
Sebenarnya Dinda percaya Bary adalah cowok yang baik. Bary tak mungkin melakukan sesuatu yang buruk terhadap Dinda. Namu ia hanya memastikan keyakinannya dengan menanyakan langsung kepada Bary.
Setelah Bary mengatakan yang sebenarnya, Dinda menjadi sedikit malu. Ia merasa kalau ucapannya, seakan menuduh Bary telah berbuat yang tidak senonoh pada Dinda. Namun Bary mengerti apa yang dikatakan Dinda. Ia sama sekali tak marah bila Dinda berpikiran buruk terhadapnya.
" Bary..maafkan aku. Sebenarnya aku nggak ingin membahas masalah ini. Tapi aku penasaran. Di sisi lain, aku nggak percaya kalau kamu nggak melakukan apapun terhadapku. Aku berpikir kamu pasti punya niat yang nggak baik dihatimu. Tapi aku yakin jika kamu punya niat nggak baik pun, kamu nggak akan mau melakukannya kepadaku."
" Dinda... Kamu itu bicara apa? Aku sama sekali nggak ada pikiran untuk berbuat yang nggak baik sama kamu. Niat pun nggak ada. Aku murni menolongmu saat kamu pingsan. Kamu pikir, aku nggak khawatir melihatmu ambruk dijalan saat berjalan bersamaku? Aku khawatir..aku takut kamu kenapa-kenapa."
" Iya Bary..aku percaya, kok. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Dan juga sudah menolongku. Aku nggak tahu kalau nggak ada kamu, bagaimana nasibku."
" Sama-sama, Dinda. Sudahlah..jangan bahas itu lagi. Sekarang aku mau dengar, apa yang ingin kamu katakan kepadaku? Sekarang saja jangan tunggu nanti."
" Oh..itu.. Aku mau mengatakan sesuatu."
" Sesuatu? Apa itu?"
" Eh..anu..aku lupa mau bilang apa."
Dinda mendadak bingung. Ia tak tahu harus mulai darimana untuk bicara dengan Bary. Sebelumnya, ia sudah menata kata-katanya untuk bicara dengan Bary. Namun setelah ia bertemu Bary, kata-kata yang telah ia persiapkan menjadi hilang.
Sikap Dinda membuat Bary penasaran. Namun demikian, wajah bingung dan gugup Dinda malah tambah membuat Dinda semakin mempesona.
Sembari menunggu jawaban dari Dinda, Bary memandangi wajah merona Dinda yang sangat luar biasa. Ia berandai-andai jika kelak Dinda menjadi istrinya. Ia pun mulai tersenyum-senyum sendiri sembari memandangi wajah Dinda.
Tiba-tiba saja saat Bary belum berhenti dengan angan-angannya, Dinda menarik telinga Bary. Bary pun mengaduh meskipun tak begitu sakit, namun ia masih sempat tertawa.
" Apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan bilang kamu memikirkan sesuatu yang jahat, ya?"
" Aduh..lepaskan dulu telingaku. Bagaimana aku mau bicara."
" Ihhh... Kamu itu pasti memikirkan yang tidak-tidak terhadapku, kan? Ayo ngaku!"
" Enggak..sumpah. Aku nggak berpikir sejauh itu. Jangan berpikir negatif terus sama aku. Yang ada nanti malah kamu takut sama aku dan menjauh dariku."
" Salah sendiri..biarkan saja kalau aku menjauh. Aku juga nggak akan kesepian jika jauh dari kamu."
" Serius???"
" Hehe..nggak. Aku bercanda."
" Hemm..."
" Kenapa? Jangan cemberut begitu. Aku nggak serius."
__ADS_1
" Padahal aku sangat berharap banyak padamu. Tapi dengan kata-katamu tadi, aku jadi ragu."
" Bary..maafkan aku. Aku hanya bercanda. Jangan sedikit-sedikit ngambek kaya begitu."
" Aku nggak ngambek..hanya putus asa saja."
" Ayo, dong. Aku mengajakmu kesini untuk membahas sesuatu yang sangat penting. Aku berharap bisa membuatmu lebih tenang dan nggak suka ngambek lagi."
" Apa memangnya?"
" Hemm..baiklah, aku akan katakan kepadamu."
" Ya sudah, ayo katakan."
" Sabar dulu. Aku tarik nafas dulu."
Dinda menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menata kembali, kata-kata yang perlahan mulai muncul dalam ingatannya.
Sementara Bary telah menunggu Dinda bicara. Ia tak sabar mendengar apa yang ingin Dinda katakan kepadanya. Ia sangat berharap, Dinda mengatakan sesuatu yang membuatnya bahagia. Namun jika Dinda ingin mengatakan sesuatu yang membuatnya patah, ia telah siap dengan sekuat tenaga.
" Bary.."
" Iya.."
" Pertama-tama, aku ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang telah ku perbuat padamu. Kata-kataku yang mungkin sudah kelewatan dan membuatmu jengkel. Mungkin hari ini pun, kamu masih jengkel terhadapku. Tapi aku sangat berharap kamu mau memaafkan aku. Aku berharap kamu tak membenciku."
" Terima kasih, Bary. Aku pikir kamu akan membenciku dan menjauhiku lagi. Aku nggak ingin kita saling berjauhan."
" Aku juga nggak ingin jauh darimu, Dinda. Aku.."
" Kenapa, Bary?"
" Ah sudah... Lupakan saja. Lalu apa hanya itu yang ingin kamu bicarakan?"
" Enggak.. Masih ada satu lagi."
" Apa?"
" Tentang hubungan kita."
" Maksudnya?"
Hati Bary mulai bergetar. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia seakan berada dalam satu antrian. Dan saat itulah dia mendapatkan gilirannya untuk maju ke depan.
__ADS_1
" Setelah aku pertimbangkan, Aku mau kita pacaran. Tapi, hanya sekedarnya saja. Kita akan jalan layaknya sahabat seperti biasanya. Apa kamu keberatan?"
Mendengar kata-kata Dinda, Bary seakan diterpa hujan deras di tengah musim kemarau. Hatinya yang panas kini mulai dingin. Ia tak tahu harus senang atau susah. Kata-kata Dinda yang mengandung syarat membuatnya tak bisa lega seutuhnya. Namun ia harus bisa menghargai pilihan Dinda. Baginya, pacaran namun sebatas sahabat akan membuat hubungan yang sehat.
" Aku nggak keberatan, Dinda. Aku senang kamu mau mengatakannya." ucap Bary dengan suara yang berat.
" Bary.. Kamu nggak suka dengan kata-kataku?"
" Suka.."
" Bary.. Kenapa aku memilih pacaran namun hubungan kita seperti sahabat seperti biasanya. Apa kau tahu alasanku?"
" Aku nggak tahu." ucap Bary sembari menatap ke arah jalan dan tak melihat ke arah Dinda.
" Karena Rista. Aku tak mungkin membiarkan dia terluka melihat kita. Apalagi mendengar kita sudah pacaran. Pasti dia sangat sakit. Kita tunggu hubungan kita berjalan seperti ini dulu. Nanti kalau sudah waktunya, kita akan berjalan layaknya seorang pacar. Apa kamu mau menerima keputusanku? Apa kamu mau menerimaku?"
" Kenapa harus memikirkan Rista lagi sih, Dinda? Berhentilah untuk memikirkan dia. Berhenti untuk mengasihani dia. Dia sendiri sudah bilang kalau sudah mengikhlaskan kita. Jangan jadikan dia sebagai penghalang hubungan kita."
" Bary... Aku dan Rista itu sama-sama cewek. Jadi aku tahu perasaan dia. Aku berpikir bagaimana jika aku di posisi dia, pasti aku juga sakit hati. Tunggu sampai Rista bisa menemukan pasangannya, baru kita akan terbebas dari penghalang hubungan kita."
" Terserah kamu saja, Din. Aku nggak ngerti harus bagaimana. Di sisi lain aku jengkel karena Rista, namun dia juga sahabatku dari kecil. Aku nggak bisa membencinya, meskipun aku tahu dia yang menyebabkan kita harus seperti ini. Pokoknya apapun keputusanmu, aku akan menerimanya."
" Bary.. Kamu yakin dengan sikapmu yang seperti ini akan membuat hubungan kita baik-baik saja?"
Bary terdiam. Ia mulai mengacuhkan Dinda. Namun ia masih mendengar apa yang barusaja Dinda katakan. Namun ia enggan untuk menanggapinya.
Dinda pun juga terdiam. Ia sebenarnya hanya ingin membuat hubungannya dengan Bary akan menjadi lebih baik. Namun ia mulai malas menghadapi sikap Bary yang terus-terusan membuat Dinda, tak nyaman berada di dekatnya.
Hingga beberapa menit berlalu, Dinda dan Bary hanya duduk dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Bary menyibukkan dirinya dengan mencabuti rumput taman yang ada di sekitarnya. Ia memutar-mutar rumput itu. Lalu ia memotongnya hingga menjadi kecil-kecil.
Sementara itu, Dinda terus melihati tingkah Bary yang sibuk dengan dirinya sendiri, dan tak mau lagi mengatakan sepatah katapun kepadanya.
" Ya Tuhan... Aku harus bicara apalagi pada Bary. Aku bingung. Apa Bary sekarang sudah menjadi Pacarku? Tapi ia sama sekali nggak senang dengan keputusanku. Apa hubunganku dengannya layak disebut pacaran?" gumam Dinda dalam hati.
Tak lama kemudian, tiba-tiba Bary berdiri. Sontak saja Dinda menjadi kaget karena Bary berdiri dengan sangat cepat. Bary lalu meraih tangan Dinda.
" Ayo kita pulang."
" Eh..pulang?" ucap Dinda sembari melihat tangan Bary yang memegangi lengannya.
" Kenapa? Nggak boleh pegang tangan lagi?" ucap Bary dengan sedikit ketus.
" Eh..boleh, tapi jangan lama-lama." jawab Dinda dengan gugup.
__ADS_1
" Ternyata kamu itu memiliki banyak aturan, ya. Baiklah...mungkin itu akan melindungimu dari sesuatu yang buruk." ucap Bary lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Dinda yang masih terpaku di tempatnya.
......................