Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Hari Menjelang Perpisahan


__ADS_3

Pagi menjelang siang, Dinda memenuhi janjinya untuk datang ke rumah Rista. Dia sebenarnya tak ingin berpisah dengan Rista. Setelah sekian lama ia dan Rista tak saling bertegur sapa, kini ia seakan bertemu dengan sahabat baiknya yang telah lama hilang. Namun sangat disayangkan, sahabatnya itu sebentar lagi akan pergi jauh. Tubuhnya seakan tak bertenaga. Ia lalu mengetok pintu rumah Rista dengan lembut.


" Tok tok tok.."


" Iya.. Sebentar..." ucap Rista dari dalam kamarnya.


" Dinda..."


" Rista.. Masih sibuk, nggak?"


" Ah, enggak. Aku sudah selesai. Tinggal santai saja kok. Kamu datang sendiri?"


" Yah.. Mau sama siapa lagi."


" Bary kemana?"


" Aku nggak tahu. Aku kira dia sudah datang kemari."


" Belum.. Dia belum kemari. Aku sih nggak berharap dia datang. Tapi kalau dia datang juga nggak apa-apa. Berarti dia masih menganggapku sebagai teman."


" Hehe.. Kamu masih benci sama dia? Rista.. Aku yakin kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari Bary. Aku jamin itu. Jadi, jangan kamu membencinya. Suatu saat, Bary itu bukan apa-apa bagimu."


" Aku enggak benci, Dinda. Cuma kesal saja sama dia."


" Berarti kesal juga sama aku?"


" Ihh.. Dinda, sudah jangan merembet kemana-mana. Nanti kita bisa musuhan lagi, lho."


" Eh..jangan. Aku nggak mau kita saling bermusuhan. Saat ini aku merasa seakan diriku menemukanmu lagi, Rista. Setelah sekian lama kita nggak saling bertegur sapa. Kali ini aku merasa lega. Aku bisa mengenal dirimu yang dulu lagi."


" Dinda..maafkan aku, ya. Aku yang membuat kita jadi jauh. Aku yang bodoh kenapa saat kita bermasalah, aku malah menjauh darimu tanpa menyelesaikan masalah kita. Aku pikir dengan menjauh darimu, masalah kita akan selesai dan kita akan bisa baikan lagi. Tapi ternyata tidak. Kita malah jadi semakin jauh. Dan sebenarnya aku nggak tahan dengan keadaan itu, Dinda."


" Kamu nggak salah, Rista. Aku lah yang salah. Andai saja aku nggak menuruti egoku, kita nggak akan seperti ini. Kita akan tetap menjadi sahabat. Sayangnya, Bary terus berusaha memilikiku. Aku pun sangat menyukainya. Aku bisa saja menolaknya. Tapi aku takut kalau dia patah hati, lalu melakukan sesuatu yang tidak baik pada dirinya."

__ADS_1


" Ya sudah, Dinda. Kita nggak perlu saling merasa bersalah. Mungkin memang Bary tak akan pernah menjadi milikku, Dinda. Tetapi kalian memang sangat cocok. Kamu cantik dan dia tampan. Berbeda denganku. Mungkin kalau aku yang jadi pacarnya Bary, mungkin kami akan sering ribut."


" Rista.. Kenapa persahabatan kita harus terjadi masalah seperti ini. Jika aku bisa mengulang waktu, aku nggak akan pernah kenal sama Bary dan nggak akan pernah menyukainya. Kini aku sudah terlambat. Aku nggak bisa lepas darinya. Aku sangat sayang padanya. Andai saja ada cowok lain yang lebih aku sukai dari Bary, mungkin aku nggak akan merebut Bary darimu, Rista."


" Nggak masalah, Dinda. Sekarang kamu adalah kekasihnya Bary. Aku mohon, tolong jaga dia. Jaga perasaannya. Jangan pernah menyakiti hatinya. Kamu tahu bagaimana kalau dia marah atau tersinggung, pasti dia akan jadi pendiam dan nggak mau bicara pada semua orang. Aku percayakan Bary untukmu."


" Kamu tenang saja, Rista. Aku akan menjaga hatinya. Aku nggak mudah untuk jatuh cinta pada seseorang, jadi kamu nggak perlu khawatir."


" Terima kasih, Dinda."


" Sama-sama."


Ketika Dinda dan Rista masih mengobrol di teras rumah, Ibu Rista mendatangi mereka. Ia penasaran sejak tadi dengar suara orang berbicara. Ia berpikir mungkin ada tamu yang datang. Untuk memastikannya, ia keluar untuk melihat siapa yang datang.


" Oh.. Dinda. Sejak kapan kamu datang kemari? Maaf tadi Bibi baru selesai mandi. Ketika mau ganti baju kok, seperti mendengar suara orang dari luar. Bibi penasaran, lalu segera lihat kemari. Eh, ternyata kamu."


" Iya, Bi. Maaf saya mengganggu waktu Rista sebentar. Saya ingin mengobrol banyak sama Rista. Yah.. sebelum kami berpisah."


" Oh, begitu. Baiklah, Bibi izinkan kamu bertemu dengan Rista. Tapi jangan lama-lama. Rista masih harus menyiapkan perbekalannya untuk ke Jerman. Jangan sampai kamu membuatnya melupakan sesuatu yang penting." ucap Ibu Rista dengan ketus.


" Eh.. Ibu jangan begitu. Rista sudah menyelesaikan semua perbekalan Rista, kok. Kita tinggal berangkat saja. Nggak ada yang tertinggal satupun. Dinda kemari karena ingin bertemu Rista karena sebentar lagi kami kan, nggak bisa sering bertemu lagi. Kami ingin mengobrol banyak sebelum kami berpisah."


" Rista, dia itu sudah menyakitimu. Kamu masih mau berteman dengannya?"


" Ibu! Sudah... Aku dan Dinda sudah berdamai. Ibu jangan bikin kami bermusuhan lagi."


" Rista..buat apa kamu berteman dengannya. Lupakan saja, dia. Temanmu nggak hanya satu, kan? Jangan mentang-mentang cantik terus seenaknya sama kamu."


" Ibu! Masuk! Jangan ganggu kami. Dinda tamuku, Bu. Kenapa Ibu begitu, sih. Masalah yang dulu itu sudah selesai. Rista sudah merelakan semuanya. Rista sudah melupakan kejadian yang membuat Rista sakit. Ibu jangan membuatnya lagi."


" Hemhh... Baiklah.. Kalau itu maumu. Dinda.. Ibu peringatkan sekali lagi, jadi teman itu yang baik. Jangan suka berbohong. Rasanya dibohongi itu sakit."


" Bibi, Dinda minta maaf yang sebesar-besarnya sama Bibi. Memang semua ini gara-gara saya. Kenapa saya harus masuk ke kehidupan Rista dan Bary. Saya nggak tahu kalau Rista menyimpan rasa pada Bary. Terus terang ketika saya menyatakan suka pada Bary, saya baru tahu kalau Rista juga menyukainya.

__ADS_1


Saya ingin mundur, tapi Bary lebih memilih saya. Dan Rista juga mengizinkan kami untuk bersama. Tapi demi menjaga perasaan Rista, saya dan Bary berpacaran tetapi hanya seperti sahabat, Bi. Bukan seperti kebanyakan orang yang berpacaran.


Awalnya kami nggak bilang ke siapapun kalau kami pacaran. Termasuk Rista. Rista nggak tahu kalau kami pacaran. Kami ingin Mengatakannya kalau Rista sudah memiliki pasangan. Namun sampai saat ini Rista belum juga memiliki pacar. Tetapi rahasia kami sudah diketahui Rista.


Saya sudah mempunyai firasat kalau Rista pasti akan sakit hati kalau tahu Kami sudah pacaran. Kemarin kami datang kemari untuk membahas masalah ini dan sekaligus meminta maaf pada Rista atas kebohongan kami, Bi.


Rista sudah memaafkan saya dan Bary. Dan kami sudah kembali jadi sahabat seperti dulu lagi. Saya tahu hari ini hari terakhir Rista berada disini. Saya akan berpisah dengannya setelah sekian lama kami saling menjauh. Ini sangat menyakitkan bagi saya, Bi.


Tapi kami mempunyai kepentingan masing-masing. Saya nggak bisa meninggalkan kota ini. Dan Rista tetap pada pendiriannya untuk belajar ke luar negeri. Kami memang harus berpisah. Dan kedatangan saya ini adalah bentuk kasih sayang saya pada Rista, Bi. Saya sangat menyayangi sahabat saya."


" Bicaramu terlalu panjang.. Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu teruskan saja obrolan kalian. Aku mau masuk dulu."


" Baik, Bi."


Ibu Rista pun masuk ke dalam rumah. Dinda memandangi langkah kaki Ibu Rista dengan mata berkaca-kaca.


Rista menjadi tak enak dengan Dinda. Ia pun segera mendekati Dinda dan menenangkannya.


" Dinda.. Maafkan Ibuku, ya. Dia terlalu emosi sama kamu karena ceritaku. Aku bercerita pada Ibu tentang kalian. Tentang kebohongan kalian. Kamu tahu, kan. Bagaimana Ibuku sebelum mendengar masalah kita."


" Nggak apa, Rista. Sudah sewajarnya Ibu kamu marah. Aku bisa terima itu semua. Karena aku memang salah."


" Stttts.. Sudah jangan mulai menyalahkan diri sendiri lagi. Lebih baik kita minum dulu. Kamu mau minum apa, aku akan ambilkan untukmu."


" Nggak usah, Rista. Aku nggak haus, kok. Aku nggak mau merepotkan kamu."


" Ah.. Enggak, Dinda. Aku nggak repot, kok. Santai saja. Tolong, kata-kata Ibuku tadi jangan dimasukkan kedalam hati. Anggap saja itu hanya angin lalu. Atau kalau tidak, anggap saja itu hanya sebuah gurauan."


" Tapi aku memang merasa nggak enak dan nggak nyaman dengan kata-kata Ibu kamu, Rista."


" Biarkan saja. Harap maklum. Jangan dipikirkan. Nanti kamu nggak bisa tidur."


" Hemhh..baiklah, Rista. Aku nggak akan memikirkannya."

__ADS_1


" Nah, begitu dong.."


......................


__ADS_2