
Dinda menyandarkan sepedanya lalu bergegas menghampiri Rista. Ia kasihan melihat Rista yang wajahnya terlihat kusut. Namun ia tak melihat Bary bersamanya.
" Rista, kamu jadi bilang sama Bary soal kemarin?"
" Iya, Dinda. Semua sudah selesai. Tak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Aku yakin Bary akan kembali seperti dulu lagi.
" Maksudnya? Apa yang kamu katakan pada Bary?"
" Dinda, maaf aku sedang terburu-buru. Bary sedang di kamar kecil. Sebentar lagi dia pulang, kalau kamu mau bicara dengannya, dia sudah bisa diajak bicara."
" Eh, tunggu dulu. Kamu kenapa, Rista? Menangis lagi?"
" Enggak, Dinda. Sudah ya, aku mau pulang dulu."
Rista segera berlari dan meninggalkan Dinda di depan pintu gerbang sekolah. Ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Air matanya terurai jatuh di sepanjang perjalanan pulang. Dinda menjadi bingung, ia berniat mengejar Rista dengan sepedanya. Namun Rista menyuruhnya untuk jangan mengikutinya. Ia pun berhenti dan menyandarkan sepedanya kembali.
Tak berapa lama, Bary sudah di depan gerbang sekolah. Dinda memanggilnya.
" Bary..."
" Dinda.."
" Rista kenapa? Kenapa dia menangis?"
" Menangis? Menangis kenapa?"
" Aku nggak tahu, bukannya tadi habis bicara denganmu? Aku bertemu dengannya disini. Tadi dia sempat bilang padaku, dia ingin bicara denganmu. Setelah bertemu disini, dia bilang kalau semua sudah selesai. Maksudnya apa?"
" Aku nggak tahu. Tadi dia nggak nangis, kok."
" Bary..jujur, apa kamu mengatakan sesuatu yang membuatnya sakit hati lagi?"
" Aku nggak bilang apa-apa. Kata kamu dia sendiri kan, yang ingin bilang kepadaku."
" Iya..memang dia ingin bicara padamu. Tapi pasti kamu menyakiti perasaannya lagi."
" Dinda..berhenti memikirkan dia. Dia itu bukan cewek lemah. Meskipun dia menangis hari ini, besok dia akan tertawa lagi."
" Bary...aku itu masih punya perasaan. Aku nggak mungkin membiarkan temanku bersedih. Ayo..ikut aku ke rumah Rista."
" Untuk apa?"
" Aku mau kalian berdamai. Aku ingin kamu meminta maaf padanya."
" Aku sudah meminta maaf. Dan dia sudah memaafkanku."
" Nggak mungkin. Buktinya dia menangis. Pasti dia mendengar kata-katamu yang menyakitkan. Pokoknya ayo kita ke rumah Rista."
__ADS_1
" Dinda..aku sudah bilang, aku nggak mau. Kalau kamu mau kerumanya, silahkan pergi sendiri. Rumahnya juga nggak jauh."
" Bary..bisa nggak kamu itu memikirkan perasaannya. Mengalahlah demi dia, demi aku."
" Dinda..aku ini siapa, dan dia itu siapa? Aku harus bagaimana? Dia itu terlalu dewasa. Masa sudah berani bilang suka padaku. Aku nggak mau memikirkan itu. Aku ingin fokus sekolah."
" Bary..dengarkan aku.. Mungkin dia memang terlalu dewasa. Tapi dia baik. Dia itu sahabatku yang terbaik. Aku nggak bisa membiarkannya menangis. Aku mohon padamu."
" Dinda..apa kamu nggak mikirin perasaanku? Jangan hanya karena dia sahabatmu terus kamu mengorbankan aku. Aku itu juga sahabat kalian. Aku memang nggak suka sama dia. Suka itu nggak bisa dipaksa."
" Ihh..bagaimana caranya aku bisa membuatmu mengerti? Bary.. sekali ini saja, ayo kita ke rumah Rista. Kita bicara baik-baik dengannya. Mengertilah..Bary. Kalau kamu mau bersamaku, kamu harus bisa mengatasi ini semua. Kamu harus bisa sabar menghadapi sikap seorang cewek. Aku mau kamu yang seperti itu."
" Dinda.."
" Aku mohon.."
" Baiklah..ayo kita ke rumah Rista."
Usai berkata Bary dengan cepat berjalan setengah berlri menuju rumah Rista. Dinda pun segera mengambil sepedanya dan mengayuhnya menyusul Bary.
Lima menit kemudian, Bary dan Dinda tiba di rumah Rista. Dinda pun mengetok pintu rumah Rista.
" Tok tok tok..."
" Siapa diluar?" tanya Ibu Rista dari dalam rumah.
" Saya Dinda, Buk." sahut Dinda.
" Eh, Nak Dinda. Nak Bary juga kemari. Silahkan masuk.. Duduk dulu, aku akan panggilkan Rista." ucap Ibu Rista lalu segera memanggil Rista yang sedang beres-beres pakaian di kamarnya.
" Baik, Buk. Terima kasih." ucap Dinda dan Bary secara bersamaan.
" Rista..ada Dinda dan Bary. Kemari, Nak. Temui mereka. Ibu mau selesaikan pekerjaan Ibu dulu."
" Dinda sama Bary? Ada apa mereka kemari, Buk?"
" Ibu nggak tahu. Coba kamu temui dulu."
" Baik, buk tunggu sebentar." ucap Rista lalu segera menyelesaikan pekerjaannya.
" Dinda dan Bary kemari. Mau ngapain mereka. Padahal aku tadi sudah bilang jangan mengikutiku. Kenapa malah Dinda mengajak Bary untuk datang kemari." gumam Rista dalam hati.
Ia pun dengan terpaksa keluar kamar dan menemui tamunya. Sebenarnya ia tak ingin menemui mereka, tapi Dind adalah sahabat baiknya. Ia tak bisa menghindarinya jika Dinda ingin bertemu dengannya.
" Eh, Dinda..Bary.. Ada apa, ya?"
" Rista.." ucap Dinda lalu memeluk Rista.
__ADS_1
" Dinda, kenapa? Jangan begitu."
" Aku tadi lihat kamu menangis, aku ngga tega melihatnya. Aku nggak tenang kalau kamu bersedih dan aku tak bisa menemanimu."
" Aku nggak apa-apa kok, Dinda. Kamu jangan terlalu berlebihan, khawatir sama aku. Lihat..aku sudah nggak apa-apa, kan?"
" Aku tahu kamu cewek yang kuat, tapi aku juga cewek sepertimu. Jika sakit hati, sembuhnya akan lama."
" Nggak apa-apa, Dinda. Kan, aku sudah bilang. Semua sudah selesai."
" Selesai bagaimana?"
" Iya masalahnya sudah selesai. Kemarin kan, kita sempat ada masalah. Dan sekarang masalah itu sudah selesai. Jadi sudah tak ada apa-apa lagi."
" Rista.. Aku minta maaf soal tadi. Aku sangat menyesal mengatakan itu padamu. Sekarang, aku ingin kita kembali seperti dulu lagi. Kita bertiga adalah sahabat. Aku nggak ingin menyakitimu ataupun menyakiti Dinda." ucap Bary.
" Bary..apa yang kamu katakan? Bukankah tadi itu sudah jelas. Aku tidak apa-apa. Dan kalau aku menangis itu hal yang wajar, kan? Jadi semua sudah selesai. Aku sudah melupakan itu. Sekarang, nggak ada lagi yang akan ganggu kalian. Aku sudah ikhlasin semuanya, kok."
" Rista..maksudnya apa? Ikhlasin gimana?" tanya Dinda.
" Aku sudah ikhlasin Bary untuk kamu, Dinda."
" Rista..Bary itu bukan milikku. Kami itu hanya sahabatan seperti kamu. Jangan berpikiran terlalu jauh. Masih ada banyak waktu untuk kita. Kita tidak tahu siapa pasangan kita, esok hari. Bisa saja sekarang Bary menjadi pasanganmu. Tapi esok hari, entah esok lusa atau mungkin berapa bulan kemudian, Bary akan menjadi orang lain bagimu. Bisa juga malah akan menjadi musuh abadimu. Kamu boleh menyukai seseorang, tapi lebih baik untuk saat ini kita fokus belajar dahulu daripada memikirkan tentang itu."
" Dinda benar, Rista. Lebih baik kita fokus belajar dahulu. Kalau mau, kita akan bersaing. Siapa yang akan mendapatkan rangking terbaik. Jangan memikirkan soal pasangan."
" Fokus belajar? Dinda, Bary.. Kita memang harus fokus belajar. Kalian mengatakan kata yang sama. Apa kalian cuma ingin menghiburku? Kita memang harus fokus belajar, tapi apa kalian mengesampingkan perasaan kalian?
Di hati kalian itu tumbuh benih cinta. Aku tahu kok, sebenarnya kalian bukan hanya sebatas suka, tapi juga mencintai. Sudahlah..jangan menghiburku. Aku sudah nggak kenapa-kenapa.
Jika kalian ingin lebih dekat seperti sebelum aku mengganggu hubungan kalian, silahkan. Aku nggak akan mengganggu lagi. Tapi aku punya pesan untukmu, Bary. Jangan pernah menyakiti Dinda. Dengarkan itu baik-baik. Jika kamu berani menyakitinya, aku nggak akan segan mengikatmu di pohon besar."
" Rista.. Kamu serius?" tanya Bary.
" Iya.. Aku serius. Aku nggak akan mengulangi ucapanku."
" Jadi aku boleh sama Dinda?"
" Heem.."
" Rista..kamu ngomong apa? Aku nggak mau kamu mengalah seperti itu. Aku ingin kamu menperjuangkan cintamu, Rista."
" Dinda..mungkin perasaanku untuk Bary itu bisa dikatakan kalau aku mencintainya. Namun, setelah aku pikir-pikir, mungkin perasaanku itu salah. Cintaku untuk Bary hanya cinta monyet saja. Mungkin suatu saat akan hilang seiring berjalannya waktu. Kini Aku akan merelakan Bary untuk kamu, Dinda."
" Enggak, Rista. Kamu jangan begitu. Aku nggak mau."
" Dinda.."
__ADS_1
Rista memeluk Dinda yang seperti ingin menangis. Ia mengelus punggung dan rambutnya yang indah. Sementara Bary hanya duduk terdiam melihat sosok dua cewek cantik yang sedang berpelukan di sampingya. Ia tak bisa berkata-kata lagi.
......................