
Sejak kemarin, SE Corp dihebohkan dengan beredarnya undangan pernikahan Elgar dan Mila. Selain Elgar yang baru beberapa bulan bercerai, juga karena calon pengantin perempuannya yang tak lain tak bukan adalah Mila, mantan sekretarisnya.
Berbagai spekulasipun bermunculan tanpa bisa dicegah. Dan yang paling banyak, tentu Mila yang dianggap orang ketiga. Pelakor perusak rumah tangga Elgar dan Salsa.
"Gak nyangka ya, beberapa hari jadi sekretaris udah bisa mengambil hati bos dan bikin rumah tangganya berantakan."
"Wajahnya doang yang kelihatannya baik baik, ternyata pelakor."
"Jaman sekarang, pelakor makin meresahkan."
Telinga Billy panas karena gosip gosip itu. Ingin sekali dia membungkam mereka, sayang tangannya hanya dua, hanya cukup untuk menutup telinga saja. Dia tahu Mila tak seperti itu, meski tak tahu pasti alasan Elgar dan Salsa bercerai, tapi dia yakin bukan Mila menyebabnya.
Elgar, pria itu tak tahu apa apa karena sudah 4 hari ini berada di Malaysia. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaan pekerjaan penting karena sebentar lagi akan mengambil cuti yang lumayan panjang. Setelah menikah, dia berencana jalan jalan bertiga ke Korea. Tapi sebelum itu, dia dan Mila akan honeymoon di Bali beberapa hari.
Sore ini, Mila dan Saga yang sedang berada disebuah mall, tak sengaja bertemu dengan Nora, staf hrd serta dua karyawati SE Corp. Hanya sekitar sebulan Mila kerja disana, tak banyak kenal dengan karyawan lain, begitupun sebaliknya, tak banyak yang kenal Mila. Tapi karena foto preweding yang ada diundangan, mendadak semua karyawan jadi mengenali Mila.
"Eh, ada pelakor lagi jalan jalan nih. Bentar lagi jadi orang kaya dong, nikah sama bos." Sindir Sela, sambil tersenyum sinis, memperhatikan Mila dari atas kebawah.
Mendengar sindirin itu, panas juga telinga Mila. Tapi dia sedang bersama Saga, tak ingin bertengkar didepan anaknya.
"Lihat tuh belanjaannya, branded semua guys." Ria menimpali sambil menunjuk dagu kearah belanjaan Mila. Dipaperbag yang pegang Mila memang rata rata tertulis brand ternama.
"Mereka siapa Mah?" tanya Saga sambil mendongak menatap mamanya.
Nora dan kawan kawan seketika melongo mendengar bocah yang digandenga Mila memanggil mama. Mereka pikir tadi, itu keponakannya.
"Mamah? Dia anak kamu?" Nora menatap tak percaya. Pasalnya dia sangat tahu jika Mila itu masih single alias belum menikah.
"Kita pergi dari sini yuk." Mila menarik tangan Saga, berniat pergi tapi Nora menghalangi jalannya.
"Ini beneran anak kamu Mil?" Nora kembali bertanya. Melihat Mila yang tak menyangkal, dia makin yakin jika bocah itu anaknya Mila.
Saga menatap mamanya, bingung kenapa mamanya itu hanya diam saja saat ditanya.
"Bukannya status kamu belum menikah ya?"
__ADS_1
"Astaga, belum menikah udah punya anak." Sela menimpali sambil geleng geleng. "Jangan jangan hamil sama laki orang, makanya gak dinikahin."
"Jaga mulut kamu ya." Bentak Mila sambil menunjuk muka Sela.
"Ada yang salah dengan omonganku?" Sela menepis kasar tangan Mila. "Belum nikah, tapi udah punya anak. Mau mau nya Pak Elgar sama kamu. Udah gak perawan, punya anak haram lagi."
Mila sudah mengangkat tangannya hendak menampar Sela. Tapi dia urungkan karena memikirkan Saga, dia tak mau mencontohkan adegan kekerasan didepan putranya.
"Jangan pernah menyebut anakku anak haram. Anakku punya papa, dia lahir dari pernikahan yang sah." Seru Mila dengan nafas naik turun karena emosi.
"Pernikahan yang sah?" Nora tertawa dan diikuti lainnya. "Status aja masih lajang, jelas kalau belum menikah. Udahlah Mil gak udah ngelak. Udah ketahuan masih ngelak aja. Anak haram."
PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat diwajah Nora. Wanita itu hendak membalas tapi nyalinya menciut saat melihat siapa yang menamparnya barusan.
"Berani kamu menyebut cucuku anak haram." Geram Bu Dirga sambil menunjuk wajah Nora. Ya, Bu Dirga yang tadi menampar Nora, bukan Mila.
Sebenarnya hari ini mereka ke mall bertiga. Bu dirga mengajak Mila dan Saga ke mall mencari barang barang seserahan untuk Mila. Dia ingin Mila memilih sendiri apa yang dia mau, tapi meskipun begitu, dia yang sejak tadi memaksa Mila untuk membali barang barang branded. Kebetulan, beberapa saat yang lalu, wanita paruh baya itu sedang ketoilet. Jadi Mila dan Saga menunggu didepan sebuah toko.
Bu Dirga menatap ketiga wanita yang ada dihadapannya.
"Anak ini." Bu Dirga menarik Saga kedekatnya. "Dia adalah cucuku, Saga dirgantara, anak kandung dari Elgar dirgantara," tekannnya.
Mereka semua melongo mendengarnya. Tatapan mereka tertuju pada Saga. Dan saat itulah, mereka akhirnya menyadari jika anak itu sangat mirip dengan bos mereka.
"Mila adalah mantan istri Elgar. Dia dan Elgar bercerai sebelum Elgar menikahi Salsa."
Mereka semua tertunduk ketakutan dengan badan gemetaran.
"Dan saya tekankan pada kalian, tidak ada yang namanya orang ketiga alias pelakor di pernikahan Elgar dan Salsa. Mereka berpisah secara baik baik. Kalian tahu kenapa perusahaan yang menggaji kalian tetap berjalan dengan baik sampai sekarang? Itu karena Salsa dan Elgar berpisah secara baik baik."
Bu Dirga masih belum puas mencerca mereka. "Saya yakin semua tahu jika Salsa adalah pemilik saham terbesar dia SE Corp. Tak perlu saja jelaskan apa yang akan terjadi pada perusahaan jika memang Salsa merasa dikhianati disini. Jadi saya minta, jangan bicara jika tak tahu apa apa. Setidaknya, diamlah daripada mulut kalian mendatangkan dosa." Bu Dirga menunjuk satu persatu wajah mereka bertiga. Dia pastikan, wajah wajah itu tak akan dia temui lagi di SE Corp.
"Ma, maafkan kami." Ujar Nora terbata. Wajahnya pucat pasi, takut kalau sampai diadukan pada Elgar dan dipecat.
__ADS_1
"Kalian tinggal pilih, mengundurkan diri atau dipecat secara tidak hormat." Bu Dirga mengajak Mila dan Saga pergi dari tempat itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Mila hanya diam saja. Tentu dia masih kepikiran dengan perkataan mereka tadi. Namanya buruk, dianggap pelakor, dan yang lebih buruk lagi, Saga dianggap anak haram. Padahal dia jelas anak yang lahir dari pernikahan. Hanya saja, kesalahannya yang mau dinikahi secara siri.
"Jangan terlalu dipikirkan, biar El yang mengurusi ini semua. Kamu gak boleh stres, jangan sampai sakit karena seminggu lagi acaranya. Ingat, pengantin baru harus bahagia. Jangan sampai auranya cantiknya gak keluar hanya gara gara stres." Bu Dirga memberi wejangan.
"Iya Ma." Bu Dirga menyuruh Mila untuk memanggilnya mama.
...----------------...
Malam hari, Elgar dibuat syok dengan pertanyaan Saga melalui video call. Bocah kecil yang masih polos itu menanyakan hal yang masih menjadi pertanyaan besar dikepalanya.
"Anak haram itu apa sih Pa?"
Elgar mengernyit, darimana Saga tahu istilah itu, batinnya.
"Siapa yang bilang anak haram?"
"Temen temennya mama. Dia bilang kalau Saga anak haram."
Rahang Elgar seketika mengeras mendengarnya. Telapak tangannya mengepal menahan emosi.
"Saga anaknya papa dan mamakan, bukan anak anj*ng atau babi? tapi kenapa dikatain anak haram?" Yang Saga tahu, yang haram itu anj*ng dan babi, makanya pikirannya mengarah pada kedua hewan itu.
"Saga anaknya mama sama papa, bukan anak haram." Elgar menegaskan. Dia lalu meminta Saga memberikan ponselnya pada Mila, dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan siapa yang mengatai Saga anak haram.
Mila menceritakan semuanya secara detail. Untuk orang orangnya siapa saja, dia memang tak kenal, yang dia tahu hanya Nora.
Elgar mengepalkan tangannya, dia bersumpah jika besok tiga orang itu akan menerima surat pemecatan dengan tidak hormat. Dia juga akan menyuruh Aden untuk meluruskan berita simpang siur yang memojokkan Mila. Pokoknya dia ingin saat hari H nanti, tak ada satu mulutpun yang akan melukai Mila ataupun Saga.
"Harusnya aku ada disana untuk melindungi kalian."
"Sudahlah El, lagian semuanya udah terjadi. Kapan kamu pulang?"
"Cie....kangen," Elgar mulai menggoda. "Dua hari lagi aku pulang. Tapi kata mama, kita gak boleh ketemuan, dipingit istilahnya. Katanya biar kita rindu berat. Biar malam pertamanya makin hot."
__ADS_1
Mila tergelak mendengarnya. Apa semua pria sama, yang ada dikepalanya yak pernah jauh dari se*.