
Usai pulang dari sekolah, Bary pergi ke rumah Rista. Ia memenuhi permintaan Rista yang memintanya untuk menemui Rista di rumahnya. Ia pun mulai mengetuk pintu rumah Rista saat sudah berada di depan rumah.
Rista berjalan dari kamar lalu membukakan pintu untuk Bary.
" Masuk, Bar.." pinta Rista.
" Terima kasih, Rista."
" Kamu duduk dulu. Aku mau buatkan minum untukmu."
" Eh, tidak usah. Nggak usah repot-repot. Lagi pula aku nggak akan lama, kok."
" Oh, begitu. Baiklah kalau kamu nggak mau."
" Rista..kita langsung ke masalah yang tadi kamu katakan. Katanya kamu memintaku untuk kerumah dan ingin mengatakan sesuatu padaku. Apa itu, Rista?"
Rista terdiam. Seharusnya Bary menerima tawaran Rista untuk minum agar suasana tak menjadi kaku. Namun Bary menolak. Itu sudah membuat konsentrasi Rista menjadi sedikit berkurang.
" Sebaiknya kita sambil minum, Bar. Aku ngerasa ada yang kurang kalau ada tamu, tapi tak dikasih suguhan."
" Nggak usah merasa nggak enak sama aku, Rista. Kita kan, sudah berteman dari kecil. Aku sudah terbiasa kemari. Nggak perlu setiap aku kemari selalu diberi suguhan."
Rista menghela nafas. Memang Bary tak mau berbasa basi. Padahal ia ingin bertemu Bary dan berbicara dengan penuh kehangatan. Tetapi sepertinya rencananya meleset.
Wajah Bary seakan mendung namun berwarna kemerahan. Didalam hati Bary tersimpan rasa benci yang besar kepada Rista. Ia tak habis pikir, kenapa adanya Rista seperti penghalang antara hubungannya dengan Dinda.
" Baiklah.. Sebelumnya, aku mau tanya sesuatu dulu sama kamu. Tapi, jawab dengan jujur. Jangan berbohong lagi."
" Tanya apa? Aku nggak akan berbohong dirumahmu."
" Apa sebenarnya kalian sudah pacaran?" tanya Rista.
Hati Bary menjadi berdebar mendengar pertanyaan Rista. Mulutnya seakan tak mampu berkata-kata. Namun pikirannya seakan berlarian kemana-mana.
" Kenapa, Bary? Kenapa diam?"
Kembali pertanyaan Rista membuat pikiran Bary menjadi semakin tidak karuan. Padahal ia sangat benci dengan Rista. Namun ketika Rista memberinya pertanyaan tentang hubungannya dengan Dinda, Ia seakan takut dan rasa bencinya mendadak hilang. Berubah menjadi ketakutan yang sangat besar.
" Eh..nggak.. Siapa yang bilang kalau aku pacaran sama Dinda?" tanya Bary dengan suara gemetar.
Rista mendekati Bary. Ia lalu menatap mata Bary. " Bohong, kan?"
" Ah..enggak. Aku nggak bohong."
" Bary..selama kita sahabatan, kita tak pernah sedikitpun berbohong. Aku juga nggak pernah bohongi kamu dalam hal apapun. Tapi, sekarang kamu berbeda. Kamu banyak menyembunyikan sesuatu dariku."
" Sudah ku katakan aku nggak bohong!" kali ini Bary bersuara keras. Ia merasa kesal karena Rista mencurigainya dan apa yang dicurigai Rista adalah benar.
__ADS_1
" Baiklah.. Nggak perlu teriak. Kalau kamu memang nggak pacaran sama Dinda ya sudah. Nggak usah marah-marah.
" Bagaimana aku nggak marah? Dekat saja, kamu menghalangi hubunganku dengannya. Sementara ini aku membatasi bergaul dengan Dinda, kamu bilang aku pacaran dengannya. Kamu itu terlalu berlebihan."
" Jadi semua gara-gara aku?!" Rista pun mulai naik darah. Ia merasa selama ini dia lah penyebab Dinda menjauh dari Bary.
" Iya! Gara-gara kamu aku nggak bisa mendapatkan Dinda seutuhnya. Kami selama ini hanya berteman seperti teman yang lainnya. Itu semua karena Dinda merasa nggak enak sama kamu! Aku sudah berusaha meyakinkan dia tak perlu mengurusi Rista. Tapi tetap saja dia masih memikirkan perasaanmu!"
" Jadi benar.. Semua gara-gara aku. Kenapa? Kenapa aku yang disalahkan? Bukankah aku sudah bilang kalau aku sudah nggak akan ganggu hubungan kalian?"
" Tapi dia masih memikirkan perasaaanmu!"
" Bary! Dengarkan aku.. Mulai saat ini, aku nggak akan pernah ganggu hubungan kalian.. katakan pada Dinda, jangan merasa nggak enak padaku. Aku bisa kok, cari pasangan lain yang lebih baik."
" Rista.. Aku minta maaf.. Hubungan kita jadi seperti ini."
" Tak perlu meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu. Aku lah yang salah. Seharusnya aku nggak perlu memiliki perasaan kepadamu."
" Rista.."
" Pulanglah, Bary. Aku sudah selesai bicara denganmu. Sampaikan salamku pada Dinda. Mungkin mulai hari ini kita nggak akan pernah bertemu lagi. Tolong sampaikan maafku padanya. Aku berjanji, nggak akan mengganggu kalian. Aku akan pergi jauh mengejar mimpiku."
" Jadi kamu akan tetap meneruskan pendidikan ke luar negeri?"
" Iya..seperti apa yang pernah aku katakan padamu. Aku nggak akan pernah menyerah dengan keinginanku bisa belajar ke luar negeri."
" Rista... Apa kamu akan melupakanku?"
" Apa kamu akan membuang perasaanmu padaku?"
Rista menghela nafas. Ia tak tahu kenapa Bary tiba-tiba bertanya begitu kepadanya. Ia pun bingung harus menjawab apa. Namun setelah ia mencoba menenangkan dirinya, dia mampu menjawab pertanyaan Bary.
" Bary... Jujur aku sangat sayang kepadamu. Sebenarnya aku malu untuk mengatakannya. Tapi karena ini adalah hari-hari terakhir kita bertemu, aku akan mengatakannya padamu. Aku benar-benar nggak bisa melupakan perasaanku kepadamu. Sudah sejak lama aku mengagumi dan menyukaimu. Hingga sampai saat ini rasa itu masih ada dalam hatiku."
" Tapi kamu tahu sendiri, kan? Orang yang ada dihadapanmu ini nggak bisa menerima cintamu."
" Yaa..aku sadar siapa diriku ini. Aku tak lebih cantik dari Dinda. Aku tak lebih pintar dari Dinda, dan aku tak lebih kaya dari Dinda. Aku ini bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan Dinda. Dia itu cewek yang sempurna. Tak mempunyai kekurangan."
" Rista..aku tak berpikir membanding-bandingkanmu dengan Dinda. Aku hanya tak bisa memiliki perasaan kepadamu. Karena aku memang nggak bisa. Aku nggak bisa memaksa diriku untuk menyukaimu, Rista. Maafkan aku."
" Nggak apa-apa, Bary. Sudahlah...pulanglah. Aku masih ada yang ingin aku kerjakan."
" Aku belum selesai, Rista. Lalu apa kamu akan melepasku dan membiarkanku menjadi milik cewek lain?"
" Saat ini pun bukankah kamu sudah menjadi pasangan Dinda, kan?"
Bary menundukkan kepalanya. Ia ingin berkata jujur namun takut Rista semakin marah kepadanya."
__ADS_1
" Eh.. Iya aku sudah pacaran sama Dinda semenjak semester pertama di kelas VII. Namun kita tetap berusaha seperti teman biasa. Nggak seperti pasangan yang lain.
" Jadi benar kamu sudah pacaran sama Dinda. Bagus, ya. Kalian bisa menutupi hubungan kalian dengan sempurna."
" Sekali lagi aku minta maaf, Rista. Karena nggak bicara jujur padamu. Aku nggak ingin kehilangan Dinda. Namun saat Dinda menjadi pacarku, dia tak ingin siapapun tahu kalau aku ini pacarnya. Aku nggak bisa berbuat apa-apa, Rista. Terpaksa aku membohongimu."
" Nggak apa-apa Bary. Cuma, aku punya satu pertanyaan lagi untukmu."
" Apa itu, Rista?"
" Apa kamu sangat mencintai Dinda?"
" Iya..aku sangat mencintainya. Karena dia, aku selalu bersemangat di setiap hariku."
" Apa Dinda sangat mencintaimu?"
" Kami saling mencintai. Kami sudah memutuskan kalau sudah Tamat SMA, kami akan menikah."
Rista tertawa kecil mendengar kata-kata Bary. Awalnya ia mencoba menahan tertawanya. Namun pada akhirnya ia bisa tertawa lepas.
" Hahaha...menikah?"
" Iya.. Kenapa?"
" Nggak apa-apa. Hehe.."
" Kenapa tertawa? Memangnya nggak boleh kami memiliki tujuan kesana?"
" Boleh, tapi.."
" Tapi kenapa, Rista?"
" Aku rasa hubungan kalian nggak akan bertahan lama."
" Kenapa kamu yakin bakal seperti itu?"
" Hehe..aku hanya bilang saja. Mudah-mudahan dugaanku nggak benar."
" Lihat saja nanti. Aku akan buktikan kalau cinta kami serius." ucap Bary dengan penuh percaya diri.
" Baiklah... Aku nggak akan menghalangi hubungan kalian. Oh iya, jika kalian kelak akan menikah, jangan lupa undang aku."
" Ya..."
" Oh iya, kalau nanti atau besuk bertemu Dinda. Sampaikan padanya kalau sampai saat ini aku masih temannya. Maafkan aku kalau aku pindah tempat duduk setelah sebelumnya kami duduk dalam satu meja. Jangan lupa, Bary. Katakan itu kepadanya."
" Hemm..baiklah. Aku pulang dulu."
__ADS_1
Bary pun meninggalkan rumah Rista. Ia bergegas berlari untuk pulang ke rumahnya. Ia tiba-tiba teringat, Ibunya memintanya untuk membelikan tepung untuk membuat ayam goreng.
......................