
Didalam mobil menuju kantor Elgar, Bu Dirga merenungkan kejadian akhir akhir ini. Mulai dari bertemu anak yang sangat mirip dengan Elgar. Elgar yang mendadak berubah dan memutuskan bercerai, serta Elgar yang hari itu tanpa alasan meminta nomor kepala sekolah. Jadi inilah jawabannya, Saga, bocah kecil mirip Elgar itu adalah cucunya.
Dengan langkah tergesa gesa, Bu Dirga memasuki gedung SE Corp. Tersenyum pada sesiapa saja yang menyapanya sambil berjalan menuju ruangan Elgar. Sekarang juga, dia harus minta penjelasan pada putranya itu. Sayangnya, dia tak menemukan Elgar diruangannya, dan detik itu juga, dia teringat jika Elgar ada sidang hari ini. Tapi ini sudah sangat siang, mungkinlah selama ini sidangnya?
Bu Dirga yang hendak kembali, bertemu dengan Aden. Pria berkaca mata itu menyapa sambil menunduk hormat.
"Kau tidak ikut Elgar ke pengadilan?"
"Tidak Bu. Pak Elgar menyuruh saya mewakilinya dimeeting pagi ini. Jadi beliau hanya pergi dengan Pak Juno, pengacara. Ibu sedang mencarinya?"
Bu Dirga mengangguk. "Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Apa mungkin sidangnya belum selesai?"
"Aduh, saya tidak tahu Bu. Tapi jika ibu mau, bisa menunggu diruangan Pak Elgar, nanti biar saya suruh ob membuatkan minuman."
Bu Dirga menatap Aden, mungkin dia bisa mendapatkan informasi dari pria ini. Bukankah selama ini, Aden selalu ada disamping Elgar.
"Ada yang ingin saya tanyakan padamu, bisakah kita bicara diruanganmu?"
Aden melongo sesaat, lalu buru buru tersenyum dan mengangguk. Dia mengajak Bu Dirga keruangannya dan mempersilakan duduk. Perasaannya tak tenang, situasi terasa amat canggung. Tak mungkin Bu Dirga mengajaknya mengobrol untuk membahas harga pangan yang makin naik, sudah tentu ada hal serius yang ingin dia bahas.
Baru saja Aden mengangkat gagang telepon untuk menelepon ob, Bu Dirga sudah angkat bicara.
"Aku tidak haus."
Aden menelan ludahnya lalu meletakkan kembali gagang telepon.
"Aku hanya ingin bertanya tentang wanita yang sedang dekat dengan Elgar. Apa wanita itu bernama Mila?"
Aden tertegun sejenak, kenapa Mila jadi dibawa bawa, batinnya.
"I, iya, mereka memang dekat." Dekat yang dimaksud Aden adalah dalam hal pekerjaan, status sebagai bos dan sekretaris.
"Jadi dugaanku benar, Elgar dan mantan istrinya itu sudah bertemu." Lirih Bu Dirga tapi masih bisa didengar oleh telinga Aden.
"Ma, mantan istri?" Aden melongo.
Melihat ekspresi Aden, Bu Dirga menebak jika pria itu tak tahu menahu soal ini. Tahu seperti ini, dia tak perlu bilang tadi. Tapi dia tak terlalu khawatir, Aden orang kepercayaan Elgar, Bu Dirga yakin jika pria itu bisa tutup mulut.
"Apa Elgar juga sering bertemu dengan Saga, anak Mila?"
"Anak Mila." Aden mengulangi ucapan Bu Dirga dengan lemah. Apa bocah kecil bernama Saga yang tempo hari dia temui di car freeday adalah anak Mila? Dan Mila adalah mantan istri Elgar? Dan kesimpulannya, Saga anak Elgar dan Mila.
Aden merasakan tubuhnya lemas dan kepalanya berdenyut denyut. Dadanya terasa sesak, sulit untuk bernafas. Dia menarik laci mejanya, mengambil minyak angin yang selalu tersimpan rapi disana lalu mencium aromanya untuk mengurangi sesak.
Jadi selama ini, alasan bosnya merubah penampilan adalah Mila. Ya, benar Mila. Bodoh sekali kenapa dia tak menyadarinya. Bosnya berubah sejak Mila menjadi sekretarisnya. Dan kenapa dia selalu merasa Elgar merecokinya saat bersama Mila, jawabannya juga sudah jelas. Masih ada rasa yang belum kelar diantara mereka.
Dan ketika Elgar ngebet ingin cerai, alasannya sudah jelas, dia ingin rujuk dengan Mila. Lalu kesempatannya untuk mendapatkan Mila?
__ADS_1
Aden menunduk sambil memegangi dada. Kalau saja tak ada Bu Dirga, ingin sekali dia menangis. Sepertinya status jomblo ngenes masih harus lebih lama tersemat padanya.
"Kau kenapa?" tanya Bu Dirga.
"Ti....dak Bu." Jawab Aden lemah.
Bu Dirga membuang nafas kasar sambil geleng geleng. Saat itu, tiba tiba ponsel Bu Dirga berdering, ada telepon masuk dari Elgar.
"Kau dimana?" tanya Bu Dirga langsung.
"Di tempat pengacara."
"Pulang sekarang, ada hal penting yang ingin mama bicarakan." Setelah mengatakan itu, Bu Dirga segera mengakhiri panggilan.
"Tutup mulut, jangan sampai ada yang tahu soal ini." Tekan Bu Dirga lalu meninggalkan ruangan Aden.
Aden mengambil ponselnya, melihat foto foto candid Mila yang dia ambil secara diam diam.
"Lebih baik mundur sebelum berperang," lirihnya. Dengan tangan gemetaran, dia mendelete semua foto Mila dari ponselnya.
...----------------...
Dengan diantar Reno, Mila dan Saga berbelanja ke supermarket. Dirumah terus membuat Mila bosan, begitupun dengan Saga, bocah itu sejak minggu lalu merengek minta jalan jalan.
Reno yang ditugaskan untuk mengawal mereka, juga ikut masuk kedalam. Dia membantu mendorong troli, sementara Mila sibuk memilih belanjaan.
"Mamakan udah bilang, kita gak selalu harus bertiga."
Saga mendengus kesal lalu cemberut, sama sekali tak bersemangat belanja. Melihat itu, Reno berinisiatif membujuknya.
"Mau naik ke troli gak? Nanti Om Reno dorong yang kenceng."
"Emang boleh Om?"
Bukannya menjawab, Reno langsung mengangkat Saga lalu menurunkannya kedalam troli.
"Siap?"
Saga mengangguk.
Reno langsung mendorong trolinya sambil berlari, membuat Saga yang berada didalamnya tertawa kencang saking senangnya. Dengan sigap Reno mengerem, memutar dan membelokkan dengan sangat cepat, membuat Saga serasa sedang naik wahana.
Mila yang melihat dibuat dag dig dug. Selain takut jatuh, dia juga takut ditegur oleh pegawai supermarket.
"Hwaaa...."Teriak Saga kencang dengan kedua tangan berpegangan erat pada pinggiran troli. Orang orang disana pada melihat, tapi beruntung tak ada yang menegur.
Reno tak lama melakukannya, dia lalu membawa troli yang berisi Saga ketempat Mila.
__ADS_1
"Reno...." Tekan Mila sambil melotot. "Bagaimana kalau sampai ditegur pegawai?"
Reno dan Saga, keduanya malah tertawa cekikikan. Mila hanya bisa geleng geleng lalu melanjutkan belanja, sementara Saga meminjam ponsel untuk video call papanya.
"Papa...." Seru Saga begitu terhubung dengan Elgar. "Saga lagi belanja sama mama dan Om Reno." Saga menunjukkan mamanya yang sedang sibuk memilih sabun mandi serta Reno yang ada dibelakang troli, sedang mendorongnya.
Elgar menyipitkan mata melihat Reno yang tampak bahagia.
"Pah, tadi aku didorong Om Reno kenceng banget, kayak lagi naik wahana. Seru banget pokoknya."
Elgar tersenyum terpaksa lalu menyuruh Saga memberikan ponsel pada Reno. Dia mengubah kepanggilan biasa karena malas melihat wajah Reno yang tampak bahagia tapi terlihat begitu menyebalkan bagi Elgar.
"Ngapain kamu ngikut Mila dan Saga belanja?" sinis Elgar.
"Kan sama bos disuruh ngawal mereka terus."
"Saya suruh kamu ngawal, bukan ngikut belanja kayak satu keluarga bahagia seperti itu." Teriak Elgar kencang sampai sampai Reno menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Tak perlu sedekat itu, kamu hanya perlu mengawasi, bukan menemani, mengerti? Bisa bisa kamu dianggap suaminya Mila." Elgar mendengus kesal.
"I, iya bos."
Elgar mematikan panggilan teleponnya. Menyesal dia telah menyuruh Reno menjadi supir Saga. Tahu begini, lebih baik nyari supir yang sudah tua saja.
Karena Reno pergi, Mila sendiri yang mendorong troli belanjaannya. Tak banyak lagi yang harus dia beli. Setelah mengambil beberapa, dia langsung menuju kasir untuk mengantri.
"Astaga mama lupa belum membeli tomat." Mila menepuk dahinya sendiri.
"Biar Saga saja ma yang ambilin," tawar bocah kecil itu.
"Emang Saga tahu tempatnya?"
"Tahulah Ma. Lurus kesana, lalu belok kanan." Saga menunjuk arah.
"Berani?"
"Berani dong." Saga gegas berlari menuju tempat sayur dan buah buahan. Dia mengedarkan mata mencari tempat tomat begitu sampai dibagian sayur segar. Dan saat dia sudah tahu tempatnya, cepat cepat dia kesana dan hendak mengambil sekantung tomat, seseorang juga tengah mengambilnya. Hingga tomat yang tinggal satu plastik itu ditarik dua orang sekaligus.
"Tante, tomatnya buat aku ya."
Wanita yang dipanggil tante itu menatap Saga lamat lamat. Wajah anak itu mengingatkannya pada seseorang.
"Hai Boy, kamu sendirian?" Tanya seorang pria bule yang berdiri disamping wanita tadi.
"Om Bule bisa bahasa indonesia?"
"Bisa dong." Jawab Bule itu lalu mengarahkan telapak tangannya pada Saga lalu mereka melakukan tos.
__ADS_1
"Tomatnya buat tente Salsa saja ya. Dedek bayi sedang ingin makan tom yam." Ujar bule yang tak lain adalah Ben.