
Tak perlu waktu lama, Saga sudah tertidur. Mila melihat Elgar, pria masih memejamkan mata, tapi dia yakin jika Elgar tak tidur. Dia menatap wajah Elgar. Dulu, wajah ini yang hampir setiap akan dan bangun tidur dia lihat. Dan sebentar lagi, masa masa itu akan kembali.
"Udah puas belum, aku mau buka mata ini." Dengan mata yang masih tertutup, Elgar berusaha menahan tawa.
Mila memalingkan wajahnya, malu juga ketahuan seperti ini.
Elgar memiringkan tubuhnya, dan saat dia membuka mata, wajah pertama yang dia lihat adalah Mila.
"Aku merindukan saat saat seperti ini. Dimana kamu adalah orang pertama yang aku lihat disaat aku membuka mata."
Wajah Mila merona, ternyata Elgar juga merasakan hal yang sama dengannya. Untuk waktu yang lumayan lama, mereka saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya sama sama tertawa pelan sambil geleng geleng.
"El, aku ngomong serius."
"Paan sih?" Elgar mengerutkan kening.
"Kamu tahukan, ibuku hanya tinggal denganku dan Saga."
"Terus?"
Mila menghela nafas. Dia pikir Elgar akan langsung paham, ehhh ternyata harus dijelaskan secara detail.
"Bisakah jika setelah menikah, kita tinggal dirumahku?" Masalah tempat tinggal, harus dibicarakan sebelum menikah. Jangan sampai menjadi persoalan setelah menikah yang akhirnya memunculkan pertengkaran pertangkaran.
Elgar mengubah posisinya menjadi duduk. Melipat kedua lengan didada sambil bersandar dikepala ranjang, begitupun dengan Mila.
"Tapi mama sangat berharap kita tinggal disini Mil. Sejak Pink dibawa Devan, mama kesepian. Apalagi sejak papa meninggal, mama seperti kehilangan semangat hidup. Dan kehadiran Saga membuatnya kembali bersemangat seperti dulu. Rasanya aku tak bisa menolak permintaannya untuk tinggal disini."
Meninggalkan ibunya sendiri, jelas bukan pilihan yang mudah bagi Mila. Tujuan utama dia kembali ke Jakarta adalah untuk menemani ibunya. Sejak kepergian bapaknya, ibu Mila sering tiba tiba menangis kalau sendirian. Maka dari itu, Miko dan Mila tak bisa membiarkan ibunya sendirian.
"Hanya sampai Miko menyelesaikan pendidikannya El. Setelah itu kita bisa pindah kesini."
"Berapa lama?"
"Satu tahun lebih."
Mata Elgar langsung melotot. Satu tahun lebih bukan waktu yang cepat. Dan kalau ditanya, sebenarnya dia tak nyaman tinggal dengan mertua. Dia sudah terbiasa menyuruh ini itu pada art, jika pada mertuanya, rasanya tak mungkin. Bukan hanya itu, berinteraksi dengan Bu Rahmi saja, dia masih canggung.
"Mama pasti gak akan setuju Mil. Mama juga sendirian, aku gak bisa ninggalin dia."
__ADS_1
Mila menghela nafas. Kenapa jadi rumit begini masalahnya.
"Bagaimana kalau ibumu ikut tinggal disini saja. Rumah ini besar, ada banyak kamar disini." Terdengar seperti solusi yang bagus, tapi rasanya tak mungkin. Hampir semua orang tua pasti ingin tinggal dirumahnya sendiri. Meski sederhana, rumah sendiri terasa lebih nyaman dari pada rumah orang meskipun mewah.
"Aku gak yakin ibu mau."
"Ya kamu yakinin dong Mil."
"Hanya setahun lebih dikit El, tak bisakah kita tinggal dirumahku saja."
"Aku gak bisa mengecewakan mama Mil. Lagian mama juga sendirian disini."
"Tapi disini banyak art, mama kamu gak sendirian."
"Tapi mereka orang asing, bukan keluarga. Ya kalau dengan adanya art dianggap gak sendirian, kita cariin aja ibu kamu art."
Mila membuang nafas lalu menunduk. Dia tahu seperti apa keras kepalanya Elgar. Pria itu selalu mau menang sendiri. Selama ini ibunya adalah orang yang selalu ada untuk Mila. Dan saat dia kembali pada Elgar, meninggalkannya sendirian rasanya sungguh keterlaluan.
"Mama ingin bisa tinggal dengan Saga Mil, biar rumah ini rame."
"Ibu aku juga El, sama. Saga itu cucu ibu satu satunya. Ibuku loh yang selama ini nemenin aku. Saat aku lahiran sendirian di Singapura, siapa yang ada, ibu aku El, bukan kamu sama mama kamu." Mila mendadak sangat emosi. Saat dia susah, ibunya selalu ada untuknya. Masa saat dia bahagia, ibunya ditinggal begitu saja.
Mata Mila mulai berkaca kaca. Padahal beberapa jam yang lalu, semuanya terasa baik baik saja. Tapi kenapa sekarang seperti ini? Kadang ada orang yang mendadak batal menikah mendekati hari H, apakah mungkin salah satunya karena masalah seperti ini.
"Kamu tahukan, istri sudah sepatutnya ikut dengan suami. Aku ingin kita tinggal disini. Urusan ibu kamu, nanti kita bujuk supaya mau tinggal disini. Kalaupun tidak mau, kita bisa cariin art untuk menemaninya."
"Egois." Mila menatap Elgar tajam. "Aku hanya minta waktu setahun lebih untuk bersama ibu. Itupun kamu gak bisa mengabulkan?" Mila berusaha menahan air matanya agar tidak luruh.
"Masalahnya bukan pada itu Mil. Tapi mama akan kecewa kalau kita tinggal disana. Mama sudah merestui kita. Dia hanya ingin kita tinggal disini. Jadi aku mohon, jangan buat mama kecewa."
Mila meremat sprei sambil menengadah agar air matanya tak jatuh.
"El." Dengan mata berkaca kaca, Mila menatap Elgar. "Lebih baik, pernikahan kita diundur sampai Miko pulang ke Jakarta."
Elgar langsung menggeleng cepat. "Enggak, aku gak mau." Menunggu beberapa bulan saja sudah terasa amat lama bagi Elgar, apalagi setahun lebih? Tidak, Elgar tak akan mampu menunggu selama itu.
"Kita akan tetap menikah bulan depan, titik."
"Ternyata kamu gak pernah berubah. Tetep egois kayak dulu." Mila turun dari ranjang lalu mengambil tasnya ada ada diatas nakas. Melihat itu, buru buru Elgar turun dari ranjang dan menghampirinya.
__ADS_1
"Mau kemana?" Elgar menarik lengan Mila saat wanita itu hendak melangkah.
"Hujannya udah reda, aku mau pulang. Besok pagi, tolong antarkan Saga pulang. Ingat El, kamu udah pernah janji gak bakal misahin aku sama Saga. Jadi kalau terjadi sesuatu diantara kita, jangan sampai lupa dengan kata katamu." Tekan Mila dengan nafas naik turun dan mata berkaca kaca.
"Apa maksud kamu? Terjadi apa?" Elgar mulai merasa jika masalahnya kian melebar.
"Lebih baik kita batalkan saja pernikahan kita." Lirih Mila sambil menunduk.
Elgar memegang kedua bahu Mila. "Tatap aku."
Bukannya menatap, Mila malah membuang padangan kearah lain.
"Tatap aku Mila." Elgar mengeram tertahan. Dia tak mungkin bicara keras karena Saga bisa terbangun. Dia melepaskan salah satu bahu Mila lalu mengangkat dagu wanita didepannya itu agar menatapnya.
"Jangan pernah sekali lagi bilang seperti itu. Apapun yang terjadi, kita akan tetap menikah. Kau lihat anak itu." Elgar menunjuk dagu kearah Saga. "Hatinya akan hancur jika sampai pernikahan kita gagal."
Air mata Mila menetes. Dia tak bermaksud ingin menghancurkan hati Saga. Baginya, kebahagiaan Saga adalah prioritas utama. Tapi ibunya, wanita itu juga sangat penting buat Mila.
Elgar menyeka air mata Mila lalu menggenggam kedua tangannya. "Semua masalah pasti ada solusinya. Maaf jika tadi aku terkesan egois. Kita bicarakan lagi besok dengan kepala dingin. Ayo aku antar kedepan biar Reno mengantarmu pulang. Ibumu sedang sakitkan? kau pasti mencemaskannya."
Mila mengangguk. Keduanya lalu keluar dari kamar dan menuju lantai bawah. Setelah berpamitan dengan Bu Dirga, dengan tangan saling bertaut, mereka berjalan menuju teras Karena masih gerimis, Elgar mengambil payung dan memayungi wanitanya itu hingga depan pintu mobil.
Sebelum membukakan pintu, Elgar meraih sebelah tangan Mila dan menggenggamnya.
"Tidur yang nyenyak, jangan pikirkan apapun malam ini. Aku yang akan mencari solusinya. Kata orang, banyak masalah yang tiba tiba muncul menjelang pernikahan. Anggap saja ini kerikil kecil yang menghalangi jalan kita menuju pelaminan. Hanya kerikil kecil, dan aku yang akan menyingkirkannya." Elgar lalu membukakan pintu untuk Mila.
"I love you."
"I love you too."
Elgar lalu menutup kembali pintunya.
"Kita pergi dulu bos." Pamit Reno sebelum menutup kaca jendela.
"Hati hati. Pastikan calon istriku selamat sampai tujuan. Kurang sehelai rambut saja, aku pecat kamu."
Reno langsung menoleh kebelakang, menatap Mila. "Calon nyonya bos, jangan sisiran selama perjalanan. Saya tidak mau ada rambut yang rontok dan saya dipecat."
Mila seketika tertawa, begitupun Elgar. Reno kemudian menutup jendela dan melajukan mobilnya menuju rumah Mila.
__ADS_1