
Tanpa berlama-lama, Dinda dengan cepat berganti baju. Ia tak perlu memakai wangi-wangian lagi karena sudah memakainya setelah mandi. Ia juga tak perlu memakai bedak ataupun perawatan wajah karena wajahnya sudah putih dan cantik alami.
" Ayo berangkat.." ucap Dinda.
Bary yang sejak tadi termenung sembari melihat ke arah jalan, terkejut mendengar ucapan Dinda yang tiba-tiba.
" Ah.. Mengagetkan saja kamu, Din."
" Hehe..salah siapa melamun. Aku juga nggak ada niat membuatmu kaget."
" Kamu cantik sekali... Memang cocok menjadi istriku. Hehe.."
" Ihh..jangan gombal, ya. Sudah, ayo.. Nanti keburu petang."
" Iya..baik Tuan Putri."
" Ah..Tuan Putri? Biasa saja, Bary." ucap Dinda sembari tersenyum.
Ia pun menggandeng tangan Bary dan berjalan keluar pagar. Ia memandangi motor Bary lalu bertanya padanya.
" Ini motor siapa, Bar? Baru, ya?
" Yah..lumayan baru. Baru dipakai beberapa hari. Itu punya Ayahku."
" Oh, aku kira punya kamu sendiri. Memangnya boleh dipakai buat jalan-jalan?"
" Punyaku lagi OTW alias on the way. Hehe.. Ya boleh lah.. Masa buat anaknya nggak boleh."
" Ya siapa tahu nggak boleh. Atau jangan-jangan kamu nyolong-nyolong ya? Tanpa sepengetahuan Ayah kamu."
" Apa? Aku izin sama Ayah. Ada Ibu juga bersamanya. Mana mungkin aku nyolong-nyolong. Yang ada malah kita nanti kenapa-kenapa dijalan."
" Hushh..jangan bicara sembarangan. Nanti kalau ada apa-apa beneran bagaimana?" ucap Dinda sambil menabok punggung Bary.
" Iya, maaf.. Jadi berangkat nggak, ini? Kalau nggak jadi, ya turun saja."
" Jadi..ihh..."
" Ya sudah kalau jadi, jangan bicara terus. Nanti malah nggak jalan-jalan."
Akhirnya, Dinda kesampaian juga menikmati malam minggu dengan Bary. Dalam hati ia tertawa-tawa. Ia tak pernah menyangka kalau Bary akan membuatnya terkejut.
Saking bahagianya, tangannya seolah menariknya untuk memeluk Bary. Ia merasakan kehangatan tubuh Bary yang berada di depannya.
Namun berbeda dengan Bary. Saat Dinda memeluknya, ia malah merasa gelisah. Pelukan Dinda membuatnya seakan melayang. Pikirannya menjadi tak stabil.
Ia pun melepas tangan Dinda dengan perlahan menggunakan tangan kirinya.
" Kenapa dilepas?" tanya Dinda. Ia heran dengan Bary yang sepertinya tak mau dia peluk.
" Dinda.. kita sudah sepakat, pacaran kita yang baik, kan?"
" Iya..tapi aku hanya ingin memelukmu. Memangnya nggak boleh?"
" Sebaiknya tahan keinginanmu itu, Dinda. Aku nggak mau kita sampai kebablasan."
" Memangnya kamu mau melakukan apa kepadaku jika kebablasan?"
__ADS_1
" Aku tidak tahu. Tapi sebaiknya, jangan memancing setan mempengaruhi kita. Aku cinta padamu sangat tulus, Dinda. Aku nggak ingin kamu sampai ternoda."
" Jika aku sampai ternoda olehmu, apa kamu mau bertanggung jawab?"
" Dinda..aku nggak akan melakukan itu. Sudah, lepaskan pelukanmu."
" Apa kamu tak suka aku memelukmu? Kamu sudah membuatku bahagia selama ini. Jadi biarkan aku membalasnya."
" Dinda..jangan ngelantur. Kamu setia kepadaku saja, aku sudah bahagia. Jangan pikirkan cara lain untuk membuatku bahagia."
" Tapi aku butuh..."
Tiba-tiba Bary menghentikan motornya. Dinda terkejut dan bertanya-tanya.
" Aku nggak ingin sampai merusak mahkotamu, Dinda. Bermula dari pelukan lalu ciuman, dan jika terjadi berulang-ulang, akan menimbulkan dosa. Dan semakin kita melakukannya, dosa itu akan menyelimuti kita. Setan pun akan semakin membujuk kita untuk melakukan dosa yang lebih dari itu.
Apa kamu mengerti maksudku, Dinda?"
" Hemmhh.. Baiklah." ucap Dinda.
Air matanya mulai mengalir. Baru kali ini ia mendapatkan teguran atas apa yang ia lakukan. Sementara orang tuanya sendiri tak pernah melakukan itu padanya.
" Kenapa kamu menangis?" tanya Bary ketika tahu Dinda mulai meneteskan air matanya.
" Nggak apa-apa." jawab Dinda dengan nada serak.
" Apa kamu tersinggung dengan kata-kataku?"
Dinda hanya menggelengkan kepalanya sembari mengusap air matanya dan berusaha membendungnya dengan tangan kanannya.
" Bary..kamu benar. Memang nggak seharusnya aku melakukan itu. Pacaran itu harus ada batasnya. Tapi, apa salahnya kalau aku sekali-sekali memeluk kamu. Biar kamu tahu kalau aku sayang banget sama kamu.."
Usai berkata, Bary tiba-tiba memeluk Dinda. Ia tak tahan melihat Dinda menangis. Dinda pun malah bingung dan bercampur senang. Ia mulai tertawa kecil meskipun hidungnya masih menyimpan ingus akibat tangisannya.
" Bary..katanya aku nggak boleh meluk kamu, tetapi kenapa kamu malah peluk aku?"
" Aku nggak tahan melihat kamu menangis. Sebenarnya aku juga butuh pelukan kamu. Tapi jangan sering-sering, ya."
" Jangan sering, tapi yang lama. Hehe.."
" Nggak boleh.. Dinda, kita berdua jangan sampai terlena. Jangan sampai kita khilaf dan..."
" Aku tahu, Bary. Aku juga nggak mau kalau sampai kita melakukan perbuatan yang nggak senonoh."
" Iya, Dinda. Jangan sampai kita kebablasan."
" Iya, Bary.. Kamu sudah lama memelukku, lho. Nggak ingin lepas, ya? Hehe.."
" Ah..maaf, aku sampai nggak sadar kalau aku belum melepas pelukanku."
" Nah kan, kamu mulai khilaf. Untung aku masih sadar."
" Iya..maaf. Kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan saja. Disini sepi nggak ada orang lewat. Takutnya ada orang yang memergoki kita."
" Oh, iya..aku nggak sadar. Dari tadi aku nggak lihat orang berlalu lalang. Kita nggak tersesat, kan?"
" Enggak.. jalan ini memang sepi. Ini jalan pintas yang biasa aku lewati kalau aku mengantarkan pesanan. Paling-paling yang lewat, petani-petani yang pulang dari sawah. Itu pun cuma beberapa orang saja."
__ADS_1
" Kalau begitu, ayo cepat kita pergi. Aku jadi takut. Nanti pulangnya jangan lewat sini lagi, ya."
" Hehe.. baiklah, Tuan Putri. Enggak.. Kita pulangnya lewat jalan utama. Kalau lewat sini malam hari. Aku juga nggak berani. Takut sama ular."
" Cowok kaya kamu takut sama ular?" ucap Dinda meledek.
" Dia itu berbisa, kalau tiba-tiba matok, aku bisa mati."
" Hehe..bisa saja kamu, Bary. Kalau kamu mati, bagaimana dengan nasibku?"
" Nasibmu, kamu sendiri yang tahu. Mana mungkin aku tahu."
" Makanya jangan sampai mati. Nanti aku tersiksa sendiri."
" Hahaha..tergantung takdir."
" Aku nggak mau.. Kamu harus menemaniku sampai akhir hayatku, titik."
" Baik, Tuan putri.. Hehe.."
Bary pun kembali melajukan motornya menuju ke Taman. Tapi bukannya mengambil jalan yang benar. Dia malah menuju ke arah lain. Dinda tahu Bary salah jalan. Namun ia hanya berdiam diri dan tak menegur Bary. Bagi dirinya, semakin jauh ia pergi, semakin lama ia bisa dekat dengan Bary.
Hingga berjalan satu jam, Dinda baru bertanya pada Bary.
" Kita mau kemana, Bar? Bukankah seharusnya kita pergi ke Taman yang biasanya. Kenapa kita bisa sampai disini?"
" Kenapa kamu baru tanya sekarang, Dinda? Seharusnya kamu sadar dari tadi, kalau kita nggak ke Taman biasanya. Ini sudah jauh sekali dari rumah, lho."
" Hehe..aku nggak mau tahu kamu mau membawaku pergi kemana. Yang penting aku bisa lama bersama kamu." ucap Dinda sembari menutup kedua bibirnya.
" Hahaha.. Kamu bisa saja, Dinda. Ya sudah, ayo kita turun."
" Turun? Mau kemana?"
" Kita akan naik."
" Naik kemana?"
" Dibalik rerimbunan pohon itu ada jalan. Disana ada sebuah perbukitan. Banyak orang kok, disana. Jangan khawatir. Kita nggak cuma berdua."
" Waah... Kita akan di Bukit itu sampai malam? Pasti kita bisa lihat keindahan kota, hingga ke tempat lain diatas sana."
Tanpa berkata-kata lagi, Bary menarik tangan Dinda dan mengajaknya menaiki jalan setapak menuju perbukitan.
Sepuluh menit kemudian, Mereka tiba di puncaknya. Langit yang mulai berwarna jingga, dan matahari yang hampir tenggelam, mewarnai keindahan di sekitar mereka.
Dan cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk di bawah, serta lampu-lampu kendaraan bermotor yang memancar, ikut menggambarkan keindahan waktu senja disana.
Dinda berputar-putar memanjakan matanya, melihat di sekelilingnya. Dia sangat menikmati tempat itu.
Bary melihat senyum kebahagiaan Dinda. Ia merasa puas dengan apa yang ia lakukan untuk Dinda. " Ternyata membuat Dinda bahagia itu, sangat mudah." gumam Bary.
Dinda pun tersenyum melihat Bary yang tersenyum. Ia sangat suka dengan apa yang dilakukan Bary untuknya. Awalnya ia sangat kecewa dengan penolakan Bary karena tak bisa diajak jalan. Namun tak pernah ia menduga, Bary memberikan kejutan yang tak pernah ia sangka-sangka.
" Bary.. Terima kasih untuk usahamu." gumam Dinda dalam hati.
......................
__ADS_1