Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Tiga Tahun Kemudian


__ADS_3

Tak terasa hari-hari semakin berlalu. Tahun berganti dengan cepat. Kini sudah tiga tahun lamanya, Dinda dan Bary menjalani hidupnya sebagai sepasang kekasih meskipun masih tak ada orang lain yang tahu.


Kini di pertengahan tahun, mereka menghadapi kelulusan bersama. Dinda yang paling pandai di kelasnya berhasil meraih nilai yang sempurna diikuti Bary dan kemudian Rista. Ketiga sahabat itu mendapatkan penghargaan dari sekolahnya atas prestasi mereka.


Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk meneruskan pendidikan di luar neger secara gratis hingga Sarjana. Namun Bary menolak. Dinda pun juga menolak tawaran dari Kepala Sekolah. Hanya Rista saja yang terlalu bersemangat untuk bisa belajar disana.


Saat ini mereka bertiga berada didalam ruang kepala Sekolah. Setelah Bary dan Dinda menolak tawaran itu, Kepala Sekolah menanyakan alasan mereka menolak tawaran itu.


" Bary.. Dinda.. Kenapa kalian tak mau menerima tawaran dari Sekolah? Ini kesempatan yang sangat bagus untuk karir kalian ke depannya. Apa kalian tak punya cita-cita yang lebih tinggi dari saat ini?"


" Pak..saya tak bisa meninggalkan Orang Tua saya. Jika saya pergi, siapa yang akan menjaga Orang Tua Saya? Saat ini Ayah saya sedang kambuh-kambuhan sakitnya. Kalau Ibu saya sendiri yang merawatnya, saya kasihan. Ibu saya orangnya tak sekuat dulu." ucap Bary.


" Jadi itu alasanmu? Apa kamu sudah bilang sama Orang Tuamu tentang ini?"


" Sudah, Pak. Mereka menyuruh Saya menerima tawaran itu. Tapi saya tak tega meninggalkan mereka."


" Nah itu Orang Tuamu saja menyuruhmu begitu, kenapa kamu menolak? Berarti mereka sudah sepenuhnya percaya kepadamu. Bapak sarankan, kamu jangan mengecewakan mereka."


" Saya tak akan pernah mengecewakan mereka, Pak. Meskipun saya belajar di sekolah di kota kita, saya akan tetap bekerja keras. Saya tak ingin kalah dengan mereka yang sekolah di luar negeri. Saya hanya memiliki mereka berdua, Pak. Saya tak ingin jauh-jauh dari mereka." ucap Bary dengan mata yang berkaca-kaca seperti ingin menangis.


" Hemmhh.. Baiklah.. Bapak mengerti maksudmu. Bapak akan hargai keputusanmu. Mudah-mudahan keputusan yang kau ambil itu tepat."


" Saya akan bertanggung jawab dengan keputusan saya sendiri, Pak. Saya siap menerima apapun yang terjadi dengan hidup saya di masa mendatang."


" Baiklah... Lalu kamu, Dinda. Kenapa kamu menolak untuk meneruskan pendidikanmu di luar negeri? Bukankah Orang Tuamu tinggal disana, harusnya kamu senang dekat dengan keluargamu."


" Iya, Pak. Tapi saya lebih suka hidup jauh dari orang tua. Saya ingin hidup mandiri, Pak. Lagi pula jika sama mereka, kami juga jarang bertemu karena mereka sibuk bekerja. Tak ada hari libur untuk mereka. Mungkin satu bulan sekali mereka libur. Namun kami tak pernah kumpul bareng. Mungkin hanya beberapa menit saja kumpul, mereka pergi lagi. Saya bosan melihat keadaan disana. Makanya saya kembali ke Indonesia dan memilih menetap disini, Pak."


" Hemmhh.. Jadi itu alasanmu. Baiklah, bapak tidak akan memaksa kalian berdua. Yang penting Bapak sudah menyampaikan pesan ini pada kalian. Bapak tidak mengharap imbalan apapun. Tetapi jika kalian berdua bisa kesana, akan sangat membantu sekolah ini. Mengharumkan nama sekolah ini. Siapa yang tidak bangga melihat anak didiknya mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri secara gratis."


" Maaf, Pak. Terus terang saya memang tidak bisa jauh dari orang tua saya. Saya takut salah satu dari mereka kenapa-kenapa saat saya jauh dari mereka. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak." ucap Bary.


" Tak apa, Bary. Bapak bisa memaklumimu. Ya sudah kalau begitu kalian berdua boleh meninggalkan ruangan saya. Rista, kamu jangan pergi dulu. Bapak masih ingin bicara denganmu.


Bary dan Dinda kemudian berdiri lalu meninggalkan ruangan kepala sekolah. Sementara Rista menganggukan kepalanya saat Kepala Sekolah menyuruhnya untuk tetap di tempat duduknya.

__ADS_1


Rista memandangi Dinda dan Bary yang keluar bersamaan. Ia seakan mencium bau tidak menyenangkan yang mereka berdua lakukan.


" Rista.."


" Eh..iya, Pak." jawab Rista dengan gugup.


" Bapak bangga padamu. Kamu adalah Putri seorang pengajar di sekolah ini yang sangat Bapak kagumi. Tak salah kamu mewarisi bakat Ayahmu. Bapak sangat berharap padamu. Tolong harumkan nama sekolah ini. Bapak percaya kamu akan bisa mengejar cita-citamu."


" Baik, Pak. Saya berjanji pada semuanya. Saya akan menjadi orang yang hebat di kemudian hari."


" Bagus... Mulai sekarang persiapkan dirimu. Mantapkan niatmu dan jangan ragu sedikitpun. Buang semua kesenangan sesaat yang akan mengganggumu, dalam meraih mimpimu."


" Baik, Pak. Saya akan mencobanya."


" Kalau begitu sekarang kamu boleh pergi. Untuk kelanjutannya, sekolah akan menghubungimu."


" Kalau begitu saya pergi dulu, Pak. Terima kasih atas kesempatan yang sudah Bapak berikan pada saya."


" Sama-sama, Rista."


" Bary dan Dinda sepertinya nggak bisa dipisahkan. Aku yakin, mereka berdua berbohong pada Kepala sekolah. Cinta memang membuat lupa segalanya. Dinda.. Aku pikir kamu akan menerima tawaran Kepala sekolah dan kita akan belajar bersama di luar negeri. Tapi kenapa kamu melupakan mimpimu. Padahal kamu ingin sekali pergi menyusul orang tuamu. Kenapa tadi kamu bilang kalau kamu nggak mau tinggal bersama orang tuamu.


Apa kalian berdua sudah benar-benar jatuh cinta dan nggak ingin saling jauh? Aku nggak tahu, sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan? Dengan membiarkanku sendirian belajar ke luar negeri, apa ini cara kalian agar lebih leluasa untuk bisa berduaan?" gumam Rista.


Tak lama kemudian Rista tanpa ragu mendatangi Bary dan Dinda. Sontak saja kedatangan Rista membuat mereka terkejut.


" Eh... Rista.." ucap Dinda dan Bary bersamaan.


" Kenapa kalian seperti terkejut begitu melihatku? Apa aku mengganggu kalian?"


" Eh..enggak, Rista. Kami memang kaget saja. Tadi kami lagi ngobrol dan nggak melihat kalau ada orang lain datang kemari. Padahal aku tadi lihat kanan dan kiri, nggak ada siapa-siapa. Tahu-tahu kamu sudah nongol disini." ucap Dinda dengan suara yang terpatah-patah.


" Oh.. jadi kamu anggap aku ini orang lain, sekarang?" ucap Rista kesal.


" Eh...bukan begitu maksudnya, Rista. Jangan ngambek begitu. Kenapa kamu menjadi sensitif sekarang?" ucap Dinda sembari memegangi pundak Rista lalu menatap kedua matanya.

__ADS_1


" Sudah..lupakan saja. Bary setelah kalian selesai, aku mau bicara sesuatu padamu."


" Bicara tentang apa, Rista? tanya Bary penasaran.


" Pokoknya nanti temui aku dirumah." ucap Rista lalu pergi begitu saja meninggalkan Dinda dan Bary.


" Rista.." teriak Dinda. Ia tak tahu kenapa Rista seperti marah sekali padanya.


Rista pun tak menghiraukan teriakan dari Dinda. Ia terus berjalan dan tak menoleh sedikitpun ke arah Dinda.


Dinda berniat mengejarnya, namun Bary mencegahnya.


" Jangan, Dinda.. Biar aku saja nanti yang bicara padanya."


" Tapi Bary, aku nggak bisa lama-lama seperti ini sama Rista. Apa dia tahu tentang alasan kita kenapa menolak tawaran kepala sekolah?"


" Aku tidak tahu.. Tapi bisa saja dia berpikir seperti itu."


" Kalau memang dia berpikir seperti itu berarti dia masih nggak suka dengan kedekatan kita. Bary, apa kedekatan kita terlalu mencolok?"


" Entahlah, aku nggak tahu. Ya sudah, biar aku nanti bicara sama Rista."


" Aku ikut."


" Jangan..tunggu sampai dia membaik. Aku nggak ingin masalah ini semakin rumit."


" Lalu aku harus bagaimana?"


" Sementara ini, kamu jangan hubungi dia dulu dan jangan temui dia sebelum aku bicara dengannya."


" Kapan kamu akan temui dia?"


" Mungkin nanti siang. Kamu yang tenang, ya. Jangan terlalu memikirkan Rista. Semua akan baik-baik saja." ucap Bary menenangkan Dinda.


Dinda pun mengangguk. Saat ini hatinya memang sedang gelisah. Semenjak ia dekat dengan Bary dan saat itu lah hubungannya dengan Rista sedikit renggang. Padahal sebelumnya, ia merasa Rista adalah sahabat baiknya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka semakin membatasi pertemanan mereka. Rista pun memilih untuk pindah tempat duduk ketika naik kelas VIII hingga IX.

__ADS_1


......................


__ADS_2