
Setelah ucapan Rista pada hari lalu di Perpustakaan, kini Dinda dan Bary mulai menjaga kedekatan mereka. Mereka sekarang tak lagi bersama-sama seperti waktu sebelumnya. Sebagian teman-teman mereka menduga hubungan mereka kandas di tengah jalan. Nyatanya mereka sama sekali belum memutuskan untuk menjalin hubungan. Selama ini mereka hanya menganggap hubungan mereka seperti sahabat saja.
Seorang murid cewek iseng mendekati Dinda. Ia dengan santainya bertanya tentang kedekatannya dengan Bary. Dinda pun hanya tersenyum. Ia lalu menjawab, " Aku dan dia baik-baik saja. Kami nggak sedang bertengkar."
" Ah, masa sih? Padahal kemarin masih terlihat jalan bareng. Baca buku di depan Perpustakaan juga bareng. Apa kalian pacaran lalu putus?"
" Enggak.. Kami itu nggak ada hubungan apa-apa. Kami nggak pacaran." ucap Dinda menyangkal.
" Lalu kenapa kalian terlihat mesra di manapun kalian bertemu?"
" Memangnya kami nggak boleh berteman? Hingga lebih akrab seperti sekarang ini?"
" Hemhh.. Ya boleh-boleh saja. Aku nggak melarang kok. Maaf ya, aku hanya tanya saja."
" Nggak apa.."
Rista yang saat itu sedang asyik menonton film drama Korea di Hpnya, hanya terdiam melihat teman di sebelahnya di interogasi teman cewek yang lainnya. Ia seolah tak menghiraukan Dinda. Namun ia tahu apa yang di katakan oleh Dinda dan teman cewek itu. Ia berpura-pura fokus dengan Hpnya. Ia sebenarnya penasaran juga dengan sikap Dinda dan Bary yang seakan berjauhan.
Ia berniat ingin menanyakan hal itu padanya, namun ia tak berani. Beruntung, teman cewek lain menanyakan itu pada Dinda. Ia pun diam-diam menguping pembicaraan. Namun Rista tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Sejak masuk ke dalam kelas hingga mata pelajaran ke tiga, Dinda tak mengajak Rista bicara sedikitpun. Dinda cenderung melihat ke mejanya karena sedang membaca Buku kesukaanya yang ia pinjam dari Perpustakaan, kemarin.
Rista menjadi tak tahan dengan diamnya Dinda. Ia pun menabok Dinda hingga Dinda terkejut.
" Dinda..kenapa dari tadi diam saja? Kenapa nggak mengajakku bicara? Ada apa denganmu?" tanya Rista yang sudah tak tahan menahan mulutnya yang terdiam.
" Nggak apa, Rista. Lho, bukannya dari tadi kamu sibuk ngelihat Hpmu?"
" Iya..tapi ajak aku bicara, dong. Aku merasa jadi seperti orang asing bagimu jika kamu begini."
" Ah.. Maafkan aku, Rista. Aku hanya nggak ingin mengganggumu saja. Kamu kan, suka film itu. Jadi aku nggak akan membuatmu berhenti untuk menontonnya."
" Dinda, aku nggak apa. Malahan, kalau kita diaman begini, kesannya malah kaya lagi musuhan."
" Hehe..iya juga, Rista. Baiklah, aku nggak akan diam lagi. Ayo mau ngobrol apa?"
" Emmm..ngobrol apa, ya. Aku jadi bingung...Hahaha.."
...----------------...
Pukul setengah dua siang, kelas telah kosong. Semua murid meninggalkan kelasnya dan pulang. Rista dan Dinda keluar bersamaan. Mereka mengambil sepeda mereka di tempat parkir. Sementara Bary berjalan kaki untuk menuju ke rumahnya. Ia lebih senang melatih kakinya untuk berjalan daripada mengayuh sepeda sendiri.
Tiba di parkiran, Rista yang semula berniat untuk main ke rumah Dinda, membatalkan keinginannya. Ia mendapat kabar dari Orang Tuanya kalau Neneknya meninggal. Ia pun bergegas dan meninggalkan Dinda.
__ADS_1
" Sorry, Din..aku nggak jadi main ke rumahmu. Nenek aku yang di Solo meninggal. Aku disuruh pulang cepat. Lain kali saja, ya aku akan main ke rumahmu." ucap Rista.
" Nggak apa, Rista. Lain kali saja. Kita masih punya banyak waktu. Oh iya, aku turut berduka cita ya, Rista. Semoga Nenekmu di terima di sisiNya dan diterima semua amal kebaikannya. Aamiin.."
" Oke, Dinda. Aaminn.. Terima kasih atas doanya, Din. Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Da da..."
" Da da.. Rista."
Rista mengayuh sepedanya dengan cepat. Ia takut orang tuanya marah dan memarahinya jika pulang lama. Sementara Dinda mengayuh sepedanya dengan santai. Terik matahari di siang hari membuat tubuh menjadi lemas. Ia tak ingin tenaganya terkuras. Untuk itu Ia mengayuh sepedanya dengan pelan.
Keluar dari gedung sekolah, Dinda bertemu Bary di jalan. Dinda menyapanya, " Bary.."
Bary menoleh lalu berhenti. Dinda turun dari sepedanya lalu menghampiri Bary.
" Kamu mau pulang, Bar?"
" Iya, Dinda. Aku mau pulang."
"Jalan kaki?" tanya Dinda.
" Iya.. Aku sudah terbiasa. Jadi aku nggak mudah lelah meskipun aku berjalan jauh."
Dinda pun ikut berjalan kaki untuk menemani Bary. Ia merasa tak enak jika meninggalkan Bary berjalan sendirian.
" Aku? Emmm.. banyak yang harus aku lakukan."
" Apa?"
" Eh, aku kalau sore jualan ayam goreng di depan minimarket."
" Jadi kamu masih jualan ayam goreng? Wah..aku kira kamu hanya menggantikan pekerjaan Ayahmu saat sakit saja."
" Enggak.. Ayahku tetap berjualan kalau pagi. Aku jualannya sore. Tapi aku jualan sendiri. Pakai uangku sendiri."
" Bary..kok kamu bisa, ya. Di usia kamu yang masih segini sudah bisa cari uang sendiri. Aku kagum padamu." ucap Dinda sambil tersenyum. Ia semakin tertarik dengan kepribadian Bary. Selain pintar, sopan, rajin, dia juga tidak malu mencari uang dengan usahanya sendiri.
" Dinda.. Semua itu tergantung kemauan. Aku begini juga karena keadaan. Keadaan lah yang membuatku seperti ini. Ayahku sakit dan tak ada yang mencari uang. Sementara Ayah butuh uang untuk beaya di rumah sakit. Lalu Ibuku mengajarkanku berjualan. Awalnya aku malu, tapi lama kelamaan aku sudah terbiasa. Malah Orang tuaku mendukungku ketika aku meminta izin pada mereka untuk berjualan dengan modalku sendiri."
" Kamu hebat, Bary. Aku yakin kalau kamu menekuni usahamu itu, kamu bisa membeayai sekolah kamu sendiri dan menabung untuk masa depanmu."
" Kamu terlalu berlebihan, Dinda. Hehe..aku harap seperti itu Dinda."
" Aku nggak berlebihan. Kamu itu memang cowok idaman bangett.."
__ADS_1
" Apa?" Bary terkejut mendengar ucapan Dinda.
" Eh.. Nggak. Nggak apa-apa, Bary. Lupakan saja ucapanku tadi." ucap Dinda sembari merunduk dan menyibakkan rambutnya ke depan agar wajahnya yang memerah tak kelihatan oleh Bary.
Bary melihat ke arah Dinda. Ia lalu menyibakkan rambut Dinda yang menutupi wajahnya. Dinda terkejut dan wajahnya semakin memerah. Perasaannya makin tak karuan. Ia malu sekali dengan Bary. Ia pun meminta izin pada Bary untuk jalan lebih dulu. Namun Bary menahan sepeda Dinda.
" Dinda, kamu mau kemana?"
" A..aku mau pulang duluan, Bary."
" Kamu malu dengan ucapanmu? Dinda.. santai saja. Aku nggak kenapa-kenapa. Sudah jangan menutupi wajahmu begitu."
" Bary.. aku.."
" Kenapa, Dinda?"
" Sebenarnya aku.."
" Katakan saja..aku akan mendengarkanmu."
" Aku merasa nyaman di dekatmu. Kamu itu.."
Bary memegang kedua pundak Dinda lalu menatap mata Dinda dalam-dalam.
" Aku senang kamu mengatakannya, Dinda. Aku janji akan selalu membuatmu nyaman."
" Serius?"
" Iya, aku serius. Aku akan membuatmu betah jika didekatku."
" Terima kasih, Bary."
" Sama-sama, Dinda."
Dinda pun lega mendengar ucapan bary. Hatinya menjadi berbunga-bunga. Ia pun kembali meneruskan perjalanannya pulang. Namun sampai di pertigaan, Ia berpisah dengan Bary.
" Dinda..aku duluan, ya. Hati-hati dijalan." ucap Bary.
" Iya.. Terima kasih Bary. Jangan lupa, besok kita ketemu lagi." ucap Dinda sambil tersenyum.
Bary pun membalas senyuman Dinda sembari menganggukkan kepalanya. Dinda pun kembali mengayuh sepedanya. Sementara Bary masih berdiri di tepi jalan untuk mengawasi Dinda. Ia takut Dinda kenapa-kenapa di jalan. Ketika Dinda sudah tak terlihat lagi, Bary pun beranjak dari tempatnya berdiri dan segera pulang ke rumahnya.
......................
__ADS_1