Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 71


__ADS_3

Setelah membacakan dongeng hingga Saga tertidur, Mila kembali ke kamarnya. Dilihatnya sang suami yang masih sibuk didepan laptop. Jangan lupakan pula kertas kertas yang berserakan diatas meja. Pria itu terlihat sangat sibuk. Bahkan dia tak sadar saat Mila memasuki kamar.


Mila mendekatinya, melingkarkan kedua lengan dileher lalu mencium pipi Elgar. "Belum selesai?"


Elgar meraih sebelah tangan Mila lalu menciumnya. "Kenapa, pengen?" Tanyanya sambil menarik sebelah alis.


Mila seketika terkekeh pelan. Padahal hanya tanya belum selesai, tapi mengarahnya langsung kesana. Apa bahasa tubuhnya berlebihan hingga Elgar mengiranya lagi pengen.


"Kok diem?" Elgar menautkan kedua alisnya.


"Mau aku buatin kopi untuk menemani kerja?"


"Boleh." Jawab Elgar sambil tersenyum lalu fokus kembali kelayar.


Mila kedapur untuk membuatkan kopi, tak lama kemudian kembali dengan dua cangkir kopi diatas nampan lalu meletakkannya diatas meja.


"Kamu minum kopi juga? entar gak bisa tidur loh."


"Kan mau nemenin kamu kerja."


"Kamu tidur duluan aja." Ujar Elgar sambil mengelus punggung tangan Mila yang ada diatas meja.


Mila menggeleng cepat. "Aku bantuin ya, biar cepet kelar." Kerjaan Elgar jadi menumpuk seperti ini juga gara gara tadi siang mereka jalan jalan ke mall. Tak tega rasanya Mila membiarkan dia begadang demi menyelesaikan kerjaan, sedang dia enak enak tidur.


"Gak usah yank, kamu tidur aja," tolak Elgar.


"Ngeraguin kemampuanku nih? Aku pernah jadi sekretaris kamu loh," Mila mengingatkan. "Aku bantuin ya, boleh ya, boleh." Mila memasang ekspresi memohon, membuat Elgar tak kuasa menolak.


Mila segera mengambil laptop miliknya. Karena meja dikamarnya kecil, terpaksa mereka berdua pindah keatas ranjang. Dengan ditemin dua cangkir kopi, keduanya berkutat dengan pekerjaan.


Karena dikerjakan berdua, pekerjaan yang setumpuk itu jadi cepat selesai. Keduanya bersama sama membereskan lalu siap siap tidur.


"Ngapain lagi, katanya mau tidur?" tanya Elgar saat Mila mengutak atik ponsel.


"Cuma mau nyetel pengingat. Besok pagi aku mau ngetes urin."


"Yakin besok? katanya nanti nanti dulu, lagian baru telat 2 hari kan?"

__ADS_1


"Aku gak enak sama mama El. Entar dikira aku gak menghargai usahanya yang udah beliin testpack."


"Kita baru 3 minggu nikah. Mama aja yang terlalu tergesa gesa. Pantesan dulu Salsa sampai stres gara gara mama." Elgar jadi teringat jaman dulu. Jaman dimana Salsa akan meluapkan kekesalan padanya jika wanita itu kesal pada mertuanya.


"El.."


"Hem.."


"Aku heran, kamu dan Salsa nikah 7 tahun, tapi kenapa tak punya anak? Padahal kalian berdua tak ada yang mandul. Buktinya sekarang Salsa hamil, dan kamu punya Saga."


"Mungkin karena kami sama sama stress. Psikis seperti itu mempengaruhi kesuburan. Salain itu, Salsa mengidap alkoholism, kecanduan alkohol, itu salah satu hal yang membuatnya susah hamil. Dan aku yang bekerja gila gilaan, bahkan sehari bisa kerja sampai 15 jam. Mungkin kualitas spe*ma ku juga kurang bagus. Apapun itu, setidaknya yang terbaik untuk kami. Tak ada anak yang menjadi korban perceraian kami."


Mila melingkarkan lengannya dipinggang Elgar sambil menyandarkan kepala didada bidangnya.


"Kamu ingin cepat cepat punya anak lagi?" Mila mendongakkan wajahnya keatas, menatap Elgar.


Elgar tersenyum mendengar pertanyaan Mila. "Tujuan menikah itu untuk bisa hidup bahagia bersama. Jika memang dikasih keturunan, itu adalah bonus. Jika tidak, seharusnya itu tidak merusak niatan awal menikah. Bagiku, bisa menua bersamamu sudah suatu kebahagiaan. Tapi jika diberi bonus anak, tentu akan melipat gandakan kebahagiaan itu. Soal anak, jangan terlalu dipikirkan. Aku tak mau kamu stres gara gara mama. Kita sudah punya Saga, itu sudah lebih dari cukup untukku."


Hati Mila terasa damai mendengar kata kata Elgar. Jika saja semua orang bisa berfikir seperti itu, terlebih suami, mungkin akan lebih sedikit kasus perceraian.


"Hutf." Elgar membuang nafas kasar. Sedetik kemudian ganti menyambar bibir Mila dengan rakus. Padahal niatnya malam ini off dulu karena sudah sangat malam. Tapi ciuman Mila barusan, membuat adik kecilnya meronta dan minta dinina bobokkan oleh pawangnya.


Pergelutan panas tak bisa dihindari. Ranjang yang tak terlalu luas itu menjadi saksi keganasan Elgar. Mila membekap mulutnya sendiri, posisi kamar yang bersebelahan dengan kamar ibunya membuatnya takut suaranya terdengar sampai kesana.


Keduanya larut dalam indahnya rasa yang tak terdefinisikan. Saling bekerja sama memberikan kepuasan hingga keduanya malayang ke langit ke tujuh dan mencapai puncak bersama.


"Terimakasih sayang." Tak pernah absen Elgar mengucapkan kalimat itu setiap selesai mereka berhubungan. Diakhiri dengan kecupan hangat dikening yang membuat Mila merasa begitu dicintai.


Pagi pagi, keduanya sama sama terbangun karena alarm dari ponsel Mila. Pengingat jika dia harus mengecek urin.


"Aku ikut." Ujar Elgar saat Mila turun dari ranjang. Setelah mengambil testpack digital yang diberikan Bu Dirga, keduanya menuju kamar mandi yang ada didekat dapur.


Dijam ini, Bu Rahmi tak ada dirumah, dia selalu sholat subuh berjamaah dimasjid. Elgar mengikuti Mila masuk kedalam kamar mandi yang tak begitu luas itu lalu menguncinya.


"Kok dikunci?"


"Sekalian kita mandi junub bareng."

__ADS_1


"Malu kalau ketahuan ibu El."


"Ya makanya cepetan, sebelum ibu kembali dari masjid."


Mila akhirnya mengangguk setuju. Tapi sebelum itu, terlebih dulu dia mengecek urin. Ini pertama kalinya dia memakai testpack digital, lebih dulu dia membaca cara penggunaannya.


Keduanya menunggu dengan harap harap cemas, hingga sebuah tulisan negatif tertera dilayar kecil. Mila seketika tertunduk lemas.


"Negatif El, mama pasti kecewa." Gumam Mila dengan wajah sedih.


Elgar bedecak kesal, menarik testpack dari tangan Mila dan langsung membuangnya.


"Kok dibuang." Mila kembali mengambil testpack yang tergeletak dilantai. Dia masih butuh benda itu untuk difoto dan dikirim ke mertuanya.


"Aku gak suka kamu sedih hanya karena barang gituan. Aku udah bilangkan semalam, anak itu bonus. Dikasih lagi yang alhamdulilah, enggak ya udah. Lagian kita udah punya Saga. Aku gak mau kamu stress gara gara yang ginian."


Mila diam saja, kalau dia menjawab, yang ada Elgar makin marah.


"Nanti biar aku ngomong sama mama. Aku gak suka dia ngasih kamu banda sialan itu."


Mila meraih tangan Elgar dan mengeleng cepat. "Gak usah ngomong apa apa. Aku gak mau kamu cek cok sama mama."


"Tapi kalau gak diginiin, mama gak akan berubah. Dari dulu dia selalu kayak gitu. Heran, padahal sudah punya dua cucu, masih aja kurang."


Mila menyimpan testpack tersebut ketempat yang aman agar gak terkena air.


"Udah udah, mandi yuk, ibu keburu pulang dari masjid."


Mila berusaha tersenyum, dia tak mau Elgar kesal jika melihatnya bersedih. Tapi dalam hati, rasa sedih itu jelas ada. Dia bisa membayangkan ekspresi mertuanya saat dia kirimi foto hasil testpack nanti, wanita itu pasti sedih.


"El, semalam kita berhubungan. Kira kira itu bisa memperlngaruhi hasil testpack gak sih? Siapa tahu gara gara itu hasilnya gak akurat?"


Elgar kembali berdecak, kembali kesal karena Mila masih membahas soal itu.


"Maaf, gak bahas itu lagi." Mila buru buru menyelesaikan mandi sebelum ibunya datang.


Kira kira, mengecek urin setelah berhubungan bisa memperngaruhi hasilnya gak sih?

__ADS_1


__ADS_2