Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Terbaca


__ADS_3

Hari berganti hari. Waktu terus semakin berlalu. Hubungan antara Dinda dan Bary semakin dekat. Meskipun masih sebatas teman, tetapi apa yang mereka lakukan dan pengorbanan yang mereka berikan seperti layaknya sepasang kekasih.


Dinda pernah mengalami sakit dua hari hingga dia tidak masuk kelas. Bary pun juga tak masuk kelas karena dia ingin merawat Dinda. Rista juga tak ketinggalan, dia menemani Bary tinggal di rumah Dinda agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.


Kedekatan yang semakin terlihat jelas membuat Rista merasa iri. Terkadang ia selalu mendatangi mereka saat sedang berdua. Rista tak rela jika Bary terus dekat dengan Dinda.


Rasa iri yang timbul di dalam diri Rista, terbaca oleh Dinda. Bary juga tahu kalau Rista tidak suka ia dekat dengan Dinda.


Suatu ketika Bary menanyakan tentang sifat Rista yang berubah. " Rista, aku mau tanya sesuatu kepadamu."


Rista terkejut. Hatinya bergejolak. Baru kali ini, Bary menanyakan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang membuat ia penasaran.


" Tanya apa, Bary?"


" Ayo kita bicara diluar. Aku nggak enak sama Dinda." bisik Bary lalu menarik tangan Rista dan membawanya keluar dari kamar Dinda.


" Kenapa harus diluar, disini kan bisa " ucap Rista kesal karena Bary memegangi tangannya dengan kuat. Namun ia pasrah dan terpaksa mengikuti kemauan Bary.


" Baiklah. Disini aman."


" Aman bagaimana? Kamu mau ngomong apa?"


" Rista, jawab dengan jujur."


" Jawab apa?"


" Apa kamu nggak suka aku dekat dengan Dinda?"


Jantung Rista berdegup kencang. Rupanya Bary tahu apa yang dia rasakan saat melihat Bary dekat dengan Dinda. Namun ia tak mampu untuk menjawab apa yang Bary tanyakan.


" A, apa? Jangan menuduhku sembarangan ya, Bary!" ucap Rista sembari melototi Bary.


" Jangan marah dulu. Katakan saja. Aku hanya bertanya kepadamu, bukan menuduh. Kalau aku salah, aku minta maaf."


" Itu namanya menuduh! Kenapa sih kamu berubah, Bary?"


" Kamu yang berubah, Rista. Aku masih sama seperti yang dulu."


" Sama apanya? Kamu menuduhku yang bukan-bukan. Kamu pikir aku nggak sakit hati?!"


" Rista..aku mohon jangan marah dulu. Aku hanya bertanya. Jujur saja. Katakan kalau kamu tak suka aku dekat dengan Dinda. Dan apa alasannya?"


" Aku nggak punya pemikiran seperti itu!"


" Lalu kenapa, saat aku berdua dengan Dinda. Kamu datang dan seolah memisahkanku dengan Dinda."


" Jadi kamu berpikiran seperti itu?! Terserah kalau kamu mau berpikiran seperti itu. Yang penting aku nggak kaya apa yang kamu katakan!"


" Bukan hanya aku yang merasa begitu, Rista. Dinda juga sama sepertiku. Apa yang salah dengan kedekatan kami?"


Rista semakin tak bisa mengelak lagi. Dia ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Namun bibirnya seakan terkunci. Bary terus menatapnya.

__ADS_1


" Rista.."


" Iya..iya aku memang nggak suka dengan kedekatan kalian! Aku nggak rela kalian terus-terusan berduaan. Hatiku sakit!"


" Kenapa, Rista? Apa alasan kamu nggak suka aku dekat dengan Dinda?"


" Karena aku suka kamu, Bary! Aku suka kamu!"


" Apa? Rista, ada apa denganmu? Bukankah kita ini sahabat?"


" Aku tahu, Bary.. Aku tak seharusnya menyukaimu. Tapi kamu beda setelah kenal dengan Dinda. Kamu berubah, Bary.."


" Berubah bagaimana, Rista. Aku nggak ngerti apa yang kamu katakan."


" Sudahlah, Bary..aku mau pulang."


" Tunggu, Rista.. Jangan pulang dulu. Aku ingin masalah ini selesai. Jangan menangis." ucap Bary sambil menahan tangan Rista.


" Biarkan saja.. Aku mau pulang!"


" Rista..dengarkan aku. Aku dan Dinda hanya dekat seperti aku dekat denganmu. Jangan terlalu berlebihan. Lagipula kenapa kamu berpikiran sejauh itu."


" Bary...lepaskan tanganku! Aku mau pulang!"


" Enggak.. Kamu mau pulang dalam keadaan kaya begini? Kamu nggak mau pamitan sama Dinda?"


Rista terdiam mendengar kata Bary. Ia lalu berbalik ke arah Bary.


" Aku akan minta pamit padanya." ucap Rista lalu melewati Bary begitu saja dan masuk ke dalam rumah Dinda.


" Dindaa..." Rista berlari masuk ke dalam kamar Dinda dan memeluknya.


" Ada apa, Rista.. Kenapa kamu menangis?"


" Maafkan aku. Aku bersalah kepadamu. Kamu mau kan, memaafkanku?"


" Bersalah bagaimana, apa kesalahanmu?"


Rista tak menjawab, ia lebih memilih menangis sambil memeluk Dinda. Bary datang dan masuk ke dalam kamar lalu berhenti di depan pintu.


" Bary..ini ada apa?" tanya Dinda.


" Eh..aku.." Bary tak melanjutkan kata-katanya."


" Bary.."


" Eh..ini salahku, Dinda. Aku telah membuatnya menangis." ucap Bary dengan terbata-bata.


" Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menyakiti seorang cewek?" Dinda merasa kesal pada Bary.


" Aku hanya.."

__ADS_1


" Hanya apa?"


" Aku hanya menanyakan kepadanya kenapa dia nggak suka kita berdekatan."


" Apa? Jadi kamu menanyakan itu pada Rista?" Dinda panik, dia mulai merasa tak enak dengan Rista.


Rista menyeka air matanya dan melepas pelukannya pada Dinda. " Dinda, aku sudah tahu kalian tahu kalau aku nggak suka kalian sering berdekatan. Tidak apa-apa kalau kalian tahu. Aku sudah nggak bisa mengelak lagi. Maafkan aku, Dinda. Seharusnya aku nggak boleh seperti itu."


" Rista, aku.."


" Nggak apa, Dinda. Kamu layak mendapatkan yang terbaik. Aku ikhlas jika kamu bersama Bary. Mulai saat ini, aku nggak akan mengganggu hubungan kalian."


" Rista..kamu jangan salah paham dulu. Aku dan Bary nggak ada hubungan apa-apa. Kami sebatas teman biasa. Kita bertiga kan, sahabat. Kita nggak pacaran walaupun kita dekat."


" Sudahlah, Dinda. Nggak usah menyangkal. Jika kalian sahabat dan menganggapku sahabat juga, pasti perlakuan Bary kepadamu sama denganku. Tapi yang aku lihat, Bary lebih mengistimewakanmu."


" Rista.. Benar apa yang dikatakan Dinda, kamu itu salah paham. Aku dan Dinda nggak ada hubungan apapun. Kita itu hanya sahabat. Lagipula mana mungkin kita pacaran. Baru saja masuk SMP kok sudah pacaran."


" Diam kamu..aku nggak mengajakmu bicara." ucap Rista dengan ketus.


Bary mencoba berkata lagi, namun Dinda memberi isyarat Bary untuk tidak meneruskan kata-katanya. Lalu dia menyuruh Bary keluar sebentar agar ia lebih leluasa bicara dengan Rista.


" Rista..apa kamu menyukai Bary?" Dinda tiba-tiba bertanya pada Rista hingga membuat Rista kaget.


" Apa? Apa yang kamu tanyakan, Dinda? Mana mungkin aku menyukainya?!"


" Jawab jujur, Rista. Kamu menyukai Bary, kan?"


" Nggak mungkin..."


" Rista..jangan bohongi perasaanmu. Kamu nggak mau jujur sama aku?"


" Dinda, kamu adalah sahabat baikku. Aku nggak pernah membohongimu."


" Kalau begitu..jujurlah padaku."


" Iya, aku akan jujur. Aku akui aku memang menyukai Bary. Puas?"


Dinda tersenyum. Lalu memeluk Rista dengan erat.


" Rista..kenapa kamu nggak bilang dari dulu kalau kamu menyuka Bary? Kalau terua terang, pasti Bary akan menjadi milikmu sekarang."


" Aku menyukainya semenjak dekat denganmu. Ternyata Bary itu selain pintar, rajin tapi juga perhatian. Awalnya aku sebel dengan dia karena orangnya cuek. Dingin dan nggak pengertian. Pokoknya menyebalkan! Tapi setelah mengenalmu, dia menjadi orang yang sangat berbeda. Aku kecewa padanya! Kenapa dia bisa seperti itu kepadamu?"


" Rista, aku juga nggak tahu kenapa Bary seperti itu kepadaku. Tapi yang penting, aku sudah tahu kalau kamu menyukai Bary. Tenang saja, Rista. Aku nggak akan mengambil Bary darimu. Aku akan bilang pada Bary kalau kamu menyukainya."


" Bary sudah tahu. Tapi aku nggak tahu, dia bisa menerima kataku apa tidak."


" Nanti aku akan bicara padanya lagi. Kamu jangan menangis lagi, ya. Akan ku usahakan Bary menerimamu."


Rista tersenyum mendengar ucapan Dinda. Ia pun kembali memeluk Dinda dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Dinda pun balas memeluk Rista sembari tersenyum.

__ADS_1


" Bary..nggak salah kamu dicintai banyak anak cewek. Seseorang yang tumbuh bersamamu saja, menyukaimu." ucap Dinda dalam hati.


......................


__ADS_2