
Bary tiba-tiba masuk ke dalam kamar Dinda. Ia mendengar semua yang dikatakan Dinda dan Rista. Ia tak terima jika harus berpacaran dengan Rista.
" Apa?! Dinda aku nggak mau sama dia. Kamu nggak bisa mempengaruhiku. Meskipun kamu memohon kepadaku untuk bersama dia, aku tetap nggak bisa." ucap Bary sembari memegang gagang pintu dengan erat.
" Bary! Jangan bicara begitu. Hati-hati kalau bicara dengan cewek. Kamu itu menyakiti perasaannya." Dinda kesal sama Bary.
Bary lalu terdiam. Ia telah keceplosan mengatakan apa yang tidak ia sukai. Ia menundukkan kepalanya lalu memainkan gagang pintu kamar Dinda berkali-kali. Ia merasa canggung untuk melihat Rista. Pastinya Rista sangat sakit hati dengan ucapan Bary.
" Rista..jangan dengarkan ucapan Bary. Dia itu kalau bicara memang nggak pernah pakai perasaan. Aku yakin dia hanya bercanda. Percayalah padaku, Bary itu cowok yang sangat cocok denganmu."
Bary seakan muntah mendengar kata-kata Dinda. Ia sama sekali tak pernah bermimpi berpasangan dengan Rista. Namun Dinda malah seolah menjodohkannya dengan Rista.
" Dinda..kenapa kamu malah menyuruhku untuk dekat dengan Rista. Padahal kan, kamu yang aku harapkan." gumam Bary.
Rista melepas pelukan Dinda. Ia sama sekali tak tersinggung dengan kata-kata Bary. Malah, dia sangat senang karena Bary telah berkata jujur tentang perasaannya.
" Nggak apa-apa, Dinda. Bary itu memang seperti itu. Dia dari dulu memang selalu berkata begitu. Tidak menyukaiku. Dari kecil kami bersama. Jika ada anak lain yang menyangka kita pacaran, dia selalu marah. Dan keesokan harinya dia nggak mau bertemu denganku. Nggak mau lagi dekat-dekat denganku.
Kami memang tidak ditakdirkan untuk bisa bersama, Dinda. Dia itu pantasnya untuk kamu. Dan kamu pasti tahu kalau dia sangat menyukaimu. Kamu juga menyukainya, kan?"
" Rista..kamu ngomong apa. Itu semua nggak benar. Aku yakin Bary bisa berubah suatu saat nanti. Dan dia akan menjadi pasanganmu. Percaya padaku." Dinda mencoba menghibur Rista.
" Kalian itu bicara soal apa? Kita itu baru beberapa detik sekolah disini. Kenapa bahas masalah kaya gituan. Aku nggak mau pusing-pusing mikirin itu. Aku sekolah untuk belajar bukan untuk mencari pasangan." ucap Bary yang saat itu hanya diam dan mematung di depan pintu.
" Bary..kamu tahu kan, Rista menyukaimu. Setidaknya kamu beri dia kata yang bisa membuatnya bahagia. Jangan to the point seperti itu. Bary..apa kurangnya Rista? Dia baik, pintar, cantik. Apa yang kurang darinya?"
" Tapi dia menyebalkan dan juga bawel. Aku nggak mau terus dekat-dekat sama dia, apalagi berpasangan. Yang benar saja."
" Bary...jangan bicara begitu! Kalau kamu masih bicara seperti itu lagi, aku nggak mau temenan sama kamu!" ancam Dinda.
" Dinda..aku dan Rista berteman saja sudah bagus, kok. Jangan lebih. Sudah, aku mau pulang. Aku nggak mau bahas ini lagi."
__ADS_1
" Tunggu. Bary.. kalau kamu peduli sama aku, tolong dengar kata-kataku. Aku ingin teman baikku ini bahagia. Tolong jaga perasaannya."
" Dinda..kenapa kamu terus menekanku? Jangan turuti perasaan dia. Aku itu heran sama dia. Kenapa masih sekecil ini, bisa-bisanya suka sama lawan jenis. Aku malah jadi takut."
" Bary..apa kamu nggak sadar? Banyak anak cewek yang menyukaimu. Karena, pasti ada apa-apanya di dalam dirimu itu. Sesuatu yang membuat banyak orang tertarik untuk melihatmu. Begitu juga dengan Rista. Dia salah satu dari sekian anak cewek yang menyukaimu. Dan dia bilang terus terang kepadamu kalau dia menyukaimu. Lalu apa balasan kamu? Jangan mentang-mentang lalu kamu menolak mentah-mentah dia. Rista itu teman baikku, Bary. Tolong hargai dia."
Bary terdiam lagi. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Kata-kata Dinda yang terus keluar membuatnya tak bisa berkutik. Ia sebenarnya ingin segera meninggalkan rumah Dinda, namun ia tak mau Dinda membencinya karena meninggalkan Dinda saat berbicara kepadanya.
" Dinda..sudah.. Jangan memaksa Bary lagi. Aku tak ingin kalian bertengkar." ucap Rista lalu menahan Dinda agar tidak berdebat lagi dengan Bary.
" Rista..aku nggak bisa melihatmu seperti ini. Aku kasihan. Rasanya aku ingin menangis." ucap Dinda lalu memeluk Rista. Tak terasa air matanya menetes.
Bary melihat tetesan air mata Dinda. Hatinya mulai goyah. Ia berpikir apa dia telah melukai hati Dinda. Namun ia tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya terdiam dan masih terus memegangi gagang pintu di kamar Dinda.
" Dinda..kenapa kamu menangis? Jangan kasihan kepadaku. Aku tidak apa-apa."
" Rista..aku tahu. Ditolak itu sangat sakit. Apalagi dia membicarakan kelemahan kita. Rasanya sangat sakit."
" Aku nggak apa-apa, Dinda. Sudah jangan menangis. Apa yang kamu tangiskan?"
Kini tinggal Dinda dan Rista di rumah Dinda. Rista mencoba menenangkan Dinda yang sedang menangis, meskipun hatinya juga sedang bergejolak, karena ucapan dari Bary yang sangat menusuk hatinya.
Rista memeluk Dinda dan mengelus-elus rambut Dinda yang sangat indah. Ia lalu mencoba menghibur Dinda agar tak menangis lagi.
" Dinda, sudah jangan menangis. Harusnya aku yang menangis, kok malah jadi kamu yang menangis." ucap Rista.
Dinda tersenyum lalu mengusap air matanya." Aku terharu, Rista. Kamu nggak sakit hati mendengar kata-kata Bary?"
Rista menggelengkan kepalanya. Walaupun sebenarnya ia sakit hati, namun ia tak ingin Dinda terus membujuk Bary untuk menjadi pasangannya. Ia juga tak ingin melihat Dinda menangis lagi.
" Sudah ku bilang aku nggak kenapa-kenapa. Jangan khawatir. Aku sudah sering mendapat perlakuan buruk dari Bary. Entah dia memanggilku jelek, mendorongku ke kubangan, melemparku pakai kulit pisang. Pokoknya aku sudah kenyang dengan perilaku buruknya. Tapi aku nggak marah. Aku hanya bisa mengomelinya saja. Karena aku menyukainya, aku nggak ingin dia pergi karena aku marah-marah sama dia."
__ADS_1
" Rista..kok kamu begitu, sih. Kalau aku jadi kamu, aku nggak mungkin bisa diam saja digituin sama Bary. Hemhh..ternyata Bary itu menjengkelkan juga, ya."
" Dinda..mungkin dia menjengkelkan. Tapi kamu tahu sendiri, kan. Bagaimana dia memperhatikanmu. Dia sangat perhatian kepadamu. Aku sampai iri melihatnya."
" Tapi, seharusnya dia nggak bicara seperti itu kepadamu. Katamu juga, dia sering berbuat jahil kepadamu. Kita kan, sama. Sama-sama perempuan. Kenapa sama aku dia baik, sama kamu nggak."
" Jawabannya cuma satu. Karena dia menyukaimu, Dinda. Sudah jangan berpikir buruk tentangnya. Nanti malah akan membuat persahabatan kita bertiga jadi rusak."
" Aku nggak mau dekat-dekat sama orang seperti Bary. Nanti dia baik, lama kelamaan keluar sifat aslinya."
" Percaya padaku, Dinda. Bary bukan seperti apa yang kamu pikirkan. Jangan lihat luarnya saja. Dalamnya saja kamu nggak tahu. Jangan menebak-nebak soal dia."
" Hemhh..ya sudah, aku nggak mau bahas anak itu lagi. Aku lapar. Aku ingin makan."
" Hahaha.. Jadi tangismu membuatmu lapar, Dinda? Bukankah tadi kamu baru saja makan?"
" Eh..apa iya? Perasaan belum."
" Lupa, ya. Yah wajar saja. Cowok idamanmu itu pergi. Jadi kamu mendadak pelupa." ledek Rista sambil tersenyum-senyum.
" Cowok idaman dari hongkong? Anak kecil baru lahir dari kemarin sore saja, sudah bahas cowok idaman. Rista.. Rista."
" Hahaha.. Aku juga nggak tahu, Dinda. Pokoknya, semua ini gara-gara Bary. Dia yang membuatku dan kamu begini."
" Kenapa aku juga? Kamu sendiri, Rista. Aku nggak mau ikut-ikutan."
" Tadi kamu menangis. Berarti mau nggak mau kamu juga ikutan."
" Aku tetap nggak mau." ucap Dinda lalu memeluk Rista dan menggelitiki pinggangnya.
" Dinda, geli..." ucap Rista lalu balik menggelitiki Dinda.
__ADS_1
Suasana berubah menjadi ramai ketika dua gadis cantik masa depan itu saling bercanda ria. Meskipun belum lama saling mengenal, namun mereka sudah sangat akrab. Mereka juga sering bertukar cerita. Hubungan yang awalnya hanya teman biasa, kini menjadi luar biasa karena mereka saling menghargai satu sama lain.
......................