papa. Ada hal penting yang mau El bicarakan."
Bu Rendra mengerutkan keningnya. Apakah mungkin ini tentang perceraian mereka? Ya, mungkin saja Elgar ingin rujuk karena Salsa hamil. Bu Rendra menyuruh art memanggil suaminya yang ada dikamar, sementara mereka bertiga menuju sofa ruang keluarga.
"Sa, kamu kok kelihatan cemas gitu sih?" Bu Rendra mengamati Salsa yang terus terusan meremat baju dan jari jarinya. Wajah putrinya itu juga tampak pucat. Keduanya, Salsa dan Elgar, meski duduk bersebelahan disofa panjang, tapi mengambil jarak yang cukup jauh.
"Gak papa kok Ma." Salsa berusaha tersenyum, meski dia tahu, jika sebentar lagi, drama yang sangat besar akan terjadi di keluarganya.
Art datang membawa minuman serta cemilan untuk mereka. Tapi Elgar hanya menatapnya, tak teringin sama sekali untuk mencicipi, karena tujuannya datang bukan untuk itu.
Tak lama kemudian, tampak Pak Rendra yang keluar dari lift. Tubuh renta dengan tongkat ditangan mulai berjalan pelan kearah mereka. Disebelahnya, ada seorang wanita berpakaian suster yang mendampingi.
Setelah tahu Pak Rendra mengidap kanker otak stadium akhir, baru kali ini Elgar bertemu. Pria itu tampak sangat berbeda. Bukan lagi Pak Rendra yang gagah dan jumawa. Yang ada dihadapan Elgar saat ini, tak lebih seperti kakek tua yang berjalan dengan tongkat, bertubuh kurus dan rambut penuh uban.
Pak Rendra tersenyum padanya, sepertinya dia senang karena menantunya datang.
"Apa kabar El?" Pak Rendra menyapa lebih dulu.
__ADS_1
"Baik Pa." Elgar beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Pak Rendra untuk mencium tangannya.
Dengan jantung berdetak dua kali lebih cepat, Salsa hanya bisa mengamati saja. Tapi dia bersyukur karena Elgar masih bersikap baik pada kedua orang tuanya.
Elgar kembali ke tempat duduknya semula, sedangkan Pak Rendra duduk disebalah istrinya. Suster yang menemani Pak Rendra pamit kebelakang, karena sadar jika bukan ranahnya untuk ikut tahu masalah di keluarga ini.
"Udah nyuruh art nyiapain hidangan spesial belum?" Tanya Pak Rendra pada istrinya yang duduk disebelah.
"Gak perlu repot repot Pa, El gak lama."
"Papa sudah tahu jika ada masalah diantara kalian. Tapi saat ini Salsa hamil, jadi lebih baik kalian pikirkan ulang soal perceraian. Kasihan anak dikandungan Salsa jika orang tuanya berpisah."
Elgar mencengkeram pinggiran sofa sambil tersenyum getir. Kasihan dia bilang? Lalu bagaimana dengan Saga dan Mila? Saga bahkan baru melihat wajah papanya setelah berumur 6 tahun. Mila, dia harus hamil dan melahirkan tanpa suami.
"Benar kata papa." Bu Rendra menimpali. "Lebih baik, tekan dulu ego kalian demi calon anak kalian."
Elgar tak bisa diam lagi, dia mengangkat wajahnya lalu menatap kedua orang tua Salsa bergantian. Dia tersenyum lalu ganti menatap Salsa yang duduk disebelahnya.
"Saya setuju, kasihan anak dalam kandungan Salsa jika kedua orang tuanya tak bersama. Oleh karena itu, Saya ingin mengembalikan Salsa pada kalian, saya mantap menceraikannya."
"A, apa maksud kamu?"
Elgar menatap Salsa. "Mungkin Salsa bisa menjelaskan."
Salsa makin menunduk dan terisak, membuat kedua orang tuanya makin bingung.
"Ada apa sebenarnya Sa? Bilang sama mama dan papa," desak Bu Rendra.
Salsa mengelus perutnya. Mungkin memang sudah saatnya kedua orang tuanya tahu. Dia menyeka air mata, menatap wajah kedua orang tuanya bergantian dengan rasa bersalah.
"Maafin Salsa Pa, Ma."
"Ada apa ini Sa?" tanya Bu Rendra.
__ADS_1
"Anak ini." Salsa mengusap perutnya. "Bukan anak El."
Deg
Pak Rendra dan istrinya seketika syok. Mereka bergeming sambil memegangi dada. Bu Rendra, wanita paruh baya itu meneteskan air mata. Selama ini, dia tak pernah tahu seperti apa rumah tangga putrinya. Tahu tahu, kenapa seperti ini.
Salsa mendekati kedua orang tuanya lalu bersimpuh dikaki mereka sambil menangis sesenggukan.
Dengan tangan gemetar, Pak Rendra menyentuh kepala Salsa.
"Apa yang membuatmu sampai selingkuh? Apa pria itu menyakitimu?" Pak Rendra menatap tajam kearah Elgar. Setahu dia, Salsa sangat mencintai Elgar, jika sampai putrinya selingkuh, sudah pasti ada hal serius yang terjadi diantara mereka.
Elgar tersenyum miring. Ternyata meski raganya sudah rapuh, pria tua itu belum juga berubah. Padahal sudah jelas anaknya yang selingkuh sampai hamil, masih bisa dia bersikap arrogant seperti ini.
Bu Rendra membantu Salsa bangun lalu menyuruhnya duduk diantara dia dan suaminya.
"Sepertinya dunia memang sudah terbalik, bukankah seharusnya saya yang marah saat ini?"
Pak Rendra menggemeretakkan giginya mendengar sindiran Elgar. Wajah keriputnya terlihat menegang.
"Saya dan Salsa sudah sah bercerai secara agama, dan sebentar lagi, hakimpun akan memutuskan hal yang sama. Saya kesini hanya untuk mengembalikan Salsa pada kalian, tidak untuk mendengar drama yang tidak penting."
Wajah Pak Rendra memerah. Kalau saja tubuhnya tak lemah seperti saat ini, sudah pasti dia maju untuk baku hantam dengan Elgar.
"Saya yakin, pria yang menghamili Salsa bersedia untuk menikahinya. Jadi daripada anda sibuk mencari kesalahan saya, lebih baik sibuk mempersiapkan pernikahan kedua putri anda."
"Kurang ajar," desis Pak Rendra. Dia ingin berdiri tapi Salsa menahannya.
"Semua salah Salsa Pa. Mungkin memang seperti ini akhir kisah Salsa dan El. Papa sudah banyak membantu Salsa selama ini, melindungi Salsa dan mengabulkan semua permintaan Salsa. Papa sudah menjadi pahlawan buat Salsa. Tapi saat ini, biarkan Salsa menyelesaikan masalah Salsa sendiri." Salsa memeluk papanya, dia tak ingin disaat saat terakhir hidupnya, pahlawannya itu terlalu mengkhawatirkannya. Dia hanya ingin papanya fokus dengan pengobatannya. Bisa lebih lama hidup agar bisa melihat cucunya. Salsa memegang tangan Pak Rendra, menguraikan telapak tangan yang mengepal itu perlahan lahan.
Pak Rendra memejamkan matanya, menghirup nafas dalam lalu membuangnya perlahan.
Elgar merasa jika dia sudah selesai disini. "Baiklah kalau begitu, saya rasa sudah saatnya saya pergi." Elgar berjalan menuju pintu keluar, melewati Salsa dan kedua orang tuanya begitu saja. Tapi beberapa saat kemudian, dia menghentikan langkahnya dan berbalik.
__ADS_1
"Saya minta, jangan ganggu saya maupun keluarga atau orang orang terdekat saya. Sudah banyak bukti kejahatan anda ditangan saya. Jika tak ingin menghabiskan masa masa terakhir di penjara, tolong jangan usik kehidupan saya." Elgar langsung pergi setelah mengatakannya.