Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Menuntaskan Masalah


__ADS_3

" Aduh..ini ada apa kok peluk-pelukan segala." ucap Ibu Rista sembari membawakan minuman dan camilan ke ruang Tamu.


" Nggak ada apa-apa, Buk. Kami sudah sering berpelukan. Kalau pas senang ataupun susah, kami selalu berpelukan." ucap Dinda lalu melepas pelukannya pada Rista.


" Ibu kira ada apa. Ya sudah, diminum dulu tehnya. Ibu juga bawakan camilan sebagai teman minumnya."


" Terimakasih, Ibu. Maaf, kami malah merepotkan saja."


" Tidak apa-apa. Kalau begitu, Ibu tinggal dulu. Masih ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."


" Baik, Bu."


Setelah Ibu Rista pergi, Dinda mulai bicara dengan Rista. Ia ingin menuntaskan permasalahan antara dirinya yang menyangkut hubungannya, dengan Bary.


" Rista.. Aku mohon kamu jangan bersedih, ya. Aku nggak ingin melihatmu bersedih. Kalau aku mengingatnya, rasanya membuat diriku merasa sesak."


" Enggak, Dinda. Aku nggak apa-apa, kok. Kamu tenang saja." ucap Rista.


" Rista, Dinda..lebih baik aku pulang saja. Aku ada pekerjaan di rumah." ucap Bary.


" Bary..aku ingin kamu tetap disini. Aku ingin kamu menemaniku. Kenapa malah ingin pulang?"


" Aku merasa jadi obat nyamuk. Jadi, kalau kalian berdua sudah bertemu, rasanya dunia sudah milik berdua."


" Kenapa kamu jadi sensitif begitu, Bary? Sabar dulu.. Kami sedang bicara sebentar." ucap Dinda.


" Iya...baiklah."


" Rista.. Aku janji padamu, nggak akan pernah merebut apa yang ingin kamu raih. Aku nggak ingin menyakiti perasaanmu."


" Dinda..kamu itu ngomong apalagi? Sudah jangan membahas masalah itu. Aku sudah melupakannya."


" Tapi aku nggak tenang kalau.."


" Dinda..sudah, ya. Jangan bahas masalah itu lagi. Lebih baik kita minum dulu saja sebelum minumannya dingin."


" Rista.."


" Dinda..aku nggak mau bahas itu lagi. Bary..ayo diminum tehnya." ucap Rista.


" Rista..dengarkan aku dulu." Dinda terus memaksa.


" Dinda..apa kamu masih nggak ngerti juga, Rista sudah nggak mau bahas itu lagi. Semua sudah selesai. Jadi jangan di ungkit lagi." ucap Bary dengan setengah marah karena kesal pada Dinda.


" Iya, Dinda. Kamu jangan merasa nggak enak sama aku. Itu malah akan membuat beban dipikiranmu." ucap Rista lagi.

__ADS_1


" Hemhh..baiklah. Kalau kamu sudah nggak ingin bahas itu lagi. Aku nggak akan bahas." ucap Dinda.


" Nah, begitu kan lebih baik." ucap Bary.


" Baik..aku juga akan melupakan semuanya. Mulai sekarang bagaimana kalau kita buat persahabatan kita dari nol lagi. Setelah kemarin-kemarin sempat terjadi sesuatu yang hampir membuat persahabatan kita rusak."


" Maksudnya bagaimana, Dinda?" tanya Bary dan Rista bersamaan.


" Rista.. Kita tahu, Bary itu orang yang baik. Dia juga perhatian. Kamu pernah bilang kalau kamu menyukainya. Dan aku juga. Awalnya aku memang sempat mengaguminya. Hingga sekarang aku masih mengaguminya. Aku hampir saja merasa kalau Bary itu seseorang yang akan menjadi pendampingku hingga suatu saat nanti. Tapi, setelah aku tahu kalau kamu juga menginginkannya, lebih baik aku mundur dan menghapus harapan itu."


" Apa?! Dinda..kamu ingin melupakanku?" ucap Bary dengan suara gemetar. Ia takut Dinda berpaling darinya.


Sementara Rista hanya terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa, ketika Bary seperti keberatan jika Dinda ingin melupakan keinginannya, bersama Bary.


" Aku nggak melupakanmu, Bary. Aku hanya ingin melupakan mimpiku. Kan aku sudah janji nggak akan pernah mau menyakiti Rista."


" Tapi...ini nggak adil, Dinda. Kamu ingin mengorbankan perasaanmu?"


" Bary..apa kamu menyukaiku?" tiba-tiba Dinda melontarkan pertanyaan yang membuat Bary menelan ludahnya.


" A..aaku.." suara Bary terhemti. Ia malu untuk mengungkapkannya pada Dinda sementara Rista ada di antara mereka.


" Bary..aku tahu dulu sebelum mengenalku kamu tampak dingin. Kamu terlihat serius dan pastinya kamu itu lebih fokus pada tujuan utama kamu. Kamu ingin fokus bersekolah, kan? Aku juga sama. Aku ini juga masih baru belasan tahun. Aku tak ingin memikirkan masalah lain selain tentang pelajaran sekolah. Jadi..apa kamu ngerti maksudku, Bary?"


" Dinda..aku ngerti apa yang kamu bicarakan. Tapi apa kamu mau mengorbankan perasaan kita?"


" Dinda..tapi aku sudah terlanjur suka sama kamu. Kamu itu cewek yang beda. Aku nggak bisa begitu saja melepaskanmu."


" Bary..percayalah, kalau diantara aku dan Rista itu jodohmu, pasti salah satu dari kita nggak akan pernah jauh darimu."


" Tapi kalau kita terus berjauhan, lalu kamu jadi milik orang lain, berarti kita nggak akan jadi jodoh selamanya. Dinda..aku nggak mau kamu jauh dariku."


" Dinda..sepertinya Bary itu memang sangat menyukaimu. Jadi kamu sudah tahu kan, siapa yang akan dia pilih."


" Rista..Aku sudah putuskan. Kita bertiga ini hanyalah sahabat. Aku nggak akan pernah memiliki Bary. Aku berjanji untukmu. Jika Bary tak mau memilihmu, aku juga nggak akan mau memilihnya."


" Dinda..." ucap Rista dan Bary bersamaan.


" Nah..benar kan, apa dugaanku. Kalian itu bagus lho, kalau berjodoh. Pikiran kalian itu sama. Buktinya bisa memanggilku bersamaan."


" Dinda..jangan begitu. Kasihan Bary. Dia sudah hampir menangis, lho."


" Rista..biarkan saja. Dia saja membuatmu selalu menangis, kok. Biarkan saja dia sekarang menangis."


" Hemhh... Baiklah.. Aku mau pulang dulu." ucap Bary lalu berdiri dan berniat ingin pergi.

__ADS_1


Dinda menahannya. Ia menyuruh Bary untuk kembali ke tempat duduknya. Ia pun malah menceramahi Bary yang sebenarnya sedang kesal dengan kata-kata Dinda.


" Bary..kamu itu bertamu. Dan disuguhi minuman dan makanan. Ini disuruh diminum dan makanannya disuruh dimakan. Kenapa kamu mau pulang begitu saja?"


" Iya, Bary.. Kasihan lho, Ibuku sudah capek-capek membuatkannya. Masa kamu nggak mau menghargainya." ucap Rista.


" Aku itu sedang kesal sama kalian. Harusnya aku pulang dan lebih baik aku menghindar dari kalian."


" Kamu nggak bisa menghindar dari kami. Kamu itu sahabat kami. Kalau kamu menghindar, persahabatan kita bubar." ancam Dinda.


" Kenapa jadi begitu?" Bary menjadi gemetaran mendengar kata Dinda.


" Karena kita itu Tiga sahabat. Kalau salah satu dari kita pergi, berarti sudah tak ada lagi yang namanya Tiga sahabat."


" Hemhh..iya..iyaa aku nggak akan pergi."


Rista dan Dinda tertawa melihat tingkah Bary yang lucu. Sementara Bary semakin jengkel sama Dinda karena ia selalu kalah saat bicara dengan Dinda.


" Dinda..kenapa kamu nggak bisa ngertiin perasaanku.. Aku mau pergi agar kamu peka sama aku. Tapi kamu malah mengancamku. Sungguh aku tidak bisa jauh darimu, Dinda." gumam Bary dalam hati.


" Bary...jangan melamun. Kamu pasti sedang memikirkanku, kan. Ayo diminum dulu." ucap Dinda sambil tersenyum.


Bary menjadi merah wajahnya. Dia merasa malu karena Dinda bisa menebak apa yang ada dipikirannya.


" Hahaha..Dinda, pasti Bary lagi cari alasan agar bisa pulang sekarang." ucap Rista sembari tertawa.


" Mungkin saja, Rista. Hahaha.. Bary, kamu mau pulang?"


" Enggak..sok tahu. Jangan berpikir yang nggak-nggak sama aku."


" Hahaha..lalu aku harus berpikir yang iya-iya sama kamu, Bary?"


" Terserah kamu saja, Din."


" Aduh...ternyata jagoan di Tiga sahabat kita itu pemarah ya, Rista. Kita harus waspada sama Dia." sindir Dinda.


" Sudah..jangan membahas aku lagi. Bahas yang lain saja yang bermanfaat." ucap Bary ketus.


Dinda hanya tersenyum sembari melihat ke arah Rista. Rista pun tersenyum melihat tingkah Bary yang makin lama makin lucu.


Hingga pukul dua belas siang, Bary meminta pulang karena Ibunya mencarinya. Dinda pun tak bisa berlama-lama lagi di rumah Rista, karena ada pekerjaan rumah, yang harus ia selesaikan.


" Sampai bertemu besok lagi, Rista." ucap Dinda.


" Iya, Dinda." sahut Rista.

__ADS_1


Sementara Bary berjalan lebih dulu agar segera sampai ke rumahnya. Dinda merasa heran dengan kelakuan Bary. Ia sebenarnya ingin mengajaknya bicara sembari jalan pulang. Namun Bary malah lebih dulu meninggalkannya. Dinda pun mengurungkan niatnya lalu segera mengayuh sepedanya untuk pulang ke rumahnya.


......................


__ADS_2