
Bu Dirga terlihat sangat sibuk didapur. Bukan memasak, hanya memberi interuksi pada art dirumahnya untuk memasak aneka hidangan spesial. Hari ini meski bukan weekend, Elgar dan kelurga kecilnya akan datang untuk menginap karena hari ini ulang tahunnya. Tak ada perayaan spesial, hanya makan malam keluarga saja.
Sebenarnya Elgar mengajaknya makan malam dihotel sekaligus liburan satu dua hari, tapi Bu Dirga tak mau kerena dia lebih suka dirumah. Diusianya yang makin senja, dia sudah malas untuk pergi pergi, rumah adalah tempat ternyaman baginya.
"Oma." Suara cempreng Saga mengagetkan Bu Dirga yang ada didapur. Beliau langsung menoleh dan tersenyum begitu melihat cucunya datang.
Saga berlari dan langsung memeluk omanya. Dibelakang anak itu, ada Mila dan Elgar yang membawa buket bunga.
"Selamat ulang tahun Oma." Ucap Saga sambil mencium kedua pipi Oma yang sedang menunduk.
Elgar menghampiri mamanya lalu memberikan buket bunga yang sangat cantik. "Selamat ulang tahun Mah." Elgar memeluk mamanya lalu mencium kedua pipinya.
"Makasih sayang," sahut Bu Dirga sambil menepuk nepuk punggung Elgar.
"Selamat ulang tahun Ma." Giliran Mila yang mengucapkan. Tak lupa juga dia memeluk Bu Dirga dan mencium kedua pipinya.
"Bukankah kalian bilang mau datang malam sekaligus menginap?"
"Si bocil yang merengek minta kesini terus dari kemarin Ma, katanya pengen renang," jawab Elgar.
Bu Dirga langsung menatap Saga sambil tersenyum dan menyentuh kepalanya.
"Kita kedepan." Ajak Bu Dirga pada mereka. Dia juga menyuruh art menyiapkan camilan serta minunan untuk dibawa ke ruang keluarga.
"Ayo pa renang pa, renang." Saga menarik narik kaos papanya. Bocah itu tak sabaran sekali untuk segera turun kekolam.
"Nanti dulu, kan belum makan, ntar masuk angin," ujar Bu Dirga.
"Udah kok Oma, Saga udah sarapan dirumah tadi."
"Kan belum ngasih hadiah ke Oma," ucap Mila.
Saga seketika menepuk dahinya. Bisa bisanya dia lupa hal yang satu itu. Saga berlari menuju meja dimana dia tadi meletakkan paperbag. Diambilnya benda itu lalu kembali ketempat Oma dan kedua orang tuanya.
"Apaan itu?" tanya Bu Dirga.
"Buat Oma." Jawab Saga sambil mengulurkan paperbag warna hitam pada omanya.
Bu Dirga langsung membukanya. Senyumnya merekah melihat foto keluarga mereka yang sudah dibuatkan frame dari stik eskrim oleh Saga.
"Bagus gak Oma, Saga sendiri yang buat?" ujarnya bangga.
"Bagus sekali sayang, oma suka." Bu Dirga menarik Saga mendekat lalu mencium keningnya.
Sekarang giliran Mila, dia menyodorkan sebuah kotak yang diikat pita warna pink pada mertuanya.
"Ini dari Mila dan El." Ujarnya sambil menoleh sebentar pada Elgar.
"Gak perlu repot repot seperti ini." Ujar Bu Dirga sambil meraih hadiah dari Mila. "Kalian ingat saja, mama sudah senang."
"Buka dong Ma. Spesial banget loh ini kadonya," ujar Elgar dengan senyum merekah. Dia tak sabar melihat reaksi mamanya.
Tak pelak Bu Dirga penasaran juga. Dibukanya pelan ikatan pita pink tersebut lalu membuka penutup kotak. Matanya berkaca kaca melihat isi kotak yang ternyata print out USG. Diambilnya benda itu dengan tangan sedikit gemetar. "Kamu hamil Mil?"
"Iya Ma." Jawab Mila sambil tersenyum dan menyentuh tangan mertuanya.
Bu Dirga langsung memeluk Mila yang duduk disebelahnya. Diciumnya kedua pipi menantunya itu bergantian sambil mengucapkan syukur. Air mata bahagia menetes dari kedua netranya.
"Terimakasih, ini hadiah ulang tahun yang paling spesial buat mama."
Bu Dirga mengajak Elgar dan Saga mendekat. Mereka lalu berpelukan bersama.
__ADS_1
Selepas itu, kembali lagi Saga merengek minta berenang. Gatal juga kuping Elgar yang mendengarnya. Segera dia ajak putra semata wayangnya itu untuk berganti baju lalu menuju kolam renang. Sementara Mila, dia ikut Bu Dirga kedalam kamar.
Ini untuk pertama kalinya Mila masuk kekamar mertuanya. Kamar utama yang berada dilantai satu itu, luasnya sama dengan kamar Elgar. Yang membuat Mila geleng geleng, tentu saja koleksi tas mewah mertuanya. Dia yang masih muda saja, hanya punya beberapa biji tas.
"Kalau ada yang suka, ambil aja." Tutur Bu Dirga saat Mila melihat lihat koleksi tasnya. "Mama sudah tua, jarang keluar, apalagi sejak papa tidak ada. Mana yang kamu suka, ambil aja."
Tak mungkin diantara puluhan tas branded itu tak ada yang Mila suka, tapi tentu saja dia malu ingin terang terangan menunjuk.
Bu Dirga membuka almari, mengambil sebuah kotak berwarna hitam.
"Duduk sini Mil." Panggilnya supanya Mila duduk ditepi ranjang, disisinya.
Mila menurut, dia menghampiri mertuanya lalu duduk disebelahnya. Saat bu Dirga membuka kotak yang dia pegang, Mila sampai melongo melihat isinya. Satu set perhiasan berlian yang terlihat sangat mahal.
"Bagus sekali Ma," puji Mila.
"Kamu suka?" Mila hanya tersenyum menjawabnya.
"Itu dibelikan El?" Bu Dirga menunjuk dagu kearah leher Mila. Disana bertengger kalung berlian yang dulu dibelikan Elgar.
"Iya Ma."
"Ini pemberian alm papa. Jarang sekali mama pakai. Sepertinya cocok buat kamu. Kamu simpan ya." Bu Dirga menutup kembali kotak tersebut, menarik sebelah tangan Mila, lalu meletakkan kotak perhiasan itu disana.
"Ta, tapi Ma. Ini kan pemberian papa." Mila tak enak hati.
"Mama sudah tua, sudah tak begitu butuh barang barang seperti ini. Lagian masih ada banyak dialmari. Buat kamu saja itu. Anggap saja hadiah untuk kehamilan kamu."
Mata Mila berkaca kaca, tak menyangka jika Bu Dirga sudah benar benar menerimanya sebagai menantu.
"Makasih Ma." Mila meletakkan kotak tersebut diatas ranjang lalu memeluk Bu Dirga.
Dikolam renang, Saga terlihat sangat senang. Dia memang sudah mahir berenang, tapi tetap saja, Elgar tak berani melepasnya sendirian. Suara berisik keduanya terdengar hingga ruang keluarga, membuat Mila penasaran dan langsung menyusul kekolam.
"Happy banget kayaknya?" tanya Mila yang berdiri tak jauh dari kolam.
"Mamah sini." Seru Saga sambil melambaikan tangan.
"Mama lihat aja dari sini." Mila duduk dikursi santai panjang yang ada didekat kolam. Sudah tersedia diatas meja, cemilan dan dua gelas jus jeruk.
Elgar menyuruh Saga bermain main dipinggir kolam yang agak dangkal. Sedangkan dia naik keatas menghampiri Mila.
"Renang yuk." Elgar duduk disamping Mila dan langsung merangkulnya.
"El, kamu basah ihhh." Mila melepaskan diri dari rangkulan Elgar lalu beringsut menjauh agar bajunya tak basah.
"Turun yuk," ajak Elgar lagi.
"Aku gak bawa baju renang."
"Pakai daleman sama aja kan, yuk." Ajaknya sambil menarik tangan Mila.
"Ada Saga, mana mungkin aku pakai kayak gitu."
Meskipun Saga anaknya, Mila malu jika harus memakai baju dalam didepan Saga. Menurutnya, Saga sudah cukup dewasa dan mengerti, jadi dia harus berpakaian sopan didepan anaknya.
Elgar garuk garuk kepala, benar juga kata Mila. Diliriknya Saga yang tengah asyik bermain air, bocah itu terlihat bahagia, padahal hanya berenang dirumah.
Elgar mengambil jus jeruk diatas meja lalu meneguknya. Tiba tiba dia merasakan sebuah tangan hinggap didadanya dan bermain main disana.
Mila menggigit bibir bawahnya. Dada bidang yang basah itu terlihat begitu seksi. Tak tahan tangannya untuk tidak meraba, bahkan kalau tak ada Saga, ingin dia mendaratkan beberapa kecupan disana.
__ADS_1
"Kenapa?" Elgar tersenyum menggoda.
"Seksii."
Tawa Elgar langsung pecah mendengarnya.
Mila menggeser tubuhnya, duduk makin merapat pada Elgar. Tangannya bergerak mengeksplor dada hingga perut sang suami.
"Pengen?" tanya Elgar sambil berbisik ditelinga Mila.
Mila yang malu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak tahu kenapa, sekarang bawaannya pengen mulu apalagi saat Elgar terlihat sangat seksii seperti ini.
"Malu malu mau," ledek Elgar sambil menyenggol bahu Mila.
"Bawaan baby kali ya El. Sekarang jadi sering pengen."
Elgar menahan tawa mendengarnya. Dasar wanita, gengsi aja yang digedein. Kalau lagi pengen, baby yang dijadikan alasan.
"Babynya, apa emaknya?" Goda Elgar sambil memajukan wajah, mengikis jarak dengan Mila hingga hidung meraka saling bersentuhan. Mila memejamkan matanya saat Elgar memiringkan wajah hendak menciumnya.
"Papah, sini."
Panggilan Saga membuat tawa Mila dan Elgar langsung pecah. Pasalnya kedua bibir yang baru menempel itu reflek sama sama menjauh.
"Heiss, tak bisakan dia memanggil 5 menit lagi," gerutu Elgar.
"Papah." Saga kembali berteriak.
"Iya bentar." Jawab Elgar sambil menoleh kearah Saga. Dia mengambil jus yang tinggal sedikit lalu meneguknya hingga habis.
"El, mangganya kok udah habis aja." Mila menunjuk kearah pohon mangga. Seingat dia waktu kesini beberapa waktu lalu, buahnya masih banyak.
"Udah habis, hari itukan kita juga sempat bawa pulang. Malah kamu bagi bagiin ke Mak Sari juga."
Mila mengangguk, dia masih ingat.
"Aku pengen mangga deh El." Sambil bergerlayut, Mila menatap Elgar manja.
"Nanti kita cari disupermarket."
Mila langsung menggeleng.
"Pengen mangga yang itu." Mila kembali menunjuk pohon mangga. Masih terlihat ada buahnya, meski hanya 2 atau 3 biji.
"Ya udah nanti aku suruh Mang Ali ngambil."
Lagi lagi Mila menggeleng.
"Maunya kamu yang manjat dan ngambil sendiri."
Mata Elgar langsung melotot mendengarnya. Dulu pas bocah, dia memang suka yang namanya panjat memanjat, tapi sekarang, oh...no.
"Mau ya, mau ya. Anak kita yang pengen. Kamu gak maukan anak kita nantinya ileran."
"Hehehe." Elgar tersenyum absurd. Pohon itu lumayan tinggi, meski bawahnya rerumputan, tapi kalau jatuh lumayan juga.
"Mau ya Mas," bujuk Mila.
"Mas?" Elgar mengerutkan kening, terasa sangat lucu mendengar Mila memanggilnya mas.
"Mau ya Mas El, adek pengen banget." Rayu Mila sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1