Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Nasehat Ibu Rista


__ADS_3

Pagi ini udara sangat dingin. Dan mendung yang menyelimuti langit, membuat Matahari tak mampu untuk memperlihatkan dirinya. Rista masih bertahan dikamarnya dan masih berselimut. Sampai saat ini ia hanya berbaring sembari menatap ke arah jendela. Melihat hujan yang turun dengan lembut.


Ia tak bisa tidur setelah semalaman kepikiran tentang Bary.


Bukan karena ia sakit hati karena Bary tak menyukainya. Namun Ia terus kepikiran karena Bary memilih Dinda sebagai pasangannya.


Selama ia mengenal Dinda, ia jadi mengerti tentang sifat-sifat Dinda. Awalnya ia tak menyukai hubungan Bary dengan Dinda karena Ia merasa Bary tak cocok dengan Dinda. Namun setelah Bary mengatakan pada dirinya jika tak menyukainya, Rista menjadi hilang rasa sama Bary.


Ia merasa tak peduli lagi dengan hubungan Bary dengan Dinda. Namun kenyataannya ketika Bary berkata jika sudah pacaran dengan Dinda, hati Rista seakan remuk.


Ia sangat terpukul mendengar kejujuran Bary. Ia tak bisa menerima kenyataan itu. Ia berpikir meskipun Bary dan Dinda sangat dekat, namun kedekatan mereka hanya sewajarnya. Ia tak pernah berpikir kalau kedekatan Bary dan Dinda selama ini karena mereka sudah terikat oleh satu hubungan.


" Bary, Dinda.. Puaskah kalian, aku sampai memikirkan hubungan kalian. Aku benar-benar belum bisa menerima kenyataan ini. Kalian benar-benar tega!" ucap Rista sembari menangis di kamarnya.


Teriakan Rista terdengar hingga keluar kamarnya. Ibu Rista buru-buru membuka pintu kamar Rista yang tak terkunci.


" Rista...ada apa, Nak? Kenapa kamu berteriak dan malah sampai menangis? Cerita sama ibu."


" Ibu..." ucap Rista lalu memeluk Ibunya.


" Ada apa? Apa yang kamu tangisi?"


" Ibu..hatiku sakit."


" Sakit kenapa? Siapa yang menyakitimu?"


" Bary, Bu."


" Bary? Kenapa dia menyakitimu, katakan pada Ibu."


" Dia nggak suka sama Rista. Dia lebih memilih Dinda menjadi pacarnya, Bu."

__ADS_1


" Apa?! Rista.. Kamu sakit hati karena Bary pacaran sama Dinda?" ucap Ibu Rista.


Dinda hanya menganggukkan kepalanya. Mulutnya nggak sanggup untuk berkata-kata. Tangisnya seakan menghalanginya untuk bersuara.


" Rista.. Apa kamu sadar, sekarang berapa usiamu?"


Rista kembali menganggukkan kepalanya. Ia belum bisa untuk menjawab setiap apa yang Ibunya tanyakan.


" Ingat, Rista. Kamu itu baru tamat SMP. Jangan memikirkan masalah percintaan. Itu nggak baik untuk masa depanmu. Biarkan Bary dan Dinda berpacaran. Kamu jangan ikut-ikutan mereka. Ibu nggak setuju kalau kamu pacaran."


Rista tak merespon apapun kata-kata dari Ibunya. Ia masih sibuk dengan tangisnya. Ia benci menangis dan berharap tangisnya segera reda. Namun semakin ia berusaha, rasa sakit dihatinya seakan terus bertambah.


" Rista.. Kamu itu anak Ibu satu-satunya kebanggaan Ayahmu. Kamu itu generasi penerus orang tuamu ini. Ibu ingin kamu menjadi orang yang hebat. Karena jika kamu menjadi seperti itu, apa yang kamu inginkan akan mudah kamu raih. Contohlah Ibu dan Ayah. Kami terikat dalam pernikahan tanpa melalui pacaran.


Pacaran itu nggak baik, nggak sehat, malah akan merusak masa depanmu. Meskipun Bary dan Dinda itu lebih pandai darimu, tapi kelak mereka nggak akan seberuntung kamu. Percayalah pada Ibu. Cinta mereka diusia segini belum tentu akan bertahan hingga menuju kursi pelaminan.


Jadi, Ibu ingatkan sekali lagi. Jangan pernah pacaran. Tunggu sampai waktunya. Jika kamu ingin mempunyai pasangan, menikahlah. Menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab. Sifatnya baik dan yang pasti mampu memberikanmu kebahagiaan. Apa kamu mengerti maksud Ibu?"


Tapi ia tak pernah memikirkan efek buruk dari berpacaran. Beruntung Ibunya mengetahui kegelisahan hatinya dan langsung menasehatinya.


" Rista mengerti, Ibu. Maafkan Rista. Selama ini Rista ingin sekali memiliki pacar. Tapi pacar yang Rista inginkan hanya lah Bary. Kini Bary berpacaran dengan Dinda. Dan Rista nggak tahu kalau Bary sudah berpacaran sekian lama. Hatiku sakit, Ibu. Mereka berdua temanku tapi mereka membohongiku dengan menutup-nutupi hubungan mereka."


Ibu Rista tersenyum. Ia mengerti apa yang saat ini putrinya rasakan. Ia membelai rambut halus Rista dan menciumnya.


" Coba saja kalau dari dulu Ibu tahu kamu ingin punya pacar, pasti dari dulu Ibu akan nasehati kamu. Tapi kenapa harus Bary yang ingin kamu jadikan pacar?"


" Bary itu baik, Bu. Ibu tahu sendiri, kan bagaimana orangnya. Dia juga orang yang suka bekerja keras. Membantu orang tuanya mencari uang demi pengobatan Ayahnya."


" Iya, Ibu tahu. Dia juga tampan, kan. Ibu saja sangat menyukainya. Ibu yakin, siapapun jodohnya, pasti jodohnya itu akan sangat bahagia mendapatkan Bary."


" Jadi Ibu setuju kalau Bary itu baik orangnya? Apa kalau kami suatu saat nanti menikah, Ibu akan merestui hubungan kami?"

__ADS_1


" Apa? Enggak.. Ibu hanya bilang kalau Bary itu orangnya mendekati sempurna. Dan dia termasuk kedalam salah satu kriteria menantu Ibu. Tapi Ibu sarankan, jangan Bary. Kamu bisa cari laki-laki lain yang lebih baik darinya."


" Aku pikir Ibu setuju lalu mengizinkan aku dekat dengan Bary. Ternyata..."


" Ahahaha.. Lebih baik kamu fokus belajar dulu. Ingat, kamu baru tamat SMP. Perjalananmu masih jauh. Apa kamu ingin mengubur semua mimpi-mimpimu?"


" Iya aku tahu. Tapi boleh saja kan, kalau aku berharap. Setidaknya aku punya tujuan. Jadi kemanapun aku pergi, aku tahu dimana tempatku kembali."


" Wah...kata-katamu itu membuat Ibu merasa kamu itu bukan anak kecil lagi."


" Memang aku sudah bukan anak kecil lagi kan, bu."


" Hehe..iya. Baiklah, dengarkan Ibu. Semoga kamu bisa memahami maksud Ibu. Besok kita akan tinggalkan rumah kita ini. Kita akan ke Jakarta selama seminggu. Lalu kita akan berangkat ke luar negeri. Kamu masih belum tahu tujuanmu? Dan kamu masih bertanya-tanya dimana tempatmu kembali?"


" Bukan itu yang Rista maksud. Maksudnya kalau aku bisa dekat dengan Bary itu, kemanapun aku pergi, aku akan tetap kembali pada Bary. Itu maksudku."


" Ibu mengerti. Satu yang harus kamu lakukan agar mimpimu berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan."


" Apa itu, Bu?"


" Kamu lupakan semua yang membuatmu bertahan disini. Dan pikirkan sesuatu yang indah di tempat tujuanmu. Pasti kamu akan betah di sana dan kamu akan mendapatkan sesuatu yang lebih di tempat tujuanmu.


Ibu harap kamu jangan mernah memikirkan Bary lagi. Lupakan dia dan jangan pernah dia menerobos masuk ke dalam pikiranmu. Lagipula katamu, dia sudah membohongimu, kan. Jadi tak ada alasan untukmu selalu memikirkannya.


Ayo Rista, bangunlah dan segera kejar mimpimu. Jangan bermimpi terus. Ciptakan mimpimu sendiri dan kamu akan memetik hasilnya."


" Hemhh..rasanya berat. Tapi aku memang harus melakukannya. Lagi pula sekarang aku sudah nggak peduli lagi dengannya. Dia telah bilang padaku secara terang-terangan kalau dia nggak menyukaiku. Dia juga telah berbohong kepadaku selama dua tahun ini. Aku nggak bisa terima itu semua. Hatiku sakit. Tapi itu lah kenyataannya. Aku harus merelakan dia untuk cewek lain."


" Kamu harus melupakannya, Rista. Tatap masa depanmu. Ibu yakin kamu akan berhasil. Jangan menyerah, Ibu akan selalu ada untuk kamu. Mendoakanmu, membantumu, dan yang jelas, Ibu nggak akan pernah meninggalkanmu."


" Terima kasih, Ibu. Aku sangat senang mempunyai orang tua seperti Ibu. Aku akan terus berusaha untuk membuat Ibu bangga kepadaku."

__ADS_1


" Nah..itu baru anak Ibu." ucap Ibu Rista sembari memeluk Rista dengan erat.


__ADS_2