Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Kena Marah


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, senja pun berlalu. Hari mulai petang. Namun cahaya yang timbul dari bumi, memantul hingga ke langit. Membuat seolah-olah, senja belum berakhir.


Bary dan Dinda pun masih berada disana. Usai shalat maghrib, mereka pergi ke tempat makan yang berada di atas perbukitan.


Suara canda tawa para pengunjung membuat Dinda seakan tak ingin pergi dari tempat itu. Berbeda saat ia berada dirumah. Hanya kesunyian yang selalu terdengar. Kirim chat sama Bary pun terkadang responnya lama. Ia selalu merasa hidup seorang diri.


Dan saat ini, ia ingin sekali meluapkan kebahagiaannya di tempat itu. Dia pun mulai bermanja-manja dengan Bary.


" Bary.."


" Iya, Din.."


" Kita duduk di sebelah sana saja, yuk. Sepertinya disana kita bisa lebih leluasa melihat hamparan kota yang dipenuhi cahaya."


" Boleh, ayuk.."


Mereka pun berpindah tempat dan menepi dari keramaian. Mereka hanya berdua namun tak terlalu jauh dari para pengunjung.


Dinda mulai duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Bary yang kokoh.


" Bary..kamu tahu nggak, malam ini aku sangat bahagia sekali."


" Benarkah? Kalau begitu aku berhasil."


" Hehe..iya, kamu berhasil merebut hatiku. Awalnya, aku nggak tahu bagaimana perasaanku kepadamu. Sekarang aku baru mengerti. Coba saja kalau kamu nggak pernah mengajakku ke tempat ini, pasti perasaanku masih seperti yang dulu."


" Memangnya perasaanmu yang dulu kepadaku itu seperti apa, Dinda?"


" Ya, aku merasa kita berpacaran hanya karena sebatas suka saja. Namun aku tak pernah merasa bahagia. Pokoknya, hatiku seperti belum bisa menerima hubungan kita."


" Jadi begitu, ya. Aku bahagia jika kamu bahagia, Dinda. Pokoknya aku ingin hubungan kita akan terus membaik sampai pada saatnya nanti."


" Aamiin.."


...----------------...


Tak terasa, waktu semakin larut malam. Namun keramaian di tempat itu membuat seolah hari masih sore. Dinda dan Bary pun larut dalam kebahagiaan mereka.


Tiba-tiba langit menjadi mendung, hujan pun mulai turun dengan lembut. Bary dan Dinda yang sejak tadi bercerita dan tertawa, lalu berpindah tempat mencari tempat berteduh.


" Bary, kita sebenarnya sudah lama nggak di tempat ini? Coba kamu lihat jam kamu." ucap Dinda.


" Oh, iya. Kita sampai lupa waktu. Biar aku lihat jam dulu."

__ADS_1


" Oke..aku takut kita kemalaman terus orang tua kamu marah-marah."


" Ya ampun...ini sudah jam sebelas malam. Dan sebentar lagi akan hujan deras."


" Apa? Lalu kita harus bagaimana? Apa kita pulang sekarang saja, yuk. Mumpung hujannya belum deras."


" Baiklah.. Kita akan pulang sekarang. Ayo, Dinda."


Bary kemudian menggenggam tangan Dinda dan membawanya turun dari Bukit. Namun, hujan turun semakin deras. Mereka kemudian berhenti dan berteduh sejenak di gubuk kecil di bawah bukit.


Kilatan petir menyambar-nyambar diiringi dengan hujan deras yang disertai angin kencang. Perasaan gelisah menyelimuti hati Bary. Yang ada dalam pikirannya saat ini, adalah bagaimana ia harus berkata pada kedua orang tuanya karena sudah hampir tengah malam, ia masih berada di luar rumah.


Ia kemudian melihat wajah Dinda yang sepertinya menahan ketakutan. Wajahnya yang diselimuti percikan-percikan kecil air hujan yang terbawa angin, membuat kecantikannya memudar. Wajahnya tampak putih pucat. Terlihat ketika kilatan cahaya petir muncul.


" Dinda..apa kamu kedinginan?" tanya Bary sembari mengusap rambut Dinda yang lembut.


" Bary..aku takut.." ucap Dinda lalu memeluk tubuh Bary.


" Tenanglah..jangan takut. Kita berdua disini. Aku akan menjagamu. Jangan khawatir." ucap Bary lalu menyeka air yang menempel di wajah Dinda dengan kedua tangannya.


Bary lalu melepas jaket yang ia kenakan untuk menyelimuti Dinda. Sementara ia membiarkan dirinya hanya memakai kaos lengan pendek yang tak mampu menahan dinginnya angin malam.


" Bary..tak usah. Aku nggak kedinginan. Lagipula aku sudah memakai jaket. Ini sudah membuat tubuhku hangat. Pakailah.. Aku takut nanti kamu malah masuk angin." ucap Dinda sembari melepas jaket yang dikenakan pada tubuhnya dan memberikannya lagi pada Bary.


" Aku lihat wajah kamu pucat. Aku nggak ingin kamu sakit. Jangan khawatirkan aku. Aku nggak akan kenapa-kenapa."


" Dari cahaya petir. Aku bisa melihatnya. Kita berdoa saja, semoga hujannya cepat berhenti dan aku akan langsung mengantarmu pulang."


" Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa ngantuk saja."


" Kalau begitu tidurlah.. Kalau sudah reda, aku akan membangunkanmu."


" Bagaimana aku bisa tidur di tempat ini. Tempatnya gelap dan banyak nyamuk."


Bary menghela nafas. Ia tahu mereka berada di tempat yang kurang nyaman. Betapa bodohnya dia menyuruh Dinda tidur ditempat seperti itu. Ia pun menjadi kesal sendiri. Dan memaki-maki hujan didalam hati.


" Ahh.. Kenapa mesthi turun hujan segala! Malam mingguku jadi berantakan! Aku merasa nggak enak sama Dinda. Menyebalkan!!" gumam Bary dalam hati.


Dinda melihat ke arah wajah Bary. Saat kilatan cahaya muncul, Bary terlihat mengernyitkan dahinya dan menggerutu. Tangannya pun menggenggam seolah ingin memukul sesuatu.


" Bary... Kamu kenapa?"tanya Dinda yang menjadi ketakutan saat melihat sikap Bary.


Bary terkejut. Hampir saja dia melampiaskan amarahnya dengan berteriak. Namun ia tersadar kalau ia sedang bersama Dinda. Dia pun menjawab tanya Dinda dengan tubuh gemetar dan suara yang agak berat.

__ADS_1


" Ah..tidak, Dinda. Aku hanya merasa sedikit kedinginan. Ada apa?"


" Jadi kamu kedinginan? Kalau begitu pakai saja jaketku. Aku sudah nggak kedinginan, kok."


" Tidak, Dinda. Aku sudah pakai jaket. Kalau pakai jaket kamu, yang ada aku malah jadi sumpek."


" Hemmh.." Dinda menghela nafas dan tak berkata-kata lagi.


Malam semakin meninggi namun hujan seakan tak mau berhenti. Bary tampak semakin gelisah. Biasanya jika malam belum sampai di rumah, Ayah atau Ibunya selalu menelponnya. Tapi kali ini tidak. Tak ada siapapun yang menelponnya. Berkali-kali ia melihat Ponselnya ketika Ia dan Dinda terdiam lama.


Dinda pun menjadi risih. Ia lalu menegur Bary.


" Bary.. Jangan main Handphone. Kamu tahu nggak, saat ini sedang hujan lebat dan petir menyambar-nyambar. Apa kamu mau kita tersambar petir?!" ucap Dinda dengan kesal.


" Ah..maaf, Dinda. Aku mengkhawatirkan orang tuaku. Biasanya kalau aku belum sampai dirumah, mereka selalu menelponku. Tapi sekarang tidak. Aku penasaran dengan sikap mereka."


" Jadi kamu kepikiran orang tuamu? Ya, mungkin saja mereka tidak menelponmu karena takut petir. Sudahlah..jangan memikirkan sesuatu yang aneh-aneh. Lebih baik kita berdoa supaya hujan ini cepat berhenti dan kita langsung bisa pulang."


" Baiklah, Dinda. Ayo kita lakukan." ucap Bary lalu terdiam dan mulai berdoa.


Tak lama kemudian, hujan pun berangsur-angsur berhenti. Dinda tampak senang dan bersemangat. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.


...----------------...


Usai mengantarkan Dinda, Bary dengan tubuh lemas berjalan menuju teras rumahnya. Sampai didepan pintu, Ia mengetok pintu. Namun beberapa kali diketok, tak ada siapapun yang membukakan pintu. Tak lama kemudian, Ayahnya datang dari Pos ronda.


" Bary! Darimana saja kamu?!"


" Eh, Ayah.. Maaf, aku terjebak hujan dan nggak bawa jas hujan." jawab Bary dengan gugup.


" Kemana kamu pergi?! Jika masih di sekitar sini, hujan sudah berhenti dari sehabis Isya!"


" Aku ke Taman, tapi bukan Taman yang dekat sini, Ayah. Aku hanya ingin membuat Dinda bahagia. Maafkan aku."


" Maaf..maaf! Tak ada kata maaf untukmu!"


" Tapi, Ayah. Kalau nggak terjebak hujan, sudah dari tadi aku pulang. Aku nggak punya pilihan lain selain menunggu hujan reda."


" Pokoknya, Ayah tak mau tahu! Ibumu dari tadi gelisah memikirkanmu, apa kamu nggak merasa?!"


" Aku tadi mau hubungi Ayah dan Ibu, tapi petir disana menakutkan. Dinda melarangku untuk membuka ponselku. Dia takut tersambar petir."


Bary mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia berharap Ayahnya mau memaafkannya. Namun Ayah Bary hanya terdiam lalu membuka pintu. Ia kemudian mengunci pintu dari dalam tanpa membiarkan Bary masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Bary menghela nafas panjang. Ia baru sekali ini melakukan kesalahan. Dan baru kali ini, Ayahnya marah besar kepadanya. Namun Bary hanya pasrah dan lebih memilih diam. Ia tak mau meneruskan kata-katanya lagi. Ia tak ingin Ayahnya semakin geram kepadanya dan membuat keributan. Ia tak ingin mengganggu Ibunya yang saat itu sudah tertidur pulas.


......................


__ADS_2