Dia Mantan Suamiku

Dia Mantan Suamiku
DMS 63


__ADS_3

Saga, bocah kecil itu terbangun lebih dulu. Mungkin karena dia sudah lama tidur, beda dengan kedua orang tuanya yang masih tidur beberapa jam saja.


"Mama, mama." Bocah itu menepuk nepuk lengan mamanya hingga sang mama membuka mata. "Lapar," ujarnya sambil meletakkan sebelah tangan diatas perut.


Mila melihat jam, ternyata sudah jam 9 pagi, pantas saja Saga lapar.


"Lapar Ma. Kita cari makan yuk, aku bangunin papa ya." Saga hendak membalikkan badan kearah papanya tapi ditahan oleh Mila.


"Jangan ganggu papa ya. Papa baru tidur sebentar. Biar mama telepon layanan kamar saja, supaya dibawakan sarapan. Saga mandi dulu sana gih."


"Mandi di bathtup yuk Ma, bareng sama Saga."


Mila menggeleng cepat. "Saga udah besar, mana boleh mandi bareng sama mama. Kalau udah besar, gak boleh mandi bareng bareng."


Mila mengajak Saga menuju kamar mandi. Mengisi bathtup dengan air hangat lalu menyiapkan peralatan mandi untuk Saga. Setelah semuanya beres, keluar untuk memesan makanan. Sejujurnya dia juga sama dengan Saga, peruntnya mulai keroncongan.


Mila duduk ditepi ranjang. Mengangkat gagang telepon yang ada diatas nakas untuk memesan makanan.


Elgar, pria itu ternyata sudah bangun. Begitu Mila selesai dan meletakkan kembali gagang telepon, dia langsung bangun dan bergeser mendekati Mila. Meraih pinggingnya, memeluk dari belakang dan menyandarkan kepala dibahunya.


"El, jangan gini dong. Malu kalau Saga lihat."


"Mana Saga?" tanya Elgar dengan mata yang masih terpejam, sebenarnya dia masih sangat ngantuk.


"Lagi mandi."


"Oh...."


Elgar tak mempedulikan ucapan Mila. Dia tetap saja memeluknya sambil menyandarkan kepala dibahu Mila. Bawaannya pengen nempel mulu kalau lihat Mila.


"Makasih untuk semalam, aku bahagia banget." Elgar mengangkat kepalanya lalu mencium pipi Mila. Membuat wanita itu langsung merona. "Gak sabar pengen segera berangkat ke Bali."


"Harus gitu ya ke Bali?" Sebenarnya Mila tak begitu setuju. Dia tak bisa pisah lama lama dari Saga. Meskipun hanya dua hari, tapi bagi Mila, itu sudah lama.


"Harus dong, kan honeymoon."


"Mending gak usah ke Bali kalau ujung ujungnya gak jalan jalan, cuma kamu ajak mengeram dikamar doang."


Elgar seketika tergelak. Memang itu yang ada dikepalanya. Dua hari dua malam hanya dikamar dengan Mila tanpa ada yang mengganggu. Dia bahkan sudah memikirkan hal hal gila dan sedikit liar yang akan mereka lakukan disana.


"Gak usah jauh jauh Ke Bali kalau cuma mau dikamar. Mending dirumah aja gratis, uangnya kasih aja ke aku."


"Ck, ada gak sih, perempuan yang matre didunia ini. Suka banget sama yang namanya uang."


"Jangan salah, perempuan itu gak matre, tapi realistis. Hidup itu butuh uang."


"Semua orang juga butuh, gak cuma perempuan."


"Tapi perempuan yang bertugas mengatur keuangan. Laki taunya cuma makan doang. Mana tahu harga harga kebutuhan yang terus naik. Beras, sayur, daging, belum lagi bayar listrik, bayar sekolah, ba_ emmppt."


Mila tak bisa melanjutkan ucapannya karena Elgar tiba tiba mencium bibirnya dan baru melepaskan saat Mila hampir kehabisan nafas.


Mila mengambil nafas banyak banyak begitu pagutan bibir mereka terlepas. Dia memukul lengan Elgar karena geram. Bagaimana kalau Saga tiba tiba keluar dari kamar mandi? bisa bisa mata polosnya ternoda.

__ADS_1


"Salah sendiri, ngomongnya panjang lebar kayak orang orang pidato." Ujar Elgar santai tanpa rasa bersalah.


Mila makin kesal dikatain pidato, dia kembali memukul lengan Elgar sampai pria itu kualahan dan minta ampun.


"Ampun yank, ampun yank."


Elgar tiba tiba menemukan ide jahil agar Mila berhenti memukulnya. Dia mulai menggelitiki pinggang istrinya itu.


Pukulan Mila auto berhenti. Dia yang kegelian menggeliat geliat tak karuan sampai telentang diranjang. Sekarang giliran Mila yang berseru agar Elgar berhenti.


Kelitikan Elgar akhirnya berhenti. Pria itu sekarang mengungkung tubuh Mila yang ada dibawahnya. Mata mereka saling beradu dengan nafas yang sama sama memburu. Elgar kian mendekat, sedikit demi sedikit bibir mereka hampir menempel. Sebelum hilang kendali untuk yang kedua kali, segera Mila mendorong dada Elgar lalu bangun. Dia tak mau sampai kepergok Saga. Anaknya itu sangat cerdas dan suka bertanya, jangan sampai dia sendiri yang nantinya bingung mencari jawaban.


"Ish." Elgar bercedak kesal.


"Aku gak mau sampai kepergok Saga."


"Makanya kita honeymoon berdua biar bebas. Aku gak mau tahu, pokoknya besok kita ke Bali."


"Ke BALI!" Seru Saga yang baru keluar dari kamar mandi. "Besok kita ke Bali? Yeee...." Bocah yang hanya memakai handuk sebatas dada itu berteriak girang sambil berlari menghampiri kedua orang tuanya. Sedangkan Elgar, pria itu tertunduk lemas karena rencana honeymoon berdua sepertinya gagal.


"Besok kita ke Bali Mah?" tanya Saga yang saat ini sudah ada dihadapan Mila. Wajah bocah itu berseri seri. Anak mana yang tak suka jika diajak jalan jalan.


"Emm...." Mila menoleh kearah Elgar dengan ekspresi absurd. "Ta..nya papa."


"Besok kita ke Bali Pa?"


Elgar garuk garuk kepala. Padahal rencananya dia dan Mila akan berangkat diam diam saat Saga sekolah alias ditilap kalau bahasa jawanya. Dan nanti, mereka akan menggunakan kerja sebagai alasan saat sudah berada disana.


"Pah, kok diem. Besok kita ke Bali?" Saga menarik narik lengan papanya. Tak sabar mendengar kata iya dari bibirnya.


"Saga gak diajak?" Muka bocah itu langsung berubah garang mirip angry bird.


Elgar menatap Mila, mencari bantuan untuk menjelaskan. Sayangnya Mila malah mengedikkan bahu.


Saga berlari menuju sofa lalu duduk disana. Dengan kedua tangan dilipat didada dan bibir cemberut, dia menoleh kearah lain, tak mau melihat mama papanya.


Kalau sudah begini, sudah pasti Mila yang membereskan. Wanita itu berjalan menghampiri Saga lalu duduk disebelahnya.


"Mama sama papa gak sayang sama Saga, hiks, hiks." Respon Saga ternyata melebihi perkiraan Mila. Bocah itu sampai menangis.


Inilah yang ditakutkan Mila saat Elgar mengajaknya pergi berdua. Dia dan Saga tak pernah berpisah. Hanya sekali waktu itu, saat Mila terpaksa ke Bandung untuk urusan pekerjaan.


Mila menghapus air mata Saga lalu menyandarkan kepala bocah itu didadanya.


"Mama sama papa sayang sama Saga."


"Bohong. Mama sama papa mau pergi tanpa Saga. Itu artinya, kalian gak sayang sama Saga." Tangis bocah itu kembali pecah.


"Mama sama pa_" Mila menghentikan ucapannya saat melihat Elgar meletakkan telunjuknya didepan bibir sambil menggeleng.


Elgar mendekati mereka berdua. Duduk disebah Saga sambil mengusap kepalanya pelan. "Papa dan mama gak jadi pergi ke Bali. Kita bertiga akan langsung pergi ke Korea."


Saga seketika berhenti menangis. Menoleh kearah papanya untuk mendapatkan kepastian. Elgar tersenyum sambil menyeka sisa air mata dipipi Saga lalu menaikkan bocil itu keatas pangkuannya.

__ADS_1


"Kita bertiga akan pergi ke Korea. Papa sama mama sayang banget sama Saga." Elgar menghujani wajah Saga dengan ciuman. Melihat Saga seperti tadi, mana tega dia meningalkannya.


Mila terharu melihat Elgar. Ternyata suaminya itu sudah banyak berubah, tak seegois dulu. Buktinya dia rela menekan keinginannya demi Saga.


"Makasih El." Mila melingkarkan lengan dipinggang Elgar sambil menyandarkan kepala dilengan kekarnya.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua." Elgar menoleh kearah Mila, tersenyum sambil mencium keningnya sekilas.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu mengakhiri drama pagi itu. Mila beranjak untuk membuka pintu, dia pikir makanan mereka datang, ternyata Miko yang saat ini ada didepan pintu. Dia mencari Saga, hendak mengajaknya jalan jalan keliling hotel sekalian sarapan bersama saudara sepupunya yang dari kampung.


"Mau Om, mau. Saga mau." Bocah itu terlihat sangat antusias dengan ajakan Miko.


Elgar membantu Saga berganti baju. Dia membuka koper Mila untuk mengambil baju Saga yang ada disana. Tak sengaja Elgar melihat lingeri yang terselip dibagian bawah. Meski tak melihat modelnya, hanya dari kainnya saja, Elgar bisa tahu jika itu lingeri.


Setelah berpamitan dan salim pada kedua orang tuanya, Saga keluar bersama Miko.


Melihat situasi yang mulai kondusif, Elgar langsung memeluk Mila dari belakang.


"Kenapa kemarin gak dipakai?"


"Apa?"


"Lingeri soft pink."


Wajah Mila seketika memerah karena malu. Dia tak menyangka jika Elgar melihat keberadaan benda yang sudah dia simpan dibagian paling bawah itu.


"Pakailah nanti malam. Sebagai ganti ke Bali, aku ingin nanti malam menjadi malam yang sangat panjang dan spesial bagi kita berdua." bisik Elgar tepat ditelinga Mila. Membuat bulu kudu Mila seketika berdiri.


"Apakah yang semalam masih kurang?"


"Tentu saja. Kamu juga merasa seperti itukan?"


"Eng, enggak," sangkal Mila.


"Yakin enggak? Terus yang bilang, udah El, mulai aja, aku dibawah." Elgar menirukan gaya bicara Mila, membuat wajah Mila seketika memanas karena malu.


"Hahahah.....Kamu kira aku mau ngapain yank tadi pagi? Kayaknya kamu ngarep banget deh dapat serangan fajar, hahaha."


"His." Mila berdecak sebal sembari melepaskan belitan tangan Elgar. Memalukan sekali kalau ingat kejadian itu.


"Kok udah keluar, kan belum dimulai." Elgar kembali lagi menirukan ucapan Mila tadi pagi. "Hahahaha..."


"Katawa teroosss, ketawa aja sampai besok." Mila masuk kamar mandi lalu membanting pintunya dengan keras.


Brakkk


"Tunggu Yank, aku ikut."


Elgar gegas menyusul Mila. Sayangnya pintu terlanjur dikunci Mila dari dalam.


"Yank, buka pintunya yank." Elgar mengggedor gedor pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Rasain, siapa suruh ngeledekin aku mulu."


__ADS_2