Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Nindya Teman Semeja


__ADS_3

Melihat Bary yang menenteng tasnya, Dinda dengan tanpa sadar berteriak memanggilnya. Semua mata teman-teman Dinda dan Wali kelasnya langsung tertuju pada Dinda.


Sang Wali kelas pun mendatanginya lalu bertanya kepadanya.


" Dinda..kenapa kamu berteriak di dalam kelas? Apa kamu mengenal murid laki-laki itu?"


" Eh..maaf, Pak. Dia sahabat baik saya. Bolehkah saya izin keluar untuk bertemu dengannya?"


" Apa? Jadi kamu mengenalnya? Untuk apa kamu mau menemaninya? Ini jam pelajaran Saya, kamu mau meninggalkannya demi bertemu sahabatmu?"


" Maaf, Pak. Saya mau menerima sanksi apapun. Tapi izinkan saya bertemu Sahabat saya, Pak."


" Hemm..sepertinya penting sekali, ya? Baiklah kalau begitu Saya akan izinkan kamu. Tapi ingat, jangan lama-lama. Tidak boleh lebih dari lima belas menit."


" Saya janji tidak akan lebih dari lima belas menit, Pak. Kalau begitu saya izin keluar sekarang, Pak."


" Silahkan.."


Dinda segera beranjak dari tempat duduknya lalu keluar menemui Bary. Namun Ia tak menemukan Bary. Ia kemudian bertanya pada tukang kebun sekolah yang sedang mencabuti rumput di halaman depan Sekolah.


" Maaf, Pak. Saya mau tanya, boleh tidak?"


" Boleh saja, Dik. Mau tanya apa?"


" Apa Bapak lihat teman saya, yang menenteng tas dan berjalannya itu, seperti orang pincang. Apa Bapak tahu kemana dia pergi?"


" Maksudnya Bary?"


" Iya, Pak. Kok, Bapak bisa tahu namanya?"


" Saya tahu dari desas desus, Dik. Saya dengar dari teman saya. Katanya Bary itu murid pintar tapi bandel. Setiap berangkat ke sekolah, kerjaannya hanya tidur di kelas.


Banyak Guru yang mengadukan hal ini pada Kepala Sekolah. Saya pernah lihat dia dua kali, masuk ke ruang BK. Tapi saya tidak tahu kesalahan apa yang dilakukan Bary."


" Jadi Bary dipanggil ke ruang BK sudah dua kali, Pak?"


" Benar, Dik. Kemungkinan karena sikapnya di kelas yang tidak taat aturan. Bukan karena dia malas atau apa. Tapi dia selalu tidur saat jam pelajaran."


" Bapak tahu kemana Bary pergi?"


" Tadi saya lihat dia naik Bus. Tak begitu jauh jaraknya dengan adik, saat memanggil saya."


" Jadi dia sudah pulang?"


" Tadi dia berjalan pelan-pelan. Tapi begitu ada Bus datang, dia berlari dan langsung naik ke Bus."


" Jadi begitu ya, Pak. Hemmh.."

__ADS_1


" Kenapa, Dik? Dia pacar adik?" tanya Tukang kebun.


" Ehmm..bagaimana saya mau bilang ya, Pak. Saya nggak tahu. Cuma dia itu sahabat saya dari SMP. Jadi saya sangat dekat dengannya."


" Sahabat atau sahabat? Hehe..dari wajahnya sepertinya adik ini berbohong sama saya."


" Ah..tidak, Pak. Saya tidak berbohong. Ya sudah kalau begitu saya akan kembali ke kelas, Pak. Terima kasih atas infonya." ucap Dinda lalu segera meninggalkan Tukang Kebun yang masih tersenyum-senyum kepadanya.


" Hehe..ada-ada saja, anak jaman sekarang. Masih sekolah sudah pacaran. Giliran ada masalah, sekolahnya diabaikan. Hemm.. Beda denganku ketika sekolah dulu. Sebelum tamat sekolah, belum boleh pacaran. Harus bekerja dulu. Jadi kalau mau memutuskan untuk menikah, sudah memiliki tabungan. Kalau masih sekolah sudah pacaran, kalau ada apa-apa, apalagi sampai berbuat yang tidak-tidak dan tahu-tahu hamil. Lalu bagaimana masa depannya. Hahaha.. Ah sudahlah, mungkin ini memang jamannya. Aku tidak mungkin menegurnya karena aku bukan siapa-siapa dia. Mereka yang berbuat, seharusnya mereka tahu resiko yang akan mereka hadapi." gumam Tukang kebun itu lalu kembali meneruskan pekerjaannya mencabuti rumput.


...----------------...


Tiba di kelasnya, semua teman-teman Dinda menyorakinya dan beberapa murid laki-laki bersiul kepadanya.


Suasana pun menjadi ramai. Sang wali kelas mencoba menenangkannya. Ia mendatangi Dinda yang sudah kembali ke tempat duduknya.


" Apa kamu sudah bertemu dengan sahabatmu itu, Dinda?"


" Belum, Pak."


" Lalu dari tadi kamu kemana saja?"


" Saya mencarinya kemana-mana tapi orangnya tidak ketemu. Lalu saya tanya pada Bapak tukang kebun. Dia bilang, kalau sahabat saya itu sudah pulang naik Bus, Pak."


Beberapa teman kelas Dinda kembali bersorak. Mereka tertawa mendengar kata-kata Dinda. Sebagian dari mereka menyuruhnya untuk menyusul pulang. Dan ada sebagian yang menyuruhnya untuk menelponnya.


Ia pun berusaha diam dan menunduk. Mencoba menutup telinga agar tak terdengar suara-suara dari temannya yang masih membahas tentangnya.


Sang wali kelas pun merasa kasihan dengan Dinda. Ia kembali melanjutkan memberikan materi pelajarannya kembali sehingga perhatian teman-teman Dinda teralihkan.


Sementara itu, teman sebelah Dinda mencoba menenangkannya. Ia merangkulnya sembari menepuk-nepuk bahunya.


" Dinda, kamu ada masalah apa? Jika punya masalah, aku bersedia menjadi teman curhat kamu. Semoga saja aku bisa membantumu." ucap Nindya. Teman cewek yang tak kalah cantik dari Dinda. Bahkan dibanding Dinda, Nindya jauh lebih cantik dari Dinda. Namun kecantikannya terjaga oleh jilbab yang menghiasi kepalanya. Berbeda dengan Dinda yang tak pernah memakai jilbab. Sehingga banyak teman laki-lakinya yang suka kepadanya. Hal ini berlawanan dengan Nindya. Tak ada satupun murid laki-laki yang berani mendekatinya. Ia sangat lugu namun ia pandai menjaga diri dan matanya.


" Terima kasih, Nindya. Aku memang butuh teman untuk cerita. Aku tak memiliki banyak teman yang bisa ku percaya."


" Kalau begitu setelah jam istirahat kedua atau setelah pulang sekolah, apa kamu bisa menceritakan masalahmu?"


" Mungkin setelah jam pulang sekolah saja, Nindya. Agar kita banyak waktu untuk bicara."


" Baiklah, kalau begitu tenanglah. Jangan memikirkan sesuatu yang berat dulu. Kamu mau minum?"


" Terima kasih, Nindya. Aku nggak haus. Nanti saja kalau sudah jam istirahat."


" Kamu butuh menenangkan dirimu. Salah satu caranya dengan minum. Jangan takut, minum dikelas itu diperbolehkan, kok."


" Baiklah kalau kamu memaksa, Nindya. Aku akan minum."

__ADS_1


" Nah, begitu. Ini aku punya teh botol dingin. Tadi aku beli di kantin. Masih lumayan dingin, kok. Untuk menyegarkan otakmu agar nggak kepanasan. Hehehe.."


" Hehehe..bisa saja kamu, Nindya." ucap Dinda lalu dengan segera meminum teh botol pemberian Nindya.


...----------------...


Pukul tiga sore, bel tanda pulang sekolah dibunyikan. Dinda dan Nindya berjalan keluar bersamaan. Saat itu hujan turun dengan derasnya.


Nindya menagih janji Dinda untuk menceritakan masalahnya. Namun Dinda membatalkan keinginannya untuk bercerita. Ia belum siap untuk bercerita. Nindya pun tak berani memaksa. Ia lalu berjalan meninggalkan Dinda di saat hujan mereda. Sementara Dinda masih berdiri ditempatnya dan menunggu Bus datang.


Tak berapa lama, Nindya kembali dengan membawa motornya. Ia lalu menawarkan diri untuk mengantar Dinda pulang.


" Rumahku jauh, Nindya. Sekitar empat puluh lima menit dari sini. Nanti kamu pulang kesorean." ucap Dinda.


" Aku pernah lihat kamu naik Bus. Rumahmu itu lebih dekat dibanding rumahku. Tapi kita sejalan."


" Oh, jadi kamu pernah lihat aku naik Bus?"


" Iya.. Cuma, karena aku belum terlalu kenal denganmu, kupikir itu bukan kamu. Ternyata setelah beberapa kali aku melihatmu naik Bus, baru aku tahu kalau itu kamu. Teman sekelas dan teman semejaku. Hehe.."


" Emmh.. Bagaimana, ya. Aku harus terima atau ku tolak?"


" Hehe.. Kamu mau menolak tawaranku?"


" Hehe..nggak. Baiklah kalau begitu aku bonceng kamu saja."


" Nah..begitu malah enak, kan. Besok kamu nggak perlu naik Bus lagi. Aku akan menjemputmu dan mengantarmu pulang."


" Kali ini saja, Nindya. Aku nggak mau merepotkan kamu."


" Nggak.. Aku malah senang. Ke sekolah ada barengannya. Jadi kalau dijalan, ada teman mengobrolnya."


" Baiklah, kalau begitu aku akan bayar kamu. Setiap bulan aku harus bayar berapa?"


" Nggak perlu.. Aku bisa dekat denganmu saja sudah senang, kok. Nggak perlu bayar."


" Aku nggak mau kalau seperti itu. Masa aku pilih yang gratisan. Aku nggak mau dibilang begitu."


" Hehehe..baiklah. Kalau begitu, BBMnya kita bagi berdua. Bagaimana?"


" Nggak.. BBmnya aku saja. Kamu kan, sudah modal motornya."


" Enggak.. kita bagi berdua saja. Itu lebih adil. Jadi jangan sungkan atau merasa nggak enak sama aku. Lagipula, aku yang menawarkan kepadamu."


" Ya sudah kalau begitu. Mending sekarang saja kita pulang. Sebelum hujannya turun lagi." ucap Dinda lalu segera membonceng di belakang Nindya.


Nindya lalu melajukan motornya. Dalam hatinya, ia penasaran dengan apa yang dialami Dinda. Dari wajahnya yang terlihat di spion kiri, Dinda tampak cemas dan sepertinya sedang memikirkan masalah yang membuatnya bingung. Namun ia tak berani menanyakan masalah Dinda lagi. Dinda pun hanya terdiam dan tak berbicara sepatah katapun pada Nindya di sepanjang perjalanan.

__ADS_1


......................


__ADS_2