Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 8


__ADS_3

Riuh rendah terdengar dari kelas Tk B 2. Miss Naomi selaku wali kelas, mengajari murid muridnya untuk mengadakan penyambutan untuk pemilik yayasan yang sebentar lagi akan datang berkunjung.


"Ingat, yel yel nya yang kompak ya. Dan satu lagi, gak boleh berisik kalau ibu pemilik yayasan sedang bicara. Didengarkan baik baik petuah dari beliau. Mengerti?"


"Mengerti Miss." Sahut semua murid dengan kompak.


Tak berselang lama, yang ditunggupun tiba. Pemilik yayasan datang berkunjung ditemani kepala sekolah.


"Selamat Pagi anak anak." Sapa ibu kepala sekolah.


"Selamat Pagi."


"Perkenalkan ini, Ibu Dirga, beliau adalah pemilik yayasan Sinar mentari." Kepala sekolah memperkenalkan.


Semuanya murid kompak memberi salam pada Bu Dirga lalu menyanyikan yel yel sesuai diajarkan Miss Naomi.


Bu Dirga tersenyum sambil bertepuk tangan melihat penyambutan yang sangat meriah itu. Setelah itu, seorang murid maju untuk memberikan buket bunga padanya.


"Selamat datang ibu pemilik yayasan." Ucap bocah kecil itu sambil menyodorkan sebuket bunga. Bu Dirga bergeming menatap bocah itu. Bocah kecil yang mengingatkannya pada Elgar kecil. Bagaimana mungkin anak itu bisa sangat mirip dengan Elgar saat kecil. Mungkin jika mereka berdua ada dimasa yang sama, orang akan menganggapnya kembar.


Saga menoleh pada Miss Naomi. Dia bingung kenapa Bu Dirga hanya diam, tak kunjung menerima bunga yang dia sodorkan. Apakah dia mumbuat kesalahan, ataukan Bu Dirga tak menyukai bunganya?


Miss Naomi yang paham arti tatapan bingung Saga, segera bersuara.


"Mohon bunganya diterima Bu."


Bu Dirga terkesiap mendengar ucapan Miss Naomi. Dia baru tersadar jika baru saja larut dalam lamunan.


Sambil mengulum senyum, Bu Dirga menerima buket bunga dari tangan Saga.


"Terimakasih sayang." Ujar Bu Dirga sambil mengusap pelan kepala Saga.


Setelah bunganya diterima, Saga kembali ketempat duduknya.


Bu Dirga memberikan sedikit wejangan pada murid murid. Dia sengaja tak mau bicara panjang lebar mengingat yang ada dihadapannya sekarang adalah anak TK yang mudah jenuh. Selesai memberikan wejangan, Bu Dirga membagikan snack yang sengaja dia persiapkan untuk para murid.


Sepanjang berada di kelas, tatapan Bu Dirga tak pernah lepas dari Saga. Ada sesuatu lain yang dia rasakan.


Selepas pembagian snack, bel istirahat berbunyi.


Bu Dirga dan kepala sekolah meninggalkan kelas menuju ruang guru. Mereka akan melanjutkan kembali kunjungan setelah istirahat.


Sementara itu, murid murid sibuk membuka bungkusan snack dari Bu Dirga. Sebagian ada yang makan didalam kelas, dan sebagian lagi memilih segera keluar ke kehalaman untuk bermain.


Saga menyimpan snack itu kedalam tas lalu mengambil kotak bekal buatan mamanya.


Dia berjalan menuju halaman sambil membawa kotak bekalnya. Tak ada mood bermain sama sekali. Dia memilih duduk menyendiri dibangku panjang yang ada di pinggir halaman.


"Saga, main yuk." Ajak Rania, teman sekelas Saga.


Saga hanya menggeleng pelan. Wajahnya terlihat murung, tak seperti biasanya yang ceria. Kotak bekal yang ada dipangkuannya juga tak dibuka sama sekali.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"


Lagi lagi Saga menggeleng.


Disaat Rania hendak duduk disamping Saga, temannya datang dan mengajak Rania main. Jadilah Saga sendirian disana.


Bu Dirga yang baru kembali dari toilet, tak sengaja melihat Saga yang duduk sendirian. Melihat Saga yang tampak murung, Bu Dirga menghampiri bocah itu.


"Kenapa gak ikut main sama teman teman yang lain?" Tanya Bu Dirga sembari duduk di sebelah Saga.


Saga hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Kok murung gitu wajahnya? Cerita sama ibu, siapa tahu ibu bisa bantu."


Saga menoleh kearah Bu Dirga lalu menatapnya. Lagi lagi, Bu Dirga merasa ada bagian dari hatinya yang menghangat saat melihat Saga. Kekosongan hatinya seperti mulai terisi.


"Apa ibu tahu, tempat apa didunia ini yang gak ada signal nya?"


Bu Dirga mengerutkan kening? Apa anak disebelahnya ini sedang ngajak dia main tebak tebakan?


"Gak tahu ya?" Saga membuang nafas kasar lalu menunduk lemas. Mungkin memang tempat itu begitu jauh hingga tak ada seorangpun yang tahu.


"Emmmm...di pelosok kampung, ditengah hutan, di pulau terpencil. Atau mungkin di kutub." Jawab Bu Dirga.


"Kutub? Dimana itu? Jauh ya?"


"Kamu...mau pergi ketempat yang gak ada signal?" Tebak Bu Dirga. Sayangnya tebakannya salah, Saga menggeleng.


"Saga? Nama kamu Saga?"


Saga mengangguk pelan.


"Sudah lama papa kamu gak pulang?" Tanya Bu Dirga sambil mengelus pelan kepala Saga.


"Bukan lama, tapi gak pernah pulang. Saga gak pernah ketemu papa." Saga makin menunduk lesu.


Bu Dirga menggeser duduknya mendekati Saga. Meraih pundak kecil itu lalu merangkulnya. Bu Dirga pikir, mungkin papanya sudah meninggal, hanya saja mamanya belum bisa mengatakan karena tak mau membuatnya sedih.


"Saga pengennya papa datang pas hari ayah nanti."


Bu Dirga bukanlah pribadi yang mudah dekat dengan seseorang. Tapi dengan Saga, dia merasa dekat meski baru bertemu hari ini. Rasanya, dia melakukan sesuatu untuk membuat bocah kecil itu tak lagi sedih. Kasihan sekali melihat anak yang sejak kecil tak pernah bertemu papanya.


...----------------...


Bu Dirga duduk diatas ranjang sambil menatap foto kecil Elgar dialbum yang sudah usang. Foto Elgar yang mengenakan seragam tk itu, mirip sekali dengan Saga. Hanya model rambutnya saja yang tampak berbeda. Dia sering mendengar jika manusia mempunyai 7 kembaran tak sedarah didunia ini. Mungkinkah Saga dan Elgar salah satu kembar tak sedarah itu?


Tok tok tok


"Masuk." Sahut Bu Dirga saat pintu kamarnya diketuk.


"Mama nyariin aku?" Tanya Elgar sambil berjalan kearah mamanya. Dia duduk ditepi ranjang sambil memperhatikan album yang berada dipangkuan mamanya.

__ADS_1


"Lagi kangen papa sama Alena?" tebak Elgar. Pasalnya bagian album yang terbuka itu, salah satunya menunjukkan foto mereka berempat. Mama papanya, dia dan Alena, kakak perempuannya yang juga sudah meninggal.


Bu Dirga menunjuk foto Elgar yang memakai seragam tk.


"Tadi di TK Sinar Mentari, ada anak yang mirip banget sama kamu."


Elgar mengernyitkan dahi. Takkan mamanya memanggilnya ke kamar hanya untuk menyampaikan hal remeh seperti ini.


"Namanya Saga, mirip banget sama kamu El. Mungkin jika kalian seumuran, orang pasti nganggep kalian kembar."


Elgar tertawa ringan mendengarnya. Mungkin saking pengen punya cucu darinya, mamanya itu jadi sedikit sensitif. Lihat mirip dikit, langsung baper bawaannya.


"Lusa, kamu sibuk gak?"


"Kenapa emangnya?"


"Saga gak ada yang menemani di hari ayah. Mama pengen kamu datang kesekolah untuk menemani Saga."


Elgar seketika melongo mendengar permintaan tak masuk akal itu. Mereka tak kenal sama sekali, masa iya dia tiba tiba datang dan cosplay jadi ayahnya Saga.


"Gak usah aneh aneh deh ma. Lagian emang mama kenal sama keluarganya? Gimana kalau tiba tiba papanya datang? Gak lucu mah."


"Gak mungkin, papanya sudah meninggal. Dia saja gak pernah ketemu sama papanya." Sahut Bu Dirga cepat.


Elgar menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Dia masih tak habis pikir saja dengan permintaan nyeleneh ini. Dan ini gak bisa dibiarkan, Dia harus menyadarkan mamanya agar gak terlalu masuk dalam urusan keluarga orang.


"El gak tahu seberapa dekat mama dengan anak itu. Tapi jika tiba tiba El datang dan cosplay jadi ayahnya, itu jelas gak masuk akal. Gimana nanti kalau keluarganya yang lain datang. Ada chemistry antara ayah dan anak. El dan anak itu tak kenal sama sekali, bisa bisa dia malah gak nyaman sama El mah."


Benar juga apa yang dikatakan Elgar. Belum tentu juga Saga merasa nyaman didampingi Elgar. Tapi mengingat wajah murung Saga tadi pagi, rasanya dia ingin melakukan sesuatu agar anak itu bisa tersenyum dan merasa punya ayah meski hanya sehari.


"Gimana kalau kamu datang saja sama mama pas peringatan hari ayah. Kita pemilik yayasan, tak aneh jika datang dihari itu. Nanti mama kenalkan kamu dengan Saga. Siapa tahu Saga mau kamu temani di acara itu. Karena menurut guru guru, ada banyak perlombaan anak dan ayah dihari itu. Kasihan kalau Saga gak bisa ikut satu lombapun."


Elgar membuang nafas kasar.


"El sibuk mah, gak ada waktu buat hal hal remeh seperti itu."


Bu Dirga meraih tangan Elgar dan menggenggamnya. "Sekali ini saja. Tak perlu lama. Setelah acara selesai, kamu bisa langsung kembali ke kantor. Sebagai pemilik yayasan, kita juga harus ikut hadir dan mendukung acara acara yang diadakan sekolah."


Elgar menggaruk garuk tengkuknya. Lebih baik dia bilang iya dulu malam ini. Besok baru dia pikirkan cara lain untuk menolak.


Bu Dirga meraih kertas yang ada diatas nakas lalu menyerahkannya pada Elgar.


"Apa ini mah?" Elgar mengernyit melihat list barang barang yang sepertinya tak mereka butuhkan. Mulai dari sepeda, peralatan sekolah sampai mainan edukatif.


"Tolong suruh Aden membelikannya besok dan kirim ke TK sinar mentari."


"Buat?"


"Hadiah untuk anak anak."


"Bukankah sekolah sudah menyediakan hadiah?"

__ADS_1


"Mama ingin lebih banyak berbagi. Siapa tahu dengan begitu doa mama segera dikabulkan. Kamu bisa segera punya keturunan."


__ADS_2