
Mila makin disibukkan dengan bisnis barunya. Barang barang sudah mulai berdatangannya. Tak ada pegawai, Mila mengecek sendiri barang tersebut, termasuk urusan memfotonya. Billi tak bisa banyak membantu karena bekerja, dia hanya bertugas mengedit foto, membuat logo serta promosi. Selebihnya, Mila semua yang mengatur. Karena masih merintis, dia menyimpan semua barang dirumah. Belum ada niatan menyewa tempat.
"Mah, aku boleh bantuin gak." Tawar Saga yang ikutan duduk disebelah mamanya yang sibuk memfoto produk.
"Boleh, tapi jangan gangguin mama ya?"
Bocah itu langsung mengangguk cepat.
"Sini, Saga bantuin nenek lipetin baju yang selesai difoto mama saja." Bu Rahmi bergeser agar Saga bisa duduk disebelahnya.
Pekerjaan ini terasa sangat menyenangkan bagi Mila. Dia bisa selalu bersama Saga, tak perlu meninggalkannya seperti biasanya. Selain itu, juga tak ada tekanan dari atasan juga. Tak perlu mengahadapi rekan kerja yang menyebalkan dan jam kerjanya sangat fleksibel. Usaha sendiri memang lebih nyaman daripada ikut orang.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Bu Rahmi beranjak dari duduknya, berjalan kearah pintu depan lalu membukanya.
"Selamat siang."
"Siang." Sahut Bu Rahmi sambil mengerutkan kening. Dia lupa lupa ingat dengan wanita yang berdiri dihadapannya saat ini. Rasanya pernah bertemu, tapi lupa.
"Masih ingat dengan saya?"
Bu Rahmi masih berusaha mengingat ingat.
"Kita sudah pernah bertemu dua kali. Saya mamanya Elgar."
Bu Rahmi langsung menutup mulutnya karena terkejut. Pantas saja dia merasa pernah bertemu.
"A, ada keperluan apa anda kesini?" tanya Bu Rahmi tanpa mempersilakan Bu Dirga masuk. Dia masih sangat teekejut dengan kedatangan mantan besannya itu.
"Nenek." Seru Saga yang tiba tiba muncul dari dalam. Dia berlari dan langsung memeluk Bu Dirga yang masih berdiri didepan pintu.
Sambil mengulum senyum, Bu Dirga mengusap kepala Saga sebentar, lalu menunduk untuk menyamakan tinggi dengan bocah itu. "Nenek kangen Saga." Dia mencium kening dan pipi bocah itu.
"Ayo masuk Nek." Saga menarik lengan Bu Dirga, wajah anak itu terlihat sangat ceria. Sementara Bu Dirga, dia menahan tangan Saga, menatap Bu Rahmi untuk meminta ijin. Bagaimanapun, Bu Rahmi belum mempersilakan masuk sejak tadi.
"Silakan masuk." Akhirnya kata itu keluar dari bibir wanita paruh baya itu. Dia minggir untuk memberi jalan pada Bu Dirga.
"Ayo Nek." Saga kembali menarik lengan Bu Dirga.
__ADS_1
"Sebantar." Bu Dirga melambaikan tangannya pada supir yang berdiri disamping mobil yang terparkir didepan pagar. Melihat hal itu, supir tersebut paham apa yang harus dia lakukan. Dia mengambil beberapa paper bag dan kantong keresek yang ada dibagasi dan membawa masuk. Meletakkannya diruang tamu dimana Saga dan kedua neneknya sedang berada.
"Apa itu Nek?" Tanya Saga yang melihat banyak sekali barang yang dibawa supir.
"Saga buka saja sendiri."
Dengan sangat bersemangat, Saga membukanya satu persatu. Dia berteriak kegirangan saat melihat begitu banyak mainan, baju, sepatu dan peralatan sekolah serta makanan yang dibawa neneknya.
Meski hanya melihat dari jauh, Bu Rahmi tahu jika semua itu barang mahal.
Mendengar Saga yang tertawa dan berseru kegirangan, Mila yang sedang sibuk memfoto dagangannya memustuskan untuk keluar. Sama seperti Bu Rahmi, dia terkejut melihat mamanya Elgar duduk disofa ruang tamunya. Wanita paruh baya yang masih cantik dan anggun itu tersenyum padanya.
Melihat Mila datang, Bu Rahmi pamit kedalam untuk membuatkan minum.
Mila menghampiri Bu Dirga, bersalaman lalu duduk disofa single. Dia melihat Saga yang sedang sibuk membongkar barang barang bawaan neneknya.
Suasana terasa canggung. Keduanya, baik Mila maupun Bu Dirga, bingung mau memulai obrolan. Meski tadi Bu Dirga tersenyum padanya, bukan berararti perempuan itu sudah mulai menyukainya. Mungkin saja dia hanya melakukan itu karena didepan Saga.
"Maaf, saya tidak bilang dulu kalau mau kesini." Ujar Bu Dirga kaku. Meski pernah menjadi menantu, hubungan mereka memang tak pernah dekat. Bisa dibilang, mereka hanya pernah bicara sekali saat Bu Dirga memberikan surat wasiat suaminya.
"Tidak apa apa." Meskipun sedikit keberatan, tapi tak ada kata yang lebih tepat dari itu. Pembawaan Bu Dirga sangat tenang dan berkelas, membuat Mila gugup. Orang seperti itu susah sekali ditebak isi hatinya.
"Saga suka?" tanya Bu Dirga.
"Hem, suka banget Nek." Sahut Saga sambil menoleh kearah Bu Dirga.
"Kalau Saga pengen sesuatu, bilang sama nenek, nanti nenek belikan."
"Tidak perlu repot repot Nyonya," Mila menyahuti.
"Maaf." Bu Dirga merasa jika Mila keberatan.
Mila membantu Saga membuka kotak lego, meletakkannya dilantai dan membiarkan bocah itu bermain disana.
"Emm...apa Elgar sering kesini?"
"Jarang Nek, sekarang papa jarang sekali kesini. Setiap hari cuma video call, padahal Saga dan mamakan kangen."
Mata Mila seketika membulat sempurna. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Bisa bisanya Saga bilang jika dia juga kangen Elgar. Semoga saja Bu Dirga tak menanggapi serius ucapan Saga.
__ADS_1
"Saga kangen papa ya?"
Saga langsung mengangguk.
"Mama juga?" Bu Dirga menoleh pada Mila.
"Ti_"
"Iya, mama juga kangen. Tiap malem kalau Saga tanya, mama bilangnya kangen papa."
Mila makin menunduk. Ingin sekali membenamkan wajahnya lantai saking malunya. Kalau saja posisi Saga dekat dengannya, sudah pasti dia bungkam mulut anaknya itu. Sayangnya Saga duduk dilantai yang agak jauh dari tempatnya duduk.
Mau menyangkal ucapan Saga, mana bisa. Yang ada bocah itu akan menganggapnya pembohong nanti. Setiap mau tidur, Saga sering merengek kangen papanya. Dia juga pasti bertanya pada Mila. "Mama kangen gak sama papa?" Dan bodohnya, Mila selalu bilang kalau dia juga kangen.
Melihat Mila yang tertunduk malu dan terlihat salah tingkah, Bu Dirga menahan tawanya.
"Mil, maaf sebelumnya. Bolehkan Saga saya ajak main kerumah?"
Mila mengangkat wajahnya. Lidahnya terasa kelu untuk bilang tidak. Padahal waktu itu saat Elgar yang minta, dia bisa langsung bilang tidak. Tapi didepan Bu Dirga, dia tak sanggup untuk menolak, yang ada malah menganggukkan kepala.
"Saga boleh main kerumah nenek Ma?"
Mila tersenyum terpaksa sambil mengangguk.
"Horee...Saga bisa ketemu papa."
"Elgar pulangnya selalu malam, bolehkan jika Saga menginap, besok biar Elgar yang mengantarkannya kesekolah."
Mila belum bisa langsung mengiyakan. Saga suka rewel sebelum tidur jika tidak dia bacakan dongeng. Bocah itu juga menolak saat Bu Rahmi yang membacakan, dia hanya ingin mamanya yang membaca dongen sambil mengusap punggungnya.
Saga mendekati mamanya. "Boleh ya Ma, boleh ya Ma," rengeknya sambil memegangi lengan Mila.
"Rumah nenek ada kolam renangnya gak?" Saga menyukai berenang sejak kecil. Dulu saat masih tinggal di Singapura, ada fasilitas kolam renang di apartemen yang disewa Mila.
"Ada dong."
Mendengar itu, Saga makin bersemangat.
"Boleh ya Ma, boleh ya."
__ADS_1
Dan lagi lagi, dengan berat hati, Mila mengangguk.