Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Ucapan Maaf


__ADS_3

Lama kelamaan, Bary merasa risih. Ia pun memilih keluar agar tak mengganggu mereka berdua. Tanpa sepatah katapun ia bergegas keluar dan menunggu di teras rumah Rista.


Usai Bary keluar, Dinda mulai menahan tangisnya lalu bicara pada Rista.


" Rista..maafkan aku, ya. Aku telah berbohong kepadamu. Kamu boleh memukulku, menamparku atau melukaiku dengan apapun. Tapi jangan pernah membenciku, Rista. Aku tak ingin dibenci oleh orang sebaik kamu." ucap Dinda sembari mengusap air matanya yang bercucuran.


" Nggak apa-apa, Dinda. Aku sadar siapa aku ini. Aku hanya seorang cewek biasa. Yang nggak terlalu menarik. Kamu beruntung bisa mendapatkan orang yang kamu mau."


" Rista..aku ini memang jahat padamu. Aku merebut orang yang sangat kamu cintai. Kamu boleh memakiku sesukamu, Rista. Yang penting kamu bisa memaafkanku. Aku ingin kita nggak saling bermusuhan."


" Dinda... Sudahlah, kalau kamu memang suka sama Bary. Aku nggak apa-apa kalau kalian pacaran. Jangan merasa nggak enak sama aku. Kalau kalian berbohong malah membuat aku sakit."


" Rista.. kamu mau memaafkan aku, kan?"


" Iya..aku memaafkanmu bukan karena kamu pacaran sama Bary. Aku memaafkankmu karena telah menyembunyikan hubungan kalian."


" Iya, Rista.. Aku salah telah menyembunyikan hubungan kami. Aku sangat menyesal."


" Nggak apa-apa, Dinda. Sudah jangan menangis lagi. Aku janji nggak akan membenci kalian. Aku juga sudah memaafkan kalian, kok. Lagipula ada mimpi yang harus aku kejar daripada memikirkan masalah yang nggak penting."


" Jadi aku nggak penting?"


" Penting.. Masalahnya yang nggak penting. Hehe.."


Dinda melihat senyum Rista. Ia pun ikut tersenyum. Dia berpikir senyumannya adalah tanda kalau dia sudah melupakan masalahnya.


" Rista.. Semoga kelak kamu mendapatkan yang lebih baik dari Bary. Maafkan aku, aku sangat mencintai Bary. Aku nggak bisa melepas Bary untukmu." gumam Dinda dalam hati.


" Dinda.. lebih baik diminum dulu minumannya. Mumpung masih fresh."


" Terima kasih, Rista. Wah, aku malah jadi merepotkanmu."


" Nggak apa-apa, Dinda. Oh iya, kemana Bary?"


" Oh, aku nggak tahu. Aku pikir dia disampingku."


Dinda melihat ke arah luar, namun Bary tak terlihat. " Kemana Bary pergi, kenapa malah meninggalkan aku." pikir Dinda.


" Apa mungkin dia pulang. Rumahnya kan, nggak jauh dari sini." ucap Rista.


" Hemhh..ya sudah, biarkan saja dia pulang. Aku bisa pulang sendiri nanti."


" Bagaimana kalau nanti aku antar. Tapi jangan buru-buru pulangnya."


" Eh, nggah usah. Aku berani pulang sendiri, Rista."


" Nggak apa-apa. Sekalian aku mau main ke tempatmu. Boleh, kan?"


" Emm..boleh. Kamu sudah lama nggak ke rumahku, kan."

__ADS_1


" Hehe..semenjak kita ada masalah, aku memang nggak pernah ke rumahmu. Maaf ya, Dinda.


" Nggak apa, Rista. Aku juga rindu kita kaya dulu lagi. Sebelum tidur, kita ngobrol banyak sambil menonton TV di kamar."


" Hehe.. Iya, Dinda."


" Tapi nanti kamu tidur di rumahku, kan?"


" Emm..enggak kayaknya, Din. Aku harus menyiapkan perbekalanku."


" Waktunya kan, masih lama. Kenapa buru-buru?"


" Lusa aku akan ke rumah bibiku di Jakarta. Aku akan menginap selama seminggu disana. Mungkin setelah itu aku langsung pergi ke Jerman."


" Rista..aku mohon, menginaplah di rumahku. Bukankah setelah lusa kita nggak akan bisa bertemu lagi?"


" Mungkin iya, Dinda. Tapi kita masih bisa berkirim pesan, kan?"


" Tapi aku pasti bakal merindukanmu, Rista."


" Hehe.. Aku akan kembali ke Indonesia tiga tahun sekali. Jadi aku akan selalu kembali kemari."


" Lama sekali...aku pasti akan sangat merindukanmu."


" Dinda, kalau kamu keberatan aku pergi. Lebih baik kita pergi ke Jerman bersama-sama. Orang tuamu kan, ada di sana."


" Rista, kamu tahu orang tuaku bagaimana. Mereka nggak mempedulikanku. Aku menderita selama aku disana. Mereka lebih memilih pekerjaan dibandingkan anaknya sendiri. Mereka nggak pernah ada waktu untukku. Makanya aku berjanji nggak akan mau kembali lagi kesana."


" Rasanya mereka sudah melupakanku. Jika bukan aku yang menelpon mereka, mereka nggak akan pernah menelponku. Aku merasa nggak memiliki siapa-siapa, Rista."


" Dinda, maafkan aku. Aku nggak mengerti dengan keluargamu. Tapi aku hanya bisa memberimu saran, lebih baik kamu temui mereka dan katakan keluh kesahmu kepada mereka. Siapa tahu mereka bisa mengerti apa yang kamu rasakan."


" Aku sudah menelpon mereka. Aku sudah berkeluh kesah tapi mereka pikir aku ini anak kecil. Mereka hanya tersenyum dan bilang sabar. Aku nggak kuat, Rista."


" Hemhh.. Orang tuamu benar. Kamu harus bersabar, Dinda. Siapa tahu mereka sedang berjuang untuk membangun mimpi mereka. Untuk mempersiapkan masa depanmu."


"Aku nggak butuh itu semua, Rista. Yang aku butuhkan mereka itu memperhatikanku. Mungkin cewek diluar sana, sudah jadi cewek rusak karena jauh dari orang tuanya. Bagaimana kalau aku nggak tahan lagi dan.."


" Sudah.. Jangan diteruskan, Dinda. Jangan berharap jadi cewek rusak. Aku yakin, Bary bisa menjagamu."


" Rista..." Dinda memeluk Rista dengan erat. Air matanya kembali mengalir.


" Din.. Aku hanya bisa doakan, semoga kamu akan selalu baik-baik saja. Masalahmu dengan orang tuamu juga cepat selesai. Maafkan aku nggak bisa bantu kamu lagi, Dinda."


" Berat.. Berat jika aku harus jauh darimu, Rista."


" Mau bagaimana lagi, Din. Aku nggak akan mengecewakan orang tua dan Kepala Sekolah. Aku juga nggak mau mengecewakan diriku sendiri, Dinda."


" Baiklah, Rista. Sepertinya aku nggak bisa menahanmu pergi. Jangan lupakan aku, ya."

__ADS_1


" Hehe.. Enggak. Aku nggak akan melupakanmu. Ayo diminum lagi. Sebentar lagi sudah mau maghrib, lho."


" Oh, iya.. Nggak terasa, ya."


" Hehe..kita kelamaan menangisnya. Sampai Bary pergi pun kita nggak tahu."


" Hehe..iya, Rista."


Dinda meneguk minuman dalam botol hingga habis. Setelah itu ia meminta izin pulang ke rumahnya. Rista menawarkan diri untuk menemaninya dan mengantarkan Dinda pulang ke rumahnya.


Namun saat Dinda keluar, Bary telah menunggu Dinda di depan pagar rumah Rista. Mengetahui Dinda keluar, Bary bergegas menjemputnya.


" Bary... Kamu kemana saja? Ku cari nggak ketemu. Aku pikir kamu pulang." tanya Dinda.


" Enggak.. Aku hanya nggak tega saja melihat kalian berdua yang sedang seperti memainkan drama. Makanya aku keluar, daripada aku ikut jadi pemain drama."


" Ah..bisa saja kamu itu, Bar." ucap Rista.


" Rista.. Sekali lagi aku minta maaf atas kesalahan kami. Jangan terlalu di masukkan ke hati. Aku ingin besok kamu sudah melupakannya. Aku nggak ingin kamu menyimpan benci pada kami." ucap Bary.


" Enggak.. Aku sudah melupakannya, Bary. Jangan khawatirkan aku."


" Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari aku, Rista."


" Terima kasih, Bary.."


" Eh, Rista..biar aku pulang diantar Bary saja, ya. Soalnya tadi ku pikir dia nggak kembali. Ternyata malah muncul saat mau pulang."


" Oh..ya sudah nggak apa-apa, Din. Santai saja."


" Besok aku akan kemari sebelum kamu pergi. Kalau boleh, aku juga akan mengantarmu sampai Bandara."


" Datanglah sebelum sore, ya. Mungkin malamnya aku akan lebih sibuk untuk persiapan esok hari. Emm..kayaknya nggak usah, Dinda. Nanti aku malah merepotkanmu. Dengan datang ke rumah saja aku sudah senang banget."


" Sebenarnya nggak repot, sih. Tapi ya sudah. Aku akan datang ke rumahmu pagi. Agar kita bisa ngobrol banyak seharian sebelum kamu pergi."


" Hehe..boleh saja, Dinda. Aku akan tunggu kamu."


" Terima kasih Rista. Kalau begitu, aku pulang dulu."


" Iya, hati-hati."


Dinda segera meninggalkan rumah Rista. Bary mengambil sepeda Dinda yang dia parkir di luar. Rista memandangi mereka berdua yang keluar beriringan.


Ia sangat menyayangkan kenapa mereka menjalin hubungan. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak ingin merusak hubungan Bary dan Dinda.


Meskipun Ia merasa sakit hati, namun ia berusaha melupakan kesedihannya.


" Bary.. Dinda.. Semoga hubungan kalian akan baik-baik saja meskipun aku nggak yakin, kalian akan di persatukan dalam ikatan pernikahan." ucap Rista lirih.

__ADS_1


......................


__ADS_2