
Jam istirahat kedua selesai. Dinda dan Rista kembali ke kelasnya. Bary terlambat masuk kelas karena ia keasyikan membaca buku di perpustakaan. Andai Guru penjaga perpustakaan tidak memberitahunya, ia pasti masih bertahan di perpustakaan sendirian.
Lima belas menit berlalu, tak ada Guru yang datang. Ini membuat suasana dalam kelas menjadi seperti di pasar. Kegaduhan yang mereka lakukan mengganggu kelas sebelah. Sang Guru Budi yang saat itu mengajar dikelas VII B, merasa terusik. Ia lalu mendatangi kelas VII A, untuk melihat apa yang terjadi.
" Ada apa, ini?! Kenapa pada ribut?!" teriak Budi dengan keras.
Semua murid menjadi terdiam. Mereka yang semula berkumpul dalam satu meja, kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Bary yang duduk paling ujung, di depan meja Guru menjawab, " Guru yang mengajar kami belum datang, Pak."
" Siapa yang mengajar?"
" Bu Endang, Pak."
" Sudah ke Ruang Guru?"
" Belum, Pak."
" Coba kamu cari di ruang Guru. Bu Endang Ada atau tidak, kalau tak ada minta Kepala sekolah untuk mengisi kekosongan di kelas ini." ucap Budi, Sang wali kelas VII A.
" Baik, Pak." ucap Bary lalu bergegas berlari kecil menuju ruang Guru.
" Kalian tunggu sampai Bary kembali kemari. Jangan gaduh.. Suara kalian mengganggu kelas sebelah." ucap Sang Wali kelas.
" Baik, Pak." ucap anak kelas VII A serentak.
Tiba di Ruang Guru, Bary tak menjumpai siapapun. Ia lalu mencari Kepala Sekolah di Ruangannya. Namun ia tak menemukan juga. Ruang Kepala sekolah terkunci. Dan tak ada siapapun di dalam. Ia lalu menemui Guru Budi di kelas VII B.
" Tok tok tok..." Bary mengetok pintu.
Beberapa murid cewek teriak histeris melihat kedatangan Bary. Namun Budi menenangkan mereka.
" Maaf, Pak mengganggu waktunya sebentar." ucap Bary di depan pintu kelas VII B yang terbuka.
" Kenapa, bary? Sudah ketemu Gurunya?" tanya Budi sembari berjalan menghampiri Bary.
" Bu Endang tidak ada di Ruang Guru, Pak. Pak Kepala sekolah juga tidak ada. Pintunya terkunci." jawab Bary.
" Oh, iya.. Kepala sekolah ada rapat dengan Kepala sekolah lain se Kabupaten. Pantas saja dia tak datang. Kalau begitu, kalian pergi saja ke Perpustakaan. Kalian bisa belajar apa saja disana. Tapi ingat, jangan gaduh."
__ADS_1
" Baik, Pak.." ucap Bary.
Sebelum Bary meninggalkan kelas VII A, anak cewek paling ujung menyapa Bary.
" Bary.." ucap cewek itu sembari tersenyum.
Sontak saja murid cewek yang lain juga memanggilnya. Suasana dikelas menjadi ramai kembali. Sang Guru Budi menggebrak meja hingga membuat semua terdiam.
" Jangan berisik! Kalau mau ribut, keluar!" teriak Sang Guru Budi.
Mereka menurut, dan diam tanpa kata. Mereka tak menyangka, Guru yang masih terlihat muda itu galak luar biasa. Beruntung mereka tak mendapatkan wali kelas seperti Budi.
...----------------...
Sementara itu murid-murid kelas VII A berbondong-bondong meninggalkan kelas mereka menuju Perpustakaan. Bary berjalan paling depan dan diikuti Dinda di sampingnya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang berjalan berdampingan. Tak jarang mereka berjalan sambil saling pandang dan tersenyum tanpa berkata.
Teman mereka di belakang merasa iri melihat kedekatan mereka. Sebagian cewek iri melihat Dinda dekat dengan Bary. Dan sebaliknya, sebagian anak laki-laki merasa iri melihat Bary dekat dengan Dinda. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Terkadang mereka harus pura-pura senang melihat kedekatan mereka, padahal mereka tak suka dengan kedekatan Bary dan Dinda.
Tiba di Perpustakaan, terlihat Bary sedang membaca buku Berjudul Rahasia Sukses Menjadi Pengusaha di Usia Muda. Ia menemukan buku itu saat jam istirahat tadi. Memang ia belum sempat menyelesaikan membaca buku itu. Karena jam pelajaran terakhir adalah jam kosong, ini adalah kesempatannya untuk kembali melanjutkan pelajaran dari Buku itu.
Ia kemudian mencari tempat duduk yang nyaman untuk dirinya membaca buku itu. Menjauh dari teman-temannya yang terlihat sibuk membaca buku yang mereka sukai.
" Eh, Bary..kenapa kamu duduk menyendiri disini?" tanya Dinda yang saat itu tak sengaja mendapati Bary yang duduk lesehan sendiri di sudut perpustakaan.
" Eh, Dinda. Nggak apa, aku hanya ingin menyendiri saja. Biar buku yang ku baca bisa ku pahami."
" Iya memang, lebih enak kalau sendiri. Kalau gabung sama teman pasti bacanya jadi nggak fokus. Jadi percuma kita baca berulang kali tapi nggak masuk dipikiran."
" Benar..itu juga salah satu alasanku. Hehe.."
" Kalau begitu aku kesana dulu, ya. Takut ganggu kamu." ucap Dinda dan bermaksud meninggalkan Bary sendirian.
" Eh, Dinda.. Aku nggak merasa terganggu, kok. Kamu jangan pergi, ya." ucap Bary sembari menahan tangan Dinda yang sempat ingin meninggalkannya.
" Eh..katanya kamu lebih fokus kalau baca buku sendirian. Kalau ada aku, yang ada nanti kita malah banyak ngobrol dan nggak fokus dengan buku yang kita baca."
" Beda kalau sama kamu, Dinda. Kamu nggak menggangguku. Malah, kamu akan menggangguku kalau kamu jauh dariku..hehe.."
" Hahaha.. Bary, kamu ngomong apa? Kayaknya ada yang mau ngegombal, nih."
__ADS_1
" Hahaha..enggak, aku serius."
Dinda menatap wajah Bary. Senyumnya yang indah yang tak dimiliki oleh anak seusianya sangat membuat hatinya teduh. Padahal ia juga memiliki senyum yang sama yang membuat hati banyak anak cowok meleleh.
Akhirnya Dinda bertahan dan duduk lesehan di samping Bary. Namun mereka masih menjaga jarak. Mereka tak ingin ada yang menuduh mereka berbuat yang tidak-tidak.
Tak berapa lama, Arista memergoki mereka berdua. Ia lalu memanggil Dinda dan Bary.
" Kalian berdua sedang apa disini? Hayo..pasti ada sesuatu, nih." ucap Rista sembari tersenyum.
" Kami sedang baca buku, kok. Lihat saja, kami sedang pegang buku." sanggah Bary sambil mengangkat Bukunya.
" Iya, Rista. Kami sedang membaca. Kebetulan kami memiliki kebiasaan yang sama kalau di Perpustakaan. Suka baca lesehan di pojok."
" Iya, aku sih nggak apa. Tapi bagaimana kalau teman yang lain sirik dengan kalian dan melaporkan pada Guru. Kan, bisa gawat."
" Oh.. Maaf, Rista. Kami nggak berpikir sampai sejauh itu." ucap Dinda.
" Nggak apa, Din. Kalau begitu lebih baik kalian jangan sembunyi disini. Lebih baik duduk ditempat yang terlihat saja. Disini kan tertutup, nggak baik kalau dilihat yang lain."
" Hemhh.. Iya sudah, Rista. Aku akan cari tempat duduk lain." ucap Bary lalu pergi.
" Bary, kamu mau kemana?" tanya Dinda sembari menahan tangan Bary.
Rista merasa sedikit cemburu melihat Dinda memegang tangan Bary. Ia pun meminta Dinda untuk melepas tangan Bary.
" Sudah jangan ditahan, kamu mau ikut sama Bary?" tanya Rista.
" Eh.. Enggak, Rista. Aku cuma.."
" Cuma apa, Dinda?"
" Dinda.. Aku mau baca buku ini di luar. Mungkin disana lebih nyaman lagi." ucap Bary lalu keluar meninggalkan perpustakaan.
" Dinda..kenapa nyuekin aku?" ucap Rista kesal.
" Eh.. maaf, Rista. Aku juga mau ikut di luar." ucap Dinda lalu menyusul Bary keluar.
" Hemhh...mereka seperti nggak suka sama kata-kataku. Apa aku salah menegurnya. Apa mungkin mereka tahu kalau aku nggak suka dengan kedekatan mereka. Seharusnya aku senang kalau mereka dekat. Dan seharusnya aku mendukung kedekatan mereka. Tapi kenapa hati kecilku tak rela. Padahal Bary bukan cowok satu-satunya di kelas ini. Dan aku tahu, aku nggak bisa suka kepadanya. Tapi kalau dia dekat dengan Dinda, rasanya sakit bangett.." gumam Rista.
__ADS_1
......................