Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Kembali ke Rumah Rista


__ADS_3

Rista membanting tubuhnya ke kasur. Ia menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia bendung. Ia mengambil bantal lalu menggunakannya untuk menutup wajahnya. Hatinya saat ini sedang benar-benar hancur. Tak disangka, sudah lebih dari dua tahun ini ia dibohongi oleh Bary. Sebelumnya Bary telah bilang padanya kalau dia tak akan berpacaran sebelum tamat sekolah. Namun pada kenyataannya, Bary telah berpacaran dengan Dinda selama lebih dari dua tahun.


Sebenarnya ia juga sudah berkata pada Bary dan Dinda jika mereka berpacaran, ia tak akan cemburu. Walaupun jika memang Bary dan Dinda pacaran, ia tak akan sanggup melihat kedekatan mereka.


Dan saat Bary berkata kalau dia sudah berpacaran dengan Dinda lebih dari dua tahun, hatinya seakan tercabik-cabik. Pikirannya berkecamuk. Air matanya tak bisa berhenti keluar.


" Bary....! Kenapa kamu lebih memilih Dinda dibanding aku?! Dia orang baru di kehidupan kita, kenapa kamu memilihnya?! Dinda itu bukan cewek yang tepat untukmu! Aku lah yang tahu semuanya tentangmu. Aku akan menerima semua kekurangan dan kelebihanmu! Bary... Jangan butakan mata dan hatimu!"


Rista menangis dan menjerit seperti orang yang sedang kesakitan. Tak ada yang menenangkannya. Orang tua Rista sedang tak berada di rumah. Dan dia hanya bisa meratapi kesedihannya sendiri.


" Bary...kenapa kita harus mengenal jika kita nggak bisa bersama? Lebih baik aku nggak pernah mengenalmu daripada mengenalmu tetapi kamu bukan untukku. Kita bukan hanya sebentar tumbuh bersama. Belasan tahun kita bersama. Dari kecil hingga sekarang. Aku berharap kelak kita akan hidup bersama seperti kemarin-kemarin. Tapi kenapa kamu nggak sedikitpun memiliki perasaan kepadaku.


Padahal, aku selalu menemanimu saat kamu sendiri. Saat kamu susah, saat kamu membutuhkan teman untuk mengatasi masalahmu. Tapi kamu nggak pernah memikirkan semua pengorbananku! Bary...! Apa itu balasanmu kepadaku?!"


Rista semakin menangis menjadi-jadi. Ia ingin sekali menghabiskan air matanya pada hari itu juga. Ia tak mau berlarut-larut dalam kesedihannya. Dan berjanji pada dirinya, esok hari sudah harus bisa mengendalikan kesedihan dalam hatinya.


...----------------...


Usai pulang dari rumah Rista dan membelikan tepung untuk Ibunya, Bary pergi ke rumah Dinda. Ia ingin menyampaikan pesan Rista pada Dinda.


" Dinda.." sapa Bary dari luar pagar rumah Dinda.


Dinda yang saat itu sedang membaca buku di teras rumah lalu berlari membukakan pintu pagar untuk Bary.


" Bary.. Bagaimana?" tanya Dinda.


" Enggak apa-apa, Dinda. Tenang saja, semua baik-baik saja."


" Baik-baik saja, bagaimana? Apa yang dikatakan Rista kepadamu?"


" Oh, enggak apa-apa. Dia hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."


" Apa pesannya untukku?"


" Iya... Ia berkata kalau sampai saat ini dia masih menganggapmu sebagai teman. Ia juga meminta maaf karena dia nggak mau satu meja lagi denganmu."


" Rista..seharusnya aku yang minta maaf. Gara-gara aku, hubungan kalian menjadi terganggu."


" Dinda.. Jangan bilang dirimu bersalah. Nggak ada yang salah. Kita nggak tahu siapa jodoh kita. Jadi nggak perlu menyesali apa yang kita peroleh saat ini. Rista bukan jodohku meskipun dia mencintaiku, jadi kalau aku nggak bersama dia dan lebih memilihmu, itu sesuatu yang wajar. Kita nggak bisa memaksakan hati kita untuk mencintai seseorang. Ayo lah, Dinda.. Rista sudah menerima hubungan kita. Kamu nggak usah merasa nggak enak lagi sama dia."


" Apa?! Jadi Rista sudah tahu tentang hubungan kita?!" tanya Dinda dengan nada tinggi.


" Iya..aku telah mengatakan hubungan kita kepadanya."


" Ya ampun, Bary. Kenapa kamu bilang kepadanya? Aku kan, sudah bilang. Jangan katakan hubungan kita pada siapapun terutama sama Rista. Kenapa kamu malah mengatakannya?"


" Dia menyudutkanku.. Dia terus menuduhku. Dia pasti sudah curiga sejak awal. Jadi aku nggak bisa berbohong lagi kepadanya."


" Bary.. Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan? Kamu itu sama saja melukai hatinya! Kamu itu mengerti perasaan cewek apa nggak, sih?" ucap Dinda memarahi Bary.

__ADS_1


" Aku melakukannya agar dia nggak berharap lagi kepadaku, Dinda. Agar kita lebih nyaman menjalin hubungan ini.."


" Tapi bicaramu itu menyakitkan hatinya. Aku sudah bilang jangan katakan apapun pada siapapun. Kenapa kamu melanggarnya?"


" Aku nggak punya pilihan lain, Dinda. Mengertilah di posisiku saat itu. Sampai kapan kita akan terus membohongi dia? Jika kita terus berpura-pura, bagaimana jika dia terus berharap kepadaku? Lalu bagaimana dengan hubungan kita, Dinda?"


" Aku bilang bersabarlah, tunggu sampai Rista menemukan pasangannya. Kenapa kamu terburu-buru?"


" Baiklah, aku mengaku salah. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku? Kamu mau memukulku, mau menamparku? Silahkan, Dinda.."


" Nggak.. Aku nggak akan melakukannya. Ya Tuhan.. Pasti saat ini Rista sangat sedih."


" Enggak.. Dia nggak akan sedih. Dia malah tertawa mendengar saat aku bilang kita akan menikah."


" Apa? Sejauh itu kamu bilang kepadanya? Bary..Bary.. Ah, sudahlah. Aku harus ke rumah Rista. Aku nggak bisa membiarkannya bersedih."


" Mau apa kesana? Jangan.."


" Ya mau menenangkannya. Jangan halangi aku."


" Dinda.. Kenapa kamu terus memikirkannya? Dia sudah bilang, dia ikhlas menerima hubungan kita. Jangan buat dia berharap lagi kepadaku."


" Aku harus kesana dan meminta maaf atas semua kesalahan kita. Aku nggak ingin kebohongan yang kita lakukan membuat beban di pikirannya, dan membuat kita dibenci olehnya."


" Huuuuhhh... Baiklah kalau itu maumu. Aku akan menemanimu kesana."


" Nggak usah..aku mau bicara empat mata dengannya."


" Aku berani pulang sendiri. Lagi pula dia tetanggamu, kan. Nggak terlalu jauh dari rumahku."


" Aku akan tetap mengantarmu. Aku nggak mau kamu pergi sendirian."


" Hemmh.. Baiklah kalau begitu."


...----------------...


Tak berapa lama kemudian, Bary dan Dinda tiba di rumah Rista. Mereka berdua datang dengan berboncengan sepeda milik Dinda.


" Tok tok tok..." Dinda mengetuk pintu rumah Rista.


Selang sepuluh menit, tak ada yang membukakan pintu. Bary kembali mengetok pintu dengan sedikit kencang.


Rista yang saat itu tertidur, menjadi bangun setelah mendengar orang menggedor-gedor pintu.


" Siapa, sih gedor-gedor pintu. Kan, nggak di kunci. Apa orang lain, ya?" gumam Rista lalu segera bangkit dari tempat tidurnya.


Ia lalu merapikan rambutnya dan menghapus bekas air mata di wajahnya yang sudah mengering.


Bary mengetok pintu sekali lagi. Rista menjadi emosi. Ia pun menyaut dengan berteriak.

__ADS_1


" Sebentar!" ucap Rista lalu bergegas membukakan pintu.


" Eh, Bary sama Dinda. Masuk lah kalian berdua." ucap Rista. Ia kemudian segera mengusap-usap wajahnya agar bekas tangisannya tidak terlihat.


" Terima kasih, Rista." ucap Dinda.


" Silahkan duduk.."


" Eh..maaf, apa kami mengganggumu?" tanya Dinda.


" Ah..enggak. Nggak apa-apa, kok. Maaf ya, aku tinggal sebentar. Aku baru bangun tidur soalnya. Mau cuci muka dulu."


" Rista, begitu saja sudah cantik, kok. Nggak usah cuci muka."


" Hehehe..tapi penglihatanku jadi kabur. Sebentar ya..nggak lama, kok."


" Emm..baiklah.. Jangan lama-lama, ya. Soalnya sudah sore banget."


" Iya.. cuma sebentar, kok." ucap Rista lalu bergegas pergi ke kamar mandi.


" Bary... Kamu lihat wajahnya, kan?"


" Enggak, aku malu melihatnya."


" Kenapa malu? Kamu tahu tidak, dia pasti habis menangis sampai tertidur."


" Masa, sih?"


" Ihh.. Peka, dong.. Pokoknya, sebelum Rista pergi, aku harus selesaikan masalah ini. Aku harus minta maaf sebesar-besarnya kepadanya. Dan aku nggak ingin dia pergi dan membawa benci kepada kita."


" Iya, kita harus meminta maaf kepadanya. Aku juga nggak mau dia membenciku. Walaupun dia menjengkelkan, tapi aku nggak mau dibenci sama dia."


Tak berapa lama, Rista kembali ke ruang tamu membawakan teh botol dingin dan makanan kecil lalu menaruhnya ke atas meja.


" Maaf menunggu, ini aku bawakan minuman dan temannya."


" Ah, Rista. Maaf malah merepotkanmu."


" Nggak apa-apa, Dinda. Ayo diminum."


" Terima kasih.."


" Emm..ada apa ya, kalian datang berdua kemari?"


" Eh..sebenarnya kami.." Dinda menghentikan katanya lalu tiba-tiba memeluk Rista.


Rista balik memeluk Dinda. Tangis mereka kemudian pecah. Hanya uraian air mata mereka yang berbicara.


Sementara Bary hanya duduk tercengang melihat kedua cewek dihadapannya saling menangisi. Ia tak tahu harus bagaimana. Dan akhirnya ia tak melakukan apapun dan membiarkan Dinda dan Rista meratapi kesedihan mereka.

__ADS_1


......................


__ADS_2