
Saga menatap perut Salsa. Apakah benar ada baby didalam sana? Jika iya, kenapa perut itu tampak datar, tak seperti wanita hamil pada umumnya yang berperut buncit.
Melihat wajah bingung Saga, Ben dan Salsa berpandangan lalu kompak tertawa.
"Dia bingung Ben." Lirih Salsa didekat telinga Ben.
"Om mau nipu Saga ya?" Saga berkacak pinggang sambil menatap Ben dan Salsa bergantian. Biarpun dia anak kecil, dia tak akan mudah tertipu. Dia harus mendapatkan tomat itu.
Tatapan tajam tanpa rasa takut Saga membuat Ben dan Salsa kembali tertawa.
"Lucu sekali dia Ben," ujar Salsa dengan tangan bergelayut mesra dilengan Ben. Sepertinya punya anak memang menyenangkan. Salsa mengelus perutnya, berharap jika anaknya kelak bisa semenggemaskan Saga.
"Iya, tampan dan lucu, pemberani juga," Ben menimpali.
Saga mengambil tomat di rak lalu mendekapnya erat, seolah olah barang berharga yang harus dia jaga dari dua orang dewasa dihadapannya. "Jangan harap bisa mengambil tomat ini dari Saga."
"Ambillah." Salsa cekikikan sembari menyentuh pipi Saga.
"Tapi Honey, bukankah kau ingin makan tom yam?"
"Udah gak pengen lagi sekarang." Sahut Salsa dengan tatapan masih pada Saga. Dia sungguh terpesona pada bocah tampan dan pemberani didepannya ini.
"Wah, calon anak papa sungguh hebat. Masih didalam perut aja udah berhati malaikat, mau mengalah, bikin mamanya langsung gak kepengen makan tom yam." Ben mengusap lembut perut Salsa lalu menciumnya.
"Ben, malu." Desis Salsa sambil menjauhkan perutnya dan Ben. Wajahnya seketika memerah karena beberapa orang tak sengaja melihat adegan tersebut.
"Jadi, tante beneran hamil?" Saga jadi kepo.
Ben tersenyum, menarik sebelah tangan Saga lalu meletakkan diperut Salsa yang masih rata.
"Disini ada dedek bayinya, hanya saja masih kecil. Nanti lama lama besar, dan perut tante Salsa, ikutan besar juga."
"Oh...." Sahut Saga sambil menggut mangut dan mengusap perut Salsa.
"Gak mau cium dedek bayinya?" tawar Ben.
"Boleh?" Saga minta ijin dan langsung diangguki oleh Salsa.
Cup, Saga meletakkan bibirnya dipermukaan perut Salsa, membuat Salsa tak bisa menahan tawa karena geli. "Hai dedek bayi. Kenalin, ini kakak Saga. Nanti kalau dedek udah lahir, kita main sama sama ya. Kakak Saga pasti akan selalu jagain dedek bayi."
Salsa dan Ben tertawa mendengar ucapan Saga. Bocah sekecil itu sudah bisa mengeluarkan kata kata bijak seperti itu.
Ditempatnya mengantri, Mila terus celingukan. Dia cemas karena Saga tak kunjung kembali. Dia melambaikan tangan pada Reno yang berdiri agak jauh darinya. Menyuruh pria itu segera menyusul Saga.
Sebagai bodyguard, Reno sigap melaksankan tugasnya, menyusul Saga ketempat sayur dan buah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Saga sedang bersama Salsa, mantan nyonya bos nya.
Reno mendecak sebal, kalau seperti ini, mana bisa dia menyusul Saga, yang ada malah ketahuan karena Salsa mengenalinya. Terpaksa dia hanya mengamati dari jauh sambil menunggu Salsa pergi.
Buk
Reno terjingkat kaget saat seseorang menepuk bahunya. Saat dia menoleh, ternyata Mila ada dibelakangnya.
"Jangan pegang pegang calon nyonya bos, bisa bisa saya dipecat kalau ketahuan bos."
__ADS_1
Mila mendelik sebal. Apa apaan itu, manggil calon nyonya bos? Sangat tidak keren.
"Saya nyuruh kamu nyari Saga, bukan sembunyi dibalik rak kayak gini," omel Mila. "Ya udah, pegang ini trolinya, biar saya saja yang nyusul."
"Jangan." Reno reflek menarik tangan Mila. Keduanya lalu menatap kearah yang sama, dimana tangan Reno yang sedang memegang tangan Mila. Buru buru Reno melepaskan tangan Mila, mengangkat kedua tangannya seperti orang yang menyerah.
"Maaf calon nyonya bos, tolong jangan salah paham, jangan laporin sama bos Elgar." Reno mengatupkan kedua telapak tangannya didada dengan raut memohon.
Astaga, dari mana El dapat supir manusia lebay kayak gini.
"Disana ada nyonya Salsa, makanya saya gak berani kesana." Reno menunjuk kearah Saga yang sedang asyik mengobrol bersama Salsa dan Ben.
Mata Mila membulat sempurna melihat Salsa sedang mengobrol dengan Saga. Saat ini, dia hanya bisa berharap semoga Salsa tak mengenali Saga, apalagi sampai berniat buruk padanya.
Sama seperti Reno, Mila tak bisa menghampiri Saga. Akhirnya mereka berdua hanya bisa mengamati dari jauh.
Saga menepuk dahinya, dia teringat jika sang mama tengah menunggunya didekat kasir. Ini sudah terlalu lama, mamanya pasti khawatir.
"Ini tomatnya buat dedek bayi saja." Saga menyodorkan tomatnya pada Salsa. "Saga harus segera pergi, mama pasti cemas nungguin Saga." Saga gegas berlari menuju tempat mamanya, tapi lebih dulu, dia menoleh dan melambaikan tangan. "Dada Tente, dada Om bule, adek bayi."
Melihat itu, Reno dan Mila buru buru menuju kasir.
Dengan wajah takut sekaligus bersalah, Saga menghampiri mamanya yang terlihat marah. Menyentuh tangan mamanya lalu memeluk pinggangnya.
"Maafin Saga, mama pasti nungguin dari tadi."
Mila menghela nafas berat. Kalau ditanya marah atau tidak, sudah pasti dia marah. Saga sudah mengabaikan aturannya untuk tidak banyak bicara dengan orang asing. Tapi ini tempat umum, tak mungkin memerahinya.
"Saga tahu sudah berapa lama Saga pergi?"
"Jangan diulangi lagi."
Saga menjawab iya sambil mengangguk. Karena ada Salsa ditempat ini, Mila menyuruh Reno yang mengantri dikasir, sementara dia dan Saga kembali ke mobil lebih dulu.
Mila menuntun Saga keluar dari supermarket. Begitu sampai area parkir Saga menarik tangannya hingga lepas dari Mila lalu berlari.
"Papa."
Saga menyongsong papanya yang ternyata sudah berdiri didekat mobil mereka. Ya, Elgar datang karena cemburu pada Reno yang bisa jalan jalan dan dekat dengan Mila serta Saga.
Elgar membuka lebar tanganya dan langsung memeluk Saga, menggendongnya dan memberondongnya dengan ciuman.
"Papa kangen banget sama Saga."
"Saga juga Pah." Saga melingkarkan kedua lengannya dileher sambil meletakkan kepala dibahu papanya.
Mila menatap sinis pada Elgar, bukannya pria itu sendiri yang bilang akan jaga jarak sementara waktu ini. Dia bahkan sampai dilarang bekerja, lalu sekarang, dengan sesuka hati tiba tiba muncul disini.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Elgar.
"Kenapa tiba tiba muncul disini, yakin tak apa apa? bukannya kamu sendiri yang bilang jika sementara waktu jaga jarak dulu."
"Bukannya seneng aku datang, malah dijutekin." Elgar mendecak pelan. "Aku itu kesini karena rindu Saga dan kamu."
__ADS_1
"Yakin, bukan rindu yang didalam sana?" sindir Mila sambil menyebikkan bibirnya.
"Siapa?"
"Mantan istri terbaru kamu."
"Salsa." desis Elgar sambil melotot.
"Papah kenal tante Salsa?" tanya Saga.
Elgar seketika menatap Saga. Darimana anak itu tahu Salsa?
"Tadi tak sengaja, Saga ketemu Salsa didalam."
Mendengar itu, wajah Elgar langsung berubah tegang. Dia tahu seperti apa Salsa, wanita itu bisa nekat kalau sampai tahu Saga itu anaknya.
Tiba tiba Reno muncul disaat yang tidak tepat dengan banyak sekali belanjaan dikedua tangannya.
Elgar menurunkan Saga dari gendongannya dan langsung menghampiri Reno. Memarahinya habis habisan karena dianggap tak pecus menjaga Saga dan Mila. Tangan Elgar mengepal, untung Saga tak diapa apain Salsa, kalau sampai terjadi sesuatu, sudah pasti akan dia habisi si Reno itu.
"Ampun bos, ampun. Maaf, tolong jangan pecat saya," Reno mengiba.
Elgar mendengus kesal lalu membuang pandangamnya. "Awas kamu, sekali lagi teledor menjaga Saga dan Mila, habis kamu." tekan Elgar sambil mencengkeram lengan Reno hingga pemuda itu meringis kesakitan.
Sial, gini banget sih nasib jadi bawahan, salah mulu.
Mereka berdua lalu menghampiri Mila dan Saga yang menunggu didekat mobil, tak bisa masuk karena masih dikunci.
Reno membukakan pintu belakang untuk bosnya, sementara dia menaruh belanjaan dibagasi.
Elgar membiarkan Saga masuk dulu dibangku belakang. Disaat hendak menyuruh Mila masuk, dia dibuat terbengong karena Mila membuka pintu bagian depan dan langsung masuk. Sebelum Mila sempat mengunci, Elgar lebih dulu membuka pintu.
"Ngapain duduk disini? Ayo duduk dibelakang, bertiga."
Mila menghela nafas lalu menatap Elgar tajam. "Bukan muhrim."
Reno yang kebetulan sudah selesai menyimpan belanjaan dan hendak masuk ketempat kemudi, tak bisa menahan tawa mendengar jawaban menohok Mila.
"Ada yang lucu?" Elgar menggeram kesal, membuat Reno seketika kicep lalu masuk dan duduk dikursi supir.
Elgar sampai bela belain datang kesini naik ojol dengan harapan nanti bisa duduk bertiga dikursi belakang, malah berakhir mengenaskan seperti ini. Tidak, dia tak mau seperti ini endingnya.
Elgar menutup kembali pintu. Berjalan memutari mobil lalu membuka pintu kemudi.
"Keluar, biar aku yang bawa mobilnya."
Reno melongo, sedetik kemudian, tangannya ditarik kasar oleh Elgar hingga keluar dari dalam mobil dan posisinya digantikan oleh sang bos.
"Saya naik apa bos?" Seru Reno sambil menahan pintu agar tak tertutup dulu.
"Ngesot sampai rumah."
Brakk
__ADS_1
Elgar menarik kasar pintu hingga Reno terpaksa menarik tangannya agar tak terjepit.