
Pagi hari, dering telpon yang keras membangunkan tidur Bary yang sangat pulas. Ia terkejut setengah mati dan hampir melompat dari tempat tidur.
" Aduh..mengagetkan saja! Baru saja mimpi enak, malah dibangunkan. Siapa sih, yang menelpon pagi-pagi begini?" ucap Bary kesal.
Bary kemudian mengambil ponselnya. Ia melihat, Dinda yang baru saja menelponnya. Namun saat dia berniat mengangkat telponnya, Dinda terlebih dulu membatalkan panggilannya.
" Kok malah ditutup telponnya. Ada apa, ya?" gumam Bary.
Tak berapa lama, terdengar suara dering telpon lagi. Bary segera mengangkat telponnya.
" Halo..Dinda."
" Bary, nanti sore ada acara nggak?"
" Emm..memangnya ada apa, Dinda? tumben tanya."
" Hehe..enggak. Cuma tanya saja."
" Maaf, Dinda. Kalau sore aku jaga warung. Aku kan, harus menabung untuk masa depan kita. Hehe.."
" Hehe..begitu, ya. Ya sudah nggak apa-apa. Tapi kalau lain kali, bisa nggak kita malam mingguan. Kita jalan-jalan ke taman sambil makan-makan. Kayaknya seru banget."
" Tumben, kamu mau mengajak malam mingguan. Biasanya kan, kita nggak pernah."
" Tapi kita butuh sekali-sekali jalan bareng, kan? Memangnya kamu nggak mau pergi berdua sama aku?"
" Siapa yang nggak mau jalan sama pasangannya sendiri. Aku mau banget.. Sabar ya, Dinda. Kita cari waktu yang pas."
" Hemm..oke kalau begitu." ucap Dinda sembari menghela nafas panjang.
" Hehe..kenapa? Sabar dulu. Kalau pekerjaanku sudah selesai, aku pasti akan mengajakmu jalan-jalan."
" Iya..iya. Ya sudah, kalau begitu aku mau mencuci pakaian dulu ya, Bar."
" Hem..sudah cuma itu saja?"
" Maksudnya?"
" Maksudnya nggak ada yang mau dibicarakan lagi?"
" Emm..apa, ya. Kayaknya nggak ada. Besok saja kalau kita ketemu lagi."
" Iya sudah kalau begitu, Din."
" Iya, Bar. Bye.."
" Bye, Dinda."
Dinda menutup telponnya. Ia merasa sedikit kecewa dengan Bary. Padahal malam ini ia ingin sekali berjalan berdua ke Taman. Tapi Bary lebih memilih berjualan daripada pergi dengan kekasihnya sendiri.
Ia pun berjalan sembari memunguti pakaian-pakaian kotornya menuju tempat mencuci dengan kesal.
Sementara itu Bary merasa Dinda tak nyaman dengan dirinya. Ia lalu berpikir dan mempertimbangkan lagi niatnya untuk berjualan. Ia ingin memberikan Dinda kejutan.
" Hemm..apa lebih baik aku berjualan pagi saja, agar nanti sore nggak perlu berjualan lagi. Jadi, aku bisa menemani Dinda pergi jalan-jalan. Aku rasa dia kecewa dengan ucapanku. Pokoknya aku harus bisa mengimbangi pekerjaanku dan membagi waktuku dengannya. Aku nggak boleh kehilangan Dinda. Dan aku nggak boleh bersantai-santai, sementara aku punya keinginan yang besar, untuk hidup bersama Dinda.
Iya..lebih baik aku buka pagi saja setiap sabtu. Malamnya bisa untuk mengajak Dinda jalan-jalan." gumam Bary.
Bary pun bergegas merapikan tempat tidurnya. Dia berlarian ke kamar mandi sembari membawa pakaian-pakaian kotornya.
Ibu Bary merasa heran dan mendatangi Bary yang masih mondar-mandir dari kamarnya ke kamar mandi.
" Bary..pagi-pagi begini berlarian di dalam rumah. Ganggu ayahmu saja yang lagi tidur."
" Maaf, Bu. Aku mau mandi. Ini sekalian mencuci pakaianku."
" Kamu kan libur, tumben pagi-pagi sudah mau mandi "
" Aku mau buka pagi, Bu."
" Kamu mau jualan pagi? Memangnya kalau sore kenapa?"
__ADS_1
" Sore aku mau pergi sama Dinda, Bu. Boleh, kan?"
" Wihh.. Anak Ibu sudah besar rupanya. Sudah mau ngajak ceweknya jalan. Hehe.."
" Aku kan memang sudah besar, Bu. Jangan bilang aku ini masih kecil."
" Hehe terserah kamu saja. Yang penting kamu senang, Ibu juga senang. Kalau begitu lekaslah mandi. Nanti keburu siang."
" Iya, Bu. Makanya Ibu jangan mengajak bicara terus."
" Iya.. Ibu nggak akan bicara lagi. Ihh.." ucap Ibu Bary.
...----------------...
Sore hari setelah ashar, Bary menelpon Dinda. Ia bermaksud mengajak Dinda malam mingguan seperti apa yang dimau Dinda. Namun ia tak ingin bicara langsung. Ia ingin memberikan Dinda kejutan.
" Halo..Bary.." ucap Dinda dalam telpon.
" Hai, Dinda. Sedang apa?" tanya Bary.
" Aku habis mandi, kamu sudah di warung?"
" Sudah mandi, ya? Berarti sudah wangi, dong? Hehe."
" Hahaha.. Ya pasti wangi. Kan, pakai sabun. Pakai wangi-wangian juga."
" Hehe.. Wangi-wangiannya itu yang membuatku semakin menempel padamu."
" Hahaha..bisa saja kamu, Bar. Oh, iya..bagaimana warungnya? Ramai nggak?"
" Oh, warungnya ramai. Alhamdulillah banyak pembeli."
" Wah..berarti cepat habis seharusnya. Jadi kamu bisa cepat pulang. Lalu kita bisa malam mingguan." ucap Dinda dengan wajah sumringah.
" Hehe.. Iya, Dinda. Cuma, karena aku jualannya aku tambah, jadi sepertinya aku nggak bisa pulang cepat. Mungkin tetap akan pulang seperti biasanya. Jam delapan sampai rumah."
Mendengar ucapan Bary, Dinda kembali lesu. Kini harapan malam mingguannya benar-benar pupus. Ia sudah tak berharap banyak lagi pada Bary.
" Begitu, ya. Ya sudah nggak apa-apa."
Dinda pun tak tahu harus bicara apalagi. Ia lalu menutup ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
" Hehe..pasti Dinda kesal banget. Tapi tenang,aku akan kesana Wahai Dindaku. Hahaha.." ucap Bary sambil bergaya.
Tak lama kemudian, Ia keluar dari kamarnya lalu menemui Ayahnya. Kebetulan Ayah Bary dan Ibunya sedang menonton TV di ruang tengah.
" Ayah.. Ibu.."
Ayah dan Ibu Bary melihat ke arahnya. Mereka terkejut dengan penampilan Bary saat ini. Ditambah dengan bau wangi dari parfum yang ia beli sendiri dari toko parfum.
" Wah.. Sepertinya ini parfum mahal, Bu. Mentang-mentang dia bisa cari duit sendiri." ucap Ayah Bary sambil mencolek Ibu Bary.
" Iya, Ayah.. Maklum anak kita sudah besar sekarang. Sudah mengenal yang namanya cinta. Hehe.."
" Jadi begitu, Bary.. Hati-hati,lho. Jangan sampai cinta itu menghancurkanmu. Apalagi kamu masih sekolah."
" Ayah, Ibu.. Tenang saja. Justru cinta Bary lah yang membuat Bary bangkit."
" Apa kamu yakin, Bar?" tanya Ayah Bary.
" Sudah pasti yakin, Ayah. Kalian tenang saja. Tak ada yang akan membuatku hancur. Aku tahu tentang cintaku."
" Hemm.. ya sudah. Tapi Ayah sudah peringatkan. Ayah nggak tahu siapa cintamu saat ini. Yang jelas kalau belum sampai pada tahap yang serius, Ayah sarankan jangan terlalu dalam memiliki perasaan kepadanya. Jika itu terjadi, kamu akan bergantung padanya."
" Iya, Ayah. Aku mengerti. Kalau begitu aku boleh tidak meminjam motornya untuk jalan-jalan?"
" Pakai saja, lagipula Ayah nggak ada rencaa mau keluar rumah. Paling kalau keluar, cuma yang dekat saja. Pakai sepeda juga bisa."
" Hehe.. Baiklah kalau begitu, motornya aku bawa dulu ya , Ayah. Aku nggak akan bawa jauh-jauh, kok."
" Iya.. Tapi hati-hati. Jangan kebut-kebut."
__ADS_1
" Baik, Ayah. Ibu. Aku permisi dulu."
" Iya.. Jangan pulang terlalu larut, ya. Sekarang ini rawan kejahatan dimalam hari."
" Iya, Bu."
Bary pun bergegas pergi ke rumah Dinda. Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk ke rumah Dinda, dengan menggunakan motor Ayahnya.
Tiba di depan rumah Dinda, Bary memencet Bel tiga kali langsung sembunyi.
Dinda yang saat itu masih menonton TV, bergegas membukakan pintu. Ia menengok ke kanan dan kekiri. Namun Ia tak melihat siapapun. Ia lalu masuk kembali dan kembali menonton TV.
Beberapa detik kemudian, Bary kembali memencet Bel lagi. Dinda pun dengan cepat berlari membuka pintu. Namun Bary sembunyi lebih cepat. Dinda pun mulai kesal. Karena tak ada siapapun yang ia temui.
" Siapa, ya. Kenapa tak ada orang? Apa belnya rusak?" gumam dinda sembari mengamati di sekeliling rumahnya.
" Ah, sudahlah. Kalau masih ada Bel lagi, aku nggak akan membukakan pintu!" ucap Dinda dengan ketus.
Ketika ia hampir masuk kedalam, Bary memanggilnya." Dinda.."
Dinda terkejut dan segera menoleh ke belakang." Bary! "
" Hehe..iya."
" Jadi kamu yang dari tadi memencet Bel?"
" Hehe..iya."
" Ihh..jahatnya. Kamu tahu nggak, aku sampai kesal. Huh.."
" Hehe.. Maaf, Dinda. Apa aku mengagetkanmu?"
" Bukan kaget tapi terkejut. Katanya kamu jualan, kenapa bisa ada disini? Jangan-jangan kamu?"
" Aku Bary.. Lihat, kakiku menapak di lantai. Aku Bary asli."
" Aku kira kamu hantu. Jadi kamu tadi ngerjain aku, ya?"
" Hehe, iya. Maaf, Dinda. Semua demi kamu."
" Ciee... Terus hemmm... Ini parfumnya wangi banget. Aku suka..tapi aku nggak suka kalau cewek lain juga menyukainya."
" Tenang saja. Kalau cewek lain suka baunya, biar ku berikan parfumnya."
" Bukan parfumnya, tapi kamu."
" Kalau aku hanya untuk kamu saja, Dinda. Kalau cewek lain menyukaiku, itu hak mereka. Tapi aku akan tetap bersama kamu."
" Hehe.. Terima kasih, Bary. Oh iya, jadi kamu kemari mau mengajakku malam mingguan?"
" Hehe.. Enggak.. Aku hanya ingin bertemu kamu saja."
" Bertemu aku saja?!" ucap Dinda setengah berteriak.
" Maksudnya sambil jalan, kita makan-makan juga. Katanya mau ke Taman?"
" Emm..jalan kaki saja, ya?" tanya Dinda sembari menengok ke kanan dan ke kiri. Untuk melihat apakah Bary bawa kendaraan atau tidak.
" Pakai motor. Masa jalan kaki. Dari sini sampai Taman itu jauh. Apa kamu kuat jalan kaki sampai sana?"
" Ya nggak lah. Mana motormu?"
" Itu di depan pagar. Nggak kelihatan orang tertutup tanaman pagar."
" Hehe.. Terima kasih, Bary. Hari ini aku bahagia banget.."
" Sama-sama, Dinda. Kalau begitu mending kamu bersiap-siap dulu. Lalu kita pergi."
" Eh, iya.. Tunggu sebentar ya, Bary." ucap Dinda lalu beegegas masuk kedalam mengganti pakaiannya.
Hati Bary seakan dihujani dengan air hujan yang lembut pada musim kemarau. Ia sangat bahagia melihat senyum lepas Dinda. Seandainya ia tak mengganti jam berjualannya, sudah pasti ia sangat mengecewakan Dinda. Ia juga tak bisa melihat Dinda tersenyum ceria seperti tadi.
__ADS_1
" Ah.. Jadi begini, ya. Cara membuat pasangan kita bahagia. Rasanya aku juga merasa bahagia." gumam Bary dalam hati.
......................