Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Untuk Bertemu Bary


__ADS_3

Hingga keesokan hari, Dinda belum bisa menenangkan dirinya. Pikirannya dipenuhi tentang Bary. Sampai-sampai, ia tak tidur semalaman.


Sikap Bary yang dingin kepadanya membuat pikirannya semakin kalut. Ia merasa Bary bukan pasangan yang baik lagi untuknya. Padahal sebelumnya, ia berjanji dengan Bary kalau akan menjadi miliknya sampai maut memisahkan.


Namun sikap Bary akhir-akhir ini membuatnya ragu. Dia ingin memutuskannya, namun dalam keadaan begini, ia tak berani mengatakannya pada Bary.


Ia pun berpikir keras mencari cara untuk menyudahi hubungannya dengan Bary. Tetapi ia tak tega. Bary lah yang selama ini menemani kesendiriannya. Bary sangat berarti dalam hidupnya pada waktu lalu.


Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Bary. Namun ia mengurungkan niatnya, setelah ia melihat chat yang ia kirimkan ke Bary, dari kemarin belum dibalas.


" Kenapa Si Bary itu? Sampai sekarang chatku belum dibalas. Padahal sudah centang dua, tapi kenapa dia nggak merespon, ya." gumam Dinda.


Ia mencoba menghubunginya lagi. Setelah panggilan yang ke tiga kalinya, ada yang mengangkat telponnya.


Dinda merasa cukup senang meskipun ia merasa deg-degan. Ia mengira itu Bary. Ia pun tiba-tiba berkata.." Bary..dari kemarin kamu ditelpon susah banget. Kemana saja sih, kamu. Mau mengabaikanku, ya?"


" Dinda, ya?" ucap Ibu Bary.


" Eh..ibunya Bary, ya. Maaf, Bu. Iya ini Dinda. Bary kemana ya, Bu?"


" Bary sedang sakit. Dari kemarin nggak mau makan. Makanya asam lambungnya naik. Sekarang dia hanya tiduran saja di kamarnya."


" Bary sakit? Aduh..kenapa dia nggak mau makan, Bu?"


" Ibu juga nggak tahu. Sepertinya dia sedang banyak masalah. Ibu mau tanya tapi nggak berani."


" Baiklah kalau begitu, Bu. Dinda mau ke rumah Ibu, ya."


" Boleh..tolong temani Bary, ya. Ibu mau keluar buka outlet."


" Iya, Bu. Hati-hati. Mudah-mudahan jualannya laris manis, ya Bu."


" Aamiin.. Oh iya, apa kamu nggak berangkat sekolah?"


" Sepertinya saya izin, Bu. Saya juga kurang enak badan juga."


" Jadi begitu. Kalau begitu lebih baik kamu istirahat saja dulu. Kalau nggak enak badan nanti kamu malah ketularan Bary. Nanti malah kalian sama-sama sakit."


" Enggak kok, Bu. Mungkin saya hanya kecapekan saja. Mudah-mudaha setelah bertemu Bary, hilang capeknya. Hehe.."


" Hehehe..kamu bisa saja, Dinda. Ya sudah kalau begitu Ibu tinggal dulu, ya."


" Iya, Bu. Terima kasih."


Tak berapa lama kemudian, sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah Dinda. Dinda lalu bergegas melihat siapa yang datang.


" Aduhh.. Nindya. Aduhh.. Aku lupa kalau kita akan berangkat dan pulang bareng ke sekolah." ucap Dinda panik.


" Ting Tong..." nindya memencet bel sambil memanggil Dinda.


" Iya.." sahut Dinda sembari membukakan pintu.


" Dinda.. kamu belum mandi?"


" Belum, Nindya.." ucap Dinda sembari merengek.

__ADS_1


" Kenapa? Kamu nggak masuk hari ini?"


Dinda menggelengkan kepalanya. Ia lalu memeluk pintu dan menyandarkan kepalanya pada pintu.


" Masalah yang kemarin, ya?"


Dinda menganggukkan kepalanya.


" Hemm..sudah ku duga. Terus bagaimana? Mau aku buatkan surat izin?"


" Boleh, Nindya. Besok saja kita pergi bareng. Aku lagi nggak bersemangat, ini."


" Aduuhh..pasti masalah cinta. Baiklah kalau begitu. Aku mau berangkat dulu, Din. Nanti aku buatkan surat izin untukmu."


" Terima kasih, Nindya. Hati-hati di jalan."


" Iya.."


...----------------...


Pukul delapan pagi, Dinda pergi menuju rumah Bary. Tiba di depan rumahnya, ia mengetok pintu. Tak ada yang membukakan pintu.


" Bary kemana, ya. Kenapa seperti nggak ada orang."


Usai berkata, tiba-tiba pintu terbuka. Dinda terkejut setengah mati. Bary keluar dengan raut wajah yang berantakan.


" Ada apa, Din?"


" Mau ketemu kamu. Boleh, kan?"


" Ya mau ngobrol dan yang lainnya. Kenapa tanya begitu?"


" Maaf aku lagi malas bicara."


" Malas katamu? Bary, kamu tahu nggak siapa yang ada di depanmu ini?"


" Nggak. Aku nggak kenal."


" Oh..jadi begitu. Baiklah, aku akan pulang."


" Tunggu.."


" Kenapa? Katanya nggak mengenalku?"


" Dinda.. Bisa nggak, kamu itu peka sedikit sama aku?"


" Memangnya selama ini aku nggak peka?"


" Menurutmu bagaimana?"


" Entah...aku nggak tahu."


" Mungkin aku ini nggak berarti untukmu, ya?"


" Kamu ngomong apa? Kenapa kamu bisa bilang begitu?"

__ADS_1


" Dinda..apa kamu nggak sadar? Selama kita sekolah disini, hubungan kita jadi berantakan. Selama kita disini, berapa kali kita ketemu?"


" Aku merasa hubungan kita baik-baik saja. Apa yang salah?"


" Yang salah itu kamu.. Kamu yang terlalu banyak bergaul dengan murid cowok lain."


" Kami hanya berteman. Apa itu salah? Lagi pula aku nggak berbuat yang macam-macam."


" Kenapa sekarang kamu berubah?"


" Aku nggak berubah. Aku masih sama seperti yang dulu."


" Kamu berubah, Dinda. Sejak kapan kamu bergaul dengan anak laki-laki? Padahal dulu hanya sama aku saja, kan?"


" Kenapa memangnya, Bary? Mereka semua teman-temanku. Apa aku harus menjauhi mereka?"


" Setidaknya kamu memikirkan perasaanku, Dinda. Aku saja menjaga diriku bergaul dengan cewek lain. Kenapa kamu malah sebaliknya?"


" Jadi kamu nggak suka aku berteman dengan cowok lain? Baik..kalau kamu nggak suka, bilang dari awal. Aku akan menjaga diriku untukmu."


Bary terdiam. Ia merasa dirinya terlalu menekan Dinda. Ia ingin menepis dan mengabaikan sikap Dinda, tetapi ia merasa akan berdampak pada hubungan mereka.


" Kenapa diam? Jadi aku harus jadi cewek yang bagaimana untuk kamu? Aku akan lakukan semuanya untuk kamu."


" Dinda..apa aku salah jika memintamu begitu? Menjauh dari teman-teman laki-laki."


" Hemm..mungkin saja. Tapi akan ku lakukan jika itu mau kamu. Aku tahu kamu pasti khawatir aku berpindah hati, kan?"


" Dinda, aku mengorbankan diriku belajar ke luar negeri demi menemani kamu disini. Aku tak seharusnya seperti ini. Tapi demi kamu, aku melakukannya. Karena aku sayang sama kamu."


" Hehe.. Terima kasih, Bary. Kamu sudah rela berkorban demi aku. Aku juga sayang sama kamu."


" Dinda.. mau nggak kalau setelah tamat sekolah, kita menikah?"


" Hehehe..kenapa buru-buru? Ini saja kita baru kelas X. Jangan berpikir terlalu jauh dulu. Mending kita jalani saja yang sekarang. Masalah menikah pikir besok saja."


" Aku serius, Dinda. Kita harus memikirkan masa depan hubungan kita."


" Bary.. Aku belum bisa memberikan jawaban kalau soal itu. Lebih baik kita nikmati saja hubungan kita ini. Sementara berjalan seperti ini dulu. Kalau sudah mendekati waktunya, baru kita pikir lagi."


" Kenapa? Dulu sejak pertama kita pacaran kamu bilang kalau kita akan pacaran hingga menikah. Lalu sekarang saat aku tanyakan lagi tentang pernikahan, kamu bilang belum bisa memberikan jawaban. Dinda..apa kamu serius denganku?"


" Aduh..Bary.. Aku serius. Aku juga sayang banget sama kamu. Tapi kita itu masih sekolah. Jangan berpikir terlalu jauh. Yang ada nanti kita bisa cepat tua karena memikirkan masalah ini."


" Dinda..aku ingin kalau sudah menikah nanti, kita sudah punya rumah. Jadi kita nggak perlu tinggal di rumah orang tua atau malah kontrak."


" Baiklah.. Nggak apa-apa kalau kamu berpikir begitu. Tapi aku mau fokus belajar dulu. Nggak mau berpikir yang tidak-tidak. Kalau mau nikah, tinggal bilang sama orang tua ku saja."


Dinda terus berkelit ketika Bary membahas tentang pernikahan. Bary menjadi ragu sama Dinda. Ia pikir Dinda akan mendukungnya. Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Dinda memang cantik dan pintar. Tapi jika dibanding dengan Rista, kepeduliannya sangat berbeda. Kini Bary mulai menyadarinya.


Ia kemudian membandingkan Dinda dengan Rista. Dari segi apapun, Rista kalah jauh. Bary tak melihat sesuatu yang menarik dalam diri Rista. Namun Rista jauh lebih menghargai Bary dibanding Dinda. Tapi kemudian ia menepiskan pikiran itu. Walau bagaimanapun Rista akan tetap menjadi temannya dan bukan menjadi pasangannya.


Setelah memiliki Dinda, ia bertekad akan terus mempertahankan hubungannya dengan Dinda.


......................

__ADS_1


__ADS_2