Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Temui Aku di Taman


__ADS_3

Tiba di rumahnya, Hati Dinda merasa tak tenang. Ia terus kepikiran dengan Bary. Ia merasa sikapnya pada Bary membuat Bary merasa kesal padanya.


" Mungkin bicaraku pada Bary saat di rumah Rista, membuatnya kesal. Aku merasa nggak nyaman dengan keadaan ini. Bary..." ucap Dinda sembari menepuk-nepuk bantal yang berada di pangkuannya.


" Enggak..aku harus bicara sama Bary. Aku nggak mau ucapanku melukai hatinya. Aku nggak mau dia salah paham terhadapku lalu membenciku."


Dinda lalu mengambil handphonenya. Dia berniat menelpon Bary. Beberapa kali ia menelpon, namun Bary tak kunjung mengangkat telponnya.


" Aduh..ini kemana si Bary itu? Kenapa nggak mau mengangkat telponku? Apa dia benar-benar marah padaku? Ihh.. Aku nggak mau. Aku nggak mau bermusuhan dengannya. Aku tahu dia cowok yang baik. Apa aku telpon sekali lagi, ya." ucap Dinda lalu kembali menghubungi Bary lagi.


Dinda lalu mencoba menelpon Bary lagi. Ia sangat berharap Bary tahu dan langsung mengangkat telponnya. Namun sampai batas memanggil habis, Bary juga tak mengangkat telponnya. Ia merasa putus asa, lalu menaruh handphonenya di meja.


" Kenapa...kenapa..kenapa nggak diangkat, telponku? Ihhhh...!!!" ucap Dinda lalu meremas bantal yang ada di pangkuannya.


Ia lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia melihat dua boneka di atas kasur. Dua boneka itu adalah boneka seorang pangeran dan yang satu boneka seorang Putri. Ia mengambilnya lalu memainkan boneka itu ibarat dirinya yang sedang bicara dengan Bary.


" Bary.. Aku ingin bicara sama kamu." ucap Dinda yang sedang memainkan boneka Seorang Putri.


" Mau bicara apa?" ucap Dinda lagi dengan memainkan boneka Pangeran sembari menirukan suara Bary.


" Kamu marah padaku? Kenapa kamu nggak nungguin aku saat dirumah Rista? Kenapa kamu ninggalin aku dan pergi lebih dulu?"


" Iya aku marah sama kamu. Aku kesal sama kamu. Aku tidak mau bertemu kamu lagi."


" Kenapa nggak mau bertemu aku lagi? Kamu jahat..."


" Karena aku nggak suka lagi sama kamu. Biarkan saja aku jahat. Bukan urusanmu..."


" Ihh..kenapa kamu bilang begitu?"


" Biarkan saja.. Kamu saja suka nyakitin kok, kalau bicara denganku."


" Maafkan aku.."


" Nggak! Sudah ya..aku mau pergi. Jangan temui aku lagi!


" Bary..tunggu.."


" Aku mau pergi! Jangan ikuti aku!"


Dinda menangis. Ia membayangkan jika Bary benar-benar pergi dan meninggalkannya. Ia pun membuang bonekanya sampai di depan pintu kamarnya.


Ia kembali mengambil Handphonenya. Melihat pesan Whatsappnya. Berharap Bary mengirim pesan untuknya. Namun tak ada pesan darinya. Ia terus membuka chatnya lalu menscroll chat-chatnya terdahulu yang belum ia hapus.


Pikirannya kembali terusik. Dari banyak chat yang kembali ia baca, ia merasa Bary sangat perhatian dengannya. Ia selalu mengingatkan jika ada PR dari Gurunya. Bary juga selalu mengingatkan untuk shalat. Dan membangunkannya saat sebelum subuh.


Setiap hari, Bary selalu mengechatnya. Namun seharian ini, tak ada chat dari Bary. Dinda merasakan hidupnya kesepian. Sembari menangis, Dinda merekam suaranya lalu mengirimkannya pada Bary.


" Bary..maafkan aku..."


Tak berapa lama, Bary mengambil Handphone miliknya di kamarnya. Ia lalu merebahkan tubuhnya dikasur karena kelelahan, setelah sepulang sekolah, membantu Ayahnya membuat adonan untuk berjualan ayam goreng.

__ADS_1


Ia lalu membuka aplikasi Whatsapp. Ia kaget karena Dinda mencoba menghubunginya berkali-kali. Ia pun membaca isi pesan suara dari Dinda.


" Bary..maafkan aku..."


" Maaf? maaf untuk apa?" ucap Bary lalu mencoba membalas pesan dari Dinda.


" Maaf untuk apa?"


Dinda pun membuka pesan dari Bary. Ia sangat senang dan sedikit lega karena Bary mau membalas pesannya.


" Temui aku di Taman.." balas Dinda melalui pesan suara.


" Kapan? Mau ngapain?"


" Sekarang..aku mau bicara sama kamu."


" Oke..tapi aku mau mandi dulu. Aku akan tiba di taman setengah jam lagi. Kalau kamu sudah di Taman, bersabarlah menungguku datang. Kalau kamu masih dirumah dan aku lebih dulu sampai, aku akan menunggumu."


" Baik..aku akan lebih dulu sampai. Aku akan menunggumu." balas Dinda melalui pesan suara.


Bary membaca pesan suara dari Dinda tanpa membalasnya. Ia lalu meletakkan handphonenya dan bergegas menuju kamar mandi.


Sementara Dinda masih menunggu pesan apalagi dari Bary. Namun setelah sepuluh menit berlalu ia menunggu dan tak ada pesan masuk lagi dari Bary, ia kemudian beranjak dari tempat tidurnya.


" Ah iya..aku belum mandi. Apa aku harus bertemu Bary dengan tubuh seperti ini? Ah nggak.. Aku nggak mau kalau Bary jaga jarak denganku karena bau badanku. Hemm.. Sebaiknya aku juga mesthi mandi biar aku lebih tenang saat bertemu dengannya." gumam Dinda lalu bergegas mengambil pakaian ganti kemudian menuju kamar mandi.


...----------------...


" Bary kemana, sih? Kenapa Handphonenya malah nggak aktif. Dia mau datang kemari nggak, ya?" gumam Dinda seraya melihat ke arah kanan dan samping berharap Bary datang untuk menemuinya.


Hingga sepuluh menit Dinda duduk di bangku Taman, Bary masih belum terlihat datang. Dinda merasa sebal dengan Bary. Ia merasa Bary membohonginya dan mempermainkannya.


" Awas saja ya Bary..besok aku nggak akan mau bicara denganmu lagi!" ucap Dinda kesal lalu beranjak dari tempat duduknya, berniat untuk kembali ke rumahnya.


Namun saat Dinda berdiri dan hendak melangkah pergi, tiba-tiba dari arah belakang, sepasang tangan berusaha meraih pundaknya. Dinda setengah terkejut dan berteriak keras. Beberapa pasangan anak muda di sekitar Taman melihat ke arah Dinda. Mereka mengira Dinda diperlakukan tidak baik oleh Bary.


" Eh maaf semuanya, saya hanya kaget saja. Teman saya suka iseng soalnya. Saya nggak apa-apa, kok." ucap Dinda berusaha menjelaskan pada orang-orang di sekitar taman.


Sementara Bary hanya tertawa melihat Dinda terkejut. Namun ia segera meminta maaf pada Dinda agar Dinda tak marah padanya.


" Bary.. Aku sudah menunggu kamu sudah lebih dari sepuluh menit. Aku sudah mau pergi, malah kamu datang. Kenapa lama banget?!"


" Hehehe.. Dinda, ini jam berapa? Aku sudah bilang kalau aku akan sampai setengah jam lagi. Dan sekarang ini, aku datang tepat waktu, lho. Kamu saja yang terlalu cepat. Lagipula kamu juga sudah berjanji akan menungguku, kan."


" Hehe.. Iya juga, tapi aku bosan menunggu terlalu lama. Harusnya kamu nggak perlu menghabiskan waktu hingga setengah jam untuk sampai sini."


" Ada yang harus aku lakukan. Jadi setengah jam itu waktu yang nggak lama."


" Tapi bagiku, menunggu itu lama."


" Katanya tadi kamu sudah bilang mau menungguku, kenapa sekarang nggak ikhlas begitu?"

__ADS_1


" Hehe..iya, iya.. Aku ikhlas. Ayo kita duduk."


" Mau duduk dimana?"


" Disini saja..mau dimana lagi?"


" Disini banyak orang. Ayo kita cari tempat yang lebih nyaman." ucap Bary lalu menarik dan menggandeng tangan Dinda.


" Ihh.. Lepaskan.. Nggak boleh gandeng tangan." ucap Dinda sembari melepaskan tangannya dari tangan Bary.


" Cuma menggandeng saja. Aku nggak macam-macam, kok."


" Sama saja nggak boleh. Aku nggak mau sampai kelewatan."


" Kelewatan bagaimana maksudnya?"


" Kalau aku izinkan kamu menggandengku, lama kelamaan kamu minta peluk aku terus minta cium juga. Aku nggak mau."


" Menyentuh juga nggak boleh?"


" Nggak!"


" Ihh..galak sekali. Padahal saat kamu pingsan di jalan saat itu, aku yang menggendongmu dan membawamu sampai ke rumahmu."


" Apa? Kamu sendiri yang menggendongku?"


" Heem.."


" Rista?"


" Dia datang setelah aku telpon. Rista kan, nggak pulang bersama kita."


" Rista lama nggak sampai ke rumahku?"


" Lumayan lama. Sekitar setengah jam lebih. Kenapa memangnya?"


" Jadi hanya ada kamu sendiri dirumahku saat Rista belum datang?!" ucap Dinda setengah berteriak.


" Iya..memangnya ada apa?"


" Jawab jujur...kamu nggak melakukan sesuatu yang nggak baik sama aku, kan?"


" Mana mungkin..aku kan, ingin menolongmu. Kenapa malah ingin berbuat nggak baik sama kamu."


" Siapa tahu kamu memanfaatkanku saat aku pingsan."


" Tenang saja. Aku nggak akan pernah melakukan hal yang nggak baik sama kamu. Aku hanya ingin menjagamu."


" Hehe.. Terima kasih, Bary." ucap Dinda dengan tersipu malu.


......................

__ADS_1


__ADS_2