
Beberapa hari usai kejadian di sekolah membuat Dinda dan Bary menjadi semakin dekat. Mereka terlihat sering berjalan berdua. Arista menjadi iri melihat kedekatan mereka, namun ia tak ingin mengganggu keduanya. Sebenarnya Ia juga mengagumi sosok Bary yang luar biasa. Namun karena ia sahabat dekat dan juga satu kampung, membuatnya tak bisa mengungkapkan perasaannya. Sekarang ia harus merelakan Bary bersama cewek lain yang lebih sempurna darinya. Dan cewek itu adalah Dinda. Memang Arista belum lama mengenalnya, tapi Dinda mempunyai apa yang dirinya tak punyai.
Kecantikan dan kelembutan Dinda membuatnya terlihat sempurna. Meskipun baru berusia tiga belas tahun, Dinda terlihat seperti berusia tujuh belas tahun. Wajahnya tampak mempesona seperti anak SMA. Tubuhnya juga bagus layaknya artis yang tubuhnya terawat dengan baik.
Namun Dinda lebih dari itu. Dinda bahkan tak merias wajahnya. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, sangat natural. Dia tak memakai embel-embel produk kecantikan apapun. "Itulah Dinda, cantiknya natural." ucap Rista dalam hati.
" Plakkk.." seseorang menabok punggung Rista.
" Aduhh.. Siapa sih? Ngaget-ngagetin saja." Keluh Rista.
Dinda tertawa kecil lalu duduk disebelah Rista. Tawanya yang riang membuatnya semakin mempesona. Rista melihat wajah Dinda yang elok itu. Ia sendiri terkagum dengan kecantikan Dinda. Cewek di sampingnya itu benar-benar harta yang sangat berharga. Ia sadar dirinya bukan siapa-siapa. Dahulu dia merasa paling cantik dikelas dan juga paling pintar di sekolahnya. Namun semua itu tak ada artinya bagi Rista. Meskipun dia suka tebar pesona saat ada cowok yang lewat, tak ada satupun yang berhenti dan mengajaknya berkenalan.
Semenjak kenal dengan Dinda, kini ia tahu kecantikan yang sebenarnya. Kecantikan tak harus di sombongkan dan untuk menjadi pusat perhatian orang itu, tak harus mencari-cari muka dihadapan orang lain.
" Rista..kenapa malah bengong? Kenapa? Kaget? Terkejut? Terpesona?" ucap Dinda sembari tertawa kecil.
" Enggak.. Aku itu hanya kagum padamu. Kamu itu teryata punya nilai yang sangat tinggi. Saat pertama aku mengenalmu, dimataku kamu itu hanya cewek biasa sepertiku. Tak ada yang aneh dan tak ada yang beda darimu. Kamu sama saja dengan cewek manapun. Disini juga banyak cewek cantik. Aku pikir kamu itu tak ada istimewanya.
Tapi sekarang, aku baru menyadari sesuatu. Kamu itu sangat menakjubkan, Dinda. Kamu bak Dewi yang turun dari langit. Kamu mempesona, menggoda setiap mata yang memandangmu."
" Ihhh.. Rista, kamu itu nggomong apa? Jangan berlebihan.. Aku sama sepertimu. Sama-sama cewek yang cantik."
" Enggak, Dinda.. Kamu itu beda. Kamu itu mungkin hanya ada satu di dunia ini. Aduhh Dinda..ingin rasanya aku menjadi dirimu."
" Hahaha.. Rista, jangan buat aku tertawa. Ada-ada saja kamu itu. Sudah jangan bahas yang aneh-aneh tentangku. Aku tak mau, dan tak mau tahu soal diriku."
" Kamu harus tahu dirimu, Dinda. Kamu itu sekarang menjadi pusat perhatian banyak cowok disekolah ini. Aku yakin semua cowok yang melihatmu pasti akan terpesona dan klepek-klepek."
" Akhirnya mati?" canda Dinda.
" Hushh.. Akhirnya jatuh cinta sama kamu. Sembarangan saja kalau ngomong.
" Hehe..habisnya kamu ngaco ngomongnya. Sudah ya, Rista. Sekarang aku tak mau bahas tentang diriku. Lebih baik kita ke kantin sekarang."
" Wah, boleh juga. Kebetulan aku juga sudah lapar. Ayo, mumpung masih sepi." ucap Rista lalu menggandeng tangan Dinda yang halus menuju kantin.
...----------------...
Tiba di kantin sudut sekolah, Dinda dan Rista mencari tempat duduk yang sejuk. Seperti biasa, mereka lebih suka duduk di tepian kolam ikan yang ditengahnya terdapat air mancur kecil. Sengaja mereka memilih tempat duduk disitu karena memang terasa lebih sejuk dengan pohon cemara diatasnya. Sementara di dalam kantinnya, terasa lebih panas karena atapnya hanya terbuat dari seng.
" Minumnya apa, Dik?" tanya penjaga kantin.
" Eh itu ditanya sama masnya, Rista. Kamu mau minum apa?" ucap Dinda.
" Kamu mau minum apa? Aku ikut denganmu saja. Aku kan ditraktir."
" Traktir? Siapa yang mau traktir kamu?" ucap Dinda sembari tertawa.
" Ya kamu, siapa lagi. Kan, kamu yang mengajakku kemari. Pastinya kamu yang bayarin aku."
" Hehehe..iya iya..tenang saja. Aku bayarin semuanya. Kamu mau makan dan minum apa, terserah kamu."
__ADS_1
" Beneran, ya? Asyikkk.."
" Terus mau minum apa, kasihan masnya sudah menunggu."
" Oh, aku mau soda gembira. Boleh nggak, Dinda?"
" Boleh, ambil saja."
" Yes.. Terima kasih cintaku." ucap Rista lalu memeluk Dinda.
" Iya, sama-sama."
Ketika Dinda dan Rista saling berpelukan, Bary datang hingga mengagetkan mereka berdua.
" Dinda..jangan mau diperas oleh dia. Dia itu tukang minta gratisan. Hati-hati bergaul dengannya." ucap Bary.
" Ihhh...datang-datang langsung tukang kompor. Jangan sirik ya, Bar." ucap Rista.
" Rista, kalau kamu peduli sama Dinda, harusnya jangan seperti ini. Kamu mendekatinya bukan untuk tujuan ini, kan?"
" Eh...ya bukanlah, pastinya. Aku memang senang berteman dengannya. Bukan karena tujuan sesuatu. Bary, kamu pikir aku memanfaatkan teman yang dekat denganku? Sembarangan saja.."
" Lha itu buktinya. Kenapa kamu minta ditraktir?"
" Siapa juga yang minta. Jangan sembarangan kalau ngomong!" ucap Rista dengan ketus.
Dinda hanya bisa tertawa melihat kedua sahabatnya saling beradu mulut. Ia ingin memisahkannya tapi keduanya tak bisa berhenti bicara. Mereka terus saling serang satu sama lain.
" Ihh, Rista..nggak boleh gitu. Sakit lho, dia." ucap Dinda.
" Biarkan saja, Din. Salah sendiri menuduhku sembarangan. Dasar menyebalkan!"
" Siapa yang menuduh sembarangan? orang memang benar, kan" ucap Bary.
" Nggak tahu! Sudah, ah.. Malas aku ngeladeni kamu!"
" Rista, Bary. Sudah dong. Jangan bertengkar. Kalian kan, sahabat dekat. Kenapa mesthi bertengkar? Harusnya kalian itu kompak, nggak seperti ini."
" Dia yang mulai, datang-datang main tuduh saja. Siapa yang nggak marah?" ucap Rista dengan wajah memerah karena menahan kesal dengan Bary.
Bary lalu terdiam. Baru kali ini, dia melihat Rista marah kepadanya. Biasanya mereka saling bercanda dan hingga saling mengolok satu sama lain. Tapi tak pernah ada pertengkaran. "Sekarang sudah beda, Arista tak bisa diajak bercanda lagi seperti dulu." pikir Bary.
" Bary, apa yang dikatakan Arista itu benar. Dia nggak minta ditraktir. Aku sendiri yang mengajaknya kemari. Malah, kami sering gantian mentraktir. Bukan hanya aku saja yang mentraktir Rista. Jadi aku mohon jangan berlebihan menilai Rista. Sepertinya dia kesal banget sama kamu."
" Maaf, Dinda. Sebenarnya aku hanya bercanda, nggak serius."
" Coba kamu minta maaf sama Rista, jangan sama aku."
" Hemhh.. Baiklah. Rista... maaf, ya. Aku hanya bercanda. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Aku tidak serius dengan ucapanku, kok."
" Bercandamu kelewatan, Bar." ucap Rista sembari membelakangi Bary.
__ADS_1
" Iya, aku minta maaf. Aku janji nggak akan seperti itu lagi."
" Tapi kata-katamu itu mencemarkan nama baikku tahu nggak?! bagaimana jika Dinda percaya dengan kata-katamu? Itu akan merusak pertemananku dengan Dinda!"
" Rista, aku nggak terpengaruh dengan kata Bary. Aku tahu kamu. Kamu sahabatku yang baik. Sudah..jangan ngambek. Jangan membelakangi kami." ucap Dinda sembari memutar tubuh Rista.
Rista pun mau tak mau memutar tubuhnya. Namun wajahnya masih saja cemberut. Ia merunduk dan tak ingin melihat wajah Dinda dan Bary.
" Rista... Jangan cuek begitu. Jangan mudah marah, nanti cantiknya hilang."
" Memang sudah hilang, cantikku sudah berpindah kepadamu." ucap Rista lalu tersenyum dan menatap Dinda.
Dinda merangkul Rista dan menepuki punggungnya. Ia lalu mencoba membujuk Rista agar jangan mudah marah. Rista pun berjanji pada Dinda agar dirinya tak mudah marah.
" Nah.. Senyum begitu kan, cantik. Kalau marah-marah, cantiknya berpindah tempat. Hehe.."
" Iya, nggak lagi. Maaf ya, aku jadi merasa nggak enak."
" Nggak apa, Rista. Yang penting jangan diulangi lagi."
" Iya, aku janji. Bary..maafkan aku, ya."
" Aku yang seharusnya minta maaf, Rista. Kamu mau kan, memaafkanku?"
" Iya..aku maafkan."
" Terima kasih, Rista."
" Sama-sama."
" Nah, begitu kan enak. Kita itu tiga sahabat yang mesthi terjaga. Jangan sampai ada permusuhan diantara kita. Mudah-mudahan sampai kiamat, kita akan tetap bersahabat." ucap Dinda.
" Aamiin.." ucap Bary dan Rista bersamaan.
" Ya sudah, ayo buruan dimakan. Bary.. kenapa diam saja? Ayo pesan apa yang kamu mau, aku yang traktir."
" Eh.. nggak, Din. Kalian saja, aku masih kenyang. Kalau begitu, aku mau ke perpustakaan dulu, ya. Aku mau cari-cari buku."
" Dinda, dia mana mau makan soto. Dia itu tiap hari sudah makan soto. Mungkin saja dia sudah enek. Sudah biarkan saja kalau dia nggak mau. Punya Dia, buat aku juga mau."
" Iya..kamu benar, Rista. Aku sudah bosan makan soto. Maaf, ya. Bukannya aku menolak. Tapi memang aku lagi nggak mau makan saja. Lagi pula sudah ada gentong yang mau menampung jatahku, kok."
" Sembarangan bilang aku gentong! Awas ya..kusiram sambal, mau?" ucap Rista sembari menyiduk satu sendok makan sambal dan berniat melemparkannya ke arah Bary.
" Eh..jangan. Bary hanya bercanda. Kamu sudah janji nggak akan marah-marah lagi, kan?" ucap Dinda sembari mengangkat tangannya agar Rista tak melakukan niatnya.
Rista pun kembali menaruh sambal ke dalam wadahnya dan melanjutkan makannya sambil ngomel-ngomel. Sementara Bary berlari meninggalkan Dinda dan Rista menuju perpustakaan sekolah.
Dinda tersenyum melihat ekspresi Rista. Ia juga hampir tertawa melihat kejahilan Bary. Di matanya, Rista dan Bary adalah orang yang spesial. Tetapi dia tak tahu apa artinya. Menurutnya, mereka lah yang selama ini ada di dalam pikirannya.
......................
__ADS_1