
Setelah kedatangan Dinda pada waktu lalu, kini Bary menjadi semangat lagi. Ia kembai ke sekolah seperti biasanya. Di halte Bis, ia menunggu Bus datang. Selang beberapa menit, Bus datang dan ia pun naik ke dalam Bus.
Hatinya kembali gundah karena ia tak melihat Dinda di dalam Bus. Ia memastikan lagi mencari ke semua tempat duduk. Namun dari semua tempat duduk yang terisi, Ia tak menemukan Dinda.
Bary membuka Ponselnya. Ia ingin mengirim chat pada Dinda. Ia lalu mengetik pesan yang ingin ia kirimkan pada Dinda. Namun sebelum ia selesai menulis, ia membatalkan niatnya untuk mengirim chat untuk Dinda. Ia pun menghapus ketikannya lalu menutup ponselnya.
Tiba di sekolah, hati Bary merasa lega. Ia bertemu dengan Dinda di depan kelasnya. Kali ini Dinda sedang bicara dengan seorang murid cewek cantik yang berjilbab.
Bary pun mendekati dan menyapanya.
" Dinda.."sapa Bary sambil tersenyum.
" Hai, Bary. Baru datang, ya?"
" Iya.. Aku baru saja tiba di sekolah. Aku kira kamu nggak berangkat. Tadi aku mencarimu di Bus, tapi kamu nggak ada."
" Emmhh..aku sudah berangkat dari tadi. Mulau hari ini, aku berangkat dan pulangnya barengan sama temanku yang sangat cantik ini.. Hehe.."
" Oh..jadi begitu. Baiklah kalau begitu. Jadi kamu temannya Dinda, ya?"
" Iya..namaku Nindya. Salam kenal, ya?"
" Aku Bary..salam kenal juga, Nin."
" Nah, sekarang Nindya itu teman setia aku. Jadi kalau mau apa-apa, dia yang aku mintai bantuan. Kamu jangan khawatir lagi soal aku dekat dengan teman cowok. Karena aku sudah nggak akan pernah melakukannya lagi. Ini semua demi kamu."
" Dinda.. Kamu nggak perlu bicara begitu di depan temanmu. Aku malu..."
" Memangnya kenapa? Bukannya itu fakta, ya? Jadi kenapa aku nggak boleh, orang tahu tentang masalah kita?"
" Tapi itu memalukan, Dinda. Aku berharap itu hanya untuk kita berdua saja. Jangan sampai orang lain tahu apa yang sedang kita hadapi."
" Aku nggak akan berdusta kalau bicara dengan temanku ini. Jadi apapun itu tentang kita, aku harus mengatakan itu kepadanya."
Bary menjadi sedikit emosi. Ia ingin berteriak dan marah pada Dinda. Namun ia tak tega. Apalagi mereka sedang berada dalam lingkungan sekolah.
" Dinda...."
" Bary..sudah nggak apa-apa. Kalian jangan bertengkar. Meskipun Dinda cerita apapun tentangmu, aku bisa jaga rahasia, kok. Jangan khawatir." ucap Nindya menenangkan Bary.
__ADS_1
" Nah..dengar kan, apa kata Nindya. Dia teman yang bisa aku percaya saat ini. Jadi kamu nggak perlu khawatir." ucap Dinda.
" Tapi.."
Belum sempat Bary meneruskan ucapannya, Dinda segera menarik tangan Nindya masuk ke ruang kelasnya. Kebetulan saat itu bersamaan dengan tanda bel masuk kelas.
Bary mencoba mengejarnya, namun ia hanya berhenti di depan pintu. Ia melihat ke arah tempat duduk Dinda dan Nindya. Namun Dinda tak melihat ke arahnya. Ia menyibukkan dirinya berbicara pada teman dibelakangnya.
Nindya merasa canggung ketika Bary melihat ke arahnya juga. Jantungnya berdegup cepat. Ia menatap mata Bary yang tajam. Ia pun mulai mengagumi sosok Bary dari tatapan matanya.
" Bary.. Kamu itu sosok yang menarik juga, ternyata. Sayangnya, orang yang kamu suka itu tak terlalu menyukaimu. Aku malah kasihan denganmu. Ya, meskipun Dinda itu bukan cewek yang mudah sekali berpindah hati, tapi ku rasa cinta dia kepadamu itu hanya beberapa persen saja. Jika kamu terus bersikeras meminta Dinda menjadi milikmu seutuhnya, aku takut kamu akan sering mengalami sakit hati." gumam Nindya dalam hati.
Ia pun mulai termenung dan memikirkan Bary. Ia memang tak berharap banyak. Hanya saja, ia ingin bisa lebih dekat dengan Bary. Agar bisa membantunya mendapatkan cinta yang sejati.
" Dooorrrr!!!" teriak Dinda sembari menepuk tangan di depan wajah Nindya.
" Ehhhh..." Nindya tersentak kaget.
" Kenapa, Nindya? Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya Dinda.
" Ah, enggak.. Aku hanya sedang melihat keadaan diluar saja. Sembari menunggu Pak Guru datang." jawab Nindya.
" Melamunkan Bary? Buat apa.. Aku nggak mikir sampai kesitu."
" Hehe..kalau iya juga nggak apa-apa, kok. Bary itu memang cowok yang menarik. Banyak cewek yang suka kepadanya. Jadi, jangan heran kalau nanti kamu juga suka kepadanya. Hahaha.."
" Ihh..dia kan, cowok kamu. Mana mungkin aku menyukainya. Lagipula aku disini hanya untuk belajar dan mencari teman. Bukan cari pacar."
" Nindya...mengaku saja kalau kamu suka sama Bary. Aku nggak apa-apa, kok. Tapi Bary hanya untuk aku, bukan untuk yang lain."
" Ah..jahat kamu, Din. Biarkan saja dia menjadi kekasih orang. Lagipula kamu nggak terlalu menyukainya, kan?"
" Siapa bilang aku nggak terlalu suka padanya? Aku itu sayang banget sama Dia. Hanya saja, aku terkadang nggak suka sama kelakuannya. Kemarin saja aku dekat dengan cowok lain, meskipun itu teman sekelas, Dia marah-marah padaku. Lalu dia menyuruhku agar aku menjauhi teman laki-laki. Dia cemburu kepadaku. Padahal aku hanya mengobrol biasa saja."
" Itu karena dia nggak ingin kamu terpikat dengan cowok lain, Dinda. Bagaimana kalau kamu dekat dengan cowok lain, dan ternyata cowok lain itu lebih segalanya dari Bary. Pastinya kamu akan membanding-bandingkan Bary dengan mereka. Lalu kamu mulai luluh dan dengan mudah kamu berpindah hati."
" Iya juga, sih. Tapi aku akan berusaha agar aku bisa setia kepadanya. Kami sudah berjanji untuk hidup bersama. Jadi, apapun rintangan yang akan kami hadapi, kami harus kuat dan tak mudah digoyahkan."
" Hahaha..aku nggak yakin, Dinda. Lihat saja ke depannya. Pasti kalian sulit untuk bersatu."
__ADS_1
" Jadi kamu meragukan kami? Baiklah, akan kami buktikan. Aku akan buktikan kesetiaanku kepadanya kelak"
" Hehe..ya sudah kalau begitu. Aku percaya padamu saja."
" Nah, begitu dong. Sesama teman harus mendukung."
" Hehehe..iya.."
...----------------...
Jam istirahat pertama selesai. Nindya yang sedang bersama Dinda di Perpustakaan, bergegas keluar dari Perpustakaan dan berlarian nenuju ke kelasnya.
Sebelum Dinda masuk ke dalam kelasnya, Ia melihat Bary berjalan bersama dengan murid perempuan. Mereka sedang berjalan menuju kelasnya sembari bercanda dan tertawa.
Perempuan itu memang cantik, namun Dinda lebih cantik darinya. Dinda pun berlari mendatangi Bary dan teman perempuannya.
" Bary!!! Siapa dia?! Kenapa kamu berjalan dengan cewek lain?!"
" Eh, Dinda.. Ini teman sekelasku. Namanya Vanya."
" Aku nggak butuh kenalan sama dia! Jadi kamu menyuruhku menjauh dari semua teman cowok, lalu kamu membebaskan dirimu bergaul dengan cewek manapun?!"
" Tunggu dulu, Dinda. Biarkan aku bicara, dulu. Tadi.."
" Kamu Curang!" ucap Dinda dengan keras lalu bergegas masuk ke dalam kelasnya dengan menahan air matanya yang hampir jatuh terurai.
" Dinda.." Bary mencoba mengejarnya namu Dinda terlanjur masuk ke dalam kelasnya.
" Jadi dia pacarmu? Wah..cantik juga orangnya. Sayangnya, cemburuan. Sudah, biarkan saja. Nanti atau besok kamu temui dia. Aku akan bantu kamu. Lebih baik sekarang kita masuk kedalam kelas."
" Terima kasih, Vanya. Mudah-mudahan dia masih bisa diajak bicara baik-baik. Baru kali ini aku melihat dia marah."
" Wajar saja.. Orang cemburu berhak marah, kan?"
" Iya juga."
Bary pun masuk ke ruang kelasnya menyusul Vanya. Langkah kakinya seakan berat mengingat apa yang baru saja terjadi. Ia memang menyuruh Dinda menjauh dari teman laki-lakinya. Dan Dinda pun menuruti perkataan Bary.
Kini Bary merasa sangat bersalah. Pikirannya sangat kacau. Ia berharap waktu cepat berlalu, agar ia bisa segera bertemu dengan Dinda dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
......................